ENERGY ECONOMICS

"Dan mengenai minyak ini, terserah pada diri kita sendiri apakah mau barter, mau refining sendiri atau mau dijual sendiri. Atau kita minta tolong kepada patner untuk menjualkanya, unuk kita" - Ibnu Sutowo, Mantan Dirut Pertamina

PHOTOGRAPHY

"There is only you and your camera. The limitations in your photography are in yourself, for what we see is what we are" - Ernst Haas

TRAVELLING

"Most days of the year are unremarkable. They begin, and they end, with no lasting memories made in between. Most days have no impact on the course of a life " - 500 days of summer

FOOTBALL

"The game of life is a lot like football. You have to tackle your problems, block your fears, and score your points when you get the opportunity" - Lewis Grizzard

ECONOMICS

"Banyak intelektual menganggap bahwa merupakan suatu kejahatan tingkat tinggi, apabila seorang ilmuan menulis terlalu indah bagaikan seniman" - Paul Samuelson

Showing posts with label Manutd. Show all posts
Showing posts with label Manutd. Show all posts

15 July 2013

Liga Inggris 2013/14: Antara Harapan dan Prediksi




"Jose kembali dan itu menarik. Tapi, saya masih berpikir bahwa United akan menjuarai liga. Saya fan Manchester United!" - David Beckham

Pagi buta ini seharusnya saya menyelesaikan revisi akhir skripsi yang saya janjikan sejak minggu lalu, namun sampai saat ini saya lebih memilih menulis tulisan tak berguna ini, hanya sekedar obat anti kantuk menjelang sahur dan pelampiasan rindu saya pada olahraga ini saya sudah dua minggu lebih tak merasakan berada di tengah lapangan futsal dan ini menyakitkan bagi saya. Ini cuma intro, jangan dibaca, tulisan sebenarnya ada setelah kalimat ini selesai, saya ulangi lagi: jangan dibaca.

Bagi para penikmat bola, terlebih para analis dan jurnalis, akan terlihat hebat jika anda bisa memprediksi pertandingan dengan tepat jauh sebelum pertandingan itu dimulai. Jadi hal-hal berbau prediksi, bursa taruhan, dan tebak-tebakan yang lain menjadi hal yang lumprah bahkan belakangan menjadi parameter kedalaman seseorang atas sepakbola. Meski sebenarnya kita sama-sama tau sebuah prediksi hanyalah sebuah roll of the dice, sebuah keberuntungan semata, menerka-nerka apa yang akan terjadi di masa depan adalah pekerjaan yang menyenangkan terlebih bagi saya yang gemar memainkan Fantasy Premiere League. Saya juga senang menerka-nerka siapa yang akan jadi jodoh saya kelak.

Oleh karena itu saya kali ini saya tertarik untuk mencoba menulis apa yang akan terjadi pada liga Inggris yang sebenarnya baru akan dimulai Agustus mendatang. Saya tak tertarik untuk menulisnya dengan frontal di bagian judul: “Prediksi Liga Inggris musim 2013/14”. Karena kemungkinan saya akan disebut kurang kerjaan dan mengada-ada akan sangat tinggi mengingat masih ada 31 hari lagi sebelum liga dimulai dan 301 hari lagi sebelum liga benar-benar berakhir, meskipun sebenarnya ini merupakan pekerjaan yang aman, karena ketika musim 2013/14 berakhir nanti, besar kemungkinan mereka yang menyebut saya mengada-ada sudah lupa dengan tulisan saya ini. Saya pun bisa jadi seperti mereka.

Bicara mengenai prediksi, banyak dari kita masih mencampur-adukkan dengan harapan. Terlebih jika dalam prediksi kita memuat harapan-harapan. Seperti kutipan dari aristrokrat sepak bola di awal tulisan ini adalah harapan. Terlepas berbagai faktor keberuntungan dan lain-lain, Beckham sebagai pesepakbola sadar betul kekuatan dan kelemahan Manchester United sekarang, maka dalam hal ini terlihat dirinya seakan menutupi fakta yang ada dengan optimisme sebuah harapan. Oh iya, saya belum sampaikan bahwa harapan itu selalu positif, sedangkan prediksi bisa positif maupun negatif. 

Baiklah mungkin lebih baik saya langsung memulainya saja. Saya kali ini akan mencoba memprediksi kelasemen akhir Premiere League 2013/14. Paragraf-paragraf setelah ini merupakan urutan peringkat masing-masing klub dimulai dari peringkat lima, saya ulangi: dari peringkat lima.

Liverpool, tim yang memiliki semboyan the next year is our year ini sepertinya akan bernasib lebih baik musim mendatang. Bukan karena semboyan tersebut kerap dilontarkan musim lalu, namun lebih karena kematangan tim. Steven Gerrard, satu-satunya pemain idola saya di klub ini, nampaknya tidak akan sudi jika harus mengucapkan lagi semboyan tersebut musim depan. Saya bahkan melihat tim ini bisa kembali menjadi big four musim mendatang, namun untuk menerobos tiga besar sepertinya masih sulit, sesulit memasukan pesil ke dalam botol dalam acara tujuh-belasan.

Manchester City, tim yang menjadi penantang juara serius sejak tiga tahun yang lalu ini, sepertinya akanmengalami restart. Dengan bergantinya manajer tim dari Mancini menjadi Pellegrini, membuat tim ini tak hanya berganti rasa dari rasa Italia menjadi rasa Spanyol, namun juga terjadi perubahan skema permainan. Perubahan inilah yang menurut hemat saya akan melemah, terlebih sang pelatih harus belajar banyak mengenai sepakbola Inggris, bahkan harus rela kalah 2-0 dengan klub antah berantah asal Afrika Selatan di laga perdananya bersama tim bergelimang uang ini. Entah kenapa saya susah memasukan tim biru muda ini ke 3 besar, jika saya tak segan sama sahabat khayalan saya Sheikh Mansoer pasti saya sudah menempatkan Liverpool di posisi ini.

Manchester United, sebenarnya saya mau meletakkan united diluar tiga besar, namun karena beberpa alasan saya urung melakukanya. Pertama, tim ini tak pernah keluar dari tiga besar sejak digulirkan format Premiere League di tahun 1992. Kedua, tim ini adalah juara bertahan, tak etis melemparkan jauh-jauh juara bertahan dari daftar penantang juara tahun ini. Ketiga, karena tim ini jagoan saya ― saya akan menulis panjang-lebar tentang tim ini di tulisan terpisah. Manutd musim depan bagi saya seperti acara realiti show “Tukar Nasib” yang mempertontonkan orang kaya merasakan kehidupan orang miskin dan sebaliknya orang miskin merasakan kehidupan orang kaya. Nah, David Moyes sebagai pelatih anyar Manutd berperan sebagai orang miskin yang dikasih kesempatan menghuni rumah si kaya. Sulit membayangkan Moyes langsung bisa menjalankan perannya sebagai orang kaya di musim pertamanya, dan ketika melihat debutnya melawan Singha All Star (Thailand) kemaren saya justru khawatir jangan-jangan Manutd dibawanya menjadi tim medioker yang irit belanja pemain seperti yang dilakukanya 11 tahun di Everton.

Arsenal, bukan karena tim ini telah menghempaskan tim nasional kebanggaan saya 7 gol tanpa balas di GBK kemarin, lalu saya mengangkatnya ke tempat yang lebih tinggi daripada juara bertahan sekaligus jagoan saya. Lebih dari itu, sepeninggal Sir Alex Ferguson, kini praktis tak ada yang lebih tau mengenai Premiere League selain Arsene Wenger dan Ryan Giggs. Nama pertama kini menjadi pelatih terlama yang menangani klub di premiere league musim depan, tentu saja predikat ini membuat dirinya malu jika harus kembali disalip oleh rival-rivalnya yang lebih hal ini bisa dilihat kebijakan transfer sang profesor yang lebih atraktif dan berani. Menurut saya, kali ini Wenger hanya perlu memikirkan bagaimana cara men-charge baterai tim nya agar tidak lekas habis di paruh kedua musim, seperti sebelum-sebelumnya.

Sebenarnya sulit bagi saya untuk mengakui musim depan Chelsea akan melenggang mulus, tapi itulah kenyataanya. Ibarat seorang yang sedang berpacaran, Chelsea sekarang ini memutuskan untuk merajut kembali hubungan dengan mantan pacarnya dulu, Jose Mourinho. Sejak memutuskan berpisah ditahun 2007, Chelsea sempat berpacaran 7 kali (Grant, Scolari, Anceloti, Hiddink, Villas Boas, Di Matteo, Banitez) sedangkan Mourinho sempat berpacaran 2 kali dengan Inter milan dan Real Madrid. Namun takdir mempertemukan keduanya kembali, bisa dibayangkan apa yang terjadi jika kisah cinta lama dipertemukan kembali. Ada dua kemungkinan: Pertama, Mourinho berjanji dan mengupayakan hubungan yang lebih baik daripada enam tahun silam. Kedua, Mourinho mengulangi kesalahan yang sama. Namun jika yang terjadi opsi yang kedua, toh kesalahan Mourinho dulu tetap membuahkan trofii Premiere League dua kali bagi Chelsea. Rasa-rasanya Mourinho dengan kekasih lamanya masih tak akan terbendung di musim 2013/14.

Akhirnya saya selesaikan karya ilmiah saya pagi ini di bagian ini saja. Selain lima tim diatas sejujurnya saya masih memikirkan dimana saya musti meletakan Tottenham Hospur dan Everton. Karena memprediksi Liga Inggris musim mendatang tak semudah memprediksi Liga Spanyol yang tinggal melempar koin bergambar Barcelona atau Real Madrid, atau di Jerman musim 2013/14 lebih mudah lagi, tinggal menghitung kancing sembari mengucap Bayern Munchen, Bayern Munchen, Bayern Munchen, Bayern Munchen,,,

Selesai.

Oh iya, ternyata tak tidur semalaman itu membuat kerja otak sedikit terganggu loh. Tulisan ini buktinya.

"Sejarah diawali dengan lelucon dan diakhiri dengan tragedi, atau bisa sebaliknya" - Argo

Foto: Official Ball Premiere League 2013/14

16 March 2013

Hanya Cerita Tentang 15 Point!


Most days of the year are unremarkable. They begin, and they end, with no lasting memories made in between. Most days have no impact on the course of a life.“ – 500 days of summer.

Saya pikir Ferguson ingat kata-kata narator dalam film fiksi yang dibintangi oleh Zooey Deschanel dan Joseph Gordon-Levitt itu, sebelum pertandingan versus Reading di Old Trafford, minggu dini hari ini dimulai. Meski dua jam sebelum pertandingan dimulai, rival terdekat manutd tersungkur di Goodison Park, Ferguson nampaknya tak ingin menganggap pertandingan ini lebih spesial dari pertandingan-pertandingan lain. Hal ini terbukti dari line-up yang diturunkan, menurut saya bukan the winning streak yang biasa digunakan untuk memastikan pertandingan agar lebih mudah ― tanpa merendahkan Reading.

Selain duet Vidic-Ferdinand dan Rooney-Van Persie tak ada lagi yang membuat nyaman bagi pendukung manutd. Nama-nama penghias starting line-up seperti: Carrick, Kagawa, dan Valencia menghiasi bangku cadangan, bahkan bagi Luis Nani, Patrice Evra, Phil Jones, Paul Scholes hanya bisa menyaksikan teman-temannya bergulat di lapangan hijau dari bangku penonton kala cedera mendera mereka.

Pertandingan pun sudah bisa ditebak: berjalan ala kadarnya ― mungkin seperti penampilan Fatin kemaren malam di X-Factor Indonesia yang dianggap kurang power dan seperti biasanya ketika membawakan lagu milik No Doubt berjudul "Don't Speak". Saat pertandingan saya bahkan menyempatkan multitaskting dengan melihat garis waktu, bermain Free Cell, mencoba beberapa picture stlye Canon dan juga mempersiapkan materi buat tulisan ini, saat pertandingan berlangsung. Satu-satunya yang cukup saya nantikan di pertandingan adalah bagaimana Ryan Giggs dan Anderson berbagi peran di lapangan tengah untuk menyeimbangkan tim.
Akhirnya rasa penasaran saya terjawab di pertandingan, Ryan Giggs pada pertandingan itu menurut saya lebih berperan sebagai Ball Winning Midfielder, bukan Deep-Lying Playmaker atau Holding Midfielder yang sukses diperankan oleh Michael Carrick musim ini. Ball-Winning Midfielder (BWM) adalah Anchor Man yang berada di posisi Central Midfielder. Jadi sekali lagi, menurut saya Ryan Giggs di pertandingan ini tidak menggantikan peran Carrick.

Selain penampilan gemilang bintang iklan rokok Indonesia, Rio Ferdinand yang mencuri perhatian saat intersep atas serangan Reading nya berhasil diteruskan dengan solorun dan dribling yang fantastis dan berujung pada assist kepada Wayne Rooney, tak ada peran yang menonjol di kubu Setan Merah.


Rekan Ryan Giggs di lapangan tengah, Anderson yang diharapkan menggantikan Tom Cleverley pun nampaknya gagal menjadi seorang box-to-box midfielder yang ampuh, ia terlihat lebih berhati-hati memerankan posisi ini yang berujung pada passes completion-nya yang yak begitu tinggi. Alexander Buttner yang didapuk menjadi pengganti Pratrice Evra juga demikian, selain tatto di sekujur tubuhnya, dan namanya yang selalu mengingatkan saya pada mentega, juga tak ada yang spesial. Ashley Young dan Danny Welbeck pun setali-tiga-uang dengan Anderson dan Buttner, penampilanya tak semengerikan duet Nani-Valencia yang terbukti ampuh dua musim belakang ini mengalirkan bola lewat sisi-sisi lapangan. Bahkan Welbeck nampaknya menjalani peran di pertandingan ini lebih sebagai Poacher jika duet Rooney-Van Persie macet. Smalling apalagi, yang saya ingat hanya crossingnya yang begitu tinggi di menit 70an.

Di pihak Reading, hampir tak ada yang mencuri perhatian di pertandingan itu selain Cartaker baru Eamonn Dolan, dengan beberapa kali tertangkap kamera tengah hiperaktif dipinggir lapangan. Cartaker yang sebelumnya menjadi pelatih akademi sepakbola Reading seringkali terlihat melakukan bahasa isyarat untuk anak buahnya dengan gerakan-gerakan yang unik, sepanjang pertandingan juga ia acapkali berdiskusi dengan staff pelatih Reading lainya. Atas usahanya yang tak kenal lelah berdiri di pinggir lapangan itu saya anugrahkan sebagai Man of The Match bagi Reading.

Hasil ini membawa keunggulan 15 point atas “tetangga yang berisik” dengan 9 pertandingan sisa, selain sebagai pengurai kegalauan para pemain dan fans pasca tersingkir secara dramatis dari Real Madrid di Liga Champions ― dan beruntung Manutd tak kalah dari Chelsea minggu lalu. Hitung-hitungannya, dari 29 pertandingan Manutd mengemas 74 point, sementara Mancity mengemas 59 point, dengan sisa 9 pertandingan (27 point maksimal), Manutd akan mengunci gelar ketika bisa mengumpulkan 12 poin (4 kali kemenangan). Namun bagi saya gelar ke-20 bagi Manutd bisa dipercepat  jika Manutd bisa mengalahkan Mancity di Old Trafford 2 minggu mendatang ― dengan catatan Manutd juga Menang lawan Sunderland pekan depan.

Pasca pertandingan Ferguson pun berujar "Kami akan bermain tandang melawan Sunderland di laga berikutnya, di mana selalu sulit untuk bermain di sana. Lalu kami harus menghadapi Manchester City di kandang. Jika Anda cepat merasa puas, maka Anda tidak akan mendapatkan poin dan juga titel juara."

Akhirnya pertandingan ini sama sekali tak spesial, selain keunggulan 15 point. Harusnya Manutd tak usah ikutan berpartisipasi agar Liga Inggris kembali terlihat 'kompetitif' dengan mengurangi keunggulan itu ― seperti musim lalu yang perolehan gelar juara harus dipastikan di menit-menit akhir liga, dan menjadikan Liga paling dramatis didunia, biar lah musim ini menjadi musim yang sempurna bagi Manutd di Liga Inggris,

Selamat beristirahat. :)

*foto: Matthew Peters/Getty Images

07 March 2013

Sebuah Alasan: Maaf, Kami Tak Terbiasa Kalah!


Tulisan ini bukan hasil produk latah seperti seorang anak SMA yang mendadak mengelu-elukan nama seorang penyanyi di ajang pencarian bakat karena teman-temannya juga demikian, atau para hipster yang selalu mengupdate gaya berpakaiannya agar terlihat  non-mainstream, atau komunitas yang urban lifestyle yang mendadak merencanakan sebuah kejutan ditempat-tempat publik dengan harlem shake nya kemudian men-share nya ke jejaring-jejaring sosial terdekat ― mungkin.

Bukan seperti itu, tulisan ini bagi saya adalah obat dari kekecewaan yang amat-sangat-dalam untuk kekalahan tim favorit saya, Manchester United atas Real Madrid dua hari yang lalu. Kekalahan ini setidaknya bermakna dua bagi saya: pertama, kemungkinan saya tidak akan mendengar lagi lagu pembakar semangat “Champions League Anthem” ciptaan Tony Britten, setidaknya sampai laga final di Wembley bulan Mei mendatang. Kedua, saya harus buru-buru pulang ke kos saya setelah pulang dari kampus beberapa hari ini, sebelum teman-teman saya mencoba mengingatkan pertandingan menyedihkan itu.

Sebelum membahas pertandinganya, saya tiba-tiba ingat belum lama ini saya membaca sebuah tulisan psikologi ―karena saya selalu menyukai bidang ini― mengenai sensation dan perception. Menurut penulisnya Perception tidak akan terjadi tanpa sensation. Tunggu bentar, buat yang tak tau psikologi, saya coba jelaskan apa itu sensation? Apa itu perception? Sensation adalah tahapan paling mendasar dari proses biokimia atau neurologis yang dimulai dari adanya stimulus yang ditangkap oleh reseptor dari organ sensorik, seperti 5 indra kita (pembau, pendengar, peraba, pelihat, perasa). Sedangkan perception adalah proses dari penghantaran sensasion menuju otak, untuk kemudian diolah menjadi informasi yang bermakna.

 Lalu apa hubunganya dengan pertandingan sepak bola? Pertandingan sepakbola, terutama pertandingan besar, kini menjelma menjadi adu argumen ― bahkan menjadi adu fisik, dibeberapa kasus ― antar pendukung tim sepak bola. Mereka seakan berlomba-lomba mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk saling menyerang satu sama lain, mencaci rival yang bahkan tidak ada dalam pertandingan, atau sekedar menghubung-hubungkan beberapa fakta dan statistik kedalam pertandingan agar terlihat rasional. Tapi pada akhirnya semua perception itu tak akan terjadi tanpa sensation dan menurut Pendiri The Guardian, CP Scott “Comment is free, but facts are sacred”.

Sebagai pemuja Setan Merah ― tolong jangan anggap saya kafir ― fakta dari pertandingan dua hari yang lalu itu adalah: Tim favorit saya united bermain gemilang dengan 10 orang sejak menit ke 56 melawan tim yang berasal dari galaksi lain (baca: Los Galacticos), meski pada akhirnya kalah, iya kalah. Taktik Sir Alex Ferguson dianggap berhasil meredam determinasi madrid selama 56 menit, dengan tidak menyertakan key player united tahun lalu, Rooney kedalam starting line-up dan menggantinya dengan Wellback, terbukti ampuh mengganggu awal serangan tim lawan melalui deep lying plamaker-nya Xabi Alonso. Jangan lupakan pula pemain terbaik di paruh pertama pertandingan itu, legenda hidup Manutd, Ryan Joseph Giggs yang sukses memutus aliran bola menuju runner-up ballon d’or 3 tahun berturut-turut, Cristiano Ronaldo ― serta ikut membantu “mengusir” Angel di Maria keluar pertandingan karena cedera sesaat sebelum jeda.

Jika serangan Madrid melalui sisi kiri (Contrao-Ronaldo) berhasir di redam olah kombinasi Giggs-Rafael, serangan Madrid dari sisi kanan oleh kombinasi Di Maria – Mesut Ozil (Ozil sedikit ke tengah, tapi kemudian ditutup oleh Carrick) juga berhasil dikendalikan oleh Cleverley dan Evra. Nani bertugas memutus aliran dari Arbeloa ke keduanya sekaligus tumpuan serangan balik united. Mau tak mau serangan Madrid sebelum menit ke 56 dimulai dari Sami Kediera yang tak diredam secara khusus oleh sir Alex Ferguson.

Kemudian angka 56 pun seakan menjadi headline diberbagai media. Angka yang menunjukan menit kejadian sebenarnya debateble (bagi saya fans united), yaitu kala Nani mendapat kartu merah langsung dari wasit asal Turki yang selalu mengingatkan saya pada Cangkir, setelah mengangkat kaki terlalu tinggi dan mengenai dada Arbeloa. Semua orang pun sibuk mengomentari insiden yang menjadi titik balik kekalahan United itu dari berbagai disiplin ilmu masing-masing.

Did Nani see Arbeloa coming?” Anda bisa melihat sendiri bagaimana posisi Nani. Ia sedang berusaha mengontrol bola yang berada di mid-air, terang saja ia mengangkat tinggi kakinya. Tapi Nani tidak berusaha menyakiti siapa pun. Posisinya bahkan membelakangi Arbeloa. Nani tidak tahu bahwa Arbeloa berlari ke arahnya (Pangeran Siahaan).

Namun menurut Roy Keane ― yang sebenarnya legenda hidup United ― jurtru berujar sebaliknya, Nani pantas dihukum kartu merah, tak peduli alasannya, di rule of the game FIFA jelas mengatakan mengangkat kaki terlalu tinggi itu membahayakan pemain lain, dan harus diberi peringatan. Memang benar yang dikatakan Roy Keane, sama seperti statement “Mencuri itu dosa, sedangkan bersedekah itu mendapat pahala, jangan tanyakan Netto-nya” keduanya adalah hal yang terpisah meskipun ada orang mencuri tetapi digunakan untuk bersedekah.

Terlepas dari perdebadan benar atau salah kartu merah Nani, menurut saya kekalahan United bukan dikarenakan faktor 10 versus 11 pemain namun lebih dikarenakan mental yang telah jatuh ketika sedari awal persepsi para pemain United mengenai wasit “Cangkir” itu yang hobby mengeluarkan kartu (Kuning dan Merah) terlebih kepada pemain asal Inggris. Sebelum Nani tercatat ada nama Gary Cahill, Steven Gerrard, John Terry, dan Mario Balotelli yang menjadi korban “Cangkir”. Fakta itulah yang mendasari kejatuhan mental para pemain United sesaat setelah Nani di kartu merah, dalam benak mereka MUncul persepsi kalo kartu merah ini telah direncanakan sebelumnya. Namun kejatuhan mental itu ― entah untung atau rugi ­― tidak berlangsung lama, setelah skor berhasil dibalikan oleh Madrid, United lekas mengurung tim asal ibukota Spanyol itu, dan menciptakan banyak peluang berbahaya. Berarti bukan karena 10 orang pemain kan? 10 orang itu hanya alasan kami saja.

Pada akhirnya jika diawal saya membuka dengan perception tak akan ada jika tidak ada Sensation, diakhir tulisan ini saya justru akan mengutip pendapat yang sebaliknya, dari Filsuf Prancis, Henri Bergson, yang dikutip balik oleh Pangeran Siahaan “The eye only sees what the mind is prepared to comprehend”. Mata hanya melihat apa yang siap dicerna oleh pikiran. Sama seperti kehidupan, orang lain melihat kita seperti apa yang ingin (ada dipikiran) mereka lihat mengenai kita.

Hala Madrid!

Sudah habis.

Oh iya, sepertinya ini tulisan panjang saya pertama setelah, Januari tahun lalu. Sudah sangat lama ternyata, para pecinta tulisan saya (kalau ada) pasti sudah lama menantikan tulisan ini. Seperti para pembenci United yang menantikan kekalahan dua hari lalu ― United tercatat kali terakhir kalah dipertandingan kompetitif adalah bulan November tahun lalu, versus Norwich ― mereka ingin berargumen, mencela, tapi sayangnya Kami tak terbiasa kalah. J