ENERGY ECONOMICS

"Dan mengenai minyak ini, terserah pada diri kita sendiri apakah mau barter, mau refining sendiri atau mau dijual sendiri. Atau kita minta tolong kepada patner untuk menjualkanya, unuk kita" - Ibnu Sutowo, Mantan Dirut Pertamina

PHOTOGRAPHY

"There is only you and your camera. The limitations in your photography are in yourself, for what we see is what we are" - Ernst Haas

TRAVELLING

"Most days of the year are unremarkable. They begin, and they end, with no lasting memories made in between. Most days have no impact on the course of a life " - 500 days of summer

FOOTBALL

"The game of life is a lot like football. You have to tackle your problems, block your fears, and score your points when you get the opportunity" - Lewis Grizzard

ECONOMICS

"Banyak intelektual menganggap bahwa merupakan suatu kejahatan tingkat tinggi, apabila seorang ilmuan menulis terlalu indah bagaikan seniman" - Paul Samuelson

15 July 2014

Der Panser 2014: A Beautiful Process


"Getting bigger by getting better, we don't get better by getting bigger" - Edwin Gerungan, Mantan Komisaris Bank Mandiri

Entah kenapa saya sangat mengagumi kutipan diatas, bukan karena saya dengan pak Edwin menperoleh gaji dari perusahaan yang sama, namun saya merasa kutipan tersebut sangat mewakili indahnya sebuah proses jika dijalani dengan sebaik-baiknya. Kita menjadi besar karena kita lebih baik, namun kita tidak akan menjadi lebih baik karena kita menjadi besar.

Begitulah kira kira intro dari tulisan saya ini, sekaligus menggambarkan kesuksesan Timnas Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 buah dari proses panjang yang sangat indah menurut saya. Setidaknya poin-poin dibawah ini bisa menggambarkan kalo Tim ini tidak dibangun dengan instan. Cekidot:

Pertama, seingat saya titik balik kecemerlangan sepakbola Jerman pada awal millennium ke-3 ini adalah kala Tim Jerman gagal lolos fase grub di Piala Dunia 2004. Kala itu Jerman gagal bersaing dengan Republik Ceko dan Belanda yang akhirnya keduanya lolos

Ke fase knock out. Sebagai tim yang punya tradisi sepakbola yang agung, Jerman tak terima jika lolos fase grub di sebuah turnamen besar. Saat itulah reformasi sepak bola Jerman dimulai ketika federasi sepakbola Jerman (DFB) menunjuk pelatih yang belum pernah menangani sebuah club ataupun timnas, Jurgen Klismann. Perjudian yang luar biasa.

Kedua, perjudian DFB ternyata sukses besar, Jurgen Klismann berhasil membuat cetak biru bagi sepak bola Jerman, yang dilakukannya saat itu adalah membuat grand strategy dan menu latihan untuk timnas Jerman dan kemudian menyebarkanya ke seluruh tim yang ada di Bundesliga agar memberi porsi menu latihan tersebut. Hasilnya siapapun dan dari klub manapun di Bundesliga yang dipanggil ke Timnas Jerman akan langsung nyetel dengan latihan dan strategi Die Nationalmannchaft karena kurikulum nya sudah pernah diajarkan di level club. Jenius.

Ketiga, DFB merupakan federasi dengan tingkatan yang paling banyak. Tercatat tidak kurang ada 27 tingkatan yang terdaftar dan diatur oleh DFB dari tingkatan paling amatir kelas ‘tarkam' sampai Bundesliga 1 yang berisi pemain kelas satu di negeri asal dari Adolf Hitler tersebut. Sebuah pembinaan sepakbola yang sangat tersetruktur.

Keempat, Jerman merupakan negara yang sangat melek teknologi. Bukan soal Mercedez Benz, BMW atau Volk Wagen, namun teknologi aplikatif dalam sepakbola. Masih ingat dengan Footbonaut yang popular seiring kesuksesan Borussia Dortmund melenggang ke final Liga Champions 2013 lalu. Footbonaut adalah sebuah mesin yang mampu meningkatkan teknik pemain bola dengan melontarkan bola ke pemain yang kemudian harus menembakan ke 64 panel acak yang akan menyala random. Teknologi seharga 3 juta dolar AS ini sukses meningkatkan kontrol, stamina, kecepatan dan kualitas umpan para pemain Dortmund. Tak Cuma itu, teknologi selanjutnya adalah Match Insight besutan SAP (raksasa teknologi Jerman). Teknologi tersebut merupakan sebuah dashboard yang berisi seluruh data pemain yang ada di Bundesliga. Data yang disajikan cukup komplit seperti passing, daya jelajah pemain, lama menyentuh bola, dan masih banyak data lainya. Oleh karena teknologi ini Joachim Low tak mungkin salah ambil pemain.

Kelima, Timnas Jerman sejak era Klismann selalu menekankan kolektabilitas tim sebagai filosofi permainan. Tak ada pemain yang benar-benar menjadi kartu AS, kalrena semua pemain di tim Jerman punya peran dan kontribusi masing-masing. Tak heran anda pasti akan kebingungan jika disuruh menyebutkan bintang di Timnas Jerman 10 tahun terakhir ini? Mesut Ozil? Schweinsteiger? Manuel Nuver? Philip Lahm? Ada yang bisa menyebutkan bintang seperti Neymar di Brazil, Ronaldo di Portugal atau Messi di Argentina pada timnas Jerman? 

"Apa yang kami raih hari ini tak bisa dipercaya. Selama 120 menit kami bekerja bersama-sama sebagai tim. Tidak penting anda punya pemain terbaik, karena yang anda butuhkan adalah tim terbaik" - Phillip Lahm, seusai pertandingan final lalu.

Keenam, keberhasilan Jerman menjadi juara Piala Dunia datang dari sukses mengembangkan sistem pembinaan pemain. Sebelum bertakhta di Piala Dunia 2014, separuh skuat Die Mannschaft menjuarai Piala Eropa U-21 di tahun 2009. Mereka adalah Manuel Neuer, Jerome Boateng, Matt Hummels, Benedikt Hoewedes, Khedira, Mesut Ozil. Mereka sudah berada di tim yg sama selama 5 tahun!

Ketujuh, sumber dana yang luar biasa besar untuk sepakbola Jerman. Bayangkan saja, ketika semua tim sibuk menyewa dan mendaftar kriteria basecamp untuk hotel, pusat kebugaran dan latihan di Brazil saat piala dunia lalu. Negara ini justru sudah mempersiapkanya lebih dari 6 bulan yang lalu dengan membuat semua fasilitasnya sendiri termasuk jalan menuju pusat latihan itu. Jika hanya untuk turnamen selama satu bulan Negara harus membangun fasilitas latihan sendiri dinegara lain, apa yang akan anda simpulkan? Orang kaya buang-buang duit!

Terakhir, anda boleh setuju dengan saya atau tidak, tapi faktor penyempurna kisah sukses mereka adalah Kanselir Angela Markel. Wanita nomer satu di Negara itu tak sungkan untuk menonton di tribun penonton ketika timnas Jerman bertanding. Tak hanya itu, Angela Markel bahkan sering masuk ke ruang ganti pemain dan memberikan motivasi langsung sesaat sebelum Jerman bertanding. Puncaknya di final kemarin tak hanya Angela yang datang, Presiden Jerman juga hadir di Maracana Stadion. Kepedulian pemimpin negara sangat penting untuk motivasi pemainya di lapangan. Leader always makes perfect.

Kombinasi 7 poin perjalanan panjang Tim Panser jerman menuju bintang yang keempat diatas logo federasi sepakbolanya memang menunjukan cerita manis di Maracana lalu itu tak mudah. Jerman menjadi besar seperti sekarang karena Jerman selalu lebih baik dan belajar tiap kali turnamen yang mereka ikuti, skuad jerman tahun ini tak sehebat Jerman 2012 atau 2010, namun prestasinya justru lebih tinggi, karena mereka belajar dari pengalaman.

Akan tetapi, terlepas dari serangkaian proses indah Timnas Jerman, saya hanya mau menekankan yang paling penting tentu saja segala cerita indah mengenai proses Timnas Jerman ini tak akan bisa dituliskan dengan indahnya jika tim ini tak menjuarai piala dunia. Seperti kutipan dari tokoh idola saya Dahlan Iskan:

"Jadi kalau bekerja orientasinya harus kepada hasil, jangan pada proses, kelihatanya sibuk sekali tapi menghasilkan atau tidak?"

Oh iya karena saya orang yang menghargai proses tak seharusnya saya menulis tulisan ini saat jam kerja, karena ini bukan ‘proses' saya. Maafkan saya pak direktur. 

Weltmeister Die Nationalmannschaaft!

06 May 2014

Sebuah Cerita dari Negeri Dongeng Bertajuk Konsolidasi Perbankan (Part 1)

“Sebagian besar dari kita hanya mau melakukan empat hal: Bayar pajak, nyoblos, mengkritik, atau memuji. Tapi kalo untuk terlibat? Kalau bisa, tidak usah”  - Anies Baswedan

Mungkin Pak Anies berlebihan, yang saya tau sebagaian besar orang di negeri ini adalah mereka yang: terpaksa-bayar-pajak, nyoblos-kalau-ada-amplop, lalu-mengkritik-dan-memuji-dengan-membabi-buta. Padahal menurut hemat saya orang yang tak membayar pajak tak etis bila mengkritisi program pemerintah, begitu pula dengan orang yang tidak menggunakan hak nya dalam pemilu seharusnya juga tak punya hak untuk menghujat pemimpin terpilih. Tapi di negeri dongeng yang kita cintai ini semuanya ada dan bisa terjadi.
Jika pak Anies saya katakan berlebihan maka judul tulisan ini justru kurang berlebihan. Saya kesulitan mencari analogi mengenai sebuah negeri yang nyaris mirip kahyangan, dimana ide-ide briliant berserakan, mimpi-mimpi luhur bertaburan dan segala bentuk khayalan yang lain ada di sini, yang terpikirkan saya selama satu jam terakhir ini hanyalah frase negeri dongeng, seharusnya bisa lebih tendensius.

Tulisan ini lahir sebagai bentuk ke-geram-an saya ketika saya mendengar ada beberapa pengamat yang berujar “Kalau itu memang direncanakan dengan matang kan seharusnya dibicarakan kemarin-kemarin dong, bukan menjelang pemilihan presiden seperti sekarang ini”  saat ditanya isu konsolidasi perbankan yang menyeruak satu bulan terakhir ini. Saya pun tertenduk lesu.

Sebagai mahasiswa ilmu ekonomi saya masih ingat betul ketika mata kuliah ekonomika bisnis, dosen saya saat Tony Prasetiantono (Chief Economies BNI 46 kala itu) dengan percaya diri memaparkan data perbankan di ASEAN kala itu (sekitar 2-3 tahun yang lalu) dan saya juga masih ingat beliau berujar: dalam arsitektur perbankan indonesia sebenarnya kita diamanatkan hanya memiliki satu-dua state-owened-bank, dan beberapa bank swasta, dan bank daerah (total jumlah bank ideal menurut API 2004 sekitar 30an) padahal sekarang jumlah bank yang ada di negeri ini sekitar 130an bank! Saya kira mahasiswa ilmu ekonomi, manajemen atau akuntansi yang berminat di bidang financial and banking tahu mengenai fakta ini.

Jadi saya tegaskan konsolidasi perbankan itu bukan berita baru, ini cita-cita mulia dari praktisimaupun otoritas perbankan sejak dulu kala, ketika bank di negeri ini mulai tumbuh subur bak jamur dimusim penghujan. Selama itupula para praktisi perbankan mendambakan sebuah lembaga keuangan yang kuat dan mengakar agar tak mudah tumbang. Entah ini sudah berapa puluh atau ratus orang yang menulis artikel mengenai topik ini, saya tak peduli, anggap saja ini adalah kontribusi saya atas isu ini.

Saya juga ingat sekitar setengah tahun yang lalu, ketika di kampus saya mengadakan CEO’S Mengajar, kalau saya tak salah (saya justru lupa nama acaranya) tapi saya ingat kutipan dari Pak Budi Gunadi Sadikin, Dirut Bank Mandiri yang menjadi keynote speech di  acara tersebut, beliau berujar seperti ini “Kalo perbankan di Indonesia mau unggul mau jadi leader di nasional atau regional, kita musti bersatu, ngga bisa kita berjuang sendiri-sendiri, padahal kelemahan kita selama ini adalah susah bersatu

Sumber: Statistik Keuangan Indonesia, Statistik Perbankan Indonesia, diolah oleh: srikripik.wordpress.com

Sekedar pemanis tulisan: Data terbaru dari Bank Mandiri, dari sisi modal, perbankan yang modalnya paling besar di ASEAN berasal dari Singapura yang masuk 3 besar. Bank itu adalah DBS dengan jumlah modal US$ 26,5 miliar, diikuti dengan UOB US$ 19,2 miliar, dan OCBC dengan modal US$ 18 miliar. Sementara dari sisi kapitalisasi pasar, bank terbesar di ASEAN adalah DBS asal Singapura dengan nilai US$ 33,1 miliar dan diikuti oleh OCBC dengan nilai US$ 27,7 miliar. Sementara dari sisi aset, 3 bank Singapura juga menempati 3 besar di ASEAN, yaitu DBS dengan aset US$ 318,4 miliar, OCBC dengan aset US$ 268,1 miliar, dan UOB dengan aset US$ 225,2 miliar. Data ini mengingatkan saya pada iklan minuman ringan, apapun kriterianya (Assets, Market Cap, Capital) yang terbesar tetap bank dari Singapura.

Lalu bagaimana dengan Indonesia, ketika beberapa bulan yang lalu menteri BUMN Dahlan Iskan mencetuskan (kembali) ide konsolidasi perbankan dengan diawali dengan Marger Bank Mandiri dengan Bank Tabungan Negara, serta Bank Rakyat Indonesia yang akan di merger dengan PT. Pegadaian, banyak pihak mengkritik membabi-buta. Bahkan berita terbaru, akuisisi dipastikan gagal, sang mentri bahkan dicap hanya melakukan manuver politik jelang pemilihan presiden. Saya sedih.

Undzur Ma Qolaa Walaa tandzur man qolaa..

Hadist yang berarti “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan” diatas setidaknya bisa mencerminkan ketakutan saya mengenai kasus ini. Saya takut yang ditentang disini adalah soal personal, pembawa ide, bukan dari ide itu sendiri. Saya akan paham dan mengerti jika yang terjadi memang pertarungan ide dan gagasan, saya juga mulai menyadari jika bank besar tidak serta merta dikatakan efisien. Namun marilah bersama-sama berpendapat tanpa melihat siapa yang memberikan pendapat, tapi melihat pendapat itu sendiri.

Pada akhirnya, kita harus meyakini bahwa: manusia hanya bisa berencana, politikus yang menentukan.

(Mungkin belum) Selesai.


01 May 2014

Dikotomi Pertumbuhan Bisnis Bank: Organik dan Non Organik?

“Pertumbuhan organik adalah tingkat ekspansi bisnis melalui peningkatan output dan penjualan.” -Peter F Drucker

Sejujurnya saya lebih tertarik dengan ‘temuan’ Peter F Drucker mengenai knowledge worker daripada kutipan diatas, namun untuk kepentingan kesesuaian dengan judul tulisan saya memutuskan untuk menaruhnya di awal dan untuk kepentingan kesamaan saya juga akan sedikit menjelaskan tentang knowledge worker.

Dalam bukunya yang berjudul Landmark of Tomorrow yang terbit ditahun yang sama dengan terbitnya Dekrit Presiden Soeharto itu (1959), bapak manajemen modern tersebut menjelaskan panjang lebar mengenai istilah pekerja intelektual, namun secara singkat knowledge worker adalah seseorang yang dipekerjakan berdasarkan pengetahuannya tentang subyek tertentu, bukan berdasarkan keterampilannya membuat atau mengerjakan sesuatu. Sebagai seorang pekerja yang tak terlalu hebat soal pekerjaan teknis dan tak terampil administrasi, saya merasa telah ditunjukkan sebutan yang tepat untuk pekerja seperti saya ini, terimakasih Ducker!

Kembali ke benang merah.

Seperti kita ketahui setiap awal tahun bank-bank besar selalu mengadakan pertemuan yang dinanti untuk disimak hasilnya oleh para pemangku kepentingan dan pengamat perbankan. Adapun pertemuan awal tahun (sebut saja Rapat Umum Pemegang Saham) memiliki setidaknya dua agenda penting yaitu paparan pencapaian keuangan dan Rencana Bisnis Bank (RBB), keduanya menarik, tapi bagi knowledge worker yang menyukai strategi seperti saya ini, saya lebih tertarik pada point yang kedua. Rencana Bisnis Bank menarik karena mengajak kita untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi di perusahaan ini dimasa mendatang.

Pada pertemuan yang membahas mengenai Rencana Bisnis Bank, biasanya ada dua strategi besar yang paling mudah digunakan oleh praktisi ataupun pengamat untuk menggambarkan pola bisnis yang akan dilakukan pada masa mendatang, yaitu pertumbuhan organik dan anorganik.

Metode pertumbuhan organik adalah pertumbuhan dari dalam atau pertumbuhan yang  mengharuskan perusahaan untuk memaksimalkan sumber daya internal mereka. Dalam kata lain merupakan strategi pertumbuhan perusahaan yang menggunakan pendanaan dari dalam, berasal dari akumulasi laba yang ditahan ditambah dengan hutang.

Sedangkan pertumbuhan anorganik merupakan strategi yang mengandalkan pertumbuhan dari luar perusahaan, atau strategi perseroan untuk mempercepat pertumbuhan dan memperkuat jaringan sebagai konglomerasi lembaga keuangan.

Terkadang ketika saya tak fasih menjelaskan definisi, maka saya akan langsung saja menuju contoh.

Di negeri yang kita cintai ini ada 2 BUMN besar yang merupakan perwakilan sempurna untuk pembedaan dua strategi bisnis bank tersebut, yaitu Bank Rakyat Indonesia yang bangga dengan pertumbuhan organiknya dan Bank Mandiri bank-yang-sejak-dulu-kala-percaya-diri-dengan-pertumbuhan-anorganik.

Mari kita simak pendapat dari masing masing kubu mengenai strategi perseroannya.

"Kita akan meningkatkan bisnis secara anorganik dalam tiga tahun ke depan, Sehingga dapat menjaga performa bisnis perseroan secara keseluruhan. Pertumbuhan anorganik merupakan strategi perseroan untuk mempercepat pertumbuhan dan memperkuat jaringan sebagai sebuah lembaga keuangan terbesar" – Pahala N Mansury, Direktur Keuangan Bank Mandiri.

Fokus kami mengembangkan pertumbuhan organik dalam arti kata memperluas dan menjangkau pasar yang belum tersentuh. Kami tetap concern ke pertumbuhan organik, jangan sampai kita mengembangkan bisnis anorganik tapi lalai untuk memperbesar fokus bank. Jadi kami sangat fokus kembangkan BRI dari dalam dulu.” Sofyan Basir, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia.

Jelas tergambar keduanya bersebrangan, bahkan ada yang menyindir strategi yang lain. Bank Mandiri terlahir dari proses mager sendari dulu sering memberikan porsi pertumbuhan anorganik lebih besar. Bahkan dalam Rencana Bisnis Bank Mandiri tahun ini telah menyiapkan dana kurang lebih 10 Triliun (lebih dari setengah dari laba BMRI tahun ini) guna menopang pertumbuhan anorganik, dengan rincian 3 triliun untuk menggenjot permodalan anak perusahaan yang telah ada, dan 7 triliun untuk mengakuisisi anak perusahaan yang lebih besar dari anak perusahaan yang telah ada (anak perusahaan Bank Mandiri: Bank Mandiri Syariah, Mandiri Sekuritas, Mandiri Tunas Finance, Bank Sinar Harapan Bali, AXA General Insurance, AXA financial Service, Bank Mandiri Europe Lmtd, Bank Mandiri International Remittance, dan yang terbaru InHealth insurance).

Bagaimana dengan rencana bisnis bank BRI? Beberapa hari yang lalu bank jagoan kredit mikro itu mengumumkan telah membeli satelit seharga 2,5 triliun, mereka mengklaim itu adalah satelit perbankan pertama di dunia. Hanya untuk menghubungkan sistem dan jaringan ATM dan Cabang diseluruh Indonesia, BRI berani untuk berinvestasi sebesar itu. Mereka tidak terlalu tertarik untuk ‘belanja’ perusahaan lain, untuk menopang pertumbuhan bisnisnya, mereka fokus membenahi bank dari dalam. Luar biasa sekali.

Lalu lebih baik mana organik atau anorganik?

Jika saya ditanya seperti itu, sebagai penggila bola saya akan dengan mudah mengasosiasikan pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang paling familier didunia Sepakbola: Lebih baik sepakbola menyerang atau bertahan? Maka jika pertanyaan itu yang mengemuka, jawabanya adalah faktor ‘Selera’ atau ‘Karakter’. Seorang pemuja sepakbola bertahan pasti kekeuh dengan falsafah “bertahan adalalah penyerangan terbaik”, sebaliknya pemuja Kick And Rush atau Total Football pasti menolak dengan lantang falsafah tersebut, “ bertahan itu membosankan”.

Bagi saya, pertumbuhan organik itu sama halnya dengan sepakbola bertahan, pertumbuhan yang sedikit resiko, lebih ekonomis, namun konservatif. Sedangkan pertumbuhan anorganik itu manifestasi sepakbola menyerang yang rentan dengan resiko, menghabiskan banyak tenaga, namun seringkali penuh tepuk tangan. Jadi sekali lagi tidak ada yang lebih baik, ini perkara ‘selera’ dan ’Karakter’.

Tapi sejujurnya saya lebih suka sepakbola Inggris daripada sepakbola Italia.

Selesai

Semacam disclaimer: ini tulisan pertama saya mengenai perbankan, tulisan pertama saya ketika telah resmi menjadi bankir (semoga bisa disebut demikian karena saya telah mengantongi sertifikasi bankir level satu), tulisan pertama saya sejak resmi meninggalkan bangku perkuliahan. Jadi bilamana banyak pemahaman yang sekiranya keliru, analogi yang berlebihan, atau bahasan yang tak fokus harap dimaklumi saja.

Sepertinya saya hanya sibuk mencari pembenaran. Alangkah mulianya jika anda tak membaca paragraf sebelum ini.

Selamat Hari Buruh Internasional, semoga kelak ada Hari Kelas Menengah Internasional. Heuheu

10 October 2013

Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan (Part 2 - Habis)

Perepuan adalah mahluk gaib urutan satu, urutan kedua baru Tuhan” – Jalaluddin Rumi

Akhirnya saya memiliki kesempatan untuk meneruskan postingan sebelum ini, meski waktu banyak saya miliki, namun kesempatan tak selalu berbanding lurus dengan waktu. Izinkan saya untuk membaca tulisan saya sebelum ini, sembari mengingat ingat apa yang ingin saya ceritakan.

Seingat saya malam itu tak terlalu dingin, matahari baru saja masuk ke peraduan setelah seharian menghangatkan mahluk bumi. Kedamaian pergantian siang dan malam ketika langit sedikit menggelap sehabis magrib adalah kombinasi suasana yang indah. Saya pun masih khidmat memandangi sudut bangunan megah yang menjadi rumah siang saya selama 4 tahun terakhir − karena biasanya saya hanya kembali ke kosan hanya untuk tidur.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, menjelang malam itu tak banyak orang yang hilir mudik seperti layaknya kampus dikala malam. Maka tak banyak yang mengalihkan perhatian saya saat itu. Hanya terlihat seorang gadis berpawakan agak tinggi, berdandan sekenanya sehingga lebih terlihat urakan, namun terlihat nyaman, tengah berjalan bergegas entah kemana. Dengan menenteng beberapa buah buku teksbook dan buku catatan canggih buatan Cupertino, California dengan logo buah yang terkenal itu, gadis tinggi yang terlihat urakan ini berjalan sembari menempelkan telpon genggamnya ke telinganya. Saya tak yakin ia benar-benar menelpon atau hanya kamuflase ditengah keramaian saja.

Saya memutuskan tak terlalu mengamatinya lebih jauh lagi. Namun, tiba-tiba saya dikagetkan oleh gadis berkacamata, berbaju polo biru menenteng tas berwarna biru bergaris putih dipundaknya lewat disebelah saya. Entah dari mana datangnya tiba-tiba gadis itu lewat disamping saya, dia-pun seketika tersenyum melihat saya sedikit terkagetkan. Sempertinya saya mengenali senyumanya gadis itu, senyuman yang khas melengkung indah dan membuat lekukan di ujung bibir dan mengangkat sebagian pipinya. Saya pun menimpali senyumanya meski dengan perasaan yang sedikit masih terkaget-kaget.

Setelah gadis berbaju polo biru lewat, saya mendapati dua mahasiswi sedang mengobrol serius dibawah salah satu pohon besar di kampus saya. Mahasiswi yang pertama terlihat anggun sekali dengan mengunakan baju motif batik terusan sampai sedikit diatas lutut. Baju terusan yang membuat saya teringat pada pramugari Singapore Airlines namun yang ini hadir dengan versi lebih pendek. Mahasiswi yang kedua lebih simpel, hanya memakai kaos berwarna abu-abu dengan lengan berwarna merah maroon serta jilbab tipis berwarna krem. Melihat raut muka keduanya, nampaknya mereka sedang berdiskusi membicarakan organisasinya. Ah saya tak terlalu peduli apa yang sedang mereka bicarakan, bisa jadi sedang membicarakan saya.

Entah kenapa malam itu lebih banyak wanita yang saya temui ketimbang laki-laki. Bisa jadi seperti kutipan diawal tulisan ini benar adanya. 

Aktivitas saya mengamati sekeliling sembari memasukan kepingan memori yang ada dikampus saya untuk dikenang suatu saat ternyata membuat saya tak sadar saya telah diamati dari jauh. Iya saya sedang diamati dari jauh ternyata − atau saya yang terlalu percaya diri. Terlihat ada dua mahasiswa berada dibawah tenda yang berpadu dengan kegelapan. Bahkan saking berpadunya saya tak bisa melihat dengan jelas salah satu mahasiswi tersebut hanya mahasiswi berjilbab merah muda dan atasan merah muda namun lebih tua dari jilbabnya. Dirinya tertangkap membuang pandanganya ketika saya pergoki dirinya mengamati saya dari kejauhan.

Mungkin sebaiknya saya mengakhiri proses perekaman kenangan di kampus saya malam itu, daripada saya mengetahui lebih banyak lagi yang mengamati ku dari jauh, terlebih tak baik rasanya berdiri seorang diri ditengah plasa kampus ketika hari semakin larut malam. Namun sebelum beranjak pulang menyempatkan untuk sholat Magrib terlebih dahulu.

Selepas Sholat Magrib saya bergegas menuju tempat parkir, namun ditengah perjalanan saya melihat gadis yang sepertinya beberapa saat lalu saya melihatnya di bawah pohon besar itu, namun kali ini ia sendirian duduk di sebuah bangku panjang dan mencoba menyibukan diri dengan telepon genggamnya, sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Dalam keadaan satu-lawan-satu tersebut keputusan untuk menyapa atau sekedar senyum seperti kasus prisoner’s dilemma pada mata kuliah Game Theory. Teori tersebut menyebutkan bahwa payoff tertinggi hanya didapat ketika dua pihak melakukan hal yang sama. Pada kasus ini saya memutuskan untuk tidak memberikan senyum atau sekedar menyapa karena hal itu pula yang dilakukanya dan berpura-pura tak melihat saya, mungkin demi payoff yang maksimal juga.

Ah.. saya jadi lupa ingin menceritakan apa sebenernya, saya cuman ingat, suatu saat, jika kamu meninggalkan suatu tempat, tapi sama sekali tak dikenang oleh orang-orang ditempat itu, itu salah mu.

Selesai.

Oh iya saya ingin menceritakan pada adik baru saya yang belum ada satu semester aku memanggilnya adik. Biasanya dia tau lanjutan cerita ini akan seperti apa. Biasanya.