ENERGY ECONOMICS

"Dan mengenai minyak ini, terserah pada diri kita sendiri apakah mau barter, mau refining sendiri atau mau dijual sendiri. Atau kita minta tolong kepada patner untuk menjualkanya, unuk kita" - Ibnu Sutowo, Mantan Dirut Pertamina

PHOTOGRAPHY

"There is only you and your camera. The limitations in your photography are in yourself, for what we see is what we are" - Ernst Haas

TRAVELLING

"Most days of the year are unremarkable. They begin, and they end, with no lasting memories made in between. Most days have no impact on the course of a life " - 500 days of summer

FOOTBALL

"The game of life is a lot like football. You have to tackle your problems, block your fears, and score your points when you get the opportunity" - Lewis Grizzard

ECONOMICS

"Banyak intelektual menganggap bahwa merupakan suatu kejahatan tingkat tinggi, apabila seorang ilmuan menulis terlalu indah bagaikan seniman" - Paul Samuelson

Showing posts with label Football. Show all posts
Showing posts with label Football. Show all posts

15 July 2013

Liga Inggris 2013/14: Antara Harapan dan Prediksi




"Jose kembali dan itu menarik. Tapi, saya masih berpikir bahwa United akan menjuarai liga. Saya fan Manchester United!" - David Beckham

Pagi buta ini seharusnya saya menyelesaikan revisi akhir skripsi yang saya janjikan sejak minggu lalu, namun sampai saat ini saya lebih memilih menulis tulisan tak berguna ini, hanya sekedar obat anti kantuk menjelang sahur dan pelampiasan rindu saya pada olahraga ini saya sudah dua minggu lebih tak merasakan berada di tengah lapangan futsal dan ini menyakitkan bagi saya. Ini cuma intro, jangan dibaca, tulisan sebenarnya ada setelah kalimat ini selesai, saya ulangi lagi: jangan dibaca.

Bagi para penikmat bola, terlebih para analis dan jurnalis, akan terlihat hebat jika anda bisa memprediksi pertandingan dengan tepat jauh sebelum pertandingan itu dimulai. Jadi hal-hal berbau prediksi, bursa taruhan, dan tebak-tebakan yang lain menjadi hal yang lumprah bahkan belakangan menjadi parameter kedalaman seseorang atas sepakbola. Meski sebenarnya kita sama-sama tau sebuah prediksi hanyalah sebuah roll of the dice, sebuah keberuntungan semata, menerka-nerka apa yang akan terjadi di masa depan adalah pekerjaan yang menyenangkan terlebih bagi saya yang gemar memainkan Fantasy Premiere League. Saya juga senang menerka-nerka siapa yang akan jadi jodoh saya kelak.

Oleh karena itu saya kali ini saya tertarik untuk mencoba menulis apa yang akan terjadi pada liga Inggris yang sebenarnya baru akan dimulai Agustus mendatang. Saya tak tertarik untuk menulisnya dengan frontal di bagian judul: “Prediksi Liga Inggris musim 2013/14”. Karena kemungkinan saya akan disebut kurang kerjaan dan mengada-ada akan sangat tinggi mengingat masih ada 31 hari lagi sebelum liga dimulai dan 301 hari lagi sebelum liga benar-benar berakhir, meskipun sebenarnya ini merupakan pekerjaan yang aman, karena ketika musim 2013/14 berakhir nanti, besar kemungkinan mereka yang menyebut saya mengada-ada sudah lupa dengan tulisan saya ini. Saya pun bisa jadi seperti mereka.

Bicara mengenai prediksi, banyak dari kita masih mencampur-adukkan dengan harapan. Terlebih jika dalam prediksi kita memuat harapan-harapan. Seperti kutipan dari aristrokrat sepak bola di awal tulisan ini adalah harapan. Terlepas berbagai faktor keberuntungan dan lain-lain, Beckham sebagai pesepakbola sadar betul kekuatan dan kelemahan Manchester United sekarang, maka dalam hal ini terlihat dirinya seakan menutupi fakta yang ada dengan optimisme sebuah harapan. Oh iya, saya belum sampaikan bahwa harapan itu selalu positif, sedangkan prediksi bisa positif maupun negatif. 

Baiklah mungkin lebih baik saya langsung memulainya saja. Saya kali ini akan mencoba memprediksi kelasemen akhir Premiere League 2013/14. Paragraf-paragraf setelah ini merupakan urutan peringkat masing-masing klub dimulai dari peringkat lima, saya ulangi: dari peringkat lima.

Liverpool, tim yang memiliki semboyan the next year is our year ini sepertinya akan bernasib lebih baik musim mendatang. Bukan karena semboyan tersebut kerap dilontarkan musim lalu, namun lebih karena kematangan tim. Steven Gerrard, satu-satunya pemain idola saya di klub ini, nampaknya tidak akan sudi jika harus mengucapkan lagi semboyan tersebut musim depan. Saya bahkan melihat tim ini bisa kembali menjadi big four musim mendatang, namun untuk menerobos tiga besar sepertinya masih sulit, sesulit memasukan pesil ke dalam botol dalam acara tujuh-belasan.

Manchester City, tim yang menjadi penantang juara serius sejak tiga tahun yang lalu ini, sepertinya akanmengalami restart. Dengan bergantinya manajer tim dari Mancini menjadi Pellegrini, membuat tim ini tak hanya berganti rasa dari rasa Italia menjadi rasa Spanyol, namun juga terjadi perubahan skema permainan. Perubahan inilah yang menurut hemat saya akan melemah, terlebih sang pelatih harus belajar banyak mengenai sepakbola Inggris, bahkan harus rela kalah 2-0 dengan klub antah berantah asal Afrika Selatan di laga perdananya bersama tim bergelimang uang ini. Entah kenapa saya susah memasukan tim biru muda ini ke 3 besar, jika saya tak segan sama sahabat khayalan saya Sheikh Mansoer pasti saya sudah menempatkan Liverpool di posisi ini.

Manchester United, sebenarnya saya mau meletakkan united diluar tiga besar, namun karena beberpa alasan saya urung melakukanya. Pertama, tim ini tak pernah keluar dari tiga besar sejak digulirkan format Premiere League di tahun 1992. Kedua, tim ini adalah juara bertahan, tak etis melemparkan jauh-jauh juara bertahan dari daftar penantang juara tahun ini. Ketiga, karena tim ini jagoan saya ― saya akan menulis panjang-lebar tentang tim ini di tulisan terpisah. Manutd musim depan bagi saya seperti acara realiti show “Tukar Nasib” yang mempertontonkan orang kaya merasakan kehidupan orang miskin dan sebaliknya orang miskin merasakan kehidupan orang kaya. Nah, David Moyes sebagai pelatih anyar Manutd berperan sebagai orang miskin yang dikasih kesempatan menghuni rumah si kaya. Sulit membayangkan Moyes langsung bisa menjalankan perannya sebagai orang kaya di musim pertamanya, dan ketika melihat debutnya melawan Singha All Star (Thailand) kemaren saya justru khawatir jangan-jangan Manutd dibawanya menjadi tim medioker yang irit belanja pemain seperti yang dilakukanya 11 tahun di Everton.

Arsenal, bukan karena tim ini telah menghempaskan tim nasional kebanggaan saya 7 gol tanpa balas di GBK kemarin, lalu saya mengangkatnya ke tempat yang lebih tinggi daripada juara bertahan sekaligus jagoan saya. Lebih dari itu, sepeninggal Sir Alex Ferguson, kini praktis tak ada yang lebih tau mengenai Premiere League selain Arsene Wenger dan Ryan Giggs. Nama pertama kini menjadi pelatih terlama yang menangani klub di premiere league musim depan, tentu saja predikat ini membuat dirinya malu jika harus kembali disalip oleh rival-rivalnya yang lebih hal ini bisa dilihat kebijakan transfer sang profesor yang lebih atraktif dan berani. Menurut saya, kali ini Wenger hanya perlu memikirkan bagaimana cara men-charge baterai tim nya agar tidak lekas habis di paruh kedua musim, seperti sebelum-sebelumnya.

Sebenarnya sulit bagi saya untuk mengakui musim depan Chelsea akan melenggang mulus, tapi itulah kenyataanya. Ibarat seorang yang sedang berpacaran, Chelsea sekarang ini memutuskan untuk merajut kembali hubungan dengan mantan pacarnya dulu, Jose Mourinho. Sejak memutuskan berpisah ditahun 2007, Chelsea sempat berpacaran 7 kali (Grant, Scolari, Anceloti, Hiddink, Villas Boas, Di Matteo, Banitez) sedangkan Mourinho sempat berpacaran 2 kali dengan Inter milan dan Real Madrid. Namun takdir mempertemukan keduanya kembali, bisa dibayangkan apa yang terjadi jika kisah cinta lama dipertemukan kembali. Ada dua kemungkinan: Pertama, Mourinho berjanji dan mengupayakan hubungan yang lebih baik daripada enam tahun silam. Kedua, Mourinho mengulangi kesalahan yang sama. Namun jika yang terjadi opsi yang kedua, toh kesalahan Mourinho dulu tetap membuahkan trofii Premiere League dua kali bagi Chelsea. Rasa-rasanya Mourinho dengan kekasih lamanya masih tak akan terbendung di musim 2013/14.

Akhirnya saya selesaikan karya ilmiah saya pagi ini di bagian ini saja. Selain lima tim diatas sejujurnya saya masih memikirkan dimana saya musti meletakan Tottenham Hospur dan Everton. Karena memprediksi Liga Inggris musim mendatang tak semudah memprediksi Liga Spanyol yang tinggal melempar koin bergambar Barcelona atau Real Madrid, atau di Jerman musim 2013/14 lebih mudah lagi, tinggal menghitung kancing sembari mengucap Bayern Munchen, Bayern Munchen, Bayern Munchen, Bayern Munchen,,,

Selesai.

Oh iya, ternyata tak tidur semalaman itu membuat kerja otak sedikit terganggu loh. Tulisan ini buktinya.

"Sejarah diawali dengan lelucon dan diakhiri dengan tragedi, atau bisa sebaliknya" - Argo

Foto: Official Ball Premiere League 2013/14

19 June 2013

Cerita Kancil Harga Bahan Bakar Minyak (Part 4-Habis)


Saya bersemangat sekali sebelum menulis tulisan ini, bukan karena seri cerita kancil harga bahan bakar minyak akan segera saya akhiri ― saya tak ingin terjebak dalam kasedihan yang berlarut-larut ketika kebersamaan saya dengan harga BBM lama akan segera habis. Alasan semangat saya adalah karena tulisan ini adalah yang paling kancil diantara tulisan cerita kancil saya sebelumnya. Let’s see how.

Akhir-akhir ini gemuruh pergolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak di Indonesia kembali menyeruak. Waktu tidur saya menjadi berkurang lantaran saya tak mau tertinggal dalam euforia ini. Baya yang menarik adalah ketika berbagai pengamat dan intelektual saling beradu argumen, riset dilawan riset, tulisan dibalas dengan tulisan. Meskipun pertarungan kini menjadi agak timpang, lantaran tulisan bercorak mendukung kenaikan harga BBM lebih superior dan gampang dijumpai daripada tulisan yang menolak kenaikan harga BBM bersubsidi ― seperti yang sudah saya tulis sebelum ini, saya yakin belum banyak yang menulis seberapa besar subsidi BBM tahun 2012 dilihat dari kaca mata sepakbola.

Belum lama ini saya melihat majalah Bola Vaganza yang menampilkan foto Luis Figo, Ronaldo, Zinedine Zidane, dan David Beckham di halaman depannya. Maka dari itu setelah dua paragraf foreplay diatas, mari sejenak kita menundukan kepala untuk mengenang kembali kegilaan Los Galacticos.

Tahun 2000 Florentino Perez mencoba menyusun sekenario gila mengumpulkan pemain-pemain bintang sepakbola di Real Madrid. Siapa saja yang berasil dibawa? Tahun pertama ia membajak Luis Figo dari Barcelona dengan mahar 39 juta pounds (sekitar 585 miliar Rupiah). Tahun kedua, Zinedine Zidane didatangkan dari Juventus dengan nilai transfer 48 juta pounds (sekitar 720 miliar Rupiah). Tahun ketiga, ada Ronaldo yang  merapat dengan label 30 juta Pounds (sekitar 450 miliar Rupiah)dari Inter Milan. Selanjutnya, aristokrat sepakbola Inggris, David Beckham  ditebus dari Manchester United dengan nilai 25 juta pounds (sekitar 375 miliar Rupiah) dan Terakhir Michael Owen dan Robinho seharga 10 juta Pound (sekitar 150 miliar Rupiah). Total dana yang dikeluarkan dari kantong Perez untuk ide gilanya yang bertajuk Los Galacticos jilid satu untuk 5 pemain bintang tersebut adalah 152 juta Pound atau sekitar 2,2 Triliun Rupiah!

Selesai bermain main dengan Los Galacticos jilid satu, Perez digantikan oleh Ramon Calderon (Februari 2006) sebelum pada akhirnya Perez kembali menjadi presiden Real Madrid di tahun 2009. Bisa ditebak apa yang terjadi sekembalinya Perez ke Madrid tahun itu? Kegilaan selanjutnya adalah: mewujudkan Los Galacticos jilid dua.  Pada mega proyek yang kedua itu Perez kembali mendatangkan beberapa pemain bintang ke Santiago Bernabeu, di antaranya Kaka, Karim Benzema, Xabi Alonso, Sami Khedira, Mesut Oezil, dan Cristiano Ronaldo. Total dana yang di belanjakan untuk mendapatkan 6 bintang ini adalah sekitar 400 juta Pounds atau sekitar 6 Triliun rupiah. Artinya jika digabungkan dengan bintang Los Galacticos jilid 1 dan pemain-pemain semenjana lain (karena saya berani taruhan anda pasti lupa nama-nama ini pernah di Real Madrid) yang di beli Florentino Perez macam Wálter Samuel, Thomas Gravesen, Jonathan Woodgate, Pablo García, Makalele,  Julio Baptista dan masih banyak lagi, harian Marca menyebut Florentino Perez merogoh kocek sebesar 860 juta pounds atau sebesar 13 Triliun Rupiah!

Mari kita melompat ke Inggris. Bagaimana dengan Roman Abramovic yang mampu make-over klub asal London, Chelsea FC. Menurut Transfermarkt, Taipan minyak asal Rusia itu total sudah mengeluarkan 868,8 juta Pounds (sekitar 13 Triliun Rupiah) untuk membeli 73 pemain dan merekrut 10 pelatih. Itu belum termasuk biaya operasional klub lainnya. Jika ditambahkan dengan harga pembelian Chelsea pada Agustus 2003 yang konon sebesar 160 juta Pounds (sekitar 2,4 Triliun Rupiah), maka jumlahnya menjadi 15, 4 Triliun Rupiah. Sebuah angka fenomenal untuk merubah sejarah klub asal London Barat itu dalam kurun waktu 10 tahun.


Selanjutnya,  apa kabar dengan Manchester City? Meski tertulis Abu Dhabi Groub pada legal formal pemilik klub, namun nama Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan boleh dibilang menjadi kompetitor tangguh bagi Florentino Perez dan Roman Abramovic (meskipun Perez hanya presiden bukan pemilik klub). Nama Sheihk Mansoer mendadak tenar di dunia sepakbola lantaran menggelontorkan uang senilai 300 juta Pounds (sekitar 4,5 Triliun Rupiah) untuk membeli Manchester City dari tangan  Perdana Mentri Thailand, Thaksin Shinawatra. Tak berapa lama dari pembelian prestisius itu Manchester City langsusng mencatatkan rekor pembelian pemain termahal di Liga Inggris, yaitu sebesar 32 juta Pounds (sekitar 525 miliar Rupiah) atas nama Robinho. Menurut situs tranferleague.co.uk tercatat sampai tahun 2013 Manchester City tak kurang telah mengucurkan dana sebesar 536 juta Pounds (sekitar 8 Triliun Rupiah) untuk mendatangkan 44 pemain senior baru. Maka total uang yang harus keluar dari rekening dari Sheikh Mansour adalah 836 juta Pounds  atau senilai 12,5 Triliun Rupiah!

Lalu apa arti dari semua angka-angka yang luar biasa itu? 

Angka-angka luar biasa dari Real Madrid, Chelsea, maupun Manchester City diatas muncul begitu saja dalam imajinasi liar saya melihat angka subsidi BBM tahun 2013 dalam APBN kita tercantum 194 Triliun. Saat itu saya membayangkan seberapa besar sebenarnya angka yang dikeluarkan  untuk mensubsidi konsumsi BBM masyarakat selama satu tahun di Indonesia? Dengan mengacu pada angka-angka yang digunakan Florentino Perez untuk membangun Los Galacticos (13 Triliun) dalam 12 tahun, Roman Abramovic yang mencoba membeli sejarahnya sendiri di Chelsea (15 Triliun) dalam 10 tahun, atau Sheihk Mansoer yang duduk di Etihad Stadium selama 5 tahun (12,5 Triliun), mari kita sedikit sejenak berhayal bersama-sama seberapa gila orang-orang Indonesia dibanding dengan 3 jutawan sepakbola itu.

Mendadak tahun depan (2014) ada orang Indonesia yang memiliki 8 tim raksasa di 8 liga terbaik di Eropa ― karena kepemilikan lebih dari 1 klub di suatu negara dianggap melanggar etika kesopanan. Liga Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, Perancis, Belanda, Portugal dan Rusia. Kedelapan klub tersebut disulap menjadi seukuran Los Galacticos dua jilid yang digabungkan, serta kebijakan transfer seperti Manchester City yang boleh membelanjakan uang diatas 100 juta pound sekali belanja, serta belanja pelatih seperti Chelsea jika gagal menuai kesuksesan maka pemecatan sebagai bayaranya. Nilai belanja pemain dari ke 8 klub seukuran Los Galacticos tersebut hanya sebesar 120 Triliun Rupiah (hasil perkalian 15 Triliun dikali 8 klub).

Kemudian di tahun 2015, dunia sepakbola di gegerkan dengan hasil perdelapan final Liga Champions yang meloloskan delapan tim milik orang-orang Indonesia. Kemudian mulai sejak itu banyak pecinta sepakbola Indonesia yang berlalu-lalang di stadion-stadion besar Eropa. Belum lagi ketika 8 raksasa Eropa itu menjalani tur pra musim, jangan kaget kalo mereka nantinya akan bermain di Stadion Moh. Sarengat, Batang atau Stadion Maguwoharjo, Sleman. Sponsor Jersey klub papan atas Eropa pun berubah jadi nama-nama produk yang tak asing di telinga kita semacam Kong Guan, Sumber Kencono Transport, Danar Hadi Batik, Toga Mas Book Store, Bank Saudara, Srabi Notosuman dan nama-nama produk lain yang biasa dijumpai sehari-hari kini sangat populer di Eropa. Semuanya dilakukan hanya dengan menyisihkan subsidi BBM selama satu tahun saja.

Tiba-tiba saya terbangun dari mimpi, lantas menyadari kegilaan manajemen sepakbola Eropa tidak begitu mengejutkan jika dibandingkan dengan... ahh sudahlah. Haha

"Humor seringkali menyelamatkan seseorang dari derita yang sebenarnya tak tertanggungkan, Saat derita sudah tak lagi bisa ditolak, kenapa tidak sekalian saja menertawakannya jika dengan itu kita bisa bertahan lebih panjang " – Aqwam Farizan

* Dari berbagai sumber, asumsi kurs rupiah terhadap pound adalah Rp. 15.000/Pounds

11 April 2013

UCL 2013: EURO 2008 atau PD 2010?



Apakah kamu pergi ke stadion di menit-menit terakhir pertandingan, dan melihat papan skor, lalu pergi? Kamu akan menonton 90 menit, dimana itu bernama proses. Anda tidak dapat melakukan validasi proses melalui hasil. Manusia cenderung untuk memuja apa yang selesai dengan baik, bukan apa yang telah dilakukan dengan baik”  – Manajer sepakbola Spanyol, Juanma Lillo

Saya selalu mengawali dan mengahiri tulisan dengan kutipan, padahal seluruh batang tubuh tulisan saya juga merupakan kutipan dari pengetahuan saya di berbagai sumber, tapi kutipan orang terkenal bisanya akan menjadikan saya terlihat lebih cerdas, lebih tau dari orang lain, padahal sama sekali tidak. Oh iya, kutipan diatas saya unduh, dengan sengaja dari penulis jiplakan saya, Pangeran Siahaan, karena saya sering menjiplak tulisan beliau ― harusnya saya punya jiplakan lain.

Berhubung kemaren saya berkicau “Jika Bayern dan Barcelona lolos nanti malam saya sudah menyiapkan tulisan: When duo Germany meets duo Spain” kali ini saya jadi merasa berhutang kepada siapapun yang sempat membaca kicauan saya itu, meski saya yakin tulisan ini tak akan dicari oleh pembaca kicauan saya tersebut.

Perempatfinal Liga Champions Eropa 2013 baru saja berakhir tadi pagi. Bayern Munich dan Barcelona tak mau ketinggalan rival domestiknya dan akhirnya memutuskan untuk menyusul Real Madrid dan Dortmund yang lebih dulu lolos sehari sebelumnya. Barcelona yang merupakan peserta kuis yang selalu berteriak “Pass.. Pass.. Pass...” terlebih malam itu Xavi yang menorehkan 100 Pass Completed ketika dilontarkan pertanyaan itu kembali menunjukan bahwa dirinya manusia biasa jika sang “Tuhan” berada di bangku cadangan. Sedangkan para bintang Holywood asal Jerman sekali lagi membuktikan pada Si Nyonya Tua memiliki satu aktor Holywood seperti Chuck Norris (baca: Andra Pirlo) saja tidaklah cukup. Hari sebelumnya, neraka buatan di Ali Samiyen Turki gagal meloloskan tuannya meski berhasil mengalahkan tim terbaik abad ini, Real Madrid. Drama yang lain terjadi di Malaga, ketika tuan rumah sudah hampir berpesta ketika pertandingan telah berusia 90 menit, namun gelontoran 2 gol dari tim tamu sesudah itu memupus kans kerajaan Spanyol di semifinals.

Jika pada awalnya kejuaraan antar klub lambang supremasi kekuatan sepakbola eropa ini diikuti oleh 53 negara, kini tersisa 2 negara saja di babak semifinal. Bagi sebagian orang perhelatan ini terasa tidak adil tapi bagi saya ini adalah hasil yang paling rasional, potret dua negara yang sukses dalam pembinaan Sepakbolanya ― sepertinya pada paragraf ini dan paragraf seterusnya bakal lebih serius daripada skripsi saya, mungkin tertukar.

Saya sebut sukses karena keduanya memiliki masterplan sepakbola jangka panjang yang hebat. Perjalanan keduanya menjadi dua negara sepakbola terhebat di eropa saat ini ― bahkan didunia jika saya tak berlebihan, adalah sebuah perjalanan panjang. Yang menarik, percayakah kalau keduanya berhubungan?
Jerman menjadi salah satu negara yang terkenal spesialis turnamen itu dari sejak jerman barat dan jerman timur bersatu, telah begitu melegenda. Spanyol juga, tapi ditulisan ini saya lebih tertarik untuk membahas Jerman dan Spanyol di zaman sepakbola modern.

Kalau di suruh menunjuk siapa tokoh sepakbola Jerman yang bisa membawa ke generasi emas 5 tahun terakhir ini, saya memilih Jürgen Klinsmann. Pelatih yang gaya nya kini ditiru oleh Nil Maizar itu, telah membawa sepakbola jerman modern hingga sangat disegani baik di level klub maupun tim nasional ― tanpa mengesampingkan peran suksesornya Joachim Loew. Klinsmann, yang melatih Timnas tahun 2004-2006 itu, sukses bekerjasama dengan federasi sepakbola Jerman untuk menelurkan masterplan sepakbola jangka panjang. Salah satu point dalam masterplan tersebut adalah memaksa setiap tim di Bundesliga mengetahui strategi dan dan visi Timnas Jerman. Jadi saat itu cetak biru pengembangan Timnas Jerman yang dirancang Klinsmann di copy ke setiap club yang ada di Bundesliga. Hasilnya efektivitas latihan Timnas Jerman, dan padunya para pemain yang dipanggil ke Timnas. Siapapun yang dipanggil membela Timnas, sudah pernah tau dan bisa mempraktekkan strategi Jurgen Klinsmann karena ‘kurikulum’ nya sudah diajarkan di level klub ― tim boleh berganti-ganti tapi masterplan tak pernah berganti.

Point kedua, sukses nya sepakbola Jerman sekarang adalah buah dari suksesnya federasi sepakbola Jerman mengelola kurang lebih 27 level liga yang ada di Jerman dari Bundesliga paling yang kita kenal sampai liga tarkam yang paling amatir. Bisa dibayangkan federasi Jerman memiliki 27 level, sedangkan PSSi cuma ada 3-4 level, itupun nyaris berantakan.

Lalu bagaimana dengan Spanyol? Ternyata usut-punya-usut, terobosan yang dilakukan oleh Klinsmann di Jerman adalah hasil copy-paste dari akademi La Masia, Spanyol. Akademi yang kini menjelma menjadi akademi sepakbola paling terkenal di dunia, berkat alumni nya yang bertebaran di skud Barcelona kini. Klisnmann terinspirasi strategi yang dilakukan oleh akademi La Mesia tersebut, kemudian ia belajar banyak untuk diterapkan di level timnas ―Lantas, apa yang dilakukan Pep Guardiola di Jerman tahun depan? Apakah ingin mencuri kembali strategi yang dimiliki Jerman?

Untuk sementara ini, kita kesampingkan persaingan ketat keduanya di level tim nasional, kita nikmati saja dulu Bagaimana Bayern Munich, Real Madrid, Barcelona, dan Dortmund berjibaku menjadi yang terbaik di Eropa. Namun yang jadi pertanyaan bagai mana skenario selanjutnya, mengingat drawing baru akan dilakukan esok?

Sembari menerka-nerka lawan, sebenarnya skenarionya hanya ada 2 yaitu seperti EURO 2008 atau PD 2010? EURO 2008 dimana Jerman bertemu Spanyol di Ernst-Happel-Stadion, Vienna, saat final kejuaraan tersebut atau kejadian di Afrika Selatan yang berulang, ketika Jerman bertemu Spanyol di Semifinal? Yang paling penting jika di dua perhelatan akbar Jerman jadi pesakitan Spanyol, saya berharap Jerman bisa membalasnya di level klub, tahun ini. Feeling saya berkata demikian.

Mari kita nantikan saja hidangan penutup ini, akhirnya "What enriches you is the game, not the result. The result is a piece of data..."

Selesai

Entah kenapa malam ini terasa sangat letih sekali, semoga kualitas tulisan juga tak terkorelasi. Dan semoga ini juga bukan pertanda energi saya sudah hampir habis. Maaf.

08 April 2013

Filosofi Geladang Pengangkut Air dan Saudaranya


Penonton sepakbola kasual yang lebih terbuai dengan speed dan fancy dribble adalah mereka yang mengacuhkan krusialnya peran seorang holding midfielder” ― Pangeran Siahaan

Tulisan ini sengaja dibuat dengan keringat yang masih sedikit membekas di tubuh selepas bermain di lapangan Vinyl selama 60 menit semata-mata agar aksen dan aura permainan si kulit bundar masih berasa di kepala ― meski saya tadi bermain futsal bukan sepakbola. Sedangkan judul dipilih karena pertama, saya begitu memuja salah satu peran dalam permainan sepakbola ini, bukan gara-gara saya sering menonton Liga Indonesia karena komentator selalu menyebut gelandang tengah dengan sebutan tersebut. Kedua, saya gagal mencari kombinasi judul yang lebih seksi.

Sebelumnya saya ada pertanyaan buat anda pecinta sepakbola masih ingat Los Galacticos jilid 1? Sebutan untuk squad Real madrid di pertengahan 2000an yang dipenuhi oleh bintang-bintang lapangan hijau semacam Beckham, Zinedine Zidane, Raul Gonzales, Roberto Carlos, Ronaldo, Luis Figo, dkk saking banyaknya bintang maka tim impian Florentino Perez (Presiden Real Madrid) kala itu dinamai Los Galacticos, alias tim dari galaksi lain. Luar biasa bukan? Tapi siapa yang ingat waktu itu ada nama Claude Mekalele di squad tersebut? Dan anda pasti tak percaya jika keberhasilan Los Galacticos saat itu berkat peran apik Makalele saat itu? Saya rasa anda sepakat dengan saya.

Saking krusialnya peran Makalele, banyak para pengamat sepak bola menyebut peran yang dilakukan di tengah lapangan itu dinamakan Makalele’s Role. Namun Sayang sekali gara-gara Florentino Perez menutup mata atas peran Makalele, menganggap kesuksesan Los Galacticos bukan karena dia, maka Perez lebih memilih menjualnya di bursa transfer. Bisa ditebak yang terjadi setelahnya, permainan Real Madrid cenderung menurun dan harus berada dibawah hegemoni Tiki-Taka Barcelona di Akhir 2000an ― sebelum Xabi Alonso datang ke Santiago Barnebeu.

Rupanya tak hanya Makalele yang terpaksa hidup dibawah bayang-bayang Beckham-Zidane-Figo, ada banyak pemain dalam posisi ini yang cukup ‘inferior’, seperti: Lucas Leiva (bahkan saya yakin anda tak mengenal pemain tim ini) dibawah bayang-bayang Steven Gerrard. Sergio Busquets, kerap under-appreciated dibanding trio Xavi-Iniesta-Messi. Carrick yang dianggap kalah tenar dibanding Nani, Rooney, Van Persie. Atau Luis Gustavo yang dianggap kalah kelas dibanding Mueller, Robben, Ribbery. Tapi percayalah mereka bukan pemain figuran.

Dalam sepakbola kebanyakan orang pasti akan lebih mengenal posisi daripada peran. Meski keduanya hampir sama tetapi secara filosofi keduanya berbeda, seperti guru dan mengajar, kadang kita melihatnya sebagai suatu hal yang sama, tapi sadarkah bahwa guru itu adalah sebuah profesi sedangkan mengajar adalah salah satu yang dilakukan oleh guru. Sama seperti nama-nama asing yang di cetak tebal dibawah ini, 5 item itu adalah peran yang dilakukan oleh seorang atau lebih di sepakbola modern yang berposisi sebagai gelandang bertahan tengah atau Defensive-Midfielder-Cente (DMF).

Holding Midfielder
Holding midfielder nama keren dari judul tulisan saya diatas adalah posisi yang melakukan semua pekerjaan yang berat dan membiarkan pemain di posisi lain untuk mengklaim semua kejayaan, perannya sering tak terlihat oleh penonton. Peran inilah yang dilakukan Xabi Alonso, Makalele, Carrick dan Busquets. Ketiganya adalah poros dalam timnya masing-masing. Tugasnya adalah menjaga keseimbangan tim dengan markingnya, menghambat serangan lawan dengan tackel dan intersep brilliant, dan biasanya mereka jarang naik ke area 2/3 lapangan.

Box-to-box Midfielder
Ini nama paling keren dan sukses membuat saya untuk banyak mencari tahu tentang peran yang satu ini. Dinamakan Box-to-Box Midfielder karena ruang geraknya dari kotak penalti sendiri sampai kotak penalti lawan, alias dari kotak ke kotak. Hampir sama dengan holding Midfielder namun areanya yang lebih luas membuat peran ini membutuhkan skill yang sedikit lebih kuat dibanding Holding Midfielder. Contoh pemain tipe ini adalah Tom Cleverley, Raul Meireles, dan Steven Gerrard.

Ball Wining
Kalo yang ini perpaduan atara Holding Midfielder dan Box-to-box midfielder, tugasnya mengobrak-abrik permainan lawan (bukan mengobrak-abrik permainan sendiri). Karena tugasnya untuk mencari bola dan memenangkan duel, butuh fisik yang oke, dan body balance mumpuni. Biasanya pemain tipe ini cenderung terlihat kasar, padahal sejatinya tidak. Contoh yang terkenal adalah: Roy Keane, Gattuso, dan De Jong  ― yang terkenal dengan tendangan maut nya ke dada Xabi Alonso di final piala dunia 2010 lalu.

Deep Lying Playmaker
Jika nama-nama diatas dianggap sebagai saudara maka Deep Lying Playmaker adalah anak bungsu. Posisi ini merupakan hasil eksperimen dari profesor Carlo Ancelotti ― sebut saja demikian, pada sepakbola modern belum lama ini. Contoh sukses dari peran ini adalah Andrea Pirlo, bahkan saking suksesnya banyak yang menyebut Pirlo’s Role. Lalu apa yang beda dengan yang lain? Sebagai sama sama anak bungsu saya menyebut posisi ini sebagai posisi yang paling genius, karena posisi pemain ini berada tepat didepan konfigurasi pemain belakang (biasanya dipakai pada formasi 3-5-2 atau 4-1-4-1, dan modifikasinya). Belum selesai, dianggap jenius karena pemain tipe ini mampu mengatur permainan bahkan jauh dari lini belakang. Semacam Professor James Moriarty sebuah karakter dalam Sherlock Holmes yang mampu mengatur segala sesuatunya dari jauh. Suksesor Pirlo kemungkinan adalah Veratti dan peran David Beckham pada saat melawan Barcelona minggu lalu, keduanya juga dilatih oleh Carlo Ancelotti.

Double Pivot
Nama terakhir ini sebenarnya bukan peran seorang pemain tengah bertahan, namun sebutan kombinasi dari dua orang yang menjadi otak permainan dalam formasi sepak bola modern 4-2-3-1. Formasi yang populer 5 tahun terakhir ini berkat penampilan apik Timnas Spanyol dan Jerman di EURO 2008, Piala dunia 2010, dan EURO 2012. Pada gelaran tersebut baik Timnas Spanyol maupun Jerman menggunakan kombinasi 2 poros, hasil mutasi dari beberapa peran diatas. Aktornya tentu saja adalah Khadiera-Schweinsteiger dan Alonso-Busquets. Atau di level club ada Gustavo-Schweinsteiger yang sukses membawa Bayern Munich prematur gelar musim ini. Oh ya, kita patut berbangga hati karena Timnas Indonesia (yang sering menggunakan formasi 3-5-2) sering menggunakan dua poros. Kombinasinya adalah Bustomi-Firman Utina, atau kemarin sewaktu melawan arab saudi ada Ponaryo-Wanggai. Sedang imajinasi saya untuk double-pivot adalah memadukan dua pemain idola saya Michael Carrick dan Bastian Schweinsteiger di lini tengah Manchester United.

Pada akhirnya inti dari tulisan saya ini adalah saya sangat terobsesi ingin menjadi poros permainan, karena Holding Midfielder bukan soal skill sepakbola tapi visi pemain, meski saya harus merelakan ketenaran dan apresiasi ― tak hanya dalam dunia sepakbola. 

01 April 2013

Sarkasme, Carrick’s Role, dan Poznan Dance yang tertunda


Cara yang paling ampuh untuk melupakan pasangan yang telah mengisi hati kita namun sekarang tak lagi bersama kita adalah dengan menjadikanya karya sastra” ― Anonim.

Judul tulisan ini tampaknya sangat memaksakan yang sebenarnya adalah ungkapan emosional (jika bisa dibilang seperti itu) dari penulis mengenai klub sepakbola pujaan Manchaster United. Saya menyebut memaksakan karena sebenarnya judul tulisan ini bisa dijadikan 3 tulisan yang berbeda, namun sekali-lagi dengan emosionalnya saya jadikan satu. Saya ingin mengulas kisah dari tim yang performanya terus menurun diujung musim ini, terlebih di dua pertandingan terakhir dalam tiga hari ini. Oh ya, jika saya boleh melakukan pembelaan kutipan diawal tulisan ini bukan tentang asmara atau percintaan, itu hanya kutipan dalam salah satu film drama Indonesia yang saya lupa judulnya.

Poin pertama dalam judul sepertinya menyentil diri saya atas ketidakmampuan saya perihal objektivitas. Beberapa hari ini (dan juga banyak hari sebelumnya) saya merasakan susahnya melihat dari kacamata orang lain. Nampaknya hipotesis mata hanya melihat apa yang otak pikirkan menjadi pembelaan saya yang cukup ampuh. Terlebih untuk sesuatu yang ingin sekali kita lihat ― seperti kemenangan Manchester United atau seorang gadis pujaan berbaju putih yang tersenyum malu.

Manchester united diawal musim ini digadang-gadang mempunyai kedalaman tim yang cukup untuk memenangi semua kompetisi yang dijalani. Namun buat saya Manchester United tak lebih dari kereta tua yang semakin lama, seiring berjalanya waktu kehabisan tenaga. Bisa ditebak (seperti musim lalu) dari 4 kompetisi yang dijalani, satu persatu gelar hilang. Akhir 2012 lalu MU kehilangan cengkraman di Capitol One (dulu: Carling Cup), lalu yang paling menyesakkan awal bulan ini harus mengakhiri kiprah di kancah Eropa, yang para pendukung MU menyebut dikalahkan wasit asal Turki yang pengucapanya agak susah, padahal MU sejak dulu juga sering dibantu wasit, tapi mereka tetap tak bergeming. Dan gelar hilang yang terbaru, beberapa jam yang lalu MU juga tersingkir dari piala FA.

Banyak alasan yang dilontarkan para punggawa, pelatih, pengamat bahkan supporter mengenai kegagalan MU untuk meraih gelar-gelarnya. Dari keberpihakan wasit, faktor kelelahan sampai pencurangan dalam drawing. Padahal MU tak lebih dari tim yang mempunya tingkat kebergantungan pada sosok yang cukup kuat. Tengok  saja musim lalu, lini tengah yang menjadi kambing hitam dikarenakan kehilangan sosok Paul Scholes, setelah berhasil membujuk kembali “Pangeran Jahe” untuk tampil kembali dari masa pensiun nya, perjalanan MU relatif agak mudah meski ujung-ujungnya juga nirgelar. Diawal musim ini barisan pertahanan giliran jadi sorotan, absennya kapten karismatik Nemanja Vidic, menjadi opsi Twin Tower musim lalu gagal terwujud. MU kerap kali kemasukan gol dengan mudah diwal musim, beruntung MU punya bomber maut hasil bajakan dari rival, Robin Van Persie yang bisa menutupi kekurangan lini belakang. Pada akhirnya nama terakhirlah yang juga menjadi kambing hitam atas paceklik gol yang dialami MU 2 bulan terakhir ini. Ketika barisan belakang solid, lini depan seret. Begitulah MU dalam menjalani musimnya, selalu menggantungkan nasibnya kepada bebrapa orang saja dalam tim.

Satu-satunya yang masih bisa dibanggakan adalah chants dari para fans untuk Central Midfielder andalan, Michael Carrick. Dengan perannya sebagai Holding Midfielder, Carrick bak Amien Rais dalam kancah perpolitikan Indonesia yang tenar berkat Poros Tengahnya di awal tahun 2000an. Tugasnya sebagai penyeimbang tim, perusak serangan lawan dan menjadi pembagi bola kepada rekan-rekan nya inilah yang sangat krusial. Jika kebanyakan para fans lain tak menghargai peran seorang poros permainan, lain halnya dengan MU, para fans tak henti-hentinya menyanyikan lagu untuk menunjang aksi sang maestro passing di lapangan ― tulisan yang akan datang saya akan mengulas kenapa saya mendewakan Carrick's Role.

"Oh, oh, oh it's Carrick, you know, hard to believe it's not Scholes"

Chants dari suporter itu nampaknya juga disepakati oleh Sir Alex Ferguson minimal dalam 2 laga terakhir ini. Jika media menghembuskan kabar MU menyiapkan 2 tim yang berbeda untuk melawan Sunderland dan Chelsea dalam rentang waktu kurang dari 3 hari.  Alhasil Line-up yang keluar pun ternyata tak berbeda dengan prediksi media, menariknya nama Michael Carrick ada pada 2 tim itu. Padahal menurut hemat saya, Carrick dalam 2 pertandingan itu tak bagus-bagus amat, banyak salah passing, dan hanya beruntung tenar berkat chants dari suporter.

Akhirnya kini setelah 31 minggu musim ini bergulir, MU hanya menyisakan keunggulan 15 point di Liga Inggris ― satu-satunya gelar yang mungkin didapat. Setelah akhir pekan lalu unggul tipis 0-1 saat melawat ke Stadium of Light, markas Sunderland. Namun sialnya beberapa saat kemudian, sang rival Manchester City justru menang mudah atas Newcastle 4 gol tanpa balas. Harapan para suporter untuk melakukan Poznan Dance balasan terpaksa harus tertunda.

Apa itu Poznan Dance? Selebrasi ala fans Manchester City itu sebenarnya diadopsi dari aksi suporter tim Polandia, Lech Poznan. Formatnya sederhana. Para suporter berdiri membelakangi lapangan, kemudian berangkulan dan melompat-lompat bersamaan. Dari jauh, aksi ini terlihat seperti air terjun yang berantakan. Masih ingat dibenak saya ketika 3 minggu menjelang musim lalu berakhir, ketika Mancity berakhir menyamakan perolehan poin dengan Manutd, setelah Vincent Kompany memberikan gol tunggul untuk Mancity di akhir babak pertama. Diakhir pertandingan para supporter Mancity di stadion langsung melakukan Poznan Dance.

Hasil “break even point” menang 0-1 dan kalah 1-0 dalam 2 pertandingan terakhir, menjadi semacam early wanrning system bagi Setan Merah. Pasalnya hal ini bisa berdampak sistemik, terlebih pekan depan harus menjamu Mancity di Old Traffrord. Sudah kebayang dibenak saya ketika rentetan kegagalan dimusim ini berujung pada ketakutan kembali tanpa gelar musim lalu, alhasil Manutd bermain layaknya seorang pemuda polos yang dihadapkan pada gadis pujaannya, sudah bisa ditebak salah tingkah karena terlalu berhati-hati. Skenarionya minggu depan, karena terlalu berhati-hati Manutd pun tumbang dihadapan Mancity. Setelah itu mental menjadi semakin memburuk, berlanjut ke kekalahan-kekalahan yang lainya. jadi seharusnya jika merujuk frasa pertama dalam judul tulisan ini maka bukan “Poznan yang tertunda”, tapi “Poznan balasan yang gagal terwujud”.

Jadi alasan Manutd kelelahan pasca jeda internasional dan menjalani 2 pertandingan dalam 3 hari sungguh tak masuk akal, murni alasan yang dibuat-buat, karena sang rival, Chelsea justru lebih singkat masa jedanya, tapi mereka unggul segalanya. Sedangkan 2 tim berbeda yang dibuat harusnya disiapkan menjadi  3 tim yang berbeda, karena minggu depan Manutd akan menghadapi Galatasaray di perempat final Liga Champions ― seorang fans yang gagal move on.

Jadi apalagi yang dibanggakan dari Manutd sekarang? 19 gelar Liga Inggris? Itu sudah 2 tahun yang lalu. 3 gelar liga Champions? Itu juga sudah 5 tahun yang lalu. 12 gelar Piala FA? Itu justru lebih jauh lagi, 9 tahun yang lalu teraklhir kali piala FA singgah di Old Trafford.

Selesai, semoga sarkasme saya berhasil. Oh iya, entah kenapa backsound desktop saya waktu menulis tulisan ini jadi gini:

Salahkah bila hati berharap...
Dan akupun terus berharap...
Kau yang terindah untuk ku... untuk ku...
Kau Yang Terindah - Nidji

23 March 2013

Timnas’s Day: Too Much Expectation


Pagi ini saya menyempatkan diri menonton ISL (bukan Indonesia Super League) Imagama Super League, semacam kejuaraan Futsal antar angkatan dalam satu jurusan di kampus saya. Saya langsung teringat beberapa waktu yang lalu ketika Tim saya memenangi kejuaraan yang serupa tapi beda jurusan untuk ke tiga kalinya dalam tiga tahun pertama penyelenggaraan. Hatrick gelar itu terasa sangat spesial, bagi saya, salah satu dari tiga pemain yang selalu berada di tim yang sama selama tiga tahun itu. Sungguh sebuah simbol konsistensi dan dominasi. Saya merindukanya  ― bahkan saya ingin memenanginya untuk kali keempat dengan tim yang sama.


Tapi sekarang saya tak akan membahas perjalanan tim Futsal saya, karena terlalu menarik bagi saya, tapi saya yakin sangat tidak menarik buat anda.

Sesuai judul, kali ini saya akan membahas mengenai Timnas yang beberapa jam lagi akan bertanding melawan Timnas Arab Saudi di stadion kebanggan indonesia, Gelora Bung Karno. Euforia pertandingan yang sudah lama tak terdengar di GBK nanti malam dipastaikan akan meledak kembali. Sayapun sebenernya ingin sekali menyanyikan lagu Indonesia raya bersama para pemain, official dan puluhan ribu pendukung Timnas Indonesia langsung di dalam stadion itu. Namun, karena tak saya persiapkan sejak jauh-jauh hari, sayapun dengan berbesar hati harus bersabar menantikan euforia Timnas selanjutnya.

Euforia dan kerinduan terhadap Timnas Indonesia akan selalu menjadi kekuatan yang cukup besar bagi bangsa ini. Bahkan jika saya tak berlebihan, fenomena timnas ini telah menjadi pemersatu bangsa dan pematik nasionalisme yang cukup ampuh. Ingatkah pada kejuaraan AFF beberapa tahun silam, saat Timnas asuhan Alfred Riedl mendadak menjadi Trending Topic di situs jejaring sosial, memenuhi layar kaca dan surat kabar indonesia, para politikus dan pemimpin negeri ini sibuk menggelar acara nonton bareng Timnas. Sampai akhirnya Timnas harus puas menjadi runner-up karena dianggap telah di eksploitasi secara berlebihan.

Saya tidak akan membahas starting line-up lagi, karena pernah saya tulis beberapa hari yang lalu. Saya lebih tertarik untuk membahas prediksi jalanya pertandingan nanti malam. Sebagai pertandingan antara dua negara yang mempunyai perbedaan 60 peringkat di FIFA World Rank yang dirilis 14 Maret lalu, indonesia di peringkat 166 dunia sedangkan arab saudi di peringkat 106 dunia  ― meski semuanya sepakat pertandingan sepak bola tak melulu soal peringkat.

Saya tidak akan memprediksi seperti gubernur baru DKI jakarta, Joko Widodo yang akrab dipanggil dengan Jokowi, dimana beliau memprediksi Timnas Indonesia bakalan menang 10-0 atas Arab Saudi ― meski bukan tidak mungkin tapi angka itu lebih merupakan sebuah prediksi yang menunjukan level ketidaktahuan nya terhadap sepakbola. Atau prediksi dari Wimar Witoelar, juru bicara Presiden Republik Indonesia pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid, beliau berujar jika beruntung indonesia bisa membawa pulang satu point atau bahkan tiga poin skaligus. Prediksi tokoh terakhir yang saya kutip adalah prediksi dari tokoh idola saya Dahlan Iskan. “Saya kira Arab saudi sudah tak sehebat dulu, jadi saya memprediksi Indonesia bisa mengatasi perlawanan Arab Saudi, yaa mungkin hanya 1 – 0 atau 2-1 bisa lah”

Berbeda dengan prediksi para tokoh diatas, saya memprediksi Timnas Indonesia akan kalah dengan Arab Saudi. Menilik Rekor head to head Indonesia vs Arab Saudi: 11 laga, 1 imbang, 10 kalah. Gol: 4-32, maka sulit mengatakan Indonesia bisa superior terhadap Arab Saudi meski, disana para TKW dan TKI indonesia seringkali disiksa jadi anggaplah ini sebagai pembalasan. Prediksi Pak Dahlan Iskan juga ada benarnya, Arab Saudi sudah tak sehebat dulu, tapi saya juga bisa berkilah, Indonesia sekarang juga demikian Pak. Sulit untuk melakukan pembelaan bahwa dengan bermain di GBK tim yang baru terbentuk dan dilatih oleh Coach RD seminggu yang lalu itu bisa berbuat banyak nanti malam.

Selama paradigma pengelola Timnas hanya fokus pada setiap kejuaraan saja ― baru dibentuk beberapa bulan atau minggu menjelang kejuaraan dan setelah itu dibubarkan kembali, sulit untuk mengatakan timnas kita bakalan sukses. Di negara-negara yang sudah maju sepak bola Timnas itu dibentuk bukan untuk kejuaraan, tapi untuk selamanya, jadi di luar sana tidak ada istilah pembubaran timnas. Pemain boleh keluar-masuk sesuai panggilan pelatih, tapi Timnas tetaplah sama dari masing-masing kejuaraan, bukan Timnas yang menyesuaikan pemain atau kejuaraan, tapi pemain yang harus menyesuaikan dengan Timnas dan kejuaraan (baca: tidak mulai dari nol lagi).

Yaa pada akhirnya prediksi saya tidak jauh beda dengan prediksi Wimar Witoelar, namun kalo Wimar bilang “Indonesia kalau beruntung bisa dapat satu poin atau bahkan kalo sangat beruntung bisa dapat tiga poin”, prediksi saya indonesia kalo beruntung bisa kemasukan 1-3 gol, tapi kalo tidak beruntung bisa lebih dari itu. Cukup tragis memang. Bahkan kemaren saya mencoba simulasi bermain PES 2013, Indonesia vs Arab Saudi, hasilnya 0-3 untuk negara minyak.

Pangeran Siahaan pun dalam tulisanya berujar “Awalnya skeptis, lalu muncul harapan, timbul berbagai elemen pendukung yang mempertegas harapan, lalu kita mulai bertanya apa memang ini saatnya harapan terhadap tim sepak bola kita terpenuhi. Inikah saatnya kita akan menang? Lalu kita mulai memanjatkan doa. Kita yakin sampai di sana. Lalu saat optimisme sedang membubung tinggi, dengan sekali kibasan sepak bola menghempaskan kita. Semakin tinggi harapan kita di awal, semakin keras kita terjatuh.”

Tapi, behubung ini Timnas Indonesia yang main, dan prediksi tak harus sama dengan harapan, saya berharap hari minggu besok Headline surat kabar dan televisi di Indonesia adalah “Titik Balik Sepak Bola Indonesia” atau “Garuda Berjaya” atau bahkan “Luar Biasa, Indonesia!”

Semoga.

19 March 2013

Timnas Indonesia: Tetap Dirindukan Meski Tak Dikelola Profesional


Saya rindu mendengar gemuruh kumandang Lagu Indonesia Raya yang begitu menggetarkan jiwa di Stadion Gelora Bung Karno yang memerah.

Sore tadi kombinasi dua pelatih tersukses di liga Indonesia dalam satu dekade terakhir, Rahmad Darmawan dan Jacson F Tiago ― keduanya juga pernah mengantarkan Persipura menjadi Kampiun di Liga Indonesia pada tahunnya masing-masing, mengumumkan 28 nama pemain Timnas Indonesia untuk melawan Arab Saudi di Pra Piala Asia 2015. Timnas kali ini bisa jadi menjadi babak baru persepakbolaan tanah air, menyusul Kongres Luar Biasa PSSI dua hari lalu yang konon katanya menemui kesepakatan baru ― meski dalam hati saya yang terdalam, kisruh sepakbola indonesia belum akan surut.

Akhirnya, sayapun takjub dengan 28 nama yang telah diumumkan itu. Kalo dalam 5 tahun terakhir skuat Garuda tak dihuni pemain-pemain terbaik negeri ini, kali ini, menurut saya, nama-nama ini sudah merepresentasikan kekuatan sepakbola Indonesia ― jika disuruh sebut angka saya berani menyebut diatas 80 persen. Saya pun langsung mencoba mengotak atik line-up terbaik tanpa bermaksud meringankan tugas Rahmad Darmawan dan Jackson F Tiago, berikut the winning streak versi saya.

Posisi penjaga gawang saya masih percaya pada Kurnia Meiga, meski kiper asal Bali, I Made Wirawan juga cukup tangguh menurut saya. Dibarisan pertahanan ada banyak nama punggawa kelas satu Indonesia, pilihanya jatuh pada kombinasi: Raphael Maitimo, Victor Igbonefo, Abudur Rahman, Zulkifli Syukur ― meskipun M. Ridwan, Ricardo Salampessy, dan Hamka Hamzah juga tak begitu buruk. Didepan barisan pertahanan, jika mau menggunakan Deep Lying Playmaker, saya yakin pada Ponaryo Astaman. Tapi jika mau menggunakan kombinasi Holding Midfielder dan Box-to-Box Midfielder, pilihanya jatuh pada duet Firman Utina dan Ahmad Bustomi.

Menuju sisi lapangan, kali ini Timnas punya nama-nama yang mengusung kecepatan, seperti Andik Vermansyah dan pemain naturalisasi baru Greg Nwokolo (meski juga bisa dipasang didepan). Di ujung tombak, pilihan saya jatuh pada bintang iklan Pocari Sweet, Irfan Bachdim dan pemain berdarah Belanda, Sergio van Dijk. Namun jika butuh penyerang yang bisa men-delay permainan seperti Demitar Berbatov di Fulham, nama Titus Bonai layak dimasukan kedalam squad Merah-Putih.

Sampai paragraf ini semuanya terasa menyenangkan, antusias memuncak, sepertinya tak sabar menuju pertandingan Timnas Indonesia versus Arab Saudi. Kepala saya pun dipenuhi optimisme yang luar biasa dan tentunya harapan masa keemasan sepakbola Indonesia tak lama lagi. Bisa dibayangkan auranya ketika kongres berhasil, penyatuan liga disepakati, dualisme kepengurusan pun nampaknya akan berakhir, pemain terbaik negeri ini siap berkontribusi, dan ditambah dua pelatih tersukses di Indonesia satu dekade terakhir dibelakang mereka.

Tapi tunggu sebentar, semua kesenangan dan optimisme itu nampaknya tak akan lama, setelah saya mendapati berbagai kutipan dari petinggi sepak bola beberapa hari ini. Silahkan disimak dan coba dirasakan apa yang terjadi sesungguhnya, kutipan ini sudah saya urutkan rentang waktunya.

"Saya dan teman-teman tadi siang habis shalat Jumat diminta suruh pulang oleh Blanco. Alasannya tidak tahu. Katanya kami tidak memenuhi syarat, teman-teman juga kaget dan bingung.  " Kiper Timnas, Syamsidar.

"Alasannya tidak disiplin. Seharusnya mereka berbicara dulu kepada pihak BTN. Tidak disiplinnya seperti apa. Anak-anak baru datang hari Rabu. Saya curiga dia bukan pelatih. Habis bertanding tidak bisa digenjot seperti itu, kalau pemain ISL tidak bisa masuk ya semua saja dikeluarkan. Belum melihat secara benar, tapi sudah dicoret saja." Sekjen PSSI, Harbiansyah.

"Saya awalnya memang dihubungi kemarin melalui telepon dan disampaikan bahwa timnas tidak ada pelatih. Kemudian saya menyetujui, saat diinformasikan, saya hanya akan sampai melawan Arab Saudi. Saya akan membantu semampunya." Pelatih sementara Tim Nasional Indonesia.

"Untuk itulah diperlukan coach sekelas Blanco. Rencana memasukan nama Coach RD belum pernah dikonsultasikan kepada saya, tahu-tahu nama coach RD sudah didaftarkan ke AFC sedangkan coach Blanco yang menangani timnas." Ketua PSSI, Djohar Arifin Husein.

"Belum ada sama sekali pemberitahuan tentang status saya. Saya masih merasa pelatih. Saya di kontrak dua tahun, tapi saya belum dikasih tahu siapa yang akan memimpin timnas lawan Arab Saudi." Pelatih Timnas, Luis Manuel Blanco.

"Pelatih timnas tetap Blanco. Rahmad dan Jacksen ilegal." Ketua Badan Tim Nasional, Isran Noor.

"Saya bawalah kepada Djohar. Dan dia setuju. Berarti jika dia berbeda omongannya, itu artinya dia memojokkan saya. Semua saya laporkan. Komunikasi juga dengan ketua BTN sangat susah sekali. Apakah ponselnya hilang, kecewa dia saudara saya sendiri." Sekjen PSSI, Harbiansyah.

Sudah bisa dibayangkan? ― Saya menduga, para petinggi sepak bola kita dulu masa mudanya suka digantungkan hubungannya oleh pasangan, oleh karena itu sekarang mereka diberi kekuatan untuk menggantungkan nasib masyarakat sepakbola Indonesia.

Ketika optimisme telah memuncak, ada saja prahara yang tak henti-hentinya menguji sepakbola Indonesia. Masalah Apa yang terjadi dalam kasus Blanco-RD adalah ulangan dari kasus sebelumnya yang melibatkan Nil Maizar. Usai menjalani pertandingan menghadapi Irak di Kualifikasi Piala Asia, tiba-tiba Djohar Arifin Husin memperkenalkan Blanco sebagai pelatih timnas yang baru. PSSI 'menggantung' Nil karena sama sekali tidak memberi penjelasan soal statusnya, hingga hari ini. Berarti saat tulisan ini anda baca, Timnas Indonesia sebenarnya ditangani oleh 3 orang: Nil Maizar, Luis Blanco, dan Rahmad Darmawan.

Oh iya, jangan lupakan juga pelatih Timnas ― favorit saya juga, yang membintangi iklan Sosis dan jasa pengiriman barang JNE, Alfred Riedl. Ketika itu Riedl diputus kontraknya secara sepihak oleh PSSI, dengan dalih kontraknya (bersama kepengurusan lama PSSI) tidak jelas.

Pada akhirnya proses penunjukkan pelatih timnas tidak dilakukan secara transparan ini menunjukkan bahwa manajemen timnas dikelola secara tidak profesional, banyak kewenangan yang tak tertulis jelas, asymetric information merebak, dan tentunya konflik kepentingan.

Apapun yang tidak dimulai dengan baik, tidak akan berakhir dengan baik.

Selesai.

Oh iya saya baru saja membeli Air Freshner Matic, kemudian untuk alasan ekonomis saya atur waktu 40 menit, dan saya mendengar 3 kali semprotan disertai aroma Green Fantasy saat saya menulis tulisan ini.

16 March 2013

Hanya Cerita Tentang 15 Point!


Most days of the year are unremarkable. They begin, and they end, with no lasting memories made in between. Most days have no impact on the course of a life.“ – 500 days of summer.

Saya pikir Ferguson ingat kata-kata narator dalam film fiksi yang dibintangi oleh Zooey Deschanel dan Joseph Gordon-Levitt itu, sebelum pertandingan versus Reading di Old Trafford, minggu dini hari ini dimulai. Meski dua jam sebelum pertandingan dimulai, rival terdekat manutd tersungkur di Goodison Park, Ferguson nampaknya tak ingin menganggap pertandingan ini lebih spesial dari pertandingan-pertandingan lain. Hal ini terbukti dari line-up yang diturunkan, menurut saya bukan the winning streak yang biasa digunakan untuk memastikan pertandingan agar lebih mudah ― tanpa merendahkan Reading.

Selain duet Vidic-Ferdinand dan Rooney-Van Persie tak ada lagi yang membuat nyaman bagi pendukung manutd. Nama-nama penghias starting line-up seperti: Carrick, Kagawa, dan Valencia menghiasi bangku cadangan, bahkan bagi Luis Nani, Patrice Evra, Phil Jones, Paul Scholes hanya bisa menyaksikan teman-temannya bergulat di lapangan hijau dari bangku penonton kala cedera mendera mereka.

Pertandingan pun sudah bisa ditebak: berjalan ala kadarnya ― mungkin seperti penampilan Fatin kemaren malam di X-Factor Indonesia yang dianggap kurang power dan seperti biasanya ketika membawakan lagu milik No Doubt berjudul "Don't Speak". Saat pertandingan saya bahkan menyempatkan multitaskting dengan melihat garis waktu, bermain Free Cell, mencoba beberapa picture stlye Canon dan juga mempersiapkan materi buat tulisan ini, saat pertandingan berlangsung. Satu-satunya yang cukup saya nantikan di pertandingan adalah bagaimana Ryan Giggs dan Anderson berbagi peran di lapangan tengah untuk menyeimbangkan tim.
Akhirnya rasa penasaran saya terjawab di pertandingan, Ryan Giggs pada pertandingan itu menurut saya lebih berperan sebagai Ball Winning Midfielder, bukan Deep-Lying Playmaker atau Holding Midfielder yang sukses diperankan oleh Michael Carrick musim ini. Ball-Winning Midfielder (BWM) adalah Anchor Man yang berada di posisi Central Midfielder. Jadi sekali lagi, menurut saya Ryan Giggs di pertandingan ini tidak menggantikan peran Carrick.

Selain penampilan gemilang bintang iklan rokok Indonesia, Rio Ferdinand yang mencuri perhatian saat intersep atas serangan Reading nya berhasil diteruskan dengan solorun dan dribling yang fantastis dan berujung pada assist kepada Wayne Rooney, tak ada peran yang menonjol di kubu Setan Merah.


Rekan Ryan Giggs di lapangan tengah, Anderson yang diharapkan menggantikan Tom Cleverley pun nampaknya gagal menjadi seorang box-to-box midfielder yang ampuh, ia terlihat lebih berhati-hati memerankan posisi ini yang berujung pada passes completion-nya yang yak begitu tinggi. Alexander Buttner yang didapuk menjadi pengganti Pratrice Evra juga demikian, selain tatto di sekujur tubuhnya, dan namanya yang selalu mengingatkan saya pada mentega, juga tak ada yang spesial. Ashley Young dan Danny Welbeck pun setali-tiga-uang dengan Anderson dan Buttner, penampilanya tak semengerikan duet Nani-Valencia yang terbukti ampuh dua musim belakang ini mengalirkan bola lewat sisi-sisi lapangan. Bahkan Welbeck nampaknya menjalani peran di pertandingan ini lebih sebagai Poacher jika duet Rooney-Van Persie macet. Smalling apalagi, yang saya ingat hanya crossingnya yang begitu tinggi di menit 70an.

Di pihak Reading, hampir tak ada yang mencuri perhatian di pertandingan itu selain Cartaker baru Eamonn Dolan, dengan beberapa kali tertangkap kamera tengah hiperaktif dipinggir lapangan. Cartaker yang sebelumnya menjadi pelatih akademi sepakbola Reading seringkali terlihat melakukan bahasa isyarat untuk anak buahnya dengan gerakan-gerakan yang unik, sepanjang pertandingan juga ia acapkali berdiskusi dengan staff pelatih Reading lainya. Atas usahanya yang tak kenal lelah berdiri di pinggir lapangan itu saya anugrahkan sebagai Man of The Match bagi Reading.

Hasil ini membawa keunggulan 15 point atas “tetangga yang berisik” dengan 9 pertandingan sisa, selain sebagai pengurai kegalauan para pemain dan fans pasca tersingkir secara dramatis dari Real Madrid di Liga Champions ― dan beruntung Manutd tak kalah dari Chelsea minggu lalu. Hitung-hitungannya, dari 29 pertandingan Manutd mengemas 74 point, sementara Mancity mengemas 59 point, dengan sisa 9 pertandingan (27 point maksimal), Manutd akan mengunci gelar ketika bisa mengumpulkan 12 poin (4 kali kemenangan). Namun bagi saya gelar ke-20 bagi Manutd bisa dipercepat  jika Manutd bisa mengalahkan Mancity di Old Trafford 2 minggu mendatang ― dengan catatan Manutd juga Menang lawan Sunderland pekan depan.

Pasca pertandingan Ferguson pun berujar "Kami akan bermain tandang melawan Sunderland di laga berikutnya, di mana selalu sulit untuk bermain di sana. Lalu kami harus menghadapi Manchester City di kandang. Jika Anda cepat merasa puas, maka Anda tidak akan mendapatkan poin dan juga titel juara."

Akhirnya pertandingan ini sama sekali tak spesial, selain keunggulan 15 point. Harusnya Manutd tak usah ikutan berpartisipasi agar Liga Inggris kembali terlihat 'kompetitif' dengan mengurangi keunggulan itu ― seperti musim lalu yang perolehan gelar juara harus dipastikan di menit-menit akhir liga, dan menjadikan Liga paling dramatis didunia, biar lah musim ini menjadi musim yang sempurna bagi Manutd di Liga Inggris,

Selamat beristirahat. :)

*foto: Matthew Peters/Getty Images

07 March 2013

Sebuah Alasan: Maaf, Kami Tak Terbiasa Kalah!


Tulisan ini bukan hasil produk latah seperti seorang anak SMA yang mendadak mengelu-elukan nama seorang penyanyi di ajang pencarian bakat karena teman-temannya juga demikian, atau para hipster yang selalu mengupdate gaya berpakaiannya agar terlihat  non-mainstream, atau komunitas yang urban lifestyle yang mendadak merencanakan sebuah kejutan ditempat-tempat publik dengan harlem shake nya kemudian men-share nya ke jejaring-jejaring sosial terdekat ― mungkin.

Bukan seperti itu, tulisan ini bagi saya adalah obat dari kekecewaan yang amat-sangat-dalam untuk kekalahan tim favorit saya, Manchester United atas Real Madrid dua hari yang lalu. Kekalahan ini setidaknya bermakna dua bagi saya: pertama, kemungkinan saya tidak akan mendengar lagi lagu pembakar semangat “Champions League Anthem” ciptaan Tony Britten, setidaknya sampai laga final di Wembley bulan Mei mendatang. Kedua, saya harus buru-buru pulang ke kos saya setelah pulang dari kampus beberapa hari ini, sebelum teman-teman saya mencoba mengingatkan pertandingan menyedihkan itu.

Sebelum membahas pertandinganya, saya tiba-tiba ingat belum lama ini saya membaca sebuah tulisan psikologi ―karena saya selalu menyukai bidang ini― mengenai sensation dan perception. Menurut penulisnya Perception tidak akan terjadi tanpa sensation. Tunggu bentar, buat yang tak tau psikologi, saya coba jelaskan apa itu sensation? Apa itu perception? Sensation adalah tahapan paling mendasar dari proses biokimia atau neurologis yang dimulai dari adanya stimulus yang ditangkap oleh reseptor dari organ sensorik, seperti 5 indra kita (pembau, pendengar, peraba, pelihat, perasa). Sedangkan perception adalah proses dari penghantaran sensasion menuju otak, untuk kemudian diolah menjadi informasi yang bermakna.

 Lalu apa hubunganya dengan pertandingan sepak bola? Pertandingan sepakbola, terutama pertandingan besar, kini menjelma menjadi adu argumen ― bahkan menjadi adu fisik, dibeberapa kasus ― antar pendukung tim sepak bola. Mereka seakan berlomba-lomba mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk saling menyerang satu sama lain, mencaci rival yang bahkan tidak ada dalam pertandingan, atau sekedar menghubung-hubungkan beberapa fakta dan statistik kedalam pertandingan agar terlihat rasional. Tapi pada akhirnya semua perception itu tak akan terjadi tanpa sensation dan menurut Pendiri The Guardian, CP Scott “Comment is free, but facts are sacred”.

Sebagai pemuja Setan Merah ― tolong jangan anggap saya kafir ― fakta dari pertandingan dua hari yang lalu itu adalah: Tim favorit saya united bermain gemilang dengan 10 orang sejak menit ke 56 melawan tim yang berasal dari galaksi lain (baca: Los Galacticos), meski pada akhirnya kalah, iya kalah. Taktik Sir Alex Ferguson dianggap berhasil meredam determinasi madrid selama 56 menit, dengan tidak menyertakan key player united tahun lalu, Rooney kedalam starting line-up dan menggantinya dengan Wellback, terbukti ampuh mengganggu awal serangan tim lawan melalui deep lying plamaker-nya Xabi Alonso. Jangan lupakan pula pemain terbaik di paruh pertama pertandingan itu, legenda hidup Manutd, Ryan Joseph Giggs yang sukses memutus aliran bola menuju runner-up ballon d’or 3 tahun berturut-turut, Cristiano Ronaldo ― serta ikut membantu “mengusir” Angel di Maria keluar pertandingan karena cedera sesaat sebelum jeda.

Jika serangan Madrid melalui sisi kiri (Contrao-Ronaldo) berhasir di redam olah kombinasi Giggs-Rafael, serangan Madrid dari sisi kanan oleh kombinasi Di Maria – Mesut Ozil (Ozil sedikit ke tengah, tapi kemudian ditutup oleh Carrick) juga berhasil dikendalikan oleh Cleverley dan Evra. Nani bertugas memutus aliran dari Arbeloa ke keduanya sekaligus tumpuan serangan balik united. Mau tak mau serangan Madrid sebelum menit ke 56 dimulai dari Sami Kediera yang tak diredam secara khusus oleh sir Alex Ferguson.

Kemudian angka 56 pun seakan menjadi headline diberbagai media. Angka yang menunjukan menit kejadian sebenarnya debateble (bagi saya fans united), yaitu kala Nani mendapat kartu merah langsung dari wasit asal Turki yang selalu mengingatkan saya pada Cangkir, setelah mengangkat kaki terlalu tinggi dan mengenai dada Arbeloa. Semua orang pun sibuk mengomentari insiden yang menjadi titik balik kekalahan United itu dari berbagai disiplin ilmu masing-masing.

Did Nani see Arbeloa coming?” Anda bisa melihat sendiri bagaimana posisi Nani. Ia sedang berusaha mengontrol bola yang berada di mid-air, terang saja ia mengangkat tinggi kakinya. Tapi Nani tidak berusaha menyakiti siapa pun. Posisinya bahkan membelakangi Arbeloa. Nani tidak tahu bahwa Arbeloa berlari ke arahnya (Pangeran Siahaan).

Namun menurut Roy Keane ― yang sebenarnya legenda hidup United ― jurtru berujar sebaliknya, Nani pantas dihukum kartu merah, tak peduli alasannya, di rule of the game FIFA jelas mengatakan mengangkat kaki terlalu tinggi itu membahayakan pemain lain, dan harus diberi peringatan. Memang benar yang dikatakan Roy Keane, sama seperti statement “Mencuri itu dosa, sedangkan bersedekah itu mendapat pahala, jangan tanyakan Netto-nya” keduanya adalah hal yang terpisah meskipun ada orang mencuri tetapi digunakan untuk bersedekah.

Terlepas dari perdebadan benar atau salah kartu merah Nani, menurut saya kekalahan United bukan dikarenakan faktor 10 versus 11 pemain namun lebih dikarenakan mental yang telah jatuh ketika sedari awal persepsi para pemain United mengenai wasit “Cangkir” itu yang hobby mengeluarkan kartu (Kuning dan Merah) terlebih kepada pemain asal Inggris. Sebelum Nani tercatat ada nama Gary Cahill, Steven Gerrard, John Terry, dan Mario Balotelli yang menjadi korban “Cangkir”. Fakta itulah yang mendasari kejatuhan mental para pemain United sesaat setelah Nani di kartu merah, dalam benak mereka MUncul persepsi kalo kartu merah ini telah direncanakan sebelumnya. Namun kejatuhan mental itu ― entah untung atau rugi ­― tidak berlangsung lama, setelah skor berhasil dibalikan oleh Madrid, United lekas mengurung tim asal ibukota Spanyol itu, dan menciptakan banyak peluang berbahaya. Berarti bukan karena 10 orang pemain kan? 10 orang itu hanya alasan kami saja.

Pada akhirnya jika diawal saya membuka dengan perception tak akan ada jika tidak ada Sensation, diakhir tulisan ini saya justru akan mengutip pendapat yang sebaliknya, dari Filsuf Prancis, Henri Bergson, yang dikutip balik oleh Pangeran Siahaan “The eye only sees what the mind is prepared to comprehend”. Mata hanya melihat apa yang siap dicerna oleh pikiran. Sama seperti kehidupan, orang lain melihat kita seperti apa yang ingin (ada dipikiran) mereka lihat mengenai kita.

Hala Madrid!

Sudah habis.

Oh iya, sepertinya ini tulisan panjang saya pertama setelah, Januari tahun lalu. Sudah sangat lama ternyata, para pecinta tulisan saya (kalau ada) pasti sudah lama menantikan tulisan ini. Seperti para pembenci United yang menantikan kekalahan dua hari lalu ― United tercatat kali terakhir kalah dipertandingan kompetitif adalah bulan November tahun lalu, versus Norwich ― mereka ingin berargumen, mencela, tapi sayangnya Kami tak terbiasa kalah. J