ENERGY ECONOMICS

"Dan mengenai minyak ini, terserah pada diri kita sendiri apakah mau barter, mau refining sendiri atau mau dijual sendiri. Atau kita minta tolong kepada patner untuk menjualkanya, unuk kita" - Ibnu Sutowo, Mantan Dirut Pertamina

PHOTOGRAPHY

"There is only you and your camera. The limitations in your photography are in yourself, for what we see is what we are" - Ernst Haas

TRAVELLING

"Most days of the year are unremarkable. They begin, and they end, with no lasting memories made in between. Most days have no impact on the course of a life " - 500 days of summer

FOOTBALL

"The game of life is a lot like football. You have to tackle your problems, block your fears, and score your points when you get the opportunity" - Lewis Grizzard

ECONOMICS

"Banyak intelektual menganggap bahwa merupakan suatu kejahatan tingkat tinggi, apabila seorang ilmuan menulis terlalu indah bagaikan seniman" - Paul Samuelson

07 July 2013

Soekarno Le Grand Séducteur (Part 1)


“Aku memuji Tuhan karena telah menciptakan mahluk-mahluk yang cantik seperti perempuan ini. Bukanlah suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi seseorang perempuan yang cantik, dan aku tidak malu berbuat begitu karena dengan melakukan hal itu pada hakekatnya aku memuji tuhan dan memuji aoa yang telah diciptakan-Nya. Aku hanya seorang pecinta keindahan” ― Presiden Soekarno.

Sudah lama sekali saya ingin menulis mengenai seorang pria yang diagung-agungkan lebih dari 200 juta orang karena kharisma, wibawa dan jiwa kepemimpinan yang besarnya yang dianggap telah mampu merubah nasib bangsa ini. Namanya Soekarno, founding fathers negara ini danggap salah satu pemimpin besar dunia yang pernah dilahirkan. Namun kali ini saya tak akan membahas mengenai kepemimpinan beliau  ― karena anda dapat dengan mudah mencarinya di mesin pencari atau perpustakaan terdekat, saya akan membahas sisi yang lebih manusia dari beliau yaitu seseorang pengagum wanita sekaligus dikagumi wanita.

Sekitar satu setengah tahun yang lalu saya pernah diberi tugas oleh dosen saya untuk mempresentasikan mengenai Ekonomi Pancasila namun dengan menitik beratkan pada kehidupan pribadi Soekarno. Sejak saat itu saya mulai mengagumi Soekarno sebagai sosok hebat dalam dunia percintaan ― meski saya tidak sepenuhnya sepakat dengan jalan cinta beliau. Sebagai orang dewasa yang tumbuh besar di negeri ini, sudah seharusnya kita tau sama tau bahwasanya presiden pertama kita itu punya banyak istri, namun saya pikir tidak semua dari kita tau dari sekian banyak perempuan yang pernah disampingnya siapa yang paling beliau agungkan? Siapa istri beliau yang paling beruntung? Siapa wanita yang paling tulus mencintai dia? Dan masih banyak pertanyaan kisah percintaan beliau yang tak semua dari kita tahu keberadaanya.

Terkadang kita hanya mengandalkan mesin pencari untuk kisah yang ada di permukaan, lalu menemukan nama-nama seperti Oetari, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Ratna Sari Dewi, Haryanti, Kartini Menoppo, Yurike Sanger, dan Heldy Djafar pernah menjalin kisah asmara dengan presiden pertama republik ini. Namun, sesungguhnya jika kita mau membaca tulisan-tulisan karya Cindy Adams, Rosihan Anwar, Benrhard Dahm, atau tulisan Wijanarko Aditjondro yang mempunyai judul hampir sama dengan judul blog ini Bung Karno: The Untold Stories, kita tak hanya mendapati sembilan nama istri presiden pertama kita tersebut, kita bisa menemukan nama Rika Meelhuysen, seorang Noni Belanda yang pertama kali di cium oleh Bung Karno pada saat berumur 14 tahun. Sayangnya saya juga tak begitu banyak membaca tulisan-tulisan sejarah diatas, sama seperti anda.

Maaf, saya memutuskan mengahiri tulisan dibagian ini saja. Karena menulis mengenai kisah asmara seharusnya dengan perasaan yang berbinar, sedangkan perasaan saya malam ini tidak dalam kondisi terbaik yang ditandai fokus yang amat mudah berganti.

Biarlah tulisan ini menjadi intro dari tulisan-tulisan sesudahnya ― dimana saya akan menulis mengenai detai kisah cinta tokoh pujaan baru saya ini, dan biarkan pula judul tulisan ini pun terpaksa saya tambah (part 1) sembari saya mencari foto Soekarno dengan sembilan istrinya dalam satu frame foto.
.

06 July 2013

Terjebak Nostalgia: Bukan Judul Lagu

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja...

Judul tulisan ini memang sengaja dibuat berbeda dengan lirik lagu dibawahnya. Bukan karena saya yang masih terpesona dengan suara seseorang wanita yang mengunggah lagu yang dipopulerkan oleh Raisa tersebut ke situs Cloud Coumputing berbasis suara. Namun jika saya boleh ber-alasan, hal ini hanya untuk kepentingan me-match-kan dengan postingan sebelum ini saja.

Sekitar dua tahun yang lalu, saya selalu sedih tiap kali memutuskan untuk kembali ke Jogjakarta dari kota kelahiran saya Pekalongan. Hati saya selalu tak tega melihat ibu saya yang harus pura-pura kuat melepas saya kembali menuntut ilmu di kota pelajar ini. Sangat tergambar jelas raut muka ibu saya yang melambaikan tangan di depan pintu rumah, kemudian berjalan sampai pagar hanya untuk melihat saya sampai menghilang di perempatan. Saya malah terkadang sering menitikkan air mata dalam perjalanan menuju Jogja ketika membayangkan kesepian dan kehampaan ibu saya menghabiskan waktu sendirian sepanjang hari dirumah tua kami. Sesampainya di Jogja pun saya pasti lekas menyibukkan diri sebagai ritual untuk melupakan apa yang dirasakan ibu saya, kesibukan yang membungkus perasaan rasa bersalah terhadap orang tua.

Namun yang terjadi dua hari yang lalu sedikit berbeda. Kali itu saya berjalan mondar-mandir di dalam rumah tua saya, dengan fokus yang berganti-ganti seperti bergantinya pandangan mata saya menyapu beberapa sudut ruangan di rumah saya. Malam itu saya sedang menunggu teman saya yang meminta saya untuk menjadi tour guide dalam lawatanya ke kota Jogja. Rupanya aktivitas mondar-mandir dan mudahnya berganti fokus kala itu adalah manifestasi perasan saya antara perasaan yang saya alami sekitar dua tahun lalu itu dengan perasaan antusias saya kembali ke kota pelajar setelah 5 hari saya berada dirumah. Sebenarnya 5 hari bukanlah waktu yang lama, perasaan rindu yang membuatnya terasa lama.

Malam ini pun seakan menjadi puncak dari cerita panjang ini, katika saya memilih mengabadikan perasan saya ini secepatnya, ketimbang untuk berbaring dan menyimpan tenaga karena besok musti harus kembali ke kota kelahiran saya, Pekalongan lagi. Meski saya belum akan meninggalkan kota ini (menyelesaikan pendidikan sarjana saya dan berpindah ke kota lain) dalam waktu singkat ― saya bahkan belum tau kapan, tapi nampaknya saya membenarkan kata-kata dosen pembimbing skripsi saya saat memberikan wejangan kepada mahasiswanya “Manfaatkan waktu sebaik mungkin saat kalian jadi mahasiswa, kelak ketika kelulusan sudah didepan mata, kalian akan merasakan kegalauan yang amat sangat, karena semuanya akan berubah seketika


Orang-orang yang saya temui dua hari ini pun mendadak menjadi seperti malaikat yang meperlihatkan raut wajah seraya mengingatkanku atas pencapaian selama ini. Bagaimana orang-orang di pelayanan kuliah menggoda saya dengan gurauan-gurauan yang sebenarnya biasa saja tapi entah kenapa terasa begitu akrab.  Para penjual Burjo langganan saya yang tersenyum penuh makna beberapa jam yang lalu, seperti mengingatkanku pada berapa puluh Nasi Ayam, Nasi Telor dan Gorengan yang saya pesan selama kurang lebih  empat tahun ini. Bahkan Masjid Kampus saya berdiri diap tanpa raut ekspresi ataupun berusaha menguraui saya pun jum’at lalu mengingatkan saya pada moment 6 tahun yang lalu ketika saya berdoa agar bisa diberi kesempatan kembali beribadah di masjid ini lagi, yang pada akhirnya saya akan mengenang doa itu sebagai alasan kenapa saya berada di masjid itu.

Ah, semoga saja ini semua hanya karena tanda tangan saya yang menyerupai tiga huruf awal nama saya. Padahal kata seorang ahli pembaca tulisan tangan, tanda tangan yang diawali dengan huruf awal dari nama adalah tanda bahwa orang tersebut selalu meletakkan aktivitas nostalgia di tempat yang tinggi ―sedangkan tanda tangan saya tak hanya menyerupai satu huruf awal nama saya, tetapi tiga huruf awal sekaligus. Mungkin bisa dibayangkan hidup saya yang selalu melompat-lompat dari nostalgia yang satu ke nostalgia yang lain, seakan hidup adalah rangkaian mengoreskan hidup baru dan mengenangnya, begitu seterusnya, berulang-ulang. Saya harus mengganti tanda tangan saya.

Pada akhirnya, malam ini saya sangat mengerti kenapa lirik lagu Kla Project di awal tulisan ini menggunakan kata ‘pulang ke kotamu’ karena setiap orang yang datang ke jogja akan disambut layaknya seseorang yang pulang ke tanah kelahiranya, kota ini menyapa dengan tangan terbuka sembari mengingatkan darimana kita berasal, karena Jogja terbuat dari rindu, angkringan dan keramah-tamahan.


Semoga saya tak berlebihan jika saya mengucapkan: saya mencintai kota ini seperti cinta saya pada kota kelahiran saya.

30 June 2013

Hampir Empat Tahun: Ini Kenangan Saya, Mana Kenangan Kamu?



"Sejarah diawali dengan lelucon dan diakhiri dengan tragedi, atau bisa sebaliknya" ― Argo

Entah kenapa sebagian orang di dunia ini masih mendefinisikan nostalgia itu adalah urusan asmara. Dalam pemahaman dangkal saya, anda seperti menyebut ‘Coca-Cola’ jika ditanya mengenai apa yang terlintas di benak anda ketika saya menyebut minuman ringan ― padahal didunia ini banyak sekali minuman ringan yang lebih nikmat ketimbang Coca-cola. Jika anda sepakat minuman ringan didunia tak hanya Coca-cola, seharusnya anda sepakat dengan saya bahwa nostalgia itu tak hanya mengenai kisah percintaan antar anak manusia. Kalaupun ada kisah percintaan dalam tulisan ini, saya pastikan itu hanya kisah cinta saya pada kehidupan.

Siang tadi saya mencoba merapikan kamar kos saya (sejujurnya saya tak merapikannya sendiri) yang sudah tak lagi seperti kamar kos. Saya menemukan fakta bahwa penyebab penuhnya kamar kos saya dengan inferior goods adalah karena saya seorang kolektor kenangan. Jika dalam film my name is khan, Shahrukh Khan membawa papan bertuliskan “Repair Almost Anythings” mungkin jika saya yang memerankan peran itu saya akan menggantinya dengan tulisan “Collect Almost Anythings”.

Saya cukup kaget mendapati beberapa temuan saya dalam prosesi bersih-bersih tadi: semua kartu ujian kuliah saya selama 8 semester ini lengkap tak ada yang raib satupun, hampir semua id card yang pernah saya dapatkan pun masih lengkap dengan tali nya, transkrip nilai dari tiap semester ― namun sengaja tidak ditampilkan di foto karena masalah etika saja, bagi saya transkrip itu ibarat slip gaji, dan masih banyak temuan akademik lain seperti: Tiket nonton XXI selama 4 tahun ini yang cukup panjang jika di letakan memanjang, tumpukan (sampah) selebaran dari pameran komputer, dan price tag dari jersey-jersey non ori koleksi saya yang sebenarnya tak seberapa banyak.

Tak terasa sudah hampir 4 tahun saya menjalani salah satu impian saya. Bukan waktu yang singkat, bukan waktu yang lama juga untuk dilalui. Banyak pelajaran yang telah saya dapatkan, namun banyak pula yang saya lewatkan. Jika dulu saya memulainya dengan sebuah keajaiban, entah saya akan mengakhiri perjalanan saya disini seperti apa, saya belum tau akhir dari sejarah ini.

Bagi saya moment 'bersih-bersih', apapun bentuknya itu, adalah momen yang tepat untuk mengingat seberapa jauh kita melangkah sejauh ini. Membuangnya atau menyimpanya adalah pilihan bagi setiap orang. Membuangnya berarti anda siap untuk mendapatkan space kosong untuk menyimpan banyak hal baru, sedang menyimpannya berarti anda sangat ingin belajar dari apa yang telah anda dapatkan selama ini atau dengan menyimpanya minimal anda telah menghargainya apa yang telah anda lakukan.

Tulisan pendek ini sebenarnya hanya ingin menjelaskan foto yang ada di atas tulisan ini. Mengenang apa yang akan menjadi nostalgia saya dimasa depan.

Selesai.

23 June 2013

Overview Dua Forum Penyesuaian Harga BBM: Formalitas Vs Prestisius


Satu bisul telah pecah tadi malam, oleh karena itu pada hari ini kita tidak akan membahas kapan pecahnya tapi bagaimana keadaan setelah bisul itu pecah” – Dr. Elan Satriawan, Moderator Forum Diskusi Kebijakan Energi.

Dalam tiga hari terakhir ini saya sengaja menyempatkan untuk menimba ilmu mengenai prosesi kenaikan harga BBM ― sebagian yang lain menyebutnya penyesuaian harga BBM. Bentuk dari usaha saya adalah menghadiri 2 forum diskusi mengenai topik ini dan semoga tulisan ini sebagai laporan informal saya. Yang menarik, forum pertama diadakan pada hari Jum’at (21 Juni 2013) atau sehari sebelum kenaikan harga BBM resmi diumumkan oleh pemerintah, sedangkan forum kedua pada hari berikutnya, setelah harga baru benar-benar ditetapkan. Bagi saya ini semacam analisis pertandingan sepakbola namun yang pertama dilakukan sehari sebelum matchday, dan yang kedua analisis setelah mengetahui hasil pertandingan. Seharusnya analisis yang pertama lebih menarik.

Spesifikasi forum pertama: Berlabel sosialisasi, diadakan oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) bekerjasama dengan Direktorat Kemahasiswaan dan Pertamina regional Jogja. Bisa ditebak acara yang diadakan oleh sebuah lembaga pemerintah (BPH Migas) dengan lembaga pemerintah lainnya (Dirmawa UGM) terlebih dilaksanakan satu hari jelang kenaikan harga BBM, pasti acara yang diadakan se-kena-nya saja, tak lebih dari formalitas, dan biasanya bertujuan untuk sekedar penyerapan anggaran. Dugaan saya pun tak meleset.

Spesifikasi forum kedua: Berlabel diskusi, diadakan oleh kerjasama antara GIZ (sebut saja lembaga internasional asal Jerman, karena namanya terlalu panjang untuk dihafal) dengan P2EB (Lembaga Penelitian dan Pelatihan FEB UGM) dan Kementrian Keuangan. Menghadirkan 6 pembicara dengan latar belakang dan keilmuann yang berbeda-beda. Dengan komposisi audience perpaduan antara mahasiswa, dosen, dan beberapa bule ― saya sebut demikian karena saya tak sempat bertanya kenapa mereka mendatangi forum tersebut. Dengan alasan forum yang kedua lebih prestisius, maka yang akan saya ulas di tulisan ini adalah forum yang kedua. Untuk menyingkat saya share per pembicara, jadi minimal ada 6 paragraf (6 pembicara) dibawah kalimat yang sedang anda baca ini.

Pembicara pertama adalah Dr. Arif Budimanta seorang anggota DPR RI dari Fraksi PDI perjuangan. Dalam benak saya, ketika pertamakali mendengar anggota DPR pasti yang terlintas adalah: Seorang yang pandai ber-retorika, jago bersilat lidah, dan memiliki kedalaman yang kurang. Namun kali ini saya kurang tepat, meski judul presentasi beliau “Subsidi BBM dalam Kehidupan Nasional” agak berbau retoris, dalam penyampaian-nya beliau terlihat sangat flesksibel dan lugas. Sebagai partai oposisi sikap belia dalam kasus ini sangat bisa ditebak, namun satu hal yang saya kagumi dari politisi PDI Perjuangan yaitu landasan filosofis-nasionalis begitu kentara  pada setiap argumenya. Tak peduli untuk kasus apa dan siapa yang berbicara, konsistensi partai ini patut untuk menuai pujian ― terlepas benar atau salah sikap tersebut.

Pembicara kedua adalah Dr. Irfa Ampri, Kepala Pusat Kebijakan Pembiayaan Perubahan Iklim dan Multilateral, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) ― nama jabatan yang cukup panjang. Beliau membawakan presentasi berjudul “Ekonomi Hijau dan Postur APBN”. Meski matri yang ada dalam handout cukup lengkap dan informatif, namun karena penyampaian beliau terlampau kalem, maka saya urung menangkap garis merah yang ingin disampaikan, dan saya pun seakan terbuai oleh sejuknya ruangan auditorium tersebut sampai saya kembali tersadar pada bagian kesimpulan, beliau berujar: Solusi penyesuaian subsidi harga BBM digunakan untuk mendorong daya saing energi terbarukan dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi serta menekan tingkat emisi.

Pembicara ketiga adalah Bapak Sayono Hadiwijoyo, komite BPH Migas. Secara sekilas, ibarat pemain sepak bola beliau seperti gelandang semenjana yang keberadaanya nyaris tak diperhitungkan pada forum ini, namun ternyata saya dugaan kembali salah. Beliau membuka presentasinya dengan kalimat sarkasme yang menggelitik: “Saya senang sekali hari ini, biasanya ketika saya berdiskusi dengan para mahasiswa pasti serunya dapet, tapi solusinya tidak”. Meski dalam handout beliau terdapat 57 slide yang berisi data dan sekema industri hilir migas dan road map bauran energi, beliau tidak membahas semuanya, sepertinya beliau hanya ingin menunjukan kompleksitas sektor hilir migas sesuai judul presentasi beliau: Kompleksitas sektor hilir migas. Yang menarik bagi saya, adalah ketika beliau membahas mengenai stockpiling in japan, tidak seperti pejabat pemerintah yang lain yang menahan diri untuk tidak mengkritik pihaknya yang lain, beliau secara tersirat mencibir kebijakan cadangan migas dalam negeri (yang hanya bisa bertahan dalam 21 hari) dengan membandingkanya dengan cadangan minyak Jepang yang bisa bertahan 203 hari. Pertanyaan sindiran yang saya ingat: Apa yang terjadi di Indonesia jika 10 gunung berapi (saja) meletus secara bersamaan? Berapa lama kita bisa bertahan?

Pembicara empat adalah perwakilan dari mahasiswa, Didit Putra Kusuma, mantan ketua komite kedaulatan energi. Bukan nama yang asing bagi saya, saya sudah pernah mendengar namanya dari beberapa teman, mungkin karena ada ungkapan sesama nelayan selalu saling melihat dari kejauhan. Pembawaannya yang lebih mirip seperti comic (stand-up komedian) langsung membawa keceriaan di segenap penjuuru ruangan, sesekali saya pun ikut terbawa. Terlepas dari slide yang bertumpuk-tumpuk dan judul presentasi yang begitu tremendous: Subsidi BBM dari perspektif Science, Teknis, Sosial dan Ekonomi, saya memberikan pujian yang tinggi kepada beliau. Pertama, karena beliau sama sekali tidak merasa inferior di forum bergengsi tersebut. Kedua, pemaparan yang penuh semangat a.k.a. khas mahasiswa banget. Ketiga, karena beliau menggunakan logo KKE yang saya desain di setiap slide-nya.

Pembicara kelima, Prof. Danang Parikesit seorang Guru besar Transportasi UGM dan juga ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Pembicara yang satu ini nampaknya memenangkan hati saya, bahkan sebelum beliau menyampaikan presentasinya. Cara beliau duduk pun bagi saya telah memancarkan kharisma dan kepercayaan diri yang tinggi, namun sama sekali tak terlihat raut kesombongan. Beliau menyampaikan presentasi yang berjudul: “Missing Link” Pengurangan Subsidi BBM, namun dalam pemaparanya beliau lebih menitikberatkan dampak kenaikan harga BBM terhadap sektor transportasi: “Kebijakan pengurangan subsidi saat ini lebih fokus pada kebijakan fiskal namun tidak diikuti kebijakan progresif investasi dan insentif untuk mendorong moda pemakain transportasi angkutan umum termasuk bis listrik dan elektrifikasi kereta api”. Setidaknya ada tiga poin penting yang saya petik dari beliau. Pertama, ketiadaan pilihan membuat masyarakat tetap bernafsu nembeli BBM, akan lebih elegan jika pemerintah memberikan pilihan dahulu baru menaikan harga. Kedua, kebijakan energi, transportasi, industri otomotif dan fiskal haruslah merupakan paket kebijakan yang konvergen. Ketiga, yang terpenting bukan seberapa tinggi dampak kenaikan harga BBM, namun pemerintah harus meningkatkan pula daya beli masyarakat agar bisa membeli BBM pada harga berapapun. “Yang dilakukan pemerintah bukanlah yang dijanjikan pemerintah, namun apa yang terjadi setelah kenaikan ini”

Pembicara terakhir adalah Dr. Rimawan Pradiptyo, deputi penelitian dan basis data P2EB FEB UGM. Meskipun materi yang disampaikanya sangat menarik, namun bagi saya yang telah mengambil kelas beliau tiga kali dalam 4 tahun ini, semacam ada de javu ketika beliau menyampaikan materi yang berjudul: kompleksitas rumah tangga menghadapi penurunan subsidi BBM. Dalam lembaran highlight saya ada beberapa catatan diantaranya. Pertama, diperlukanya kebijakan yang parsial seperti yang telah diungkapkan oleh Prof Danang, meskipun orang Indonesia pada dasarnya tidak mau bekerjasama. Kedua, diperlukan analisis berbasis bukti (evidance-based policy) dalam membuat kebijakan bukan anecdotal evidence (mitos). Ketiga, Menunda bukanlah kebijakan yang baik. Diluar tiga hal diatas, sebenernya saya menantikan kisah pasukan super jerman yang menyerang rusia namun kalah hanya karena kehabisan bahan bakar, sebuah cerita yang diceritakan dengan detail di tiap kelas beliau.

Pada akhirnya, seperti yang ditutup oleh moderator forum, saya tak akan menyimpulkan banyak dari keenam pembicara yang menggunakan sudut pandangnya masing-masing, meski pada benang merah diperlukan kebijakan yang konvergen, dari berbagai sudut pandang keilmuan. Meminjam penutup dari Didit Putra Kusuma: “Last Warning untuk pemerintah: Yang sekarang mendukung, bukan tidak mungkin berikutnya akan menentang, bahkan lebih keras!


Saya juga penasaran apa yang akan dilakukan pemerintah setelah ini. Terima kasih para panitia diskusi. Danke!

video streaming Forum Diskusi Kebijakan Ekonomi (FDKE) FEB UGM: