21 June 2013
Sebuah Pembelaan, Bantahan, dan Pembenaran
“Ngapain sih kamu nulis-nulis tentang migas dan subsidi BBM, ada
untungnya buat kamu?” - Anonim
Pertanyaan diatas bagi saya cukup untuk
mengerutkan dahi. Bukan karena jawaban dari pertanyaan itu merupakan suatu yang hanya
bisa dibahas dengan proses berpikir panjang, layaknya ketika menjelang
pemilihan tema untuk skripsi saya, atau ketika memutuskan siapa yang akan
menjadi pasangan hidup saya kelak, atau bahkan hanya untuk memutuskan memakai
baju apa ketika saya pergi ke kampus ― tak serumit dan selama itu.
Bagi saya membuat tulisan tentang
migas itu tak lebih dari sekedar preferensi saya saja. Orang di desa saya
menyebut: “pokok e asal seneng”.
Menulis mengenai migas dan energi tak menjadikan saya bisa langsung direkrut
oleh perusahaan energi multi-nasional, yang
kemudian membayar saya dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan sehingga saya
bisa dengan mudah membeli rumah dengan lengkap dengan Toyota Fortuner-nya
di garasinya, Smart TV untuk menonton
Liga Inggris dan National Geographic di
ruang keluarga, pendingin ruangan yang sejuk di tiap kamar tidurnya, dan water heater di
kamar mandinya sehingga saya tak perlu menggigil tiap pagi, seperti apa yang saya impikan. Dunia tidak semudah itu.
Pertanyaan diatas juga mungkin
sama seperti halnya jika saya ditanya tentang sepakbola: “Kenapa sih kamu suka banget sama sepakbola dan tampak sangat bahagia
diatas lapangan futsal?” Saya tidak mungkin menjawabnya dengan transmisi
seperti ini: jika saya menyukai sepak bola, saya akan bahagia ketika bermain
futsal, ketika saya bahagia, besar kemungkinan saya akan menampilkan kemampuan
terbaik saya, alhasil banyak pemandu bakat yang tertari pada saya, lalu tak lama kemudian saya akan bisa menjadi pemain sepakbola atau futsal
profesional, pada akhirnya saya akan menjadi aristokrat sepakbola seperti David Beckham ― yang
mempunyai istri cantik dan seksi juga. Saya tak mempunyai mimpi sejauh itu.
Membuat tulisan migas dan bermain
futsal hanyalah kesenangan yang bisa saya lakukan sekarang. Persoalan nanti
saya bisa bekerja di perusahaan migas atau menjadi pemain sepakbola profesional
itu urusan Tuhan. Apa yang terjadi di masa depan saya itu urusan nanti. Ini
hanya bumbu perjalanan hidup saya saja seperti interest saya yang lain, yang
bisa saja berganti kelak dikemudian hari ― sebelum tertarik dunia pertambangan saya tertarik menjadi arsitektur, pernah juga ingin menjadi motivator.
Oh iya, soal kenaikan harga BBM yang baru saja diumumkan oleh pembantu-pembantu presiden dan harga penyesuaian harga resmi berlaku satu jam lagi, saya pribadi tidak pernah mendukung seratus persen. Saya juga tak
menolaknya. Bagi mahasiswa semester akhir yang apa-apa serba susah dan
dihadapkan status pengangguran beberapa bulan yang akan datang, kenaikan harga
BBM bukanlah hal yang menyenangkan ― seperti kenaikan harga tiket konser bagi
penggila live music. Karena
bagi saya ketika harga BBM naik, berarti real income saya berkurang. Sungguh
hal yang memalukan jika saya meminta tambahan uang saku hanya karena harga BBM
naik. Namun entah kenapa kepala saya lebih menerima logika kenaikan harga ketimbang
sebaliknya. Saya juga memilih untuk tidak menggunakan alasan karena desain dari
Amerika, IMF atau konspirasi Yahudi untuk sebuah logika yang susah dicerna.
Sekali lagi, melakukan dan
menjelaskan itu suatu hal yang berbeda. Kadang saya tak melakukan sesuatu
dengan benar dan kadang saya tak mengatakan dengan benar.
Mungkin jika saya dipaksa untuk
menjawab pertanyaan di awal tulisan ini, saya akan menjawab: karena saya ingin
berbagi apa yang saya ketahui, bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk
menyampaikan apa yang saya anggap benar? Tidak ada pemaksaan untuk mengikuti
pendapat saya.
Sebenarnya sih belum ada yang
berani bertanya hal itu kepada saya. Tulisan ini hanya mengada-ada.
"Dunia menjadi semakin buruk bukan karena orang-orang tolol yg
terlalu banyak, tapi karena orang-orang pintar memilih berdiam diri" –
Tirta
19 June 2013
Cerita Kancil Harga Bahan Bakar Minyak (Part 4-Habis)
Saya bersemangat sekali sebelum
menulis tulisan ini, bukan karena seri cerita kancil harga bahan bakar minyak akan segera saya akhiri ― saya tak ingin terjebak dalam kasedihan yang berlarut-larut ketika kebersamaan saya dengan harga BBM lama akan segera habis. Alasan semangat saya adalah karena tulisan ini adalah yang paling kancil
diantara tulisan cerita kancil saya sebelumnya. Let’s see how.
Akhir-akhir ini gemuruh
pergolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak di Indonesia kembali menyeruak. Waktu tidur saya menjadi berkurang lantaran saya tak mau tertinggal dalam euforia ini. Baya yang menarik adalah ketika berbagai pengamat dan intelektual saling beradu argumen, riset dilawan
riset, tulisan dibalas dengan tulisan. Meskipun pertarungan kini menjadi agak
timpang, lantaran tulisan bercorak mendukung kenaikan harga BBM lebih superior
dan gampang dijumpai daripada tulisan yang menolak kenaikan harga BBM
bersubsidi ―
seperti yang sudah saya tulis sebelum ini, saya yakin belum banyak yang menulis
seberapa besar subsidi BBM tahun 2012 dilihat dari kaca mata sepakbola.
Belum lama ini saya melihat majalah
Bola Vaganza yang menampilkan foto Luis Figo, Ronaldo, Zinedine Zidane, dan
David Beckham di halaman depannya. Maka dari itu setelah dua paragraf foreplay diatas, mari sejenak kita menundukan
kepala untuk mengenang kembali kegilaan Los
Galacticos.
Tahun 2000 Florentino Perez mencoba menyusun sekenario gila mengumpulkan pemain-pemain bintang sepakbola di Real Madrid. Siapa saja yang berasil dibawa? Tahun pertama ia membajak Luis Figo dari Barcelona dengan mahar 39 juta pounds (sekitar 585 miliar Rupiah). Tahun kedua, Zinedine Zidane didatangkan dari Juventus dengan nilai transfer 48 juta pounds (sekitar 720 miliar Rupiah). Tahun ketiga, ada Ronaldo yang merapat dengan label 30 juta Pounds (sekitar 450 miliar Rupiah)dari Inter Milan. Selanjutnya, aristokrat sepakbola Inggris, David Beckham ditebus dari Manchester United dengan nilai 25 juta pounds (sekitar 375 miliar Rupiah) dan Terakhir Michael Owen dan Robinho seharga 10 juta Pound (sekitar 150 miliar Rupiah). Total dana yang dikeluarkan dari kantong Perez untuk ide gilanya yang bertajuk Los Galacticos jilid satu untuk 5 pemain bintang tersebut adalah 152 juta Pound atau sekitar 2,2 Triliun Rupiah!
Tahun 2000 Florentino Perez mencoba menyusun sekenario gila mengumpulkan pemain-pemain bintang sepakbola di Real Madrid. Siapa saja yang berasil dibawa? Tahun pertama ia membajak Luis Figo dari Barcelona dengan mahar 39 juta pounds (sekitar 585 miliar Rupiah). Tahun kedua, Zinedine Zidane didatangkan dari Juventus dengan nilai transfer 48 juta pounds (sekitar 720 miliar Rupiah). Tahun ketiga, ada Ronaldo yang merapat dengan label 30 juta Pounds (sekitar 450 miliar Rupiah)dari Inter Milan. Selanjutnya, aristokrat sepakbola Inggris, David Beckham ditebus dari Manchester United dengan nilai 25 juta pounds (sekitar 375 miliar Rupiah) dan Terakhir Michael Owen dan Robinho seharga 10 juta Pound (sekitar 150 miliar Rupiah). Total dana yang dikeluarkan dari kantong Perez untuk ide gilanya yang bertajuk Los Galacticos jilid satu untuk 5 pemain bintang tersebut adalah 152 juta Pound atau sekitar 2,2 Triliun Rupiah!
Selesai bermain main dengan Los Galacticos jilid satu, Perez
digantikan oleh Ramon Calderon (Februari 2006) sebelum pada akhirnya Perez
kembali menjadi presiden Real Madrid di tahun 2009. Bisa ditebak apa yang
terjadi sekembalinya Perez ke Madrid tahun itu? Kegilaan selanjutnya adalah: mewujudkan
Los Galacticos jilid dua. Pada mega proyek yang kedua itu Perez kembali
mendatangkan beberapa pemain bintang ke Santiago Bernabeu, di antaranya Kaka,
Karim Benzema, Xabi Alonso, Sami Khedira, Mesut Oezil, dan Cristiano Ronaldo.
Total dana yang di belanjakan untuk mendapatkan 6 bintang ini adalah sekitar
400 juta Pounds atau sekitar 6 Triliun rupiah. Artinya jika digabungkan dengan bintang
Los Galacticos jilid 1 dan pemain-pemain semenjana lain (karena saya berani
taruhan anda pasti lupa nama-nama ini pernah di Real Madrid) yang di beli
Florentino Perez macam Wálter Samuel, Thomas Gravesen, Jonathan Woodgate, Pablo
García, Makalele, Julio Baptista dan
masih banyak lagi, harian Marca menyebut Florentino Perez merogoh kocek sebesar
860 juta pounds atau sebesar 13 Triliun Rupiah!
Mari kita melompat ke Inggris. Bagaimana dengan Roman Abramovic
yang mampu make-over klub asal London, Chelsea FC. Menurut Transfermarkt, Taipan
minyak asal Rusia itu total sudah mengeluarkan 868,8 juta Pounds (sekitar 13 Triliun
Rupiah) untuk membeli 73 pemain dan merekrut 10 pelatih. Itu belum termasuk biaya operasional klub lainnya.
Jika ditambahkan dengan harga pembelian Chelsea pada Agustus 2003 yang konon
sebesar 160 juta Pounds (sekitar 2,4 Triliun Rupiah), maka jumlahnya menjadi
15, 4 Triliun Rupiah. Sebuah angka fenomenal untuk merubah sejarah klub asal
London Barat itu dalam kurun waktu 10 tahun.
Lalu apa arti dari semua
angka-angka yang luar biasa itu?
Angka-angka luar biasa dari Real
Madrid, Chelsea, maupun Manchester City diatas muncul begitu saja dalam
imajinasi liar saya melihat angka subsidi BBM tahun 2013 dalam APBN kita
tercantum 194 Triliun. Saat itu saya membayangkan seberapa besar sebenarnya
angka yang dikeluarkan untuk mensubsidi konsumsi
BBM masyarakat selama satu tahun di Indonesia? Dengan mengacu pada angka-angka yang
digunakan Florentino Perez untuk membangun Los Galacticos (13 Triliun) dalam 12 tahun, Roman Abramovic yang
mencoba membeli sejarahnya sendiri di Chelsea (15 Triliun) dalam 10 tahun, atau Sheihk Mansoer yang duduk di Etihad
Stadium selama 5 tahun (12,5 Triliun), mari kita sedikit sejenak berhayal bersama-sama seberapa gila orang-orang Indonesia dibanding dengan 3 jutawan sepakbola itu.
Mendadak tahun depan (2014) ada orang
Indonesia yang memiliki 8 tim raksasa di 8 liga terbaik di Eropa ―
karena kepemilikan lebih dari 1 klub di suatu negara dianggap melanggar etika
kesopanan. Liga Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, Perancis, Belanda, Portugal
dan Rusia. Kedelapan klub tersebut disulap menjadi seukuran Los Galacticos dua
jilid yang digabungkan, serta kebijakan transfer seperti Manchester City yang
boleh membelanjakan uang diatas 100 juta pound sekali belanja, serta belanja
pelatih seperti Chelsea jika gagal menuai kesuksesan maka pemecatan sebagai
bayaranya. Nilai belanja pemain dari ke 8 klub seukuran Los Galacticos tersebut hanya sebesar
120 Triliun Rupiah (hasil perkalian 15 Triliun dikali 8 klub).
Kemudian di tahun 2015, dunia sepakbola di
gegerkan dengan hasil perdelapan final Liga Champions yang meloloskan delapan
tim milik orang-orang Indonesia. Kemudian mulai sejak itu banyak pecinta
sepakbola Indonesia yang berlalu-lalang di stadion-stadion besar Eropa. Belum
lagi ketika 8 raksasa Eropa itu menjalani tur pra musim, jangan kaget kalo
mereka nantinya akan bermain di Stadion Moh. Sarengat, Batang atau Stadion
Maguwoharjo, Sleman. Sponsor Jersey klub papan atas Eropa pun berubah jadi
nama-nama produk yang tak asing di telinga kita semacam Kong Guan, Sumber
Kencono Transport, Danar Hadi Batik, Toga Mas Book Store, Bank Saudara, Srabi Notosuman
dan nama-nama produk lain yang biasa dijumpai sehari-hari kini sangat populer
di Eropa. Semuanya dilakukan hanya dengan menyisihkan subsidi BBM selama satu tahun saja.
Tiba-tiba saya terbangun dari mimpi, lantas menyadari kegilaan manajemen sepakbola Eropa tidak begitu mengejutkan jika dibandingkan dengan... ahh sudahlah. Haha
Tiba-tiba saya terbangun dari mimpi, lantas menyadari kegilaan manajemen sepakbola Eropa tidak begitu mengejutkan jika dibandingkan dengan... ahh sudahlah. Haha
"Humor seringkali menyelamatkan seseorang dari derita yang sebenarnya
tak tertanggungkan, Saat derita sudah tak lagi bisa ditolak, kenapa tidak
sekalian saja menertawakannya jika dengan itu kita bisa bertahan lebih panjang "
– Aqwam Farizan
* Dari berbagai sumber, asumsi kurs rupiah terhadap pound adalah Rp. 15.000/Pounds
14 June 2013
Cerita Kancil Harga Bahan Bakar Minyak (Part 3)
“Pemerintah memberikan sinyal kenaikan harga BBM subsidi yaitu premium
menjadi Rp 6.500/liter dan solar menjadi Rp 5.500/liter akan berlaku setelah 17
Juni 2013, atau usai pengesahan APBN Perubahan (APBN-P) 2013” ― Detik
Finance, beberapa jam yang lalu.
Tulisan ini bagi saya seperti sesaat
sadar dalam sebuah lamunan panjang disuatu tempat, lalu otak saya sibuk untuk mengingat
apa yang sebenarnya akan saya lakukan saat itu. Disaat saya tersadar bahwasanya
menulis itu butuh kedisiplinan, saya justru melamun panjang memikirkan logika
terbalik yang ingin saya tuliskan di halaman ini sehingga tidak terlihat
melawan arus ― meski sebenarnya begitu. Namun pemikiran anti-mainstream
itu tak kunjung datang, pada akhirnya kali ini saya terpaksa membagikan
pandangan yang sudah banyak dibicarakan khalayak. Sepertinya intro saya sudah
terlalu panjang.
Kutipan diawal tulisan ini
semacam saat melihat hitungan mundur lampu hijau di traffic light, ketika panel lampu menunjukan angka dibawah detik
ke-lima, dan saya masih berjarak sekitar 100 meter biasanya saya ragu mau
menarik gas dalam-dalam atau justru mengendurkan gas dan mulai menekan rem.
Saat yang menegangkan bagi saya, karena dibutuhkan keputusan yang sangat cepat.
Sedangkan pada kutipan tersebut terdapat tanggal 17 Juni 2013, yang berarti
kurang dari 48 jam lagi (sekarang tanggal 15 Juni 2013, pukul 3 pagi), artinya
jika benar tanggal tersebut berlakunya harga baru Bahan Bakar Minyak di
Indonesia maka sekarang saya dan warga Indonesia yang lain harus segera membuat
keputusan yang sebenarnya (tidak terlalu) penting dalam hidup kita, yaitu: mendukung
atau menolak keputusan pemerintah.
Bagi sebagian orang menolak kenaikan
harga bbm adalah sebuah mekanisme ilmiah dalam memberi jawaban yang otomatis
keluar jika ditanya perihal setuju atau tidak kenaikan harga bbm ―
bahkan mereka juga sepertinya membatin tiket konser juga tak boleh naik. Sedangkan
jika saya bawa pembahasan ke tataran logika dan rasionalisme, logika penolakan
kenaikan harga bahan bakar minyak ini sangatlah populer 1-2 tahun yang lalu. Logika
penolakan kenaikan harga BBM waktu itu lebih laku ketimbang logika mendukung
kenaikan harga BBM, kaum intelektual saat itu sibuk memberi perlawanan
argumentasi terhadap rasionalitas kenaikan harga yang dikemukakan oleh
pemerintah dan pendukung-pendukungnya.
Menarik bagi saya, yang terjadi
saat ini justru kebalikan dari 1-2 tahun lalu. Logika yang mendukung kenaikan
harga BBM kini lebih laku dijual ketimbang lawannya beberapa tahun yang lalu
itu. Bahkan bagi sebagian orang, mengerutkan dahi adalah pilihan yang tepat ketika
melihat atau mendengar penolakan kenaikan harga BBM dari sebagian orang yang
lain. Banyak orang kini telah bisa menjawab alasan kenaikan harga BBM dengan
tepat meski dalam hatinya juga mungkin menolak. Entah keadaan yang telah
berubah, keberhasilan pemerintah dalam sosialisasi kebijakan atau pemaksaan rasionalisasi,
yang jelas keadan ini sangat membingungkan bagi para pengikut anti-mainstream
seperti saya. Konsistensi kaum ini sedang diuji.
Namun terlepas persoalan dukung
mendukung, saya tertarik artikel yang baru saja saya baca, yaitu mengenai
pengelolaan energi di Iran. Tulisan dari mantan wamen ESDM Alm. Widjajono
Partowidagdo ini mengungkap bahwasanya pengelolaan energi di Iran termasuk yang
paling kokoh. Kenapa? Negeri pimpinan Mahmoud Ahmadinejad tersebut merupakan
penghuni 3 besar cadangan minyak terbesdar didunia, total sekitar 160 miliar
barel tersimpan dalam perut bumi negara tersebut. Membandingkanya dengan Indonesia
adalah mungkin termasuk suatu pelecehan terhadap negeri sendiri karena negeri
ini memiliki cadangan minyak tak lebih dari 4 miliar barel.
Bagaimana dengan produksinya per
harinya? Iran setidaknya memproduksi sekitar 4,3 juta barrel per hari bpd
(barrel per day) atau mewakili 5 persen produksi minyak mentah dunia, saya tak
bisa tidak kembali membandingkan dengan produksi Indonesia yang ternyata tak
lebih dari 1 juta barrel per hari. Sedangkan untuk gasnya Negara Ayatollah
Khomaeni ini saat ini memiliki cadangan gas kurang lebih sebesar 30 triliun
meter kubik atau sekitar 17 persen dari cadangan gas dunia.
Selain minyak bumi dan gas, Iran
juga gencar mengembangkan energi alternatif. Salah satunya, yang juga menjadi
salah satu andalan adalah pengembangan energi nuklir. Kapasitas produksinya
mencapai 132.000 ton bijih uranium per tahun. Secara total, cadangan uranium di
tambang tersebut diperkirakan mencapai 1,73 juta ton. Kendati mendapat tudingan
miring, Iran tetap kukuh mengembangkan nuklir sebagai sumber energi listrik di
negara tersebut. Jika sesuai rencana, target bauran penggunaan energi di negara itu di tahun 2021 nanti adalah Sebanyak 10 persen akan berasal dari tenaga nuklir, 20 persen dari hidro (tenaga air), 60 persen dari gas, dan sisanya dari sumber energi lain (termasuk minyak bumi), sungguh road map jangka panjang yang menakjubkan bukan?
Kenapa saya bandingkan polemik
dukung mendukung kenaikan harga BBM dengan pengelolaan energi di Iran? Karena belum
lama ini Iran juga sedang memiliki pengalaman yang serupa dengan Indonesia saat
ini. Iran terpaksa harus memotong subsidi BBM nya karena konsumsi BBM negara
tersebut dianggap terlalu berlebihan. Iran melakukan berbagai daya dan upaya
dalam rangka mereduksi pemborosan BBM yang terjadi sejak tahun 2000an, bahkan
sejak tahun 2005 telah melakukan pembatasan konsumsi BBM per mobil per bulan dengan menggunakan semacam smart card yang memiliki pin yang memiliki kecocokan dengan identitas pemilik mobil, nomer mobil dan warna mobil. Namun usaha itu ternyata belum cukup untuk menekan konsumsi BBM, pada akhirnya pemerintah Iran juga terpaksa mengurangi subsidi BBM kepada
warganya.
Cerita kancil (karena otak saya
seringkali melompat-lompat dalam memaparkan sesuatu) pengelolaan energi antara
Indonesia dan Iran diatas jika ditarik benang merahnya, bagi saya seperti dongeng antara dua keluarga.
Keluarga pertama pernah kaya, namun sekarang jadi keluarga yang biasa-biasa saja,
sedangkan keluarga kedua adalah keluarga yang kaya raya yang tengah merencanakan pengelolaan kekayaan jangka panjangnya. Keluarga pertama sibuk
memikirkan mau berhemat sekarang atau nanti, keluarga kedua sudah berhemat
sebelum keluarga pertama memikirkan mau berhemat atau tidak. Susah membedakan mana yang lebih baik dari keduanya.
“Anti-mainstream itu sebenarnya
udah mainstream sob” – Fico Fahreza
28 April 2013
Cerita Kancil Harga Bahan-Bakar Minyak (Part 2)
“Setiap cobaan dari
tuhan selalu ada maksudnya. Cobaan membuat yang berpikir menjadi lebih baik.
Cobaan membuat orang yang tidak bisa berpikir, marah dan menyalahkan nasib
(Tuhan) dan pihak-pihak lain” Widjajono Partowidagdo. Alm
Tulisan ini datang dari kegelisahan
ditengah kesibukan mengolah data skripsi yang berjumlah 12 kolom kali 2990
baris di spreadsheet yang cukup
melelahkan mata, merasa berhutang karena telah memberi judul part 1 pada
tulisan saya sebelumnya, dan terinspirasi oleh ucapan Tony Stark di film
anyarnya Iron Man 3 “Setiap orang butuh
hoby untuk mengisi waktu luang nya” sebut saja ini hobi saya.
Mungkin sebagian teman saya tak
tau atau bahkan tak mau tau impian saya kelak ketika menjadi jutawan. Saya
ingin memiliki perusahaan bus. Terdengar aneh bukan? Tapi bagi saya, memikirkan
konsep perusahaan bus yang akan saya bangun kelak telah menjadi makanan
sehari-hari saya ketika waktu lenggang, seperti Tony Stark yang memikirkan
bentuk kostum besi terbaiknya. Dalam otak saya bahkan sudah memikirkan nama
perusahaan, orang-orang yang mengisi di perusahaan saya, sampai strategi
pengembangan perusahaan bus milik saya.
Sedikit bocoran, untuk item
terakhir di paragraf diatas, mengenai strategi pengembangan perusahaan bus
saya. Saya sudah merencanakan jika kelak saya mempunyai perusahaan bus, saya
juga harus membeli beberapa stasiun
Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) karena menurut ilmu yang saya pelajari perusahan
yang menguasai input dan output akan lebih sejahtera.
Sederhana saja, jika saya
memiliki perusahaan bus dengan armada sekitar 100 bus (seperti PO.Nusantara,
Sinarjaya, dll). Jika masing-masing tangki bus berkapasitas 150 liter maka tiap
hari saya membutuhkan bahan bakar (solar) sebanyak 15.000 liter. Keuntungan
saya dari angka tersebut adalah, pertama,
jika saya memiliki SPBU, biaya operasional bus tiap harinya tidak keluar ke
tempat lain, dan saya juga menikmati laba dari pengusahaan SPBU saya. Kedua, kepastian pasokan bahan input
perusahaan saya akan terjamin. Ketiga,
jika pemerintah jadi menetapkan dua
harga bbm, saya bisa memetik keuntungan dari chaos sekarang ini ― jangan tanyakan sekarang pada saya,
karena ini tidak etis.
Minggu lalu, sewaktu saya pulang
ke kampung halaman di Pekalongan, saya
menemukan realitas yang cukup mencengangkan bagi saya. Sepanjang perjalanan
Jogjakarta-Pekalongan saya mendapati dua kemungkinan ketika melihat SPBU. Dua
kemungkinan itu adalah mendapati tulisan “BBM Bersubsidi Habis” atau antrian
yang mengular ke luar SPBU. Dua kemungkinan yang sama seperti ketika saya
memutuskan untuk menonton Iron Man 3 di hari pertama penayangan.
Kembali ke harga dan kelangkaan BBM
di Indonesia, entah kenapa tiap kali ada isu kenaikan harga BBM menyeruak,
seketika itu BBM berangsur-angsur menguap. Saya masih menganalisis fenomena
menarik ini. Namun, jika sebagian orang bilang ini masalah penimbunan,
hipotesis saya mnenyangkal hal tersebut. Dalam benak saya peristiwa yang
terjadi tak sesederhana: harga BBM akan naik, lalu para SPBU menimbun stoknya
untuk mengambil untung atas perbedaan harga. Jika kasusnya seperti ini maka pertama, tidak akan kekosongan masal. Kedua, tidak akan terjadi jauh-jauh hari. Ketiga, tidak terkonsentrasi disuatu daerah saja seperti yang
terjadi di Jawa Tengah dan DIY sekarang ini.
Kemudian dugaan saya menuju ke
terbatasnya pasokan terjadi karena kesengajaan dari distributor PSO (dalam hal
ini Pertamina) dalam rangka strategi menjaga bill ke pemerintah di akhir periode nanti tidak membengkak. Iya,
tugas utama Pertamina sebagai PSO BBM itu dilakukan dengan piutang ke
pemerintah, jadi nilai tagihan di akhir periode nanti tidak ada yang bisa
mengendalikan selain Pertamina sendiri dan konsumsi masyarakat. Mengingat konsumsi
BBM tersebut berkaitan dengan subsidi yang diberikan negara, maka penting bagi
pemerintah untuk membatasi agar besaran subsidi tidak menggelembung. Perlu saya
tekankan disini Pertamina hanya sebatas pemeran utama, bukan sutradara. Decision maker tetap ada di pemerintah.
Dengan munculnya fenomena ini, nampaknya
masyarakat kini ‘dipaksa’ harus memilih mana threat yang lebih menimbulkan ketidaknyamanan. Ancaman tersebut ada
dua yaitu: kenaikan harga BBM dan kelangkaan BBM. Masyarakat harus sadar dan
menanyakan kepada dirinya sendiri mana yang lebih menyusahkan dari dua cobaan
tersebut. Setelah masyarakat menemukan kegelisahan yang sesungguhnya, maka
pemerintah kemudian juga harus merumuskan kebijakan berdasar atas kegelisahan
masyarakat tersebut.
Hampir sama seperti kasus dikampus
saya. Dua tahun ini kampus saya cukup bergejolak mengenai permasalahan Kartu
Identitas Kendaraan (KIK). Ketika diberi dualisme constraint kebijakan KIK dengan disinsentifnya atau kelangkaan tempat
parkir yang juga membawa ketidaknyamanan, mahasiswa harusnya dapat memilih
kekawatiran yang sesungguhnya dari mereka itu apa? Maka pihak pengelola
universitas kemudian harus mengelola kekawatiran tersebut dengan kwbijakan yang
tepat.
Saya sempat berdebat masalah ini
dengan teman lama saya yang sebenernya tidak merasakan kegelisahan ini langsung
karena tidak berkuliah ditempat yang sama dengan saya. Teman saya berargumen, pihak
universitas seharusnya menyikapi pertambahan jumlah mahasiswa yang semakin banyak dari tahun ke tahun dengan
melakukan penambahan lahan parkir yang sama besarnya dengan pertambahan jumlah
mahasiswa. Jadi mahasiswa tidak dihadapkan dengan dua pilihan sulit, dikenakan
disinsentif atau dihadapkan dengan kelangkaan tempat parkir. Saat itu saya
hanya berujar: not as simple as that bro!
Kamu tak bisa menghindari pilihan sulit dengan menghilangkan kedua pilihan tersebut.
Told G Buchholz dalam bukunya “New Ideas From Dead Economists” mengatakan bahwa ekonomi adalah ilmu memilih.
Dia bukan memberitahu apa yang kita pilih, tetapi menolong kita mengerti
konsekuensi-konsekuensi atas pilihan kita. Dan manusia selalu dihadapkan oleh
pilihan-pilihan sulit.
Well, pemerintah nampaknya sudah
memilh kebijakan mengenai permasalahan BBM yang akan dijalankan, konon
pemerintah sepertinya akan mengupayakan kebijakan tengah, mungkin pemerintah
terinspirasi dengan Hadist Nabi yang mengatakan “sebaik-baik tempat adalah ditengah”. Kebijakan tengah yang konon mendamaikan
dua belah pihak itu adalah kebijakan dua harga. Jika itu yang dipilih artinya
pemerintah juga harus memilih, lebih mending diteriaki tidak pro rakyat kecil,
atau diteriaki oleh banyaknya pihak yang mengambil keuntungan dari perbedaan
harga.
Seburuk-buruk tempat adalah
kebimbangan ―
bukan hadist nabi.







