13 September 2013

(Bukan) Kajian Kesombongan

Sesungguhnya dari mata ini keluar kotoran, dari hidung ini keluar kotoran, dari mulut ini keluar kotoran, dari telinga ini keluar kotoran, dan dari seluruh lubang-lubang ditubuh ini keluar kotoran, mana mungkin benda yang senantiasa mengeluarkan kotoran ini layak untuk menyombongkan diri?” ― Khatib Sholat Ied Fitri, satu bulan yang lalu.

Beberapa hari yang lalu saya dituduh telah melakukan sebuah kesombongan yang terencana. Saya dianggap tidak mengakui sebuah proses yang dilakukan orang lain dan melakukan pembenaran atas kesalahan yang telah saya perbuat itu. Benak saya pun berontak, kesombongan saya yang manakah yang saya lupakan?
Berangkat dari sanalah saya mencoba untuk mengadakan sebuah kajian ilmu kesombongan.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencari definisi sombong yang ada.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia Sombong diterjemahkan sebagai: Menghargai diri secara berlebihan; congkak; pongah: tabiatnya agak aneh, sebentar - sebentar rendah hati ― saya tak tau maksud frasa yang terakhir ini dalam terjemahan tersebut.

Lebih lanjut dari aspek spiritual-relegius, sombong juga telah dibahas mendalam oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Tarmidzi dan Muslim disebutkan bahwa: Sombong adalah perbuatan melecehkan orang lain dan menolak kebenaran.

Dalam kontek psikologi yang sempat sedikit saya pelajari adalah mekanisme pertahanan ego. Sebuah strategi psikologis yang dilakukan seseorang, sekelompok orang, atau bahkan suatu bangsa untuk berhadapan dengan kenyataan dan mempertahankan citra-diri. Mekanisme tersebut menjadi patologis bila penggunaannya secara terus menerus membuat seseorang berperilaku maladaptif sehingga kesehatan fisik dan atau mental orang itu turut terpengaruhi. Kegunaan mekanisme pertahan ego adalah untuk melindungi pikiran/diri/ego dari kecemasan, sanksi sosial atau untuk menjadi tempat "mengungsi" dari situasi yang tidak sanggup untuk dihadapi.

Saya menduga ada suatu pemahaman yang tertukar antara konsep kesombongan dengan mekanisme pertahanan ego. Proyeksi misalnya, merupakan sebuah mekanisme pertahanan ego yang paling mudah dilihat, yaitu ketika orang memproyeksikan apa yang ada atau dirasakan orang lain kepada dirinya, atau sebaliknya (seperti: Bukan aku kok yang suka, tapi dia yang suka padaku). Saya khawatir orang tertukar menamakan proyeksi sebagai kesombongan, atau kesombongan diterjemahkan sebagai proyeksi.

Bagaimana dengan kesombongan yang tak di sengaja?

Tidak semua orang bisa melihat dan merasakan apa yang telah mereka lakukan dengan sadar. Hanya orang yang memiliki kecerdasan intrapersonal-lah yang dapat melihat kedalam diri sendiri dengan baik dan melakukan pemaknaan terhadap segala aktivitasnya dengan baik pula. Sedangkan saudara kandung kecerdasan ini, adalah kecerdasan interpersonal, orang yang mempunyai kemampuan memahami dan membedakan suasana hati, kehendak, motivasi dan perasaan orang lain. Mereka tak selalu melakukan semuanya dengan benar namun dapat melihat orang lain melakukanya dengan benar. Contoh orang yang memiliki kedua kecerdasan ini adalah orang yang sering mengucapkan kalimat kutip-able, mereka tau apa yang ada didalam dirinya dan mereka sadar apa yang terjadi pada orang lain. Tanyakan bab perihal kesombongan pada mereka pasti mereka akan menjawabnya dengan mudah.

Banyak orang memvonis orang lain sombong, padahal dirinya juga bisa dinilai orang lain sebagai orang sombong. Bahkan banyak orang tidak tahu bahwa, orang yang merasa dirinya tidak sombong justru orang yang sombong. Pada saat saya berhenti mengetik kalimat ini bisa jadi saya telah mengucapkan sebuah kesombongan.

Pada akhirnya saya selalu takut pada kesombongan, saking takutnya, saya dapat mengingat raut wajah khatib yang berkhotbah sebagaimana tertulis di awal tulisan ini. Bak pisau bermata dua, kesombongan bisa menjadi pertahanan diri sekaligus penyandera realitas. Saya selalu takut kesombongan akan merubah jalan hidup, bukankah kita sering mengalami kejadian yang seharusnya tak terjadi namun terjadi karena kita sombong. Saya tak meneruskan bahasan ini karena takut Vicky mengutuk saya karena telah mempertakut khalayak.

"Mending sombong terang-terangan, dosanya tunggal. daripada nge-low profile tapi hatinya sombong. Dosanya ganda, dosa sombong dan dosa munafik" - Soejiwotedjo

Semoga Tuhan mengampuni kesombongan-kesombongan yang tak (sempat) terucap. Termasuk tulisan saya pagi ini.

0 komentar:

Post a Comment