27 December 2014
Stand By Me
9:47 AM
2 comments
“Adalah cinta yang mengubah jalanya waktu, karena cinta waktu terbagi
dua, denganmu dan rindu kembali ke masa itu” – Rangga, Ada Apa Dengan
Cinta, 2014
Malam ini saya ditinggal dua
teman kos saya yang pulang lebih awal karena libur natal. Entah kenapa malam
ini terjadi kegamangan yang amat sangat dalam diri saya. Bukan karena
kesendirian saya malam ini, tetapi lebih karena saya tidak pernah ditinggalkan
mereka berdua sebelumnya, biasanya saya yang lebih dahulu meninggalkan mereka. Ternyata
ditinggal dan meninggal itu punya efek psikologis yang berbeda. Meskipun sekiranya
sama-sama sendiri, efek ditinggalkan ternyata jauh lebih dalam ketimbang
meninggalkan.
“Hukum Newton 3: Syarat untuk mencapai sesuatu adalah meninggalkan
sesuatu” – Interstellar.
Beberapa hari yang lalu, ketika saya
baru saja pulang dari kampung halaman, saat itu menunjukan pukul sepuluh malam
(mungkin lebih), saya hendak keluar membeli makan malam, namun uang di saku
saya ternyata tak sampai sepuluh ribu, kebetulan saat itu berjarak 3-4 hari
jelang gajian. Seketika saya mencari dompet untuk mengambil kartu ATM saya,
saat itu saya cukup terkejut mendapati ada uang lebih dari dua ratus ribu dalam
dompet saya. Sayapun langsung ingat ibu saya yang sedari sebelum berangkat
memegang uang itu, namun karena saya selalu menolak ketika dikasih uang oleh
ibu – lebih karena malu sudah bekerja namun dikasih uang dari seseorang yang tak
lagi bekerja.
Ternyata usut punya usut, uang
itu merupakan hasil penjualan mangga depan rumah saya, saya ingat sekali ibu
saya bercerita dengan bahagianya menjual 4 pohon mangga dengan total 600 ribu rupiah. Bagi sebagian orang mungkin itu hal yang
biasa. Namun bagi saya – terlepas ibu atau bukan yang memberi uang tersebut – memberikan
hampir separuh hasil bumi yang hanya satu
tahun sekali panen kepada orang yang tak pernah meminta bagian itu luar biasa. Pesan
singkat yang menambah haru malam itu dari ibu adalah: Lik, ibu naruh uang di dompet kamu, sekiranya tak usah ke ATM sampai
hari gajian nanti, ibu cuma ingin berbagi bahagia ibu ketika dapet rezeki.
“Parent are the future ‘ghost’ of their children” – Cooper, Interstellar.
Beberapa minggu yang lalu saya
mendapat wejangan yang amat sentimentil dari area manager saya mengenai waktu
dan relativitas. Beliau bercerita hal yang paling berharga saat ini bisa jadi adalah
waktu. Beliau pun bercerita mengenai awal karirnya dulu beliau bekerja tidak
sekeras sekarang dan dengan gaji yang bisa jadi lebih besar jika dilihat dari term off trade nya. Sekarang kita
bekerja lebih keras, dari jam 7 pagi sampai kadang jam 7 malam bahkan lebih, namun
mendapat imbalan/gaji yang (bisa jadi) lebih sedikit. Jangan-jangan kita mengalami
penurunan kualitas hidup. Apa yang membuat kita melakukan hal seperti ini?
Pada akhirnya kita akan sadar
bahwa waktu telah begitu dahsyat merubah way
of life dan way of thinking kita.
“We’ve always defined ourselves by ability to overcome the impossible,
and we count these moments. The moments when we dare to aim higher, to break
barriers, to reach for the star, to make unknown known. We count these moments
as our proundest achievement. But we lost all that. Our perhaps we’ve just
forgotten that we are still pioneers. And we’ve barely begun. And our greatest
accomplishments cannot be behind of us, because our destiny lies above us”
– Cooper, Interstellar, 2014.
Tapi sejujurnya meski dipenuhi
kutipan film, tulisan pendek ini bukan soal film, tapi soal kehadiran orang-orang yang
terdekat dan waktu yang akan merubahnya.
Time can be extended and flexes, but obviosly it can’t go back
Selesai.
17 November 2014
Satu Hal yang Masih Mengganjal pada Kenaikan Harga BBM Bersubsidi.
8:31 AM
0 comments
"Syarat mutlak sebuah benda mencapai tujuan/tempat tertentu adalah meninggalkan sesuatu (Hukum Newton) - Interstellar
Sejak saya masuk industri perbankan tepat satu tahun yang lalu, saya ingat pesan dari Paman saya yang sudah saya anggap sebagai Ayah saya sendiri, beliau berpesan: “Ketika kamu sudah masuk dunia tertentu (industri perbankan), tinggalkanlah bacaan-bacaan kamu yang lain, mulailah mengalihkan fokus kamu ke dunia barumu, agar kamu merasa benar-benar ada didalamnya” Saat itu Paman saya tahu betul saya sangat menggilai industri energi, terutama oil and gas. Beliau melarang saya untuk kembali membuka bacaan migas saya. Tapi kali ini saya ingin melanggarnya.
Sejak saya masuk industri perbankan tepat satu tahun yang lalu, saya ingat pesan dari Paman saya yang sudah saya anggap sebagai Ayah saya sendiri, beliau berpesan: “Ketika kamu sudah masuk dunia tertentu (industri perbankan), tinggalkanlah bacaan-bacaan kamu yang lain, mulailah mengalihkan fokus kamu ke dunia barumu, agar kamu merasa benar-benar ada didalamnya” Saat itu Paman saya tahu betul saya sangat menggilai industri energi, terutama oil and gas. Beliau melarang saya untuk kembali membuka bacaan migas saya. Tapi kali ini saya ingin melanggarnya.
Kali ini saya
ingin bernostalgia, kembali ke masa dimana saya bebas menikmati menulis dan
berdiskusi mengenai industri energi nasional. Sekarang saya sudah tak lagi
punya banyak waktu untuk memikirkan banyak hal diluar pekerjaan saya. Karena mau
tak mau, pekerjaan membuat pandangan saya dan banyak pekerja lainnya laksana
memakai kaca mata kuda, kita dipaksa hanya bisa melihat kedepan (itupun kalau
bisa) dan tidak diperbolehkan menengok ke kiri-kanan – selama belum ditemukan
kaca mata kuda transparan.
Sabtu kemarin
saya pulang menggunakan kereta menuju kampung halaman. Saat melewati sebuah stasiun,
saya melihat kereta pengangkut bahan bakar minyak yang sangat panjang, saya
sesaat terpaku melihat rangkaian kereta itu. Ada lebih dari 15 gerbong tanki minyak
bertuliskan Pertamina, dalam benak saya saat itu adalah: kelak ketika harga BBM
Bersubsidi naik dan mendekati harga keekonomianya (istilah populer yang
sebenarnya dipaksakan), apakah Pertamina masih akan “besar” seperti ini?
Tulisan pendek
ini, sebenarnya soal ke gusaran saya mengenai industri migas tanah air. Saya tak akan membahas mengenai 300
Triliun rupiah yang negara habiskan untuk subsidi energi (BBM dan Listrik) dalam satu tahun. Atau membahas kenapa
Presiden justru menaikan harga BBM justru saat harga minyak dunia turun ke
level 80 dollar perbarrel. Atau bahkan bahasan sepele soal pemerintah tak bisa
lagi menggunakan bahasa “Penyesuaian Harga BBM Bersubsidi” karena kata “penyesuaian”
itu lebih tepat jika harga minyak dunia tinggi sedangkan harga BBM kita rendah, yang akan saya bahas adalah soal
monopoli alamiah Pertamina.
Sebenernya cukup
terusik dengan hal sepele, jika nanti harga BBM Bersubsidi naik, lalu yang
terjadi kemudian adalah spread
(perbedaan/selisih) yang tak terlalu lebar antara harga BBM dari SPBU Lokal
(Pertamina) dengan SPBU Asing yang ada di Indonesia (Shell, Petronas, Total). Bisa
ditebak akhir dari cerita ini adalah runtuhnya monopoli alamiah oleh Pertamina
atas Bahan Bakar Minyak.
Memang benar
Pertamina tak dapat untung melimpah atas jualan premiumnya, namun patut di
ingat Pertamina besar karena jualan premium-nya. Jika kini Pertamina sudah
kalah telak di pertarungan industri hulu minyak, dimana hasil lifting minyak
harian pertamina (23 persen produksi minyak nasional) kalah dengan Chevron (42
persen) dan Conoco Philips (25 persen). Akankah beberapa tahun kemudian
perusahaan ini juga harus kalah di pertarungan industri hilir minyak?
Setidaknya ada 2
industri yang masih belum bisa banyak di-explore oleh investor asing di negeri ini. Keduanya
kebetulan adalah sama-sama bidang energi. Industri pertama adalah minyak dan
gas, sedangkan industri kedua adalah listrik. Kedua industri tersebut kurang
menarik bagi investor asing karena ada perbedaan harga yang ditentukan oleh pemerintah
– untuk industri kelistrikan lebih tertutup lagi, karena investasi untuk instalasi
listrik bukan perkara yang mudah. Namun,
kini satu barrier to entry industri minyak di negeri ini sudah dipastikan
terbuka besok pagi, bukan tidak mungkin industri kelistrikan juga akan menyusul
kemudian. Pada akhirnya industri energi tanah air cepat atau lambat akan
seperti industri perbankan saat ini, yang liberalisasinya sudah ada jauh
sebelum didengung-dengungkanya liberalisasi ekonomi.
Saya tidak kecewa atau khawatir harga BBM bersubsidi dinaikkan, karena dana 300 Triliun untuk pos subsidi sangat luar biasa besar, bisa untuk membangun 30 stadion sepakbola termahal di dunia seperti Wembley. Saya hanya khawatir
suatu saat nanti tak ada yang benar-benar bisa dikuasai oleh negeri ini. Tebakan saya ini akan terjadi jika setelah ini pemerintah juga akan menaikan Tarif Dasar Listrik (TDK).
Atau jangan-jangan kenaikan harga BBM ini hasil jualan presiden baru kita di 3 forum internasional minggu lalu: KTT APEC, ASEAN Summit, dan G-20. Saat itu presiden kita berulang kali menyebut: it's your opportunity? - undangan tersirat untuk masuk ke Indonesia.
Pada akhirnya anda
tak harus sepakat atau percaya pada tulisan mengenai industri energi yang
ditulis oleh seorang bankir, terlebih jika tulisan ini hanyalah sebuah
nostalgia belaka.
It's your opportunity, but our warning, right?
It's your opportunity, but our warning, right?
15 November 2014
Balada Tukang Tagih (Part 1)
9:48 PM
1 comment
Setidaknya ada dua hal yang
membuat saya tergerak untuk menuliskan ini. Hal yang pertama adalah
gambar di jejaring sosial mengenai dua ekor kelinci dimana salah satu kelinci
mencibir kelinci yang lain karena dianggap tak seberuntung dirinya yang memperoleh
daun wortel yang ditanamnya lebih besar.
Padahal buah wortel yang ada didalam tanah berbanding terbalik dengan daun
diatasnya. Success is not always what you
see. Hal kedua adalah karena saya dianggap tak mensyukuri pekerjaan saya
sekarang.
Bagi para perintis karir baru,
membandingkan antar pekerjaan adalah sudah bukan hal yang asing. Mungkin sudah
menjadi hal yang lumrah, terutama bagi sesama pekerja baru saling menanyakan
pekerjaan dan job desk, bahkan lebih ekstrim lagi menanyakan perihal insentif
atau gaji. Ada yang sangat percaya diri menjelaskan job desk atau bahkan gaji,
namu tak sedikit pula yang memendam kekecewaan, atau memendam rasa: kenapa saya tak seperti dia?
Mungkin anda pernah mengalami apa
yang saya alami. Entah karena kerendahan hati, tingkat kejujuran yang cukup
tinggi, saya jarang mendengar orang yang mencetuskan kalimat: I Love My Job!
Ketika ditanya mengenai pekerjaan pertama mereka. Jawaban yang lebih sering
saya dengar atas kesan dari pekerjaan mereka adalah: Ya begitulah, namanya kerja mana ada yang enak. Yang penting ngga
menganggur dan gaji lumayan. Atau bagi yang pernah bekerja mereka biasanya
menjawab: Dibandingkan dengan yang
kemarin sih lebih enak yang ini. Meski diucapkan tanpa nada antusias.
“Jauh lebih mudah untuk berdecak kagum atas apa yang dimiliki orang lain, atas daerah asing yang bukan tempat tinggal kita, untuk menganggap sesuatu yang beda dan baru itu lebih bagus” – Margaretha Astaman.
Hegemoni para perintis karir baru itu pun melanda
saya.
Sekitar 6 bulan yang lalu, saya
dan teman-teman sekelas saya yang tergabung dalam Officer Development Program sebuah Bank BUMN yang terdepan, terpercaya, tumbuh bersama Anda, harus
(mau-tak-mau) memulai fase hidup baru. Moment yang paling menegangkan setelah
lulus kuliah itu bernama: Penempatan. Singkat cerita waktu itu saya harus
menerima bahwa hidup saya untuk beberapa tahun kedepan tak akan jauh-jauh dari
label: Micro Collection Unit.
Setidaknya ada 3 alasan bagi saya
untuk kaget pada awal pengumuman penempatan saya dan hari-hari awal saya
menjalani peran baru saya. Alasan pertama, saya tak pernah mendengar sekalipun
divisi/departement tersebut sebelumnya. Entah tak mendengar atau memilih untuk
tak mendengar, minimal dalam rentang waktu 4 bulan saya mempelajari dunia perbankan - konon otak manusia hanya mengingat apa yang ingin ia ingat. Oleh karena saya
tak ingin menginggat tentang divisi/unit Collection maka saya pun berkilah tak
pernah mempelajari unit tersebut sebelumnya. Jangankan tau, ingat saja tidak.
Alasan kedua, bagi seorang knowledge worker (pembahasanya ada di
2 artikel sebelum ini) saya selalu mencintai hal-hal strategis, sedangkan
Collection lebih banyak pekerjaan yang Clerical, dalam benak saya ini ngga jauh
jauh dari white-collar worker, general
office task, atau keeping record.
Tanyakan pada teman sekelas saya atau teman kampus saya dulu. Betapa saya
mencintai hal-hal yang bersifat data dan strategis. Bahkan sampai sekarang saya
masih sering kepikiran kenapa struktur organisasi perusahaan saya berubah awal tahun nanti
menjadi sedemikian rupa, padahal itu sama sekali bukan tugas saya.
Alasan yang terakhir, saya tak
menyukai mikro. Didunia ini jika mau disederhanakan hanya ada dua jenis
karakter orang, pertama yang menyukai mikro (detail, aplikatif, dan hal-hal
kecil lainya) dan yang menyukai makro (konsep besar dan general theory). Sebagai
lulusan ilmu ekonomi, karakter saya dapat dikenali dengan mudah, tengok saja
transkrip lalu bandingkan nilai matakuliah Ekonomi Makro dan Mikro saya lebih
bagus mana? Saya masih ingat nilai mikro saya tak pernah lebih tinggi dari B - (minus).
Mungkin ini pekerjaan paling
menantang bagi perintis karier baru di dunia perbankan. Tak ada tekanan yang
lebih menantang dari pekerjaan ini. Saya tak mengatakan pekerjaan lain tak
menantang, saya yakin setiap orang diberi batasan-batasan oleh Tuhan untuk
diperjuangkan bahkan dilewati. Semua punya tantanganya sendiri. Namun,
setidaknya saya merasa beruntung, diawal pekerjaan saya, saya mendapati tekanan
dari empat sisi sekaligus, saya menyebutnya tekanan dari atas, bawah, kiri, dan
kanan. Tekanan dari atas (atasan) jelas semua pekerja merasakanya. Tekanan dari
bawah, tak semua pekerja memilikinya, apalagi memiliki 12 orang bawahan
langsung di awal karier seperti saya. Dari kiri saya menyebutnya tekanan dari
rekan kerja, dalam hal ini business unit (karena saya hanyalah seorang
supporting unit). Dan tekanan terakhir
tekanan dari kanan adalah tekanan dari debitur-debitur bermasalah, karena selalu
ada masalah disetiap debitur bermasalah. Tak ada perintis karir seberuntung
saya.
Tak hanya itu. Pekerjaan saya
sekarang sangat membutuh strategi dan managing people. Sesuatu yang saya
dambakan sejak dulu. Saya menyukai hal yang berbau strategic planing, dan saya
juga menikmati managing people. Sedari awal saya masuk perusahaan ini saya
mendambakan posisi di bagian Strategic Performance and Management, namun
pekerjaan saya sekarang juga tak kalah menantangnya untuk menyusun strategi
terbaik dalam penagihan, meskipun strategi yang saya pikirkan bukan strategi
bank-wide.
Saya pun menyadari ternyata
pekerjaan ini juga sangat makro. Benar pekerjaan saya mengenai tukang tagih
mikro, namun analisis yang saya gunakan sangat makro. Karena tiap hari saya
menganalisis portofolio yang bersifat mass product, saya dapat melihat behavior
debitur dalam level makro.
Saya mulai
menikmati pekerjaan ini karena saya bisa menjadi motivator tiap harinya.
Profesi sebagai motivator belakangan menjadi tenar karena banyak orang
membutuhkan stimulus dari pihak luar (eksternal) atas permasalahan hidup yang
semakin komplek. Namun bagi seorang motivator, kita takk dituntut untuk dapat
mengatasi semua kompleksitas hidup, yang dituntut oleh motivator adalah membaca
dan menyelami kehidupan dengan baik. Kita tidak bisa melakukan semuanya dengan
benar namun setidaknya kita dapat membaca dan melihat orang lain melakukan
sesuatu dengan benar. Saya menikmati proses itu.
Pada akhirnya saya tak perlu
meminjam mata orang lain untuk melihat begitu beruntungnya kehidupan dan
pekerjaan saya sekarang.
Bisa jadi frasa: Tuhan tak selalu
memberi apa yang kita inginkan namun tuhan selalu memberi apa yang kita
butuhkan, itu memang benar adanya. Bukan sekedar pembenaran oleh seorang yang
telah putus asa.
26 September 2014
Walkout: The New Political Gimmick
11:26 AM
0 comments
“Banyak orang bisa membedakan pembimbing
dengan bimbingan, pengarah dengan arahan, tapi tak bisa membedakan Pemimpin dan
Pimpinan” – Sudjiwo Tedjo
Saya terbiasa mengawali tulisan dengan kutipan
dan alasan kenapa saya menulis sebuah tulisan. Namun kali
ini saya belum menemukan alasan yang kuat kenapa saya memaksakan untuk menulis.
Jadi saran saya baca saja sampai akhir, atau tidak membacanya sama sekali.
Berbicara mengenai politik pasti
sebagian besar masih ada yang menganggap politik itu kotor, namun tenang saja sebisa
mungkin saya berusaha ketika anda membaca tulisan ini anggota tubuh anda tidak ada
yang belepotan atau baju anda yang ternoda karena kandungan politik di tulisan
ini cukup kentara. Jika anda mengijinkan, saya hanya akan mengotori pikiran anda.
Saya memilih isu walkout karena
sedang memang populer. Sesederhana itu. Bagi saya mengangkat isu yang sedang
populer lebih mudah dalam merangkai antar ide dan gagasan daripada
mengangkat isu yang tak lagi populer. Meski sejujurnya topik populer atau tidak tak mempengaruhi jumlah pembaca blog saya. Saya bukan orang terkenal.
Oke cukup. Seharusnya anda tidak
membaca 3 paragraf diatas, karena tulisan mengenai era baru perpolitikan di
Indonesia sesungguhnya berawal dari paragraf setelah ini. Jika anda sudah
terlanjur membaca, anggap saja sebuah foreplay
yang akan mempengaruhi hasrat membaca anda sampai puncak atau tidak.
Ketika saya ditanya sejak kapan
saya menyukai dunia politik saya akan dengan cepat menjawab tahun 1999 saat sidang
istimewa MPR dengan agenda pemilihan presiden. Sama ketika
saya ditanya sejak kapan menggilai Manchester United, saya akan dengan cepat
menjawab, saat final liga Champions 1999 ketika 2 gol telat menghantarkan Setan Merah mengalahkan Bayern Munich 1-2 di
Camp Nou. Mungkin keluarga saya baru beli televisi tahun itu juga (1999).
Kembali ke topik.
Saya sangat ingat sekali manuver
politik yang dilakukan oleh Poros Tengah kala itu. Ketika sebenarnya ada 3
calon presiden saat itu Abdurahman Wahid, Megawati, dan Yusril Ihza Mahendra. Namun
di detik-detik jelang pemungutan suara, Yusril Ihza Mahendra mendadak interupsi
untuk mengundurkan diri dari calon presiden. Belakangan terkuak bahwa manuver tersebut
adalah settingan oleh Poros Tengah untuk memuluskan jalan Abdurrahman Wahid
menjadi kepala negara.
Setelah itu saya sangat tertarik
pada gimmick-gimmick politik negeri ini seperti: banyak orang yang tidak tau
saat Jusuf Kalla menjadi wakil presiden statusnya belum menjadi ketua Partai
Golkar. Ketika beliau terpilih menjadi wakil presiden tak lama setelah itu
beliau ditunjuk sebagai ketua partai Golkar. Saat itu saya menyebut manuver
Golkar tersebut dengan sebutan membeli golden ticket jadi incumbent.
Gimmick lain yang saya ingat baik
adalak ketika pemilu 2004 juga, saat itu sama seperti sekarang ada debat
capres, namun lebih ramai saat itu karena tidak dilakukan dengan peraturan
seketat sekarang. Dari serangkaian debat
capres yang selalu hadir adalah pasangan Amien Rais – Siswono dan pasangan SBY –
JK. Padahal saat itu ada 5 pasangan capres-cawapres. Yang paling sering tidak
hadir undangan debat capres adalah Megawati, seingat saya hanya sekali itupun
karena kritikan bertubi-tubi tak berani menghadiri acara debat, jadi mungkin beliau lelah.
Saya juga ingat betul prosentase suara
yang diperoleh Amien Rais – Siswono di tahun 2004, hampir sama dengan prosentase
suara yang diperoleh pasangan Jusuf kalla – Wiranto di tahun 2009, yaitu
sebesar 14 persen. Ironisnya basis pemilih dua pasang itu sama yaitu mahasiswa,
keduanya menang telak di Yogyakarta dan Depok serta daerah kampus lainnya. Sampai
akhirnya saya berhipotesis kaum intelektual yang melek politik di negeri ini
hanya 14 persen. Semoga hipotesis saya salah.
Akhirnya tiba saat gimmick politik terbaru yang lagi hangat. Aksi walkout Partai Demokrat.
Saya sengaja menulis tulisan ini
dengan tidak didahului oleh menonton televisi sejak 2 hari yang lalu. Karena pasca
pilpres kemarin menonton televisi itu merupakan sebuah ketakutan tersendiri. Ketakutan
atas independensi cara pandang dan keberpihakan argumen. Seharusnya sih saya
sadar dari dulu jika keberpihakan media itu sudah ada lewat keberpihakan
individu jurnalis dan pimpinan media. Karena manusia tak ada yang bisa
benar-benar independen.
Setidaknya ada beberapa poin
penting sorotan saya mengenai kisah walkout dan sidang paripurna MPR mengenai
penetapan UU Pilkada dimana telah dicapai kesepakatan melalui voting bahwa
Pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD.
Pertama, aksi walkout Fraksi Partai
Demokrat (FPD) dua hari yang lalu merupakan pertunjukan politik yang cantik − saya
tak pernah memuji Partai Demokrat sebelum ini. Terlepas dari benar atau salah,
sikap FPD tersebut telah memukul telak Fraksi lawan mereka selam 10 tahun ini
(FPDIP). Berulangkali FPD sebagai incumbent ‘dikadali’ oleh fraksi oposisi,
masih ingatkah pansus century atau sidang paripurna kenaikan harga BBM? Siapa dalang
penggagas keduanya kalau bukan dari oposisi. Kali ini FPD giliran memukul balik
calon incumbent. Atau mungkin sudah tradisi oposisi menggertak incumbent di
Senayan?
Kedua, terlepas dari poin
pertama, sebenarnya saat ini FPD tengah terbelah karena menjalankan perannya
sebagai partai penyelenggara pemerintahan dengan peran sebagai calon oposisi. Jadi
satu kaki mereka sudah diluar, namun satu kaki lagi masih ada didalam. Apapun yang
diambil FPD bisa menjadi bahan serangan bagi lawan politik.
Ketiga, Entah kenapa yang beredar
luas di media sosial 2 hari ini adalah keputusan ini adalah kemunduran demokrasi.
Memang, saya sebenarnya cenderung mendukung pemilihan langsung kepala daerah,
namun faktanya undang-undang kita menganut sistem demokrasi kepartaian sejak
dahulu kala. Jadi setahu saya (mohon dikoreksi jika saya salah di bagian ini,
khususnya orang hukum silahkan beri pencerahan), harusnya yang salah itu yang
mencetuskan pemilihan secara langsung karena itu sesungguhnya melanggar hakekat
sila ke-empat, yang berbunyi Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Cukup baca
kata terakhir sila ke-empat saja.
Keempat, penelitian oleh dosen
saya yang menyebutkan partai politik adalah dalang dari sebagaian besar kasus
korupsi di negeri ini itu benar adanya. Saya menyakini hal ini. Karena partai
politik adalah mesin demokrasi, layaknya mesin kebanyakan, butuh energi untuk
menjalankanya dan menghidupi anggotanya. Padahal partai politik bukanlah badan
usaha yang bebas mencari energi itu dimana saja, maka muncul lah dana-dana yang
tak seharusnya ada. Namun, ketika anda mendebat pilkada langsung atau lewat
DPRD dengan alasan ini, kita tidak sedang membicarakan jika naik bus itu tidak aman
maka kita jangan naik bus. Kepala daerah buruk bukan soal cara pemilihannya. Ada pemilihan proksi (jika dalam penelitian) yang
salah jika anda menggunakan alasan tersebut.
“Parpol busuk? Karena terlalu banyak orang baik yang ingin meraih surga
sendirian” − Dzulfian Syafrian
Kelima, jika disuruh menuliskan
hal positif mengenai pilkada melalui DPRD, saya dengan gampang menyebut setidaknya
partai politik kini ada gunanya lagi (baca: penguatan partai politik sebagai
fondasi demokrasi). Oleh karena itu kita harus lebih aware terhadap pilihan
partai politik dan yang mewakili kita. Membela pendapat dengan membela orang yang
berpendapat itu berbeda.
Terakhir, bagi saya logika sangat keliru adalah ketika menyatakan Dewan Perwakilan Rakyat bukanlah Wakil Rakyat. Ini hampir sama dengan poin kedua diatas. Kalau Saya tidak ingin hanya orang-orang yang populer saja di mata masyarakat yang berhak berada di tampuk pimpinan, saat dimana tak ada lagi filter dan manuver-manuver politik cantik seperti saat tahun Sidang Istimewa 1999.
Lagian jika semuanya dipilih oleh rakyat apa bedanya pemimpin negeri ini dengan Indonesian Idol? Tidak selamanya menang secara jumlah itu menang secara kualitas.
Pada akhirnya, kelak jika
keputusan sidang paripurna Kamis malam lalu bakal diimplemetasikan, setidaknya
ada tiga pihak yang pasti akan dirugikan, yaitu lembaga survei (quick qount)
bayaran, percetakan kertas suara dan tukang sablon kaos, sticker, baliho.
Heuheuheu....






