ENERGY ECONOMICS

"Dan mengenai minyak ini, terserah pada diri kita sendiri apakah mau barter, mau refining sendiri atau mau dijual sendiri. Atau kita minta tolong kepada patner untuk menjualkanya, unuk kita" - Ibnu Sutowo, Mantan Dirut Pertamina

PHOTOGRAPHY

"There is only you and your camera. The limitations in your photography are in yourself, for what we see is what we are" - Ernst Haas

TRAVELLING

"Most days of the year are unremarkable. They begin, and they end, with no lasting memories made in between. Most days have no impact on the course of a life " - 500 days of summer

FOOTBALL

"The game of life is a lot like football. You have to tackle your problems, block your fears, and score your points when you get the opportunity" - Lewis Grizzard

ECONOMICS

"Banyak intelektual menganggap bahwa merupakan suatu kejahatan tingkat tinggi, apabila seorang ilmuan menulis terlalu indah bagaikan seniman" - Paul Samuelson

21 June 2013

Sebuah Pembelaan, Bantahan, dan Pembenaran

Ngapain sih kamu nulis-nulis tentang migas dan subsidi BBM, ada untungnya buat kamu?”  - Anonim

Pertanyaan diatas bagi saya cukup untuk mengerutkan dahi. Bukan karena jawaban dari pertanyaan itu merupakan suatu yang hanya bisa dibahas dengan proses berpikir panjang, layaknya ketika menjelang pemilihan tema untuk skripsi saya, atau ketika memutuskan siapa yang akan menjadi pasangan hidup saya kelak, atau bahkan hanya untuk memutuskan memakai baju apa ketika saya pergi ke kampus ― tak serumit dan selama itu.

Bagi saya membuat tulisan tentang migas itu tak lebih dari sekedar preferensi saya saja. Orang di desa saya menyebut: “pokok e asal seneng”. Menulis mengenai migas dan energi tak menjadikan saya bisa langsung direkrut oleh perusahaan energi  multi-nasional, yang kemudian membayar saya dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan sehingga saya bisa dengan mudah membeli rumah dengan lengkap dengan Toyota Fortuner-nya di garasinya, Smart TV untuk menonton Liga Inggris dan National Geographic di ruang keluarga, pendingin ruangan yang sejuk di tiap kamar tidurnya, dan water heater di kamar mandinya sehingga saya tak perlu menggigil tiap pagi, seperti apa yang saya impikan. Dunia tidak semudah itu.

Pertanyaan diatas juga mungkin sama seperti halnya jika saya ditanya tentang sepakbola: “Kenapa sih kamu suka banget sama sepakbola dan tampak sangat bahagia diatas lapangan futsal?” Saya tidak mungkin menjawabnya dengan transmisi seperti ini: jika saya menyukai sepak bola, saya akan bahagia ketika bermain futsal, ketika saya bahagia, besar kemungkinan saya akan menampilkan kemampuan terbaik saya, alhasil banyak pemandu bakat yang tertari pada saya, lalu tak lama kemudian saya akan bisa menjadi pemain sepakbola atau futsal profesional, pada akhirnya saya akan menjadi aristokrat sepakbola seperti David Beckham ― yang mempunyai istri cantik dan seksi juga. Saya tak mempunyai mimpi sejauh itu.

Membuat tulisan migas dan bermain futsal hanyalah kesenangan yang bisa saya lakukan sekarang. Persoalan nanti saya bisa bekerja di perusahaan migas atau menjadi pemain sepakbola profesional itu urusan Tuhan. Apa yang terjadi di masa depan saya itu urusan nanti. Ini hanya bumbu perjalanan hidup saya saja seperti interest saya yang lain, yang bisa saja berganti kelak dikemudian hari ― sebelum tertarik dunia pertambangan saya tertarik menjadi arsitektur, pernah juga ingin menjadi motivator.

Oh iya, soal kenaikan harga BBM yang baru saja diumumkan oleh pembantu-pembantu presiden dan harga penyesuaian harga resmi berlaku satu jam lagi, saya pribadi tidak pernah mendukung seratus persen. Saya juga tak menolaknya. Bagi mahasiswa semester akhir yang apa-apa serba susah dan dihadapkan status pengangguran beberapa bulan yang akan datang, kenaikan harga BBM bukanlah hal yang menyenangkan ― seperti kenaikan harga tiket konser bagi penggila live music. Karena bagi saya ketika harga BBM naik, berarti real income saya berkurang. Sungguh hal yang memalukan jika saya meminta tambahan uang saku hanya karena harga BBM naik. Namun entah kenapa kepala saya lebih menerima logika kenaikan harga ketimbang sebaliknya. Saya juga memilih untuk tidak menggunakan alasan karena desain dari Amerika, IMF atau konspirasi Yahudi untuk sebuah logika yang susah dicerna.

Sekali lagi, melakukan dan menjelaskan itu suatu hal yang berbeda. Kadang saya tak melakukan sesuatu dengan benar dan kadang saya tak mengatakan dengan benar.

Mungkin jika saya dipaksa untuk menjawab pertanyaan di awal tulisan ini, saya akan menjawab: karena saya ingin berbagi apa yang saya ketahui, bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk menyampaikan apa yang saya anggap benar? Tidak ada pemaksaan untuk mengikuti pendapat saya.

Sebenarnya sih belum ada yang berani bertanya hal itu kepada saya. Tulisan ini hanya mengada-ada.

"Dunia menjadi semakin buruk bukan karena orang-orang tolol yg terlalu banyak, tapi karena orang-orang pintar memilih berdiam diri" – Tirta

19 June 2013

Cerita Kancil Harga Bahan Bakar Minyak (Part 4-Habis)


Saya bersemangat sekali sebelum menulis tulisan ini, bukan karena seri cerita kancil harga bahan bakar minyak akan segera saya akhiri ― saya tak ingin terjebak dalam kasedihan yang berlarut-larut ketika kebersamaan saya dengan harga BBM lama akan segera habis. Alasan semangat saya adalah karena tulisan ini adalah yang paling kancil diantara tulisan cerita kancil saya sebelumnya. Let’s see how.

Akhir-akhir ini gemuruh pergolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak di Indonesia kembali menyeruak. Waktu tidur saya menjadi berkurang lantaran saya tak mau tertinggal dalam euforia ini. Baya yang menarik adalah ketika berbagai pengamat dan intelektual saling beradu argumen, riset dilawan riset, tulisan dibalas dengan tulisan. Meskipun pertarungan kini menjadi agak timpang, lantaran tulisan bercorak mendukung kenaikan harga BBM lebih superior dan gampang dijumpai daripada tulisan yang menolak kenaikan harga BBM bersubsidi ― seperti yang sudah saya tulis sebelum ini, saya yakin belum banyak yang menulis seberapa besar subsidi BBM tahun 2012 dilihat dari kaca mata sepakbola.

Belum lama ini saya melihat majalah Bola Vaganza yang menampilkan foto Luis Figo, Ronaldo, Zinedine Zidane, dan David Beckham di halaman depannya. Maka dari itu setelah dua paragraf foreplay diatas, mari sejenak kita menundukan kepala untuk mengenang kembali kegilaan Los Galacticos.

Tahun 2000 Florentino Perez mencoba menyusun sekenario gila mengumpulkan pemain-pemain bintang sepakbola di Real Madrid. Siapa saja yang berasil dibawa? Tahun pertama ia membajak Luis Figo dari Barcelona dengan mahar 39 juta pounds (sekitar 585 miliar Rupiah). Tahun kedua, Zinedine Zidane didatangkan dari Juventus dengan nilai transfer 48 juta pounds (sekitar 720 miliar Rupiah). Tahun ketiga, ada Ronaldo yang  merapat dengan label 30 juta Pounds (sekitar 450 miliar Rupiah)dari Inter Milan. Selanjutnya, aristokrat sepakbola Inggris, David Beckham  ditebus dari Manchester United dengan nilai 25 juta pounds (sekitar 375 miliar Rupiah) dan Terakhir Michael Owen dan Robinho seharga 10 juta Pound (sekitar 150 miliar Rupiah). Total dana yang dikeluarkan dari kantong Perez untuk ide gilanya yang bertajuk Los Galacticos jilid satu untuk 5 pemain bintang tersebut adalah 152 juta Pound atau sekitar 2,2 Triliun Rupiah!

Selesai bermain main dengan Los Galacticos jilid satu, Perez digantikan oleh Ramon Calderon (Februari 2006) sebelum pada akhirnya Perez kembali menjadi presiden Real Madrid di tahun 2009. Bisa ditebak apa yang terjadi sekembalinya Perez ke Madrid tahun itu? Kegilaan selanjutnya adalah: mewujudkan Los Galacticos jilid dua.  Pada mega proyek yang kedua itu Perez kembali mendatangkan beberapa pemain bintang ke Santiago Bernabeu, di antaranya Kaka, Karim Benzema, Xabi Alonso, Sami Khedira, Mesut Oezil, dan Cristiano Ronaldo. Total dana yang di belanjakan untuk mendapatkan 6 bintang ini adalah sekitar 400 juta Pounds atau sekitar 6 Triliun rupiah. Artinya jika digabungkan dengan bintang Los Galacticos jilid 1 dan pemain-pemain semenjana lain (karena saya berani taruhan anda pasti lupa nama-nama ini pernah di Real Madrid) yang di beli Florentino Perez macam Wálter Samuel, Thomas Gravesen, Jonathan Woodgate, Pablo García, Makalele,  Julio Baptista dan masih banyak lagi, harian Marca menyebut Florentino Perez merogoh kocek sebesar 860 juta pounds atau sebesar 13 Triliun Rupiah!

Mari kita melompat ke Inggris. Bagaimana dengan Roman Abramovic yang mampu make-over klub asal London, Chelsea FC. Menurut Transfermarkt, Taipan minyak asal Rusia itu total sudah mengeluarkan 868,8 juta Pounds (sekitar 13 Triliun Rupiah) untuk membeli 73 pemain dan merekrut 10 pelatih. Itu belum termasuk biaya operasional klub lainnya. Jika ditambahkan dengan harga pembelian Chelsea pada Agustus 2003 yang konon sebesar 160 juta Pounds (sekitar 2,4 Triliun Rupiah), maka jumlahnya menjadi 15, 4 Triliun Rupiah. Sebuah angka fenomenal untuk merubah sejarah klub asal London Barat itu dalam kurun waktu 10 tahun.


Selanjutnya,  apa kabar dengan Manchester City? Meski tertulis Abu Dhabi Groub pada legal formal pemilik klub, namun nama Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan boleh dibilang menjadi kompetitor tangguh bagi Florentino Perez dan Roman Abramovic (meskipun Perez hanya presiden bukan pemilik klub). Nama Sheihk Mansoer mendadak tenar di dunia sepakbola lantaran menggelontorkan uang senilai 300 juta Pounds (sekitar 4,5 Triliun Rupiah) untuk membeli Manchester City dari tangan  Perdana Mentri Thailand, Thaksin Shinawatra. Tak berapa lama dari pembelian prestisius itu Manchester City langsusng mencatatkan rekor pembelian pemain termahal di Liga Inggris, yaitu sebesar 32 juta Pounds (sekitar 525 miliar Rupiah) atas nama Robinho. Menurut situs tranferleague.co.uk tercatat sampai tahun 2013 Manchester City tak kurang telah mengucurkan dana sebesar 536 juta Pounds (sekitar 8 Triliun Rupiah) untuk mendatangkan 44 pemain senior baru. Maka total uang yang harus keluar dari rekening dari Sheikh Mansour adalah 836 juta Pounds  atau senilai 12,5 Triliun Rupiah!

Lalu apa arti dari semua angka-angka yang luar biasa itu? 

Angka-angka luar biasa dari Real Madrid, Chelsea, maupun Manchester City diatas muncul begitu saja dalam imajinasi liar saya melihat angka subsidi BBM tahun 2013 dalam APBN kita tercantum 194 Triliun. Saat itu saya membayangkan seberapa besar sebenarnya angka yang dikeluarkan  untuk mensubsidi konsumsi BBM masyarakat selama satu tahun di Indonesia? Dengan mengacu pada angka-angka yang digunakan Florentino Perez untuk membangun Los Galacticos (13 Triliun) dalam 12 tahun, Roman Abramovic yang mencoba membeli sejarahnya sendiri di Chelsea (15 Triliun) dalam 10 tahun, atau Sheihk Mansoer yang duduk di Etihad Stadium selama 5 tahun (12,5 Triliun), mari kita sedikit sejenak berhayal bersama-sama seberapa gila orang-orang Indonesia dibanding dengan 3 jutawan sepakbola itu.

Mendadak tahun depan (2014) ada orang Indonesia yang memiliki 8 tim raksasa di 8 liga terbaik di Eropa ― karena kepemilikan lebih dari 1 klub di suatu negara dianggap melanggar etika kesopanan. Liga Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, Perancis, Belanda, Portugal dan Rusia. Kedelapan klub tersebut disulap menjadi seukuran Los Galacticos dua jilid yang digabungkan, serta kebijakan transfer seperti Manchester City yang boleh membelanjakan uang diatas 100 juta pound sekali belanja, serta belanja pelatih seperti Chelsea jika gagal menuai kesuksesan maka pemecatan sebagai bayaranya. Nilai belanja pemain dari ke 8 klub seukuran Los Galacticos tersebut hanya sebesar 120 Triliun Rupiah (hasil perkalian 15 Triliun dikali 8 klub).

Kemudian di tahun 2015, dunia sepakbola di gegerkan dengan hasil perdelapan final Liga Champions yang meloloskan delapan tim milik orang-orang Indonesia. Kemudian mulai sejak itu banyak pecinta sepakbola Indonesia yang berlalu-lalang di stadion-stadion besar Eropa. Belum lagi ketika 8 raksasa Eropa itu menjalani tur pra musim, jangan kaget kalo mereka nantinya akan bermain di Stadion Moh. Sarengat, Batang atau Stadion Maguwoharjo, Sleman. Sponsor Jersey klub papan atas Eropa pun berubah jadi nama-nama produk yang tak asing di telinga kita semacam Kong Guan, Sumber Kencono Transport, Danar Hadi Batik, Toga Mas Book Store, Bank Saudara, Srabi Notosuman dan nama-nama produk lain yang biasa dijumpai sehari-hari kini sangat populer di Eropa. Semuanya dilakukan hanya dengan menyisihkan subsidi BBM selama satu tahun saja.

Tiba-tiba saya terbangun dari mimpi, lantas menyadari kegilaan manajemen sepakbola Eropa tidak begitu mengejutkan jika dibandingkan dengan... ahh sudahlah. Haha

"Humor seringkali menyelamatkan seseorang dari derita yang sebenarnya tak tertanggungkan, Saat derita sudah tak lagi bisa ditolak, kenapa tidak sekalian saja menertawakannya jika dengan itu kita bisa bertahan lebih panjang " – Aqwam Farizan

* Dari berbagai sumber, asumsi kurs rupiah terhadap pound adalah Rp. 15.000/Pounds

14 June 2013

Cerita Kancil Harga Bahan Bakar Minyak (Part 3)

“Pemerintah memberikan sinyal kenaikan harga BBM subsidi yaitu premium menjadi Rp 6.500/liter dan solar menjadi Rp 5.500/liter akan berlaku setelah 17 Juni 2013, atau usai pengesahan APBN Perubahan (APBN-P) 2013” ― Detik Finance, beberapa jam yang lalu.

Tulisan ini bagi saya seperti sesaat sadar dalam sebuah lamunan panjang disuatu tempat, lalu otak saya sibuk untuk mengingat apa yang sebenarnya akan saya lakukan saat itu. Disaat saya tersadar bahwasanya menulis itu butuh kedisiplinan, saya justru melamun panjang memikirkan logika terbalik yang ingin saya tuliskan di halaman ini sehingga tidak terlihat melawan arus ― meski sebenarnya begitu. Namun pemikiran anti-mainstream itu tak kunjung datang, pada akhirnya kali ini saya terpaksa membagikan pandangan yang sudah banyak dibicarakan khalayak. Sepertinya intro saya sudah terlalu panjang.

Kutipan diawal tulisan ini semacam saat melihat hitungan mundur lampu hijau di traffic light, ketika panel lampu menunjukan angka dibawah detik ke-lima, dan saya masih berjarak sekitar 100 meter biasanya saya ragu mau menarik gas dalam-dalam atau justru mengendurkan gas dan mulai menekan rem. Saat yang menegangkan bagi saya, karena dibutuhkan keputusan yang sangat cepat. Sedangkan pada kutipan tersebut terdapat tanggal 17 Juni 2013, yang berarti kurang dari 48 jam lagi (sekarang tanggal 15 Juni 2013, pukul 3 pagi), artinya jika benar tanggal tersebut berlakunya harga baru Bahan Bakar Minyak di Indonesia maka sekarang saya dan warga Indonesia yang lain harus segera membuat keputusan yang sebenarnya (tidak terlalu) penting dalam hidup kita, yaitu: mendukung atau menolak keputusan pemerintah.

Bagi sebagian orang menolak kenaikan harga bbm adalah sebuah mekanisme ilmiah dalam memberi jawaban yang otomatis keluar jika ditanya perihal setuju atau tidak kenaikan harga bbm ― bahkan mereka juga sepertinya membatin tiket konser juga tak boleh naik. Sedangkan jika saya bawa pembahasan ke tataran logika dan rasionalisme, logika penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak ini sangatlah populer 1-2 tahun yang lalu. Logika penolakan kenaikan harga BBM waktu itu lebih laku ketimbang logika mendukung kenaikan harga BBM, kaum intelektual saat itu sibuk memberi perlawanan argumentasi terhadap rasionalitas kenaikan harga yang dikemukakan oleh pemerintah dan pendukung-pendukungnya.

Menarik bagi saya, yang terjadi saat ini justru kebalikan dari 1-2 tahun lalu. Logika yang mendukung kenaikan harga BBM kini lebih laku dijual ketimbang lawannya beberapa tahun yang lalu itu. Bahkan bagi sebagian orang, mengerutkan dahi adalah pilihan yang tepat ketika melihat atau mendengar penolakan kenaikan harga BBM dari sebagian orang yang lain. Banyak orang kini telah bisa menjawab alasan kenaikan harga BBM dengan tepat meski dalam hatinya juga mungkin menolak. Entah keadaan yang telah berubah, keberhasilan pemerintah dalam sosialisasi kebijakan atau pemaksaan rasionalisasi, yang jelas keadan ini sangat membingungkan bagi para pengikut anti-mainstream seperti saya. Konsistensi kaum ini sedang diuji.

Namun terlepas persoalan dukung mendukung, saya tertarik artikel yang baru saja saya baca, yaitu mengenai pengelolaan energi di Iran. Tulisan dari mantan wamen ESDM Alm. Widjajono Partowidagdo ini mengungkap bahwasanya pengelolaan energi di Iran termasuk yang paling kokoh. Kenapa? Negeri pimpinan Mahmoud Ahmadinejad tersebut merupakan penghuni 3 besar cadangan minyak terbesdar didunia, total sekitar 160 miliar barel tersimpan dalam perut bumi negara tersebut. Membandingkanya dengan Indonesia adalah mungkin termasuk suatu pelecehan terhadap negeri sendiri karena negeri ini memiliki cadangan minyak tak lebih dari 4 miliar barel.

Bagaimana dengan produksinya per harinya? Iran setidaknya memproduksi sekitar 4,3 juta barrel per hari bpd (barrel per day) atau mewakili 5 persen produksi minyak mentah dunia, saya tak bisa tidak kembali membandingkan dengan produksi Indonesia yang ternyata tak lebih dari 1 juta barrel per hari. Sedangkan untuk gasnya Negara Ayatollah Khomaeni ini saat ini memiliki cadangan gas kurang lebih sebesar 30 triliun meter kubik atau sekitar 17 persen dari cadangan gas dunia.

Selain minyak bumi dan gas, Iran juga gencar mengembangkan energi alternatif. Salah satunya, yang juga menjadi salah satu andalan adalah pengembangan energi nuklir. Kapasitas produksinya mencapai 132.000 ton bijih uranium per tahun. Secara total, cadangan uranium di tambang tersebut diperkirakan mencapai 1,73 juta ton. Kendati mendapat tudingan miring, Iran tetap kukuh mengembangkan nuklir sebagai sumber energi listrik di negara tersebut. Jika sesuai rencana, target bauran penggunaan energi di negara itu di tahun 2021 nanti adalah Sebanyak 10 persen akan berasal dari tenaga nuklir, 20 persen dari hidro (tenaga air), 60 persen dari gas, dan sisanya dari sumber energi lain (termasuk minyak bumi), sungguh road map jangka panjang yang menakjubkan bukan?

Kenapa saya bandingkan polemik dukung mendukung kenaikan harga BBM dengan pengelolaan energi di Iran? Karena belum lama ini Iran juga sedang memiliki pengalaman yang serupa dengan Indonesia saat ini. Iran terpaksa harus memotong subsidi BBM nya karena konsumsi BBM negara tersebut dianggap terlalu berlebihan. Iran melakukan berbagai daya dan upaya dalam rangka mereduksi pemborosan BBM yang terjadi sejak tahun 2000an, bahkan sejak tahun 2005 telah melakukan pembatasan konsumsi BBM per mobil per bulan dengan menggunakan semacam smart card yang memiliki pin yang memiliki kecocokan dengan identitas pemilik mobil, nomer mobil dan warna mobil. Namun usaha itu ternyata belum cukup untuk menekan konsumsi BBM, pada akhirnya pemerintah Iran juga terpaksa mengurangi subsidi BBM kepada warganya.

Cerita kancil (karena otak saya seringkali melompat-lompat dalam memaparkan sesuatu) pengelolaan energi antara Indonesia dan Iran diatas jika ditarik benang merahnya, bagi saya seperti dongeng antara dua keluarga. Keluarga pertama pernah kaya, namun sekarang jadi keluarga yang biasa-biasa saja, sedangkan keluarga kedua adalah keluarga yang kaya raya yang tengah merencanakan pengelolaan kekayaan jangka panjangnya. Keluarga pertama sibuk memikirkan mau berhemat sekarang atau nanti, keluarga kedua sudah berhemat sebelum keluarga pertama memikirkan mau berhemat atau tidak. Susah membedakan mana yang lebih baik dari keduanya.

Anti-mainstream itu sebenarnya udah mainstream sob” – Fico Fahreza

28 April 2013

Cerita Kancil Harga Bahan-Bakar Minyak (Part 2)


Setiap cobaan dari tuhan selalu ada maksudnya. Cobaan membuat yang berpikir menjadi lebih baik. Cobaan membuat orang yang tidak bisa berpikir, marah dan menyalahkan nasib (Tuhan) dan pihak-pihak lain” Widjajono Partowidagdo. Alm 

Tulisan ini datang dari kegelisahan ditengah kesibukan mengolah data skripsi yang berjumlah 12 kolom kali 2990 baris di spreadsheet yang cukup melelahkan mata, merasa berhutang karena telah memberi judul part 1 pada tulisan saya sebelumnya, dan terinspirasi oleh ucapan Tony Stark di film anyarnya Iron Man 3 “Setiap orang butuh hoby untuk mengisi waktu luang nya” sebut saja ini hobi saya.

Mungkin sebagian teman saya tak tau atau bahkan tak mau tau impian saya kelak ketika menjadi jutawan. Saya ingin memiliki perusahaan bus. Terdengar aneh bukan? Tapi bagi saya, memikirkan konsep perusahaan bus yang akan saya bangun kelak telah menjadi makanan sehari-hari saya ketika waktu lenggang, seperti Tony Stark yang memikirkan bentuk kostum besi terbaiknya. Dalam otak saya bahkan sudah memikirkan nama perusahaan, orang-orang yang mengisi di perusahaan saya, sampai strategi pengembangan perusahaan bus milik saya.

Sedikit bocoran, untuk item terakhir di paragraf diatas, mengenai strategi pengembangan perusahaan bus saya. Saya sudah merencanakan jika kelak saya mempunyai perusahaan bus, saya juga harus membeli  beberapa stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) karena menurut ilmu yang saya pelajari perusahan yang menguasai input dan output akan lebih sejahtera.

Sederhana saja, jika saya memiliki perusahaan bus dengan armada sekitar 100 bus (seperti PO.Nusantara, Sinarjaya, dll). Jika masing-masing tangki bus berkapasitas 150 liter maka tiap hari saya membutuhkan bahan bakar (solar) sebanyak 15.000 liter. Keuntungan saya dari angka tersebut adalah, pertama, jika saya memiliki SPBU, biaya operasional bus tiap harinya tidak keluar ke tempat lain, dan saya juga menikmati laba dari pengusahaan SPBU saya. Kedua, kepastian pasokan bahan input perusahaan saya akan terjamin. Ketiga,  jika pemerintah jadi menetapkan dua harga bbm, saya bisa memetik keuntungan dari chaos sekarang ini ― jangan tanyakan sekarang pada saya, karena ini tidak etis.


Minggu lalu, sewaktu saya pulang ke kampung halaman di Pekalongan,  saya menemukan realitas yang cukup mencengangkan bagi saya. Sepanjang perjalanan Jogjakarta-Pekalongan saya mendapati dua kemungkinan ketika melihat SPBU. Dua kemungkinan itu adalah mendapati tulisan “BBM Bersubsidi Habis” atau antrian yang mengular ke luar SPBU. Dua kemungkinan yang sama seperti ketika saya memutuskan untuk menonton Iron Man 3 di hari pertama penayangan.

Kembali ke harga dan kelangkaan BBM di Indonesia, entah kenapa tiap kali ada isu kenaikan harga BBM menyeruak, seketika itu BBM berangsur-angsur menguap. Saya masih menganalisis fenomena menarik ini. Namun, jika sebagian orang bilang ini masalah penimbunan, hipotesis saya mnenyangkal hal tersebut. Dalam benak saya peristiwa yang terjadi tak sesederhana: harga BBM akan naik, lalu para SPBU menimbun stoknya untuk mengambil untung atas perbedaan harga.  Jika kasusnya seperti ini maka pertama, tidak akan  kekosongan masal. Kedua, tidak akan terjadi jauh-jauh hari. Ketiga, tidak terkonsentrasi disuatu daerah saja seperti yang terjadi di Jawa Tengah dan DIY sekarang ini.

Kemudian dugaan saya menuju ke terbatasnya pasokan terjadi karena kesengajaan dari distributor PSO (dalam hal ini Pertamina) dalam rangka strategi menjaga bill ke pemerintah di akhir periode nanti tidak membengkak. Iya, tugas utama Pertamina sebagai PSO BBM itu dilakukan dengan piutang ke pemerintah, jadi nilai tagihan di akhir periode nanti tidak ada yang bisa mengendalikan selain Pertamina sendiri dan konsumsi masyarakat. Mengingat konsumsi BBM tersebut berkaitan dengan subsidi yang diberikan negara, maka penting bagi pemerintah untuk membatasi agar besaran subsidi tidak menggelembung. Perlu saya tekankan disini Pertamina hanya sebatas pemeran utama, bukan sutradara. Decision maker tetap ada di pemerintah.

Dengan munculnya fenomena ini, nampaknya masyarakat kini ‘dipaksa’ harus memilih mana threat yang lebih menimbulkan ketidaknyamanan. Ancaman tersebut ada dua yaitu: kenaikan harga BBM dan kelangkaan BBM. Masyarakat harus sadar dan menanyakan kepada dirinya sendiri mana yang lebih menyusahkan dari dua cobaan tersebut. Setelah masyarakat menemukan kegelisahan yang sesungguhnya, maka pemerintah kemudian juga harus merumuskan kebijakan berdasar atas kegelisahan masyarakat tersebut.

Hampir sama seperti kasus dikampus saya. Dua tahun ini kampus saya cukup bergejolak mengenai permasalahan Kartu Identitas Kendaraan (KIK). Ketika diberi dualisme constraint kebijakan KIK dengan disinsentifnya atau kelangkaan tempat parkir yang juga membawa ketidaknyamanan, mahasiswa harusnya dapat memilih kekawatiran yang sesungguhnya dari mereka itu apa? Maka pihak pengelola universitas kemudian harus mengelola kekawatiran tersebut dengan kwbijakan yang tepat.

Saya sempat berdebat masalah ini dengan teman lama saya yang sebenernya tidak merasakan kegelisahan ini langsung karena tidak berkuliah ditempat yang sama dengan saya. Teman saya berargumen, pihak universitas seharusnya menyikapi pertambahan jumlah mahasiswa  yang semakin banyak dari tahun ke tahun dengan melakukan penambahan lahan parkir yang sama besarnya dengan pertambahan jumlah mahasiswa. Jadi mahasiswa tidak dihadapkan dengan dua pilihan sulit, dikenakan disinsentif atau dihadapkan dengan kelangkaan tempat parkir. Saat itu saya hanya berujar: not as simple as that bro! Kamu tak bisa menghindari pilihan sulit dengan menghilangkan kedua pilihan tersebut.

Told G Buchholz dalam bukunya “New Ideas From Dead Economists”  mengatakan bahwa ekonomi adalah ilmu memilih. Dia bukan memberitahu apa yang kita pilih, tetapi menolong kita mengerti konsekuensi-konsekuensi atas pilihan kita. Dan manusia selalu dihadapkan oleh pilihan-pilihan sulit.

Well, pemerintah nampaknya sudah memilh kebijakan mengenai permasalahan BBM yang akan dijalankan, konon pemerintah sepertinya akan mengupayakan kebijakan tengah, mungkin pemerintah terinspirasi dengan Hadist Nabi yang mengatakan “sebaik-baik tempat adalah ditengah”. Kebijakan tengah yang konon mendamaikan dua belah pihak itu adalah kebijakan dua harga. Jika itu yang dipilih artinya pemerintah juga harus memilih, lebih mending diteriaki tidak pro rakyat kecil, atau diteriaki oleh banyaknya pihak yang mengambil keuntungan dari perbedaan harga.

Seburuk-buruk tempat adalah kebimbangan ― bukan hadist nabi.