ENERGY ECONOMICS

"Dan mengenai minyak ini, terserah pada diri kita sendiri apakah mau barter, mau refining sendiri atau mau dijual sendiri. Atau kita minta tolong kepada patner untuk menjualkanya, unuk kita" - Ibnu Sutowo, Mantan Dirut Pertamina

PHOTOGRAPHY

"There is only you and your camera. The limitations in your photography are in yourself, for what we see is what we are" - Ernst Haas

TRAVELLING

"Most days of the year are unremarkable. They begin, and they end, with no lasting memories made in between. Most days have no impact on the course of a life " - 500 days of summer

FOOTBALL

"The game of life is a lot like football. You have to tackle your problems, block your fears, and score your points when you get the opportunity" - Lewis Grizzard

ECONOMICS

"Banyak intelektual menganggap bahwa merupakan suatu kejahatan tingkat tinggi, apabila seorang ilmuan menulis terlalu indah bagaikan seniman" - Paul Samuelson

Showing posts with label Migas. Show all posts
Showing posts with label Migas. Show all posts

23 June 2013

Overview Dua Forum Penyesuaian Harga BBM: Formalitas Vs Prestisius


Satu bisul telah pecah tadi malam, oleh karena itu pada hari ini kita tidak akan membahas kapan pecahnya tapi bagaimana keadaan setelah bisul itu pecah” – Dr. Elan Satriawan, Moderator Forum Diskusi Kebijakan Energi.

Dalam tiga hari terakhir ini saya sengaja menyempatkan untuk menimba ilmu mengenai prosesi kenaikan harga BBM ― sebagian yang lain menyebutnya penyesuaian harga BBM. Bentuk dari usaha saya adalah menghadiri 2 forum diskusi mengenai topik ini dan semoga tulisan ini sebagai laporan informal saya. Yang menarik, forum pertama diadakan pada hari Jum’at (21 Juni 2013) atau sehari sebelum kenaikan harga BBM resmi diumumkan oleh pemerintah, sedangkan forum kedua pada hari berikutnya, setelah harga baru benar-benar ditetapkan. Bagi saya ini semacam analisis pertandingan sepakbola namun yang pertama dilakukan sehari sebelum matchday, dan yang kedua analisis setelah mengetahui hasil pertandingan. Seharusnya analisis yang pertama lebih menarik.

Spesifikasi forum pertama: Berlabel sosialisasi, diadakan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bekerjasama dengan Direktorat Kemahasiswaan dan Pertamina regional Jogja. Bisa ditebak acara yang diadakan oleh sebuah lembaga pemerintah (BPH Migas) dengan lembaga pemerintah lainnya (Dirmawa UGM) terlebih dilaksanakan satu hari jelang kenaikan harga BBM, pasti acara yang diadakan se-kena-nya saja, tak lebih dari formalitas, dan biasanya bertujuan untuk sekedar penyerapan anggaran. Dugaan saya pun tak meleset.

Spesifikasi forum kedua: Berlabel diskusi, diadakan oleh kerjasama antara GIZ (sebut saja lembaga internasional asal Jerman, karena namanya terlalu panjang untuk dihafal) dengan P2EB (Lembaga Penelitian dan Pelatihan FEB UGM) dan Kementrian Keuangan. Menghadirkan 6 pembicara dengan latar belakang dan keilmuann yang berbeda-beda. Dengan komposisi audience perpaduan antara mahasiswa, dosen, dan beberapa bule ― saya sebut demikian karena saya tak sempat bertanya kenapa mereka mendatangi forum tersebut. Dengan alasan forum yang kedua lebih prestisius, maka yang akan saya ulas di tulisan ini adalah forum yang kedua. Untuk menyingkat saya share per pembicara, jadi minimal ada 6 paragraf (6 pembicara) dibawah kalimat yang sedang anda baca ini.

Pembicara pertama adalah Dr. Arif Budimanta seorang anggota DPR RI dari Fraksi PDI perjuangan. Dalam benak saya, ketika pertamakali mendengar anggota DPR pasti yang terlintas adalah: Seorang yang pandai ber-retorika, jago bersilat lidah, dan memiliki kedalaman yang kurang. Namun kali ini saya kurang tepat, meski judul presentasi beliau “Subsidi BBM dalam Kehidupan Nasional” agak berbau retoris, dalam penyampaian-nya beliau terlihat sangat flesksibel dan lugas. Sebagai partai oposisi sikap belia dalam kasus ini sangat bisa ditebak, namun satu hal yang saya kagumi dari politisi PDI Perjuangan yaitu landasan filosofis-nasionalis begitu kentara  pada setiap argumenya. Tak peduli untuk kasus apa dan siapa yang berbicara, konsistensi partai ini patut untuk menuai pujian ― terlepas benar atau salah sikap tersebut.

Pembicara kedua adalah Dr. Irfa Ampri, Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) ― nama jabatan yang cukup panjang. Beliau membawakan presentasi berjudul “Ekonomi Hijau dan Postur APBN”. Meski matri yang ada dalam handout cukup lengkap dan informatif, namun karena penyampaian beliau terlampau kalem, maka saya urung menangkap garis merah yang ingin disampaikan, dan saya pun seakan terbuai oleh sejuknya ruangan auditorium tersebut sampai saya kembali tersadar pada bagian kesimpulan, beliau berujar: Solusi penyesuaian subsidi harga BBM digunakan untuk mendorong daya saing energi terbarukan dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi serta menekan tingkat emisi.

Pembicara ketiga adalah Bapak Sayono Hadiwijoyo, komite BPH Migas. Secara sekilas, ibarat pemain sepak bola beliau seperti gelandang semenjana yang keberadaanya nyaris tak diperhitungkan pada forum ini, namun ternyata saya dugaan kembali salah. Beliau membuka presentasinya dengan kalimat sarkasme yang menggelitik: “Saya senang sekali hari ini, biasanya ketika saya berdiskusi dengan para mahasiswa pasti serunya dapet, tapi solusinya tidak”. Meski dalam handout beliau terdapat 57 slide yang berisi data dan sekema industri hilir migas dan road map bauran energi, beliau tidak membahas semuanya, sepertinya beliau hanya ingin menunjukan kompleksitas sektor hilir migas sesuai judul presentasi beliau: Kompleksitas sektor hilir migas. Yang menarik bagi saya, adalah ketika beliau membahas mengenai stockpiling in japan, tidak seperti pejabat pemerintah yang lain yang menahan diri untuk tidak mengkritik pihaknya yang lain, beliau secara tersirat mencibir kebijakan cadangan migas dalam negeri (yang hanya bisa bertahan dalam 21 hari) dengan membandingkanya dengan cadangan minyak Jepang yang bisa bertahan 203 hari. Pertanyaan sindiran yang saya ingat: Apa yang terjadi di Indonesia jika 10 gunung berapi (saja) meletus secara bersamaan? Berapa lama kita bisa bertahan?

Pembicara empat adalah perwakilan dari mahasiswa, Didit Putra Kusuma, mantan ketua komite kedaulatan energi. Bukan nama yang asing bagi saya, saya sudah pernah mendengar namanya dari beberapa teman, mungkin karena ada ungkapan sesama nelayan selalu saling melihat dari kejauhan. Pembawaannya yang lebih mirip seperti comic (stand-up komedian) langsung membawa keceriaan di segenap penjuuru ruangan, sesekali saya pun ikut terbawa. Terlepas dari slide yang bertumpuk-tumpuk dan judul presentasi yang begitu tremendous: Subsidi BBM dari perspektif Science, Teknis, Sosial dan Ekonomi, saya memberikan pujian yang tinggi kepada beliau. Pertama, karena beliau sama sekali tidak merasa inferior di forum bergengsi tersebut. Kedua, pemaparan yang penuh semangat a.k.a. khas mahasiswa banget. Ketiga, karena beliau menggunakan logo KKE yang saya desain di setiap slide-nya.

Pembicara kelima, Prof. Danang Parikesit seorang Guru besar Transportasi UGM dan juga ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Pembicara yang satu ini nampaknya memenangkan hati saya, bahkan sebelum beliau menyampaikan presentasinya. Cara beliau duduk pun bagi saya telah memancarkan kharisma dan kepercayaan diri yang tinggi, namun sama sekali tak terlihat raut kesombongan. Beliau menyampaikan presentasi yang berjudul: “Missing Link” Pengurangan Subsidi BBM, namun dalam pemaparanya beliau lebih menitikberatkan dampak kenaikan harga BBM terhadap sektor transportasi: “Kebijakan pengurangan subsidi saat ini lebih fokus pada kebijakan fiskal namun tidak diikuti kebijakan progresif investasi dan insentif untuk mendorong moda pemakain transportasi angkutan umum termasuk bis listrik dan elektrifikasi kereta api”. Setidaknya ada tiga poin penting yang saya petik dari beliau. Pertama, ketiadaan pilihan membuat masyarakat tetap bernafsu nembeli BBM, akan lebih elegan jika pemerintah memberikan pilihan dahulu baru menaikan harga. Kedua, kebijakan energi, transportasi, industri otomotif dan fiskal haruslah merupakan paket kebijakan yang konvergen. Ketiga, yang terpenting bukan seberapa tinggi dampak kenaikan harga BBM, namun pemerintah harus meningkatkan pula daya beli masyarakat agar bisa membeli BBM pada harga berapapun. “Yang dilakukan pemerintah bukanlah yang dijanjikan pemerintah, namun apa yang terjadi setelah kenaikan ini”

Pembicara terakhir adalah Dr. Rimawan Pradiptyo, deputi penelitian dan basis data P2EB FEB UGM. Meskipun materi yang disampaikanya sangat menarik, namun bagi saya yang telah mengambil kelas beliau tiga kali dalam 4 tahun ini, semacam ada de javu ketika beliau menyampaikan materi yang berjudul: kompleksitas rumah tangga menghadapi penurunan subsidi BBM. Dalam lembaran highlight saya ada beberapa catatan diantaranya. Pertama, diperlukanya kebijakan yang parsial seperti yang telah diungkapkan oleh Prof Danang, meskipun orang Indonesia pada dasarnya tidak mau bekerjasama. Kedua, diperlukan analisis berbasis bukti (evidance-based policy) dalam membuat kebijakan bukan anecdotal evidence (mitos). Ketiga, Menunda bukanlah kebijakan yang baik. Diluar tiga hal diatas, sebenernya saya menantikan kisah pasukan super jerman yang menyerang rusia namun kalah hanya karena kehabisan bahan bakar, sebuah cerita yang diceritakan dengan detail di tiap kelas beliau.

Pada akhirnya, seperti yang ditutup oleh moderator forum, saya tak akan menyimpulkan banyak dari keenam pembicara yang menggunakan sudut pandangnya masing-masing, meski pada benang merah diperlukan kebijakan yang konvergen, dari berbagai sudut pandang keilmuan. Meminjam penutup dari Didit Putra Kusuma: “Last Warning untuk pemerintah: Yang sekarang mendukung, bukan tidak mungkin berikutnya akan menentang, bahkan lebih keras!


Saya juga penasaran apa yang akan dilakukan pemerintah setelah ini. Terima kasih para panitia diskusi. Danke!

video streaming Forum Diskusi Kebijakan Ekonomi (FDKE) FEB UGM:


21 June 2013

Sebuah Pembelaan, Bantahan, dan Pembenaran

Ngapain sih kamu nulis-nulis tentang migas dan subsidi BBM, ada untungnya buat kamu?”  - Anonim

Pertanyaan diatas bagi saya cukup untuk mengerutkan dahi. Bukan karena jawaban dari pertanyaan itu merupakan suatu yang hanya bisa dibahas dengan proses berpikir panjang, layaknya ketika menjelang pemilihan tema untuk skripsi saya, atau ketika memutuskan siapa yang akan menjadi pasangan hidup saya kelak, atau bahkan hanya untuk memutuskan memakai baju apa ketika saya pergi ke kampus ― tak serumit dan selama itu.

Bagi saya membuat tulisan tentang migas itu tak lebih dari sekedar preferensi saya saja. Orang di desa saya menyebut: “pokok e asal seneng”. Menulis mengenai migas dan energi tak menjadikan saya bisa langsung direkrut oleh perusahaan energi  multi-nasional, yang kemudian membayar saya dengan gaji puluhan juta rupiah per bulan sehingga saya bisa dengan mudah membeli rumah dengan lengkap dengan Toyota Fortuner-nya di garasinya, Smart TV untuk menonton Liga Inggris dan National Geographic di ruang keluarga, pendingin ruangan yang sejuk di tiap kamar tidurnya, dan water heater di kamar mandinya sehingga saya tak perlu menggigil tiap pagi, seperti apa yang saya impikan. Dunia tidak semudah itu.

Pertanyaan diatas juga mungkin sama seperti halnya jika saya ditanya tentang sepakbola: “Kenapa sih kamu suka banget sama sepakbola dan tampak sangat bahagia diatas lapangan futsal?” Saya tidak mungkin menjawabnya dengan transmisi seperti ini: jika saya menyukai sepak bola, saya akan bahagia ketika bermain futsal, ketika saya bahagia, besar kemungkinan saya akan menampilkan kemampuan terbaik saya, alhasil banyak pemandu bakat yang tertari pada saya, lalu tak lama kemudian saya akan bisa menjadi pemain sepakbola atau futsal profesional, pada akhirnya saya akan menjadi aristokrat sepakbola seperti David Beckham ― yang mempunyai istri cantik dan seksi juga. Saya tak mempunyai mimpi sejauh itu.

Membuat tulisan migas dan bermain futsal hanyalah kesenangan yang bisa saya lakukan sekarang. Persoalan nanti saya bisa bekerja di perusahaan migas atau menjadi pemain sepakbola profesional itu urusan Tuhan. Apa yang terjadi di masa depan saya itu urusan nanti. Ini hanya bumbu perjalanan hidup saya saja seperti interest saya yang lain, yang bisa saja berganti kelak dikemudian hari ― sebelum tertarik dunia pertambangan saya tertarik menjadi arsitektur, pernah juga ingin menjadi motivator.

Oh iya, soal kenaikan harga BBM yang baru saja diumumkan oleh pembantu-pembantu presiden dan harga penyesuaian harga resmi berlaku satu jam lagi, saya pribadi tidak pernah mendukung seratus persen. Saya juga tak menolaknya. Bagi mahasiswa semester akhir yang apa-apa serba susah dan dihadapkan status pengangguran beberapa bulan yang akan datang, kenaikan harga BBM bukanlah hal yang menyenangkan ― seperti kenaikan harga tiket konser bagi penggila live music. Karena bagi saya ketika harga BBM naik, berarti real income saya berkurang. Sungguh hal yang memalukan jika saya meminta tambahan uang saku hanya karena harga BBM naik. Namun entah kenapa kepala saya lebih menerima logika kenaikan harga ketimbang sebaliknya. Saya juga memilih untuk tidak menggunakan alasan karena desain dari Amerika, IMF atau konspirasi Yahudi untuk sebuah logika yang susah dicerna.

Sekali lagi, melakukan dan menjelaskan itu suatu hal yang berbeda. Kadang saya tak melakukan sesuatu dengan benar dan kadang saya tak mengatakan dengan benar.

Mungkin jika saya dipaksa untuk menjawab pertanyaan di awal tulisan ini, saya akan menjawab: karena saya ingin berbagi apa yang saya ketahui, bukankah sudah menjadi kewajiban kita untuk menyampaikan apa yang saya anggap benar? Tidak ada pemaksaan untuk mengikuti pendapat saya.

Sebenarnya sih belum ada yang berani bertanya hal itu kepada saya. Tulisan ini hanya mengada-ada.

"Dunia menjadi semakin buruk bukan karena orang-orang tolol yg terlalu banyak, tapi karena orang-orang pintar memilih berdiam diri" – Tirta

19 June 2013

Cerita Kancil Harga Bahan Bakar Minyak (Part 4-Habis)


Saya bersemangat sekali sebelum menulis tulisan ini, bukan karena seri cerita kancil harga bahan bakar minyak akan segera saya akhiri ― saya tak ingin terjebak dalam kasedihan yang berlarut-larut ketika kebersamaan saya dengan harga BBM lama akan segera habis. Alasan semangat saya adalah karena tulisan ini adalah yang paling kancil diantara tulisan cerita kancil saya sebelumnya. Let’s see how.

Akhir-akhir ini gemuruh pergolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak di Indonesia kembali menyeruak. Waktu tidur saya menjadi berkurang lantaran saya tak mau tertinggal dalam euforia ini. Baya yang menarik adalah ketika berbagai pengamat dan intelektual saling beradu argumen, riset dilawan riset, tulisan dibalas dengan tulisan. Meskipun pertarungan kini menjadi agak timpang, lantaran tulisan bercorak mendukung kenaikan harga BBM lebih superior dan gampang dijumpai daripada tulisan yang menolak kenaikan harga BBM bersubsidi ― seperti yang sudah saya tulis sebelum ini, saya yakin belum banyak yang menulis seberapa besar subsidi BBM tahun 2012 dilihat dari kaca mata sepakbola.

Belum lama ini saya melihat majalah Bola Vaganza yang menampilkan foto Luis Figo, Ronaldo, Zinedine Zidane, dan David Beckham di halaman depannya. Maka dari itu setelah dua paragraf foreplay diatas, mari sejenak kita menundukan kepala untuk mengenang kembali kegilaan Los Galacticos.

Tahun 2000 Florentino Perez mencoba menyusun sekenario gila mengumpulkan pemain-pemain bintang sepakbola di Real Madrid. Siapa saja yang berasil dibawa? Tahun pertama ia membajak Luis Figo dari Barcelona dengan mahar 39 juta pounds (sekitar 585 miliar Rupiah). Tahun kedua, Zinedine Zidane didatangkan dari Juventus dengan nilai transfer 48 juta pounds (sekitar 720 miliar Rupiah). Tahun ketiga, ada Ronaldo yang  merapat dengan label 30 juta Pounds (sekitar 450 miliar Rupiah)dari Inter Milan. Selanjutnya, aristokrat sepakbola Inggris, David Beckham  ditebus dari Manchester United dengan nilai 25 juta pounds (sekitar 375 miliar Rupiah) dan Terakhir Michael Owen dan Robinho seharga 10 juta Pound (sekitar 150 miliar Rupiah). Total dana yang dikeluarkan dari kantong Perez untuk ide gilanya yang bertajuk Los Galacticos jilid satu untuk 5 pemain bintang tersebut adalah 152 juta Pound atau sekitar 2,2 Triliun Rupiah!

Selesai bermain main dengan Los Galacticos jilid satu, Perez digantikan oleh Ramon Calderon (Februari 2006) sebelum pada akhirnya Perez kembali menjadi presiden Real Madrid di tahun 2009. Bisa ditebak apa yang terjadi sekembalinya Perez ke Madrid tahun itu? Kegilaan selanjutnya adalah: mewujudkan Los Galacticos jilid dua.  Pada mega proyek yang kedua itu Perez kembali mendatangkan beberapa pemain bintang ke Santiago Bernabeu, di antaranya Kaka, Karim Benzema, Xabi Alonso, Sami Khedira, Mesut Oezil, dan Cristiano Ronaldo. Total dana yang di belanjakan untuk mendapatkan 6 bintang ini adalah sekitar 400 juta Pounds atau sekitar 6 Triliun rupiah. Artinya jika digabungkan dengan bintang Los Galacticos jilid 1 dan pemain-pemain semenjana lain (karena saya berani taruhan anda pasti lupa nama-nama ini pernah di Real Madrid) yang di beli Florentino Perez macam Wálter Samuel, Thomas Gravesen, Jonathan Woodgate, Pablo García, Makalele,  Julio Baptista dan masih banyak lagi, harian Marca menyebut Florentino Perez merogoh kocek sebesar 860 juta pounds atau sebesar 13 Triliun Rupiah!

Mari kita melompat ke Inggris. Bagaimana dengan Roman Abramovic yang mampu make-over klub asal London, Chelsea FC. Menurut Transfermarkt, Taipan minyak asal Rusia itu total sudah mengeluarkan 868,8 juta Pounds (sekitar 13 Triliun Rupiah) untuk membeli 73 pemain dan merekrut 10 pelatih. Itu belum termasuk biaya operasional klub lainnya. Jika ditambahkan dengan harga pembelian Chelsea pada Agustus 2003 yang konon sebesar 160 juta Pounds (sekitar 2,4 Triliun Rupiah), maka jumlahnya menjadi 15, 4 Triliun Rupiah. Sebuah angka fenomenal untuk merubah sejarah klub asal London Barat itu dalam kurun waktu 10 tahun.


Selanjutnya,  apa kabar dengan Manchester City? Meski tertulis Abu Dhabi Groub pada legal formal pemilik klub, namun nama Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan boleh dibilang menjadi kompetitor tangguh bagi Florentino Perez dan Roman Abramovic (meskipun Perez hanya presiden bukan pemilik klub). Nama Sheihk Mansoer mendadak tenar di dunia sepakbola lantaran menggelontorkan uang senilai 300 juta Pounds (sekitar 4,5 Triliun Rupiah) untuk membeli Manchester City dari tangan  Perdana Mentri Thailand, Thaksin Shinawatra. Tak berapa lama dari pembelian prestisius itu Manchester City langsusng mencatatkan rekor pembelian pemain termahal di Liga Inggris, yaitu sebesar 32 juta Pounds (sekitar 525 miliar Rupiah) atas nama Robinho. Menurut situs tranferleague.co.uk tercatat sampai tahun 2013 Manchester City tak kurang telah mengucurkan dana sebesar 536 juta Pounds (sekitar 8 Triliun Rupiah) untuk mendatangkan 44 pemain senior baru. Maka total uang yang harus keluar dari rekening dari Sheikh Mansour adalah 836 juta Pounds  atau senilai 12,5 Triliun Rupiah!

Lalu apa arti dari semua angka-angka yang luar biasa itu? 

Angka-angka luar biasa dari Real Madrid, Chelsea, maupun Manchester City diatas muncul begitu saja dalam imajinasi liar saya melihat angka subsidi BBM tahun 2013 dalam APBN kita tercantum 194 Triliun. Saat itu saya membayangkan seberapa besar sebenarnya angka yang dikeluarkan  untuk mensubsidi konsumsi BBM masyarakat selama satu tahun di Indonesia? Dengan mengacu pada angka-angka yang digunakan Florentino Perez untuk membangun Los Galacticos (13 Triliun) dalam 12 tahun, Roman Abramovic yang mencoba membeli sejarahnya sendiri di Chelsea (15 Triliun) dalam 10 tahun, atau Sheihk Mansoer yang duduk di Etihad Stadium selama 5 tahun (12,5 Triliun), mari kita sedikit sejenak berhayal bersama-sama seberapa gila orang-orang Indonesia dibanding dengan 3 jutawan sepakbola itu.

Mendadak tahun depan (2014) ada orang Indonesia yang memiliki 8 tim raksasa di 8 liga terbaik di Eropa ― karena kepemilikan lebih dari 1 klub di suatu negara dianggap melanggar etika kesopanan. Liga Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, Perancis, Belanda, Portugal dan Rusia. Kedelapan klub tersebut disulap menjadi seukuran Los Galacticos dua jilid yang digabungkan, serta kebijakan transfer seperti Manchester City yang boleh membelanjakan uang diatas 100 juta pound sekali belanja, serta belanja pelatih seperti Chelsea jika gagal menuai kesuksesan maka pemecatan sebagai bayaranya. Nilai belanja pemain dari ke 8 klub seukuran Los Galacticos tersebut hanya sebesar 120 Triliun Rupiah (hasil perkalian 15 Triliun dikali 8 klub).

Kemudian di tahun 2015, dunia sepakbola di gegerkan dengan hasil perdelapan final Liga Champions yang meloloskan delapan tim milik orang-orang Indonesia. Kemudian mulai sejak itu banyak pecinta sepakbola Indonesia yang berlalu-lalang di stadion-stadion besar Eropa. Belum lagi ketika 8 raksasa Eropa itu menjalani tur pra musim, jangan kaget kalo mereka nantinya akan bermain di Stadion Moh. Sarengat, Batang atau Stadion Maguwoharjo, Sleman. Sponsor Jersey klub papan atas Eropa pun berubah jadi nama-nama produk yang tak asing di telinga kita semacam Kong Guan, Sumber Kencono Transport, Danar Hadi Batik, Toga Mas Book Store, Bank Saudara, Srabi Notosuman dan nama-nama produk lain yang biasa dijumpai sehari-hari kini sangat populer di Eropa. Semuanya dilakukan hanya dengan menyisihkan subsidi BBM selama satu tahun saja.

Tiba-tiba saya terbangun dari mimpi, lantas menyadari kegilaan manajemen sepakbola Eropa tidak begitu mengejutkan jika dibandingkan dengan... ahh sudahlah. Haha

"Humor seringkali menyelamatkan seseorang dari derita yang sebenarnya tak tertanggungkan, Saat derita sudah tak lagi bisa ditolak, kenapa tidak sekalian saja menertawakannya jika dengan itu kita bisa bertahan lebih panjang " – Aqwam Farizan

* Dari berbagai sumber, asumsi kurs rupiah terhadap pound adalah Rp. 15.000/Pounds

14 June 2013

Cerita Kancil Harga Bahan Bakar Minyak (Part 3)

“Pemerintah memberikan sinyal kenaikan harga BBM subsidi yaitu premium menjadi Rp 6.500/liter dan solar menjadi Rp 5.500/liter akan berlaku setelah 17 Juni 2013, atau usai pengesahan APBN Perubahan (APBN-P) 2013” ― Detik Finance, beberapa jam yang lalu.

Tulisan ini bagi saya seperti sesaat sadar dalam sebuah lamunan panjang disuatu tempat, lalu otak saya sibuk untuk mengingat apa yang sebenarnya akan saya lakukan saat itu. Disaat saya tersadar bahwasanya menulis itu butuh kedisiplinan, saya justru melamun panjang memikirkan logika terbalik yang ingin saya tuliskan di halaman ini sehingga tidak terlihat melawan arus ― meski sebenarnya begitu. Namun pemikiran anti-mainstream itu tak kunjung datang, pada akhirnya kali ini saya terpaksa membagikan pandangan yang sudah banyak dibicarakan khalayak. Sepertinya intro saya sudah terlalu panjang.

Kutipan diawal tulisan ini semacam saat melihat hitungan mundur lampu hijau di traffic light, ketika panel lampu menunjukan angka dibawah detik ke-lima, dan saya masih berjarak sekitar 100 meter biasanya saya ragu mau menarik gas dalam-dalam atau justru mengendurkan gas dan mulai menekan rem. Saat yang menegangkan bagi saya, karena dibutuhkan keputusan yang sangat cepat. Sedangkan pada kutipan tersebut terdapat tanggal 17 Juni 2013, yang berarti kurang dari 48 jam lagi (sekarang tanggal 15 Juni 2013, pukul 3 pagi), artinya jika benar tanggal tersebut berlakunya harga baru Bahan Bakar Minyak di Indonesia maka sekarang saya dan warga Indonesia yang lain harus segera membuat keputusan yang sebenarnya (tidak terlalu) penting dalam hidup kita, yaitu: mendukung atau menolak keputusan pemerintah.

Bagi sebagian orang menolak kenaikan harga bbm adalah sebuah mekanisme ilmiah dalam memberi jawaban yang otomatis keluar jika ditanya perihal setuju atau tidak kenaikan harga bbm ― bahkan mereka juga sepertinya membatin tiket konser juga tak boleh naik. Sedangkan jika saya bawa pembahasan ke tataran logika dan rasionalisme, logika penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak ini sangatlah populer 1-2 tahun yang lalu. Logika penolakan kenaikan harga BBM waktu itu lebih laku ketimbang logika mendukung kenaikan harga BBM, kaum intelektual saat itu sibuk memberi perlawanan argumentasi terhadap rasionalitas kenaikan harga yang dikemukakan oleh pemerintah dan pendukung-pendukungnya.

Menarik bagi saya, yang terjadi saat ini justru kebalikan dari 1-2 tahun lalu. Logika yang mendukung kenaikan harga BBM kini lebih laku dijual ketimbang lawannya beberapa tahun yang lalu itu. Bahkan bagi sebagian orang, mengerutkan dahi adalah pilihan yang tepat ketika melihat atau mendengar penolakan kenaikan harga BBM dari sebagian orang yang lain. Banyak orang kini telah bisa menjawab alasan kenaikan harga BBM dengan tepat meski dalam hatinya juga mungkin menolak. Entah keadaan yang telah berubah, keberhasilan pemerintah dalam sosialisasi kebijakan atau pemaksaan rasionalisasi, yang jelas keadan ini sangat membingungkan bagi para pengikut anti-mainstream seperti saya. Konsistensi kaum ini sedang diuji.

Namun terlepas persoalan dukung mendukung, saya tertarik artikel yang baru saja saya baca, yaitu mengenai pengelolaan energi di Iran. Tulisan dari mantan wamen ESDM Alm. Widjajono Partowidagdo ini mengungkap bahwasanya pengelolaan energi di Iran termasuk yang paling kokoh. Kenapa? Negeri pimpinan Mahmoud Ahmadinejad tersebut merupakan penghuni 3 besar cadangan minyak terbesdar didunia, total sekitar 160 miliar barel tersimpan dalam perut bumi negara tersebut. Membandingkanya dengan Indonesia adalah mungkin termasuk suatu pelecehan terhadap negeri sendiri karena negeri ini memiliki cadangan minyak tak lebih dari 4 miliar barel.

Bagaimana dengan produksinya per harinya? Iran setidaknya memproduksi sekitar 4,3 juta barrel per hari bpd (barrel per day) atau mewakili 5 persen produksi minyak mentah dunia, saya tak bisa tidak kembali membandingkan dengan produksi Indonesia yang ternyata tak lebih dari 1 juta barrel per hari. Sedangkan untuk gasnya Negara Ayatollah Khomaeni ini saat ini memiliki cadangan gas kurang lebih sebesar 30 triliun meter kubik atau sekitar 17 persen dari cadangan gas dunia.

Selain minyak bumi dan gas, Iran juga gencar mengembangkan energi alternatif. Salah satunya, yang juga menjadi salah satu andalan adalah pengembangan energi nuklir. Kapasitas produksinya mencapai 132.000 ton bijih uranium per tahun. Secara total, cadangan uranium di tambang tersebut diperkirakan mencapai 1,73 juta ton. Kendati mendapat tudingan miring, Iran tetap kukuh mengembangkan nuklir sebagai sumber energi listrik di negara tersebut. Jika sesuai rencana, target bauran penggunaan energi di negara itu di tahun 2021 nanti adalah Sebanyak 10 persen akan berasal dari tenaga nuklir, 20 persen dari hidro (tenaga air), 60 persen dari gas, dan sisanya dari sumber energi lain (termasuk minyak bumi), sungguh road map jangka panjang yang menakjubkan bukan?

Kenapa saya bandingkan polemik dukung mendukung kenaikan harga BBM dengan pengelolaan energi di Iran? Karena belum lama ini Iran juga sedang memiliki pengalaman yang serupa dengan Indonesia saat ini. Iran terpaksa harus memotong subsidi BBM nya karena konsumsi BBM negara tersebut dianggap terlalu berlebihan. Iran melakukan berbagai daya dan upaya dalam rangka mereduksi pemborosan BBM yang terjadi sejak tahun 2000an, bahkan sejak tahun 2005 telah melakukan pembatasan konsumsi BBM per mobil per bulan dengan menggunakan semacam smart card yang memiliki pin yang memiliki kecocokan dengan identitas pemilik mobil, nomer mobil dan warna mobil. Namun usaha itu ternyata belum cukup untuk menekan konsumsi BBM, pada akhirnya pemerintah Iran juga terpaksa mengurangi subsidi BBM kepada warganya.

Cerita kancil (karena otak saya seringkali melompat-lompat dalam memaparkan sesuatu) pengelolaan energi antara Indonesia dan Iran diatas jika ditarik benang merahnya, bagi saya seperti dongeng antara dua keluarga. Keluarga pertama pernah kaya, namun sekarang jadi keluarga yang biasa-biasa saja, sedangkan keluarga kedua adalah keluarga yang kaya raya yang tengah merencanakan pengelolaan kekayaan jangka panjangnya. Keluarga pertama sibuk memikirkan mau berhemat sekarang atau nanti, keluarga kedua sudah berhemat sebelum keluarga pertama memikirkan mau berhemat atau tidak. Susah membedakan mana yang lebih baik dari keduanya.

Anti-mainstream itu sebenarnya udah mainstream sob” – Fico Fahreza

28 April 2013

Cerita Kancil Harga Bahan-Bakar Minyak (Part 2)


Setiap cobaan dari tuhan selalu ada maksudnya. Cobaan membuat yang berpikir menjadi lebih baik. Cobaan membuat orang yang tidak bisa berpikir, marah dan menyalahkan nasib (Tuhan) dan pihak-pihak lain” Widjajono Partowidagdo. Alm 

Tulisan ini datang dari kegelisahan ditengah kesibukan mengolah data skripsi yang berjumlah 12 kolom kali 2990 baris di spreadsheet yang cukup melelahkan mata, merasa berhutang karena telah memberi judul part 1 pada tulisan saya sebelumnya, dan terinspirasi oleh ucapan Tony Stark di film anyarnya Iron Man 3 “Setiap orang butuh hoby untuk mengisi waktu luang nya” sebut saja ini hobi saya.

Mungkin sebagian teman saya tak tau atau bahkan tak mau tau impian saya kelak ketika menjadi jutawan. Saya ingin memiliki perusahaan bus. Terdengar aneh bukan? Tapi bagi saya, memikirkan konsep perusahaan bus yang akan saya bangun kelak telah menjadi makanan sehari-hari saya ketika waktu lenggang, seperti Tony Stark yang memikirkan bentuk kostum besi terbaiknya. Dalam otak saya bahkan sudah memikirkan nama perusahaan, orang-orang yang mengisi di perusahaan saya, sampai strategi pengembangan perusahaan bus milik saya.

Sedikit bocoran, untuk item terakhir di paragraf diatas, mengenai strategi pengembangan perusahaan bus saya. Saya sudah merencanakan jika kelak saya mempunyai perusahaan bus, saya juga harus membeli  beberapa stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) karena menurut ilmu yang saya pelajari perusahan yang menguasai input dan output akan lebih sejahtera.

Sederhana saja, jika saya memiliki perusahaan bus dengan armada sekitar 100 bus (seperti PO.Nusantara, Sinarjaya, dll). Jika masing-masing tangki bus berkapasitas 150 liter maka tiap hari saya membutuhkan bahan bakar (solar) sebanyak 15.000 liter. Keuntungan saya dari angka tersebut adalah, pertama, jika saya memiliki SPBU, biaya operasional bus tiap harinya tidak keluar ke tempat lain, dan saya juga menikmati laba dari pengusahaan SPBU saya. Kedua, kepastian pasokan bahan input perusahaan saya akan terjamin. Ketiga,  jika pemerintah jadi menetapkan dua harga bbm, saya bisa memetik keuntungan dari chaos sekarang ini ― jangan tanyakan sekarang pada saya, karena ini tidak etis.


Minggu lalu, sewaktu saya pulang ke kampung halaman di Pekalongan,  saya menemukan realitas yang cukup mencengangkan bagi saya. Sepanjang perjalanan Jogjakarta-Pekalongan saya mendapati dua kemungkinan ketika melihat SPBU. Dua kemungkinan itu adalah mendapati tulisan “BBM Bersubsidi Habis” atau antrian yang mengular ke luar SPBU. Dua kemungkinan yang sama seperti ketika saya memutuskan untuk menonton Iron Man 3 di hari pertama penayangan.

Kembali ke harga dan kelangkaan BBM di Indonesia, entah kenapa tiap kali ada isu kenaikan harga BBM menyeruak, seketika itu BBM berangsur-angsur menguap. Saya masih menganalisis fenomena menarik ini. Namun, jika sebagian orang bilang ini masalah penimbunan, hipotesis saya mnenyangkal hal tersebut. Dalam benak saya peristiwa yang terjadi tak sesederhana: harga BBM akan naik, lalu para SPBU menimbun stoknya untuk mengambil untung atas perbedaan harga.  Jika kasusnya seperti ini maka pertama, tidak akan  kekosongan masal. Kedua, tidak akan terjadi jauh-jauh hari. Ketiga, tidak terkonsentrasi disuatu daerah saja seperti yang terjadi di Jawa Tengah dan DIY sekarang ini.

Kemudian dugaan saya menuju ke terbatasnya pasokan terjadi karena kesengajaan dari distributor PSO (dalam hal ini Pertamina) dalam rangka strategi menjaga bill ke pemerintah di akhir periode nanti tidak membengkak. Iya, tugas utama Pertamina sebagai PSO BBM itu dilakukan dengan piutang ke pemerintah, jadi nilai tagihan di akhir periode nanti tidak ada yang bisa mengendalikan selain Pertamina sendiri dan konsumsi masyarakat. Mengingat konsumsi BBM tersebut berkaitan dengan subsidi yang diberikan negara, maka penting bagi pemerintah untuk membatasi agar besaran subsidi tidak menggelembung. Perlu saya tekankan disini Pertamina hanya sebatas pemeran utama, bukan sutradara. Decision maker tetap ada di pemerintah.

Dengan munculnya fenomena ini, nampaknya masyarakat kini ‘dipaksa’ harus memilih mana threat yang lebih menimbulkan ketidaknyamanan. Ancaman tersebut ada dua yaitu: kenaikan harga BBM dan kelangkaan BBM. Masyarakat harus sadar dan menanyakan kepada dirinya sendiri mana yang lebih menyusahkan dari dua cobaan tersebut. Setelah masyarakat menemukan kegelisahan yang sesungguhnya, maka pemerintah kemudian juga harus merumuskan kebijakan berdasar atas kegelisahan masyarakat tersebut.

Hampir sama seperti kasus dikampus saya. Dua tahun ini kampus saya cukup bergejolak mengenai permasalahan Kartu Identitas Kendaraan (KIK). Ketika diberi dualisme constraint kebijakan KIK dengan disinsentifnya atau kelangkaan tempat parkir yang juga membawa ketidaknyamanan, mahasiswa harusnya dapat memilih kekawatiran yang sesungguhnya dari mereka itu apa? Maka pihak pengelola universitas kemudian harus mengelola kekawatiran tersebut dengan kwbijakan yang tepat.

Saya sempat berdebat masalah ini dengan teman lama saya yang sebenernya tidak merasakan kegelisahan ini langsung karena tidak berkuliah ditempat yang sama dengan saya. Teman saya berargumen, pihak universitas seharusnya menyikapi pertambahan jumlah mahasiswa  yang semakin banyak dari tahun ke tahun dengan melakukan penambahan lahan parkir yang sama besarnya dengan pertambahan jumlah mahasiswa. Jadi mahasiswa tidak dihadapkan dengan dua pilihan sulit, dikenakan disinsentif atau dihadapkan dengan kelangkaan tempat parkir. Saat itu saya hanya berujar: not as simple as that bro! Kamu tak bisa menghindari pilihan sulit dengan menghilangkan kedua pilihan tersebut.

Told G Buchholz dalam bukunya “New Ideas From Dead Economists”  mengatakan bahwa ekonomi adalah ilmu memilih. Dia bukan memberitahu apa yang kita pilih, tetapi menolong kita mengerti konsekuensi-konsekuensi atas pilihan kita. Dan manusia selalu dihadapkan oleh pilihan-pilihan sulit.

Well, pemerintah nampaknya sudah memilh kebijakan mengenai permasalahan BBM yang akan dijalankan, konon pemerintah sepertinya akan mengupayakan kebijakan tengah, mungkin pemerintah terinspirasi dengan Hadist Nabi yang mengatakan “sebaik-baik tempat adalah ditengah”. Kebijakan tengah yang konon mendamaikan dua belah pihak itu adalah kebijakan dua harga. Jika itu yang dipilih artinya pemerintah juga harus memilih, lebih mending diteriaki tidak pro rakyat kecil, atau diteriaki oleh banyaknya pihak yang mengambil keuntungan dari perbedaan harga.

Seburuk-buruk tempat adalah kebimbangan ― bukan hadist nabi.

18 April 2013

Cerita Kancil Harga Bahan-Bakar Minyak (Part 1)



Pencarian kebenaran oleh ilmuan dilakukan untuk membuat mereka melihat apa yang tidak mereka lihat, tidak untuk memahami apa yang telah mereka pahami, dan pencarian itu sendiri adalah untuk menemukan lawan dari yang mereka temukan” ― Surat Galileo kepada Loraine.

Beberapa hari ini, isu kenaikan harga BBM kembali menyeruak ke permukaan. Bagi saya yang tertarik dan sedang mengerjakan tugas akhir (bukan expertise atau pengamat) dibidang Migas, saya merasa malu jika saya tidak memberikan kontribusi mengenai isu ini. Jika itu terjadi saya merasa seperti seorang fans klub sepakbola yang datang ke stadion ketika tim saya bertanding, atau seseorang yang mentasbihkan keimanan kepada suatu agama namun gagal melaksanakan ritus-ritus harian, atau bahkan jika saya mengindahkan isu ini saya mungkin lebih seperti seorang sosialita ibukota yang memilih berada didalam rumah saat rekan-rekanya menghadiri university party di hari senin malam. Semoga kali ini bukan overreach saya.

Sebelumnya jika anda berharap saya akan menulis mengenai data-data subsidi BBM, neraca pembayaran, dan opsi-opsi yang akan ditempuh pemerintah untuk menangani kasus ini, sebaiknya anda tidak udah melanjutkan membaca karena harapan anda sepertinya tidak akan tertunaikan. Pertama, karena dari sekian literatur migas yang saya baca, hampir semuanya memetakan konstalasi hulu migas, hanya sedikit yang mengenai hilir migas. Kedua, saya dalam keadaan yang tidak berwenang dan minim informasi dengan hal tersebut. Ketiga, saya tidak mau terlalu jauh mengomentari proses politik.

Kemarin sore, saya terjebak beberapa puluh menit didalam kamar kos lantaran saya bingung memutuskan apakah sore itu saya mau menononton Oblivion ― film science fiction yang dibintangi oleh aktor tampan Tom Cruise, atau saya mau jogging untuk menjaga ketahanan fisik saya.Hampir satu jam berlalu saya gunakan untuk memikirkan keduanya, sembari mencari-cari alternatif lain ― semacam jogging didalam XXI ketika sedang memutar Oblivion mungkin. Singkat cerita, keputusan telah didapat, saya berganti baju, kali ini bukan pakaian jogging yang saya pakai, saya keluar kamar, menyalakan mesin motor, saya mendapati langit mendung hebat, bisa dipastikan beberapa menit setelah itu, hujan lebat dan saya tak jadi keluar untuk menonton. Selkali lagi, saya kehilangan momentum.

Mungkin kisah saya tadi bisa sedikit menggambarkan kebimbangan pemerintah kala memutuskan kenaikan BBM beberapa tahun ini. Para pemangku jabatan lebih sibuk memikirkan dan menimbang-nimbang dari analisis teknis, sampai non-teknis, dari dampak ekonomi sampai dampak politik. Lebih parahnya lagi ketika keputusan telah dibuat, langit sudah terlanjur mendung ― neraca pembayaran sudah sekarat dan rakyat sudah terlanjur mengecap kebimbangan pemerintah. Namun, untuk kasus saya kebimbangan telah menyelamatkan dari hujan, untuk kasus keputusan pemerintah tentang kenaikan BBM, saya tidak tahu. Dan seperti janji saya diatas saya tidak mau mengomentari lebih jauh tentang proses politik.

 “Kejayaan amerika bukan karena mereka lebih pintar dari yang lain, tetapi karena mereka belajar dari kesalahanya” ―  Alexis du Turquise

Jika kita bicara perhitungan harga BBM, kepala saya langsung memisahkan antara harga hulu dan harga hilir, harga hulu mengacu ke perhitungan crude, cost, dll (sudah saya jelaskan di tulisan kedaulatan migas) dari awal ditemukan cekungan sampai minyak keluar dari perut bumi. Sedangkan harga hilir adalah perhitungan harga dari harga minyak yang masuk ke kilang, biaya rifenery, pengangkutan, fee, dan komponen harga lain. 
Nah ketika tulisan ini membahas mengenai harga BBM maka ceritanya adalah harga hilir yang berawal dari perhitungan harga minyak yang masuk ke kilang. Saya katakan ‘perhitungan harga minyak yang masuk ke kilang’ bukan ‘harga minyak mentah’ karena perhitunganya tidak menggunakan harga yang seragam. Untuk minyak dalam negeri, Pertamina sebagai otoritas pemengang Public Service Obligation pengadaan BBM mendapatkan minyak dari KKKS dengan metode DMO atau Domestik Market Obligation, yang kira-kira intinya kewajiban KKKS untuk menyerahkan sebagian minyaknya dengan harga khusus yang disepakati dalam rangka pemenuhan kebutuhan domestik. Sedangkan minyak Pertamina yang berasal dari luar negeri perhitunganya bukan merupakan harga minya dunia seperti WTI, NYIMEX, BRENT yang dengan mudahnya kita unduh dari banyak website asing, namun menggunakan harga MOPS (Mean of Platts Singapore) atau harga perdagangan minyak dari singapore.

Begitu complicated-nya perhitungan harga minyak yang masuk ke kilang pertamina tersebut  membuat saya berargumen asumsi harga keekonomian minyak yang diungkap oleh para pengamat ataupun lembaga-lembaga tidak ada yang tepat 100 persen, saya berani taruhan atas hal ini, dan saya menjagokan Pertamina sebagai satu-satunya pihak yang mengetahui perhitungan ini. Saya katakan rumit karena DMO disini nilainya berdasarkan kontrak antara KKKS dengan BPMIGAS (sekarang: SKMIGAS) yang tentunya tidak ada keseregaman diantara kontrak-kontrak yang ada. Sedangkan MOPS adalah harga pasar komoditas, yang sarat akan spekulasi dan negosiasi, bahkan informasi harga MOPS ini berbayar, kita musti membayar sejumlah uang yang tidak sedikit untuk sekedar  mendapatkan harga MOPS, hanya Pertamina yang tahu secara pasti harga MOPS.  Sampai disini, saya hanya ingin mengatakan bahwa harga variabel input minyak beragam ― belum lagi impor BBM jadi untuk memenuhi kapasitas kilang Pertamina yang tak mengalami penambahan sejak 2005.

Perhitungan yang kedua adalah mengenai rifenery atau pengolahan dari minyak mentah untuk menjadi BBM yang dilakukan oleh Pertamina. Bagian ini paling susah untuk dijelaskan, saya harus mengambil master teknik perminyakan dulu mungkin untuk menjelaskan detail perhitungan. Karena keruwetan berikut: masing-masing kilang ada spesifikasinya, masing-masing minyak mentah ada karakternya, dan masing-masing petroleum product berbeda nilai jualnya. Pertanyaan minyak yang dibeli dengan harga berapa dan menghasilkan berapa liter BBM, dan berapa biayanya, membutuhkan banyak waktu di goa untuk bertapa demi menemukan jawabanya.


Perhitungan yang ketiga adalah, masalah fee. Sudah sama-sama kita ketahui bahwa pertamina mengemban peran sebagai PSO (baca juga tulisan-tulisan saya sebelumnya) dimana pemerintah ditugaskan untyuk menyediakan BBM untuk memenuhi kebutuhan domestik dengan harga yang telah ditentukan oleh pemerintah. Untuk perannya yang ini, Pertamina sama sekali tak mendapat untung ― bahkan menurut dirut Pertamina, fungsi ini yang paling menguras energi Pertamina. Namun dalam catatan BPH MIGAS yang saya temukan beberapa saat sebelum menulis tulisan ini, Pertamina memperoleh fee atas pengusahaan PSO-nya. Pertanyaanya kemudian jika Pertamina tak mengambil profit, lalu bagaimana dengan SPBU rekanan (SPBU DODO - Dealer Owned Dealer Operated ) yang menjual BBM bersubsidi? Apakah keuntungan dari SPBU tersebut termasuk dalam perhitungan subsidi?

Perhitungan keempat adalah mekanisme penagihan Pertamina kepada Pemerintah. Sebatas yang saya ketahui bahwa penagihan dilakukan Pertamnia di akhir periode penganggaran, dengan melaporkan berapa banyak BBM bersubsidi yang telah didistribusikan dalam periode tersebut kepada pemerintah. Kemudian pemerintah akan melunasi semua biaya yang telah dikeluarkan Pertamina ― maaf saya belum banyak membaca tentang ini, kalau ada yang punya referensi penagihan bisa berbagi dengan saya. Sedangkan yang saya tahu utang Pemerintah ke Pertamina beraneka macam. Mulai dari ongkos melakukan ekspor gas dan minyak jatah pemerintah ke pembeli luar negeri maupun dalam negeri. Serta ongkos dari mengelola dan mengolah LNG sampai siap ekspor.

Lalu bagaimana bagaimana apa arti semua ini? Artinya butuh teknikal karena pemahaman fundamental saja tak cukup untuk mengkritisi sebuah kebijakan. Banyak data level perusahaan, yang sangat rahasia tentunya, tidak kita ketahui sebagai observer. Intinya kita seperti sedang berperang pada level asumsi, sedangkan asumsi itu bisa undervalue atau uppervalue.

Pada sisi yang lain saya ingin menyampaikan bahwa PSO menghambat perkembangan pasar energi yang kompetitif. Hal ini senada dengan beberapa dosen saya, yang mengatakan subsidi yang terlalu besar menghambat pertumbuhan dari bauran energi alternatif lain yang seharusnya bisa di eksplor lebih untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, namun terdesak lantaran PSO BBM terlalu murah. Tulisan ini tidak mendiskreditkan pihak manapun, hanya bermaksud untuk menambah sudut pandang dari banyak prespektif dalam memandang kisruh subsidi BBM di negeri ini tercinta. Sekedar informasi saja, tidak bermaksud membandingkan, di Malaysia harga BBM nya juga disubsidi namun menggunakan metode harga minyak dengan subsidi tetap, jadi semacam floating price bersubsidi.

Sejenak saya ingin bernostalgia. Saya ingat dulu ketika saya pertamakali mempunyai sepeda motor saya sempat merasakan harga BBM sebesar 1200, kala itu dengan membawa uang 3000 rupiah saja, tangki Honda Astrea saya bisa penuh sesak dengan bensin. Lalu tak lama harga bbm naik menjadi 1550, setelah itu naik lagi menjadi 2400. Saya masih ingat ketika ada kenaikan tajam harga bensin ketika 2005, satu tahun setelah SBY dipilih langsung oleh rakyat, premium naik menjadi 4500 rupiah, dan 3 tahun setelah itu ketika terjadi kenaikan tajam harga minyak dunia, premium kembali naik ke level 6000 rupiah, meski akhirnya kembali turun ke angka 4500 rupiah ― sampai sekarang. Beberapa hari mendatang kemungkinan harga ini akan kembali naik, entah seberapa mahal lagi bahan bakar yang harus saya keluarkan untuk mobilitas saya sebagai mahasiswa yang konon berpengetahuan tapi belum berpenghasilan ini.

Pada akhirnya saya mengutip pendapat teman saya saat berbincang di perpustakaan kampus tadi siang, “Antara melakukan dan menjelaskan itu dua hal yang berbeda.” 

* Ilustrasi di ambil dari website BPH Migas

07 April 2013

Kedaulatan Migas: Asimetris dan Relativitas Penyederhanaan


Pertamina bukan milik Negara, Pertamina milik rakyat, dan bukan milik Presiden serta bukan milik Dirut Pertamina. Mari kita bertindak cepat, bertindak yang kuat, buat karyawan Pertamina jangan enak-enak saja disana saat ini, kita terganggu.Energi panas bumi sedang diobok-obok, 40% panas bumi ada di Indonesia, kenapa kita disuruh mencari sumber minyak di luar negeri ini, sementara di Indonesia dikasih ke pihak Asing. Apakah orang Kalimantan ikhlas? Bila tidak, lakukan perlawanan. Hari ini kita jadikan hari bangkitnya kedaulatan Energi pada Anak Bangsa. Banyuwangi saat ini emasnya lagi diobok-obok oleh pihak asing, Pertamina milik rakyat, bukan milik Menteri-Menteri itu, bukan milik penguasa, bukan milik Dirut Pertamina, dan bukan milik saya. Kilang yang ada di Tuban, Balongan tekan Direksi, jangan cengeng kalian, segera tekan Direksi kalian masing-masing. Jangan sampai kita menunggu Bung Karno bangkit dari kuburannya,  jangan tunggu VOC jilid dua, apa musti kita tunggu Bung Karno bangkit dari kuburan." - Ugan Gandar Presiden FSPPB (Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu), saat pembukaan Kedaulatan Migas di tangan anak bangsa, Senin 18 Maret 2013 lalu.

Saya sedikit tergelitik membaca orasi tersebut.

Seminggu yang lalu saya sempat pulang ke kampung halaman dan saya mendapati empat  pohon mangga didepan rumah saya sedang di semprot semacam zat yang saya tak tahu namanya oleh beberapa orang paruh baya. Usut punya usut, mereka adalah pekerja yang menawarkan jasa mempercepat fertilisasi buah mangga dan meperbaiki mangga yang dihasilkan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Ibu saya mencerikan lebih lanjut mengenai pekerjaan orang-orang tersebut, ternyata mereka membuat semacam kontrak tak tertulis mengenai pembagian hasil buah mangga dengan pemilih pohon (ibu saya) sebesar 33,3 persen untuk pemilik pohon dan 66,6 persen untuk penyedia jasa sebagai imbalan ‘perawatan’ pohon sekitar 2-3 bulan― sungguh modus operandi baru bagi saya.

Bagaimana bisa, pihak yang cuma modal alat semprot dan cairan yang sama sekali kita tak tau (bisa saja mereka cuma menggunakan air biasa) mendapat bagian 2/3 dari hasil panen mangga itu kelak ketika dijual nanti, sungguh ketidakadilan menurut saya. Sebuah ungkapan emosional yang juga dilontarkan para aktivis yang mengagungkan kedaulatan negara untuk menduga-duga kemudian mecurigai, seperti saya pada penyedia jasa ‘perawatan’ pohon mangga yang mirip PSC itu.

Saya tak akan menyalahkan mereka, karena menyalahkan mereka sama saja menyalahkan diri saya sendiri, saya hanya ingin sedikit berbagi dari sudut pandang berbeda, setidaknya sudut pandang yang saya yakini lebih benar ― meski kebenaran juga relatif. Saya tergelitik untuk kembali menulis mengenai Kedaulatan Migas yang pernah sedikit saya ulas beberapa minggu yang lalu. Jika tulisan sebelumnya mengenai kontrak yang lebih umum, kali ini saya akan lebih membahas mengenai PSC (Production sharing contract).

Production sharing contract selanjutnya disebut PSC, adalah salah satu bentuk dari pola kerja sama bisnis yang disinyalir benar-benar asli, lahir dan digagas oleh Indonesia ― sampai beberapa negara, termasuk Malaysia tak sungkan untuk bertandang ke Indonesia hanya untuk menimba ilmu mengenai PSC. Beberapa analis fiskal perminyakan berpendapat PSC, sebuah gagasan briliant dari Ibnu Sutowo, direktur utama pertama Pertamina (dulu: Permina), merupakan sebuah sistem kontrak yang diadopsi dari berbagai jenis sistem kontrak yang ada kala itu.  Sama seperti aristokrat ekonomi Indonesia dulu yang menamai sistem ekonomi negara ini dengan Ekonomi Pancasila, yang seyogyanya juga merupakan gerak bandul antara dua kutub sistem ekonomi pasar dan sistem ekonomi komando. Mengambil semua kebaikan diantara keduanya.

Kenapa musti PSC? Setidaknya ada tiga poin menurut Rinto Pudyantoro (dalam bukunya Bisnis Hulu Migas) yang dapat menjelaskan konsep PSC ini. Pertama, penguasaan sumber daya alam migas tetap berada di pemerintah. Kedua, pemerintah tidak akan menanggung resiko atas tidak ditemukanya cadangan migas (indirect investment). Ketiga, pemerintah tidak menghadapi kesulitan dana, karena tidak terbatas karena operasi perminyakan menghadapi ketidakpastian. Kesimpulan saya: Pemerintah menganut risk adversion, padahal doktrin terkenal dunia bisnis adalah High Risk, High Return.

Lalu bagaimana perhitungan bagi hasil dalam PSC? Sudah adilkah? Dalam prakteknya sangatlah rumit, namun penyederhanaan kurang lebih seperti ini: Pertama, hasil produksi minyak hasil pengeboran terlebih dahulu disisihkan untuk FTP (First Tranch Petroleum), sebuah konsep yang diperkenalkan pada sistem PSC baru dimana merupakan pengambilan pertama sebelum dikurangi macam-macam perhitungan. Kedua, volume minyak mentah dialokasikan untuk mengembalikan dana talangan yang dipergunakan untuk membiayai pengangkatan minyak mentah dari perut bumi, atau populernya disebut recovery cost Cost Recovery (yang ditagihkan) berbeda dengan Recovery (yang dibayarkan). Ketiga, sisanya berapapun itu akan dibagi ke masing-masing pihak berdasarkan porsi pembagian sesuai kontrak, misalnya perbandingan pemerintah dengan kontraktor sebesar 65% : 35% pada sistem PSC lama atau 72% : 28% di sistem PSC baru. Keempat menghitung DMO (Domestic Market Obligation) yang merupakan kewajiban kontraktor untuk menyerahkan sejumlah migas baianya kepada pemerintah untuk memenuhi kebutuhan domestik, dengan harga khusus bukan harga pasar.



Sebuah perhitungan penyederhanaan yang samasekali tidak sederhana. Jangan tanyakan kepada saya bagaimana Financial Status Report atau akuntansi bagi negara dan bagi kontraktornya. Namun bisa jadi, hal-hal yang rumit bagi saya, merupakan hal yang cukup sederhana bagi pagi pelaku industri migas.  Penyederhanaan bisa jadi mempersulit.

Artinya, jika berbicara fundamental seperti kedaulatan migas, mari kita bawa pembahasan ke level teknikal dulu, karena banyak faktor yang mempengaruhi fundamental. Jangan sampai diskusi terjebak pada perdebatan kontra-produktif antara yang tahu dan tidak tahu. PSC sudah didesain sedemikian rupa, dengan peritungan yang cukup complicated seperti penjelasan kosmik dan hormonal dua muda-mudi yang tengah jatuh cinta, yang menurut saya bertujuan semata-mata untuk mendiversivikasi resiko dan optimalisasi.

"Ketidakjelasan yang diikuti ketidaktahuan, karena informasi yang diberikan tidak komplet, akan memunculkan kecurigaan" – A.Rinto Pudyantoro

Saya tidak berani menyimpulkan apa-apa, karena informasi yang saya dapatkan sangatlah sedikit sekali, dan yang paling penting saya berada di posisi yang hanya mendekati pengamat atau analis (sarjana saja belum), belum pernah menjadi pemain. Pada akhirnya, sehebat apapun seorang pengamat atau analis, mereka tak mungkin menyelami lebih dalam dari khasanah cara pandang para pemain itu sendiri. Tapi seperti yang telah saya katakan di tulisan sebelumnya, tidak ada jenis kontrak yang belaku umum menguntungkan negara – kecuali perbedaan kepemilikan sumber daya yang membedakan PSC dengan konsensi.  Tidak ada yang benar-benar cocok untuk semua negara, apalagi menguntungkan dua belah pihak (pemilik sumber daya dan penggarap) sekaligus, yang ada hanyalah bagaimana menyusun kontrak agar sesuai dengan karakteristik negara dan mendapat outcome yang optimal.

Kalo boleh saya mau menutup tulisan saya dengan jargon Aditya Muslim, salah satu comic di Indonesia asal Madura, sekaligus untuk membalas kutipan saya di awal tulisan ini “What's wrong with this country men??” :D

* ilustrasi diambil dari blog Benny Lubiantara, Ekonomi-Migas

20 March 2013

7 Point Kuliah Singkat Karen Agustiawan


“Kerjasama yang seharusnya kita jalin itu semestinya untuk hal yang kita butuhkan dimasa depan bukan yang kita butuhkan sekarang” – Karen Agustiawan, Rabu 20 Maret 2013

Kutipan diatas secara tidak langsung menggambarkan betapa visionernya direktur yang telah berhasil membukukan Rp25,89 triliun pada 2012 untuk Pertamina itu. 

Pagi itu saya cukup tergesa-gesa berangkat ke kampus. Bukan karena kuliah moneter jam 10 yang tak boleh telat, tapi karena sebuah kuliah singkat, dari CEO dari salah perusahaan yang kelak beberapa tahun kedepan saya berharap bisa bergabung didalamnya. Dengan berpakaian batik coklat dan celana krem favorit saya sekarang, saya beranikan diri masuk ―karena sebenarnya saya bukan tamu undangan― kedalam auditorium yang ternyata hanya tersisa beberapa kursi kosong saja. Atmosfer auditorium itu sangat berbeda pagi itu, beberapa dosen dan tamu undangan yang sengaja melihat dari dekat sosok Karen Agustiawan, dirut Pertamina yang baru saja diperpanjang masa jabatanya belum lama ini.

Nah, tulisan saya kali ini seperti semacam oleh-oleh saya dari hasil menyusup kedalam forum yang bertajuk Energizing Asia: Menjadi Pemimpin Bisnis Energi pada 2025 itu. Tak kurang dari tujuh poin bahasan yang menurut saya menarik ―karena saat itu saya lebih menikmati untuk mengambil gambar atmosfer forum, ketimbang mencatat materi pembahasan, yang akan saya sampaikan kembali pada tulisan ini, angka tujuh saya pilih bukan karena nomor punggung pemain idola saya Cristiano Ronaldo, apalagi karena saat menulis tulisan ini saya menggunakan jersey bernomor punggung 17 (mengandung unsur 7, sedikit memaksakan), atau jumlah lantai di gedung tempat acara itu berlangsung. Sungguh bukan karena itu semua.

Pertama, kesan pertama saya setelah melihat dan mendengar cara beliau berbicara, saya langsung sepakat kalo wanita ini sanggat tangguh. Gaya bahasanya yang lugas, terstruktur dan bijaksana, membuat dirinya sama sekali tak tampak canggung didepan para akademisi di kampus saya. Ketangguhan nya sekilas nampak juga dari busana terusan nya berwarna kuning agak besar namun tanpa ikat pinggang. Sama sekali tak terlihat anggun memang, karena lebih terlihat seperti ibu-ibu yang sedang memakai daster, namun beliau tetep terlihat berwibawa, karakternya yang tak melulu soal bungkus ini lah yang mungkin menjadikanya menjadi professional top level.

Kedua, “Sesuai visi misi Kami, Pertamina bukan lagi perusahaan migas, tapi perusahan energi kelas dunia” penegasan tersebut penting baginya dan perusahaanya mengingat konstalasi hulu migas ―beliau juga mengungkapkan jika bicara perusahaan energi maka ujung tombaknya adalah bagian hulu bukan hilir― tanah air memang masih didominasi International Oil Company (IOC). Fakta menunjukan proporsi pertamina sebagai National Oil Company (NOC) terhadap kontribusi produksi migas nasional relatif kecil dibandingkan Mengubah proposrsi dan fakta tersebut membutuhkan investasi, kerja keras, dan waktu yang tak sedikit, bahkan hampir mustahil jika saya tak berlebihan.

Sadar akan itu, Pertamina kini membidik potensi-potensi baru dibidang energi dimana comparative advantage masih dapat didapatkan. Karen menyebutkan setidaknya kini Pertamina bisa lebih menggenjot lini-lini bisnis yang berpotensi dan sangat menguntungkan, diantaranya seperti Geotermal dan Petrokimia. Untuk Geotermal, sebagai negara yang konon memiliki 40% cadangan panas bumi di dunia, Indonesia perlu menghidupkan kembali perusahaan geothermal yang sebenernya sudah ada sejak lama namun tengah mati suri (sekarang diakuisisi dan menjadi PT. Pertamina Geotermal, anak perusahaan Pertamina). Untuk petrokimia, sudah cukup lama divisi ini menjadi salah satu penyumbang keuntungan terbesar bagi perusahaan. Kebutuhan bahan baku industri sangat dibutuhkan dewasa ini. Intinya saya ingin berbicara Pertamina mengembangkan energi-energi baru pada poin ke dua ini.

Ketiga, “Ada tiga faktor yang berperan sangat penting bagi perusahaan dan industri energi saat ini yaitu: Sumber Daya Manusia, Sumber Daya Manusia, dan Sumber Daya Manusia,” Karen Agustiawan, dalam pidato sambutannya.

Keempat, produksi dari sumur-sumur minyak milik pertamina di luar negeri merupakan dapat dimasukan sebagai produksi minyak dalam negeri. Jujur saja ini merupakan salah satu pengetahuan baru bagi saya, sebelumnya saya tak menyangka kalau blok-blok minyak di luar negeri bisa diklaim sebagai produksi dalam negeri jika itu dimiliki oleh National Oil Company, seperti Pertamina. Sampai saat ini, Pertamina telah memiliki kontrak pengerjaan lapangan produksi hulu tak kurang di delapan negara. Daerah operasi hulu itu ada di Malaysia, Vietnam, Australia, Qatar, Algeria, Sudan, Iraq, Libia, dan Venezuela. Berita bagus buat meng-counter statement saya di paragraf ke-6 kalimat terakhir.

Kelima, adanya concern yang berbeda antara International Oil Company (IOC) dan National Oil Company (NOC). Sebenernya ini pertanyaan saya yang akan saya ajukan di sesi tanya jawab di forum tersebut, namun berhubung saya sedikit inferior maka saya hanya mencoba meramu jawaban tersirat yang untungnya bisa memuaskan saya. Kurang lebih simpulan saya seperti ini, perbedaan antara keduanya adalah IOC mempunyai concern utama profitability, sementara hal itu bukan menjadi yang utama bagi NOC, tapi government strategy ― nanti saya bahas di poin keenam.

Keenam, Pertamina sangat terbebani oleh peran sebagai PSO (public service obligation). Poin ini menurut saya paling menarik dan paling debateble ― harusnya para aktivis kampus lebih mengkaji permasalahan ini ketimbang selalu de javu pada frasa kedaulatan energi. Karen Agustiawan secara implisit menunjukan kerisauan dirinya pada peran pertamina yang satu ini. Beliau menuturkan lebih dari 70 persen sumber daya manusia yang ada di pertamina telah dikerahkan untuk menjamin fungsi/peran ini.

“Tenaga saya juga cukup tersita untuk memastikan pos ini tidak defisit, dan selama Pertamina masih memiliki peran sebagai PSO, selama itu pula Pertamina tak akan bisa listing di bursa saham, namun untuk mendepak peran ini saya yakin butuh 2 kali periode 5 tahun proses di DPR” Statement akhir, dengan sedikit gubahan dan penggabungan.

Ketujuh, sekaligus sebagai penutup tulisan ini, setelah forum itu, saya menjadi sadar ternyata ada lack of knowledge antara academic dengan professional environment. Hal ini terlihat jelas saat ibu Karen Agustiawan menanggapi presentasi dari Prof.Indra Bastian. “Nampaknya bapak musti mencoba short intership selama 2 minggu di kantor Pertamina” seloroh nya sambil tertawa. Saya semakin yakin bahwasanya yang kita pelajari saat ini (bagi yang mempelajari), tak lebih sebagai upaya untuk mendekatkan dan memahami analisis fundamental saja, karena analisis teknikal lebih sering digunakan dalam dunia profesional yang sarat akan efisiensi ― saya sering menganalogikan perbedaan antara analisa fundamental dan teknikal itu seperti pertanyaan “hari ini makan apa?” dan “hari ini makan sama siapa?” mana yang lebih penting menurut anda?  

Selesai.

Oh iya, saya mendengar 4-5 kali semprotan dari Matic Air Fresher milik saya, sepertinya ini dengan tulisan terlama so far. Padahal saya juga masih mengingat-ingat apa yang belum dan musti saya tulis sampai anda membaca tulisan ini.

18 March 2013

Mendesain Kontrak Migas yang Berkedaulatan

"Dan mengenai minyak ini, terserah pada diri kita sendiri apakah mau barter, mau refining sendiri atau mau dijual sendiri. Atau kita minta tolong kepada patner untuk menjualkanya, unuk kita" - Ibnu Sutowo, mantan dirut Permina, dan Menteri ESDM RI ke-3.

Saya sedikit tersadar setelah menyelesaikan tulisan kedua tentang sepakbola, ternyata kecintaan kita terhadap sesuatu hal membuat inspirasi mengalir dengan deras dipikiran, termasuk dalam tulisan ― tapi kadang tidak berlaku pada kecintaan terhadap pasangan atau calon pasangan. Karena itulah saya memaksakan untuk menulis tulisan populer-ilmiah (komposisi 90% populer, 10% ilmiah) ini dengan judul yang sedikit dipaksakan, nanti akan saya beritahu kenapa judul ini sedikit memaksakan.

Beberapa hari yang lalu saya ‘dipaksa’ meski dengan senang hati, dalam 2 hari saya 3 kali diajak berdiskusi mengenai dinamika migas dan kedaulatannya ― dan yang paling berkesan pada diskusi ketiga, tapi bukan karena rule of third. Saya berani berbicara mengenai migas bukan karena saya tau segalanya, atau pernah melakukan riset dkk, saya berani hanya karena saya menyukai bidang ini. Seperti saya yang menggilai Manchester United, Futsal, dan Fotografi, meski sebenernya saya sadar tidak akan pernah menjadi pemain Manchester United, pemain futsal profesional, atau fotografer profesional, tapi keberadaan ketiganya telah memberi keberanian untuk berbicara mengenai apa yang saya sukai didunia ini.

Kembali ke topik, kali ini saya akan menulis sedikit mengenai kontrak migas, bahasan yang nyaris menjadi topik skripsi saya. Kontrak migas kali ini saya beri sedikit bumbu kedaulatan karena saya selalu tergelitik jika mendengar kata kedaulatan energi, kedaulatan migas, dan saya selalu mengawali nya dengan pertanyaan balik kepada mereka: kedaulatan itu definisinya apa menurut kamu? Kalau saya sih lebih suka menganalogikan kedaulatan dengan perilaku mencuci pakaian dikalangan mahasiswa. Katakanlah untuk mencuci pakaian, seminggu dua kali, dengan durasi kurang lebih dua jam (belum termasuk menyetrika), berarti ada waktu dan tentunya tenaga yang kita korbankan untuk mencuci pakaian tersebut. Maka, jika anda melakukan itu, saya bisa sebut anda berkedaulatan penuh atas pakaian yang anda pakai. Sementara saya tak pernah mempunyai kedaulatan atas pakaian saya, karena Jasa Laundry lebih menarik bagi saya ― dengan berbagai pertimbangan tentunya.

Dalam benak saya arti kedaulatan itu lebih retoris daripada kata “hidup mahasiswa” yang sering di teriakan para aktivis mahasiswa di negeri ini. Sedangkan saya lebih tertarik berbicara teknis daripada berbicara relativitas ideologi yang tak berujung. Namun jika dipaksa untuk menjelaskan mengenai kedaulatan migas mungkin saya hanya bisa mengutip dua pertanyaan alm Prof. Widjajono Partowidagdo (mantan Wamen ESDM). “Pertanyaan pertama, Siapa yang memiliki sumberdaya ketika mereka masih berada di dalam tanah baik atau sesudah penemuan, tetapi sebelum ekstraksi? Pertanyaan kedua, Siapa yang memilikinya sesudah ekstraksi dari dalam tanah dan pada titik mana dalam ruang dan waktu, kepemilikan tersebut berpindah jika keduanya tidak sama?” ― semoga dua pertanyaan ini menyadarkan kita semua. Amien.

Kemudian bahasan saya terpaksa saya belokkan sedikit ke desain kontrak migas, karena menurut saya kedaulatan migas berhubungan dengan desain kontrak migas. Langsung saja, menurut Johnston, dalam tulisanya How to Evaluate the Fiscal Terms of Oil Contracts, menyebutkan setidaknya ada dua besar desain kontrak migas, yaitu Royalty/tax systems (sistem konsensi) dan Contractual System (sistem kontrak).


Dalam konsensi, pemegang kontrak (biasanya disebut perusahaan bukan sebagai kontraktor) dijamin hak penambanganya oleh negara, yang pada awalnya berbentuk ijin eksplorasi lalu menjadi ijin eksploitasi jika menemukan hidrokarbon, dalam hal ini negara akan memperoleh pendapatan melalui pajak. Sedangkan untuk sistem kontrak biasanya menggunakan sistem bagi hasil ― kenapa ada yang disebut production sharing contract. Dalam hal ini pemegang kontrak tidak memegang ijin hak tambang karena kontrak menyatakan negara tidak memberikan izin tersebut (menurut saya ini lebih ke alasan politis saja), kontraktor sebagai pemasok jasa tunggal kepada negara dan menanggung resiko teknis dan finansial dari eksplorasi.

Dua jenis kontak diatas hanyalah secara garis besar saja, dalam prakteknya ada banyak modifikasi hukum, fiskal dan regulasi-regulasi lain yang terkadang berbeda dari satu negara ke negara yang lain. Desain kontrak ini menurut saya layaknya business as usual yang dirancang untuk menciptakan situasi win-win solution bagi perusahaan sebagai pemilik teknologi dan sumberdaya manusia dan pemerintah sebagai pemilik common property resources. Kemudian roda bisnis ini bergulir untuk menjawab pertanyaan bagaimana economic rent dibagi ― ini yang saya sebut dengan kedaulatan.

Selanjutnya pembasan selanjutnya menjadi upaya mencari model kontrak yang pas untuk diterapkan disuatu negara seyogyanya terus didorong dan dikaji, namun tetap perlu diingat bahwa setiap proyek mempunyai resiko yang unik, sehingga model kontrak yang diusulkan harus mencerminkan resiko proyek dari masing-masing karakteristiknya. Apakah ada model kontrak yang paling baik?

Benny Lubiantara, seorang Fiskal Analis di OPEC  berujar “one size fits all model does not exist!” Tidak ada model yang cocok untuk semua kondisi. Kenapa? Karena resiko yang dihadapi berbeda untuk setiap proyek di masing masing negara, bahkan dalam satu negarapun, resikonya juga bervariasi. Model kontrak yang dipilih seyogyanya mencerminkan resiko dari proyek tersebut.

Pada akhirnya, jika kedaulatan diasumsikan sebagai keuntungan bagi negara, maka lebih mengusulkan agar diskusi dan diskursus mengenai kedaulatan energi atau minyak dan gas lebih di sampaikan sebagai penjawab pertanyaan bagaimana meningkatkan bagian negara dengan cara yang elegan? ― tentunya ini lebih mendidik bagi para pemula seperti saya yang tertarik di bidang ini dan sepakat untuk mendalami dinamika migas tanpa dibenturkan dengan masalah ideologi.

Oh iya, saya ingin seperti Benny Lubiantara, menjadi analis fiskal OPEC di Wina, Austria. Doakan yaa? J