ENERGY ECONOMICS

"Dan mengenai minyak ini, terserah pada diri kita sendiri apakah mau barter, mau refining sendiri atau mau dijual sendiri. Atau kita minta tolong kepada patner untuk menjualkanya, unuk kita" - Ibnu Sutowo, Mantan Dirut Pertamina

PHOTOGRAPHY

"There is only you and your camera. The limitations in your photography are in yourself, for what we see is what we are" - Ernst Haas

TRAVELLING

"Most days of the year are unremarkable. They begin, and they end, with no lasting memories made in between. Most days have no impact on the course of a life " - 500 days of summer

FOOTBALL

"The game of life is a lot like football. You have to tackle your problems, block your fears, and score your points when you get the opportunity" - Lewis Grizzard

ECONOMICS

"Banyak intelektual menganggap bahwa merupakan suatu kejahatan tingkat tinggi, apabila seorang ilmuan menulis terlalu indah bagaikan seniman" - Paul Samuelson

07 March 2013

Sebuah Alasan: Maaf, Kami Tak Terbiasa Kalah!


Tulisan ini bukan hasil produk latah seperti seorang anak SMA yang mendadak mengelu-elukan nama seorang penyanyi di ajang pencarian bakat karena teman-temannya juga demikian, atau para hipster yang selalu mengupdate gaya berpakaiannya agar terlihat  non-mainstream, atau komunitas yang urban lifestyle yang mendadak merencanakan sebuah kejutan ditempat-tempat publik dengan harlem shake nya kemudian men-share nya ke jejaring-jejaring sosial terdekat ― mungkin.

Bukan seperti itu, tulisan ini bagi saya adalah obat dari kekecewaan yang amat-sangat-dalam untuk kekalahan tim favorit saya, Manchester United atas Real Madrid dua hari yang lalu. Kekalahan ini setidaknya bermakna dua bagi saya: pertama, kemungkinan saya tidak akan mendengar lagi lagu pembakar semangat “Champions League Anthem” ciptaan Tony Britten, setidaknya sampai laga final di Wembley bulan Mei mendatang. Kedua, saya harus buru-buru pulang ke kos saya setelah pulang dari kampus beberapa hari ini, sebelum teman-teman saya mencoba mengingatkan pertandingan menyedihkan itu.

Sebelum membahas pertandinganya, saya tiba-tiba ingat belum lama ini saya membaca sebuah tulisan psikologi ―karena saya selalu menyukai bidang ini― mengenai sensation dan perception. Menurut penulisnya Perception tidak akan terjadi tanpa sensation. Tunggu bentar, buat yang tak tau psikologi, saya coba jelaskan apa itu sensation? Apa itu perception? Sensation adalah tahapan paling mendasar dari proses biokimia atau neurologis yang dimulai dari adanya stimulus yang ditangkap oleh reseptor dari organ sensorik, seperti 5 indra kita (pembau, pendengar, peraba, pelihat, perasa). Sedangkan perception adalah proses dari penghantaran sensasion menuju otak, untuk kemudian diolah menjadi informasi yang bermakna.

 Lalu apa hubunganya dengan pertandingan sepak bola? Pertandingan sepakbola, terutama pertandingan besar, kini menjelma menjadi adu argumen ― bahkan menjadi adu fisik, dibeberapa kasus ― antar pendukung tim sepak bola. Mereka seakan berlomba-lomba mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk saling menyerang satu sama lain, mencaci rival yang bahkan tidak ada dalam pertandingan, atau sekedar menghubung-hubungkan beberapa fakta dan statistik kedalam pertandingan agar terlihat rasional. Tapi pada akhirnya semua perception itu tak akan terjadi tanpa sensation dan menurut Pendiri The Guardian, CP Scott “Comment is free, but facts are sacred”.

Sebagai pemuja Setan Merah ― tolong jangan anggap saya kafir ― fakta dari pertandingan dua hari yang lalu itu adalah: Tim favorit saya united bermain gemilang dengan 10 orang sejak menit ke 56 melawan tim yang berasal dari galaksi lain (baca: Los Galacticos), meski pada akhirnya kalah, iya kalah. Taktik Sir Alex Ferguson dianggap berhasil meredam determinasi madrid selama 56 menit, dengan tidak menyertakan key player united tahun lalu, Rooney kedalam starting line-up dan menggantinya dengan Wellback, terbukti ampuh mengganggu awal serangan tim lawan melalui deep lying plamaker-nya Xabi Alonso. Jangan lupakan pula pemain terbaik di paruh pertama pertandingan itu, legenda hidup Manutd, Ryan Joseph Giggs yang sukses memutus aliran bola menuju runner-up ballon d’or 3 tahun berturut-turut, Cristiano Ronaldo ― serta ikut membantu “mengusir” Angel di Maria keluar pertandingan karena cedera sesaat sebelum jeda.

Jika serangan Madrid melalui sisi kiri (Contrao-Ronaldo) berhasir di redam olah kombinasi Giggs-Rafael, serangan Madrid dari sisi kanan oleh kombinasi Di Maria – Mesut Ozil (Ozil sedikit ke tengah, tapi kemudian ditutup oleh Carrick) juga berhasil dikendalikan oleh Cleverley dan Evra. Nani bertugas memutus aliran dari Arbeloa ke keduanya sekaligus tumpuan serangan balik united. Mau tak mau serangan Madrid sebelum menit ke 56 dimulai dari Sami Kediera yang tak diredam secara khusus oleh sir Alex Ferguson.

Kemudian angka 56 pun seakan menjadi headline diberbagai media. Angka yang menunjukan menit kejadian sebenarnya debateble (bagi saya fans united), yaitu kala Nani mendapat kartu merah langsung dari wasit asal Turki yang selalu mengingatkan saya pada Cangkir, setelah mengangkat kaki terlalu tinggi dan mengenai dada Arbeloa. Semua orang pun sibuk mengomentari insiden yang menjadi titik balik kekalahan United itu dari berbagai disiplin ilmu masing-masing.

Did Nani see Arbeloa coming?” Anda bisa melihat sendiri bagaimana posisi Nani. Ia sedang berusaha mengontrol bola yang berada di mid-air, terang saja ia mengangkat tinggi kakinya. Tapi Nani tidak berusaha menyakiti siapa pun. Posisinya bahkan membelakangi Arbeloa. Nani tidak tahu bahwa Arbeloa berlari ke arahnya (Pangeran Siahaan).

Namun menurut Roy Keane ― yang sebenarnya legenda hidup United ― jurtru berujar sebaliknya, Nani pantas dihukum kartu merah, tak peduli alasannya, di rule of the game FIFA jelas mengatakan mengangkat kaki terlalu tinggi itu membahayakan pemain lain, dan harus diberi peringatan. Memang benar yang dikatakan Roy Keane, sama seperti statement “Mencuri itu dosa, sedangkan bersedekah itu mendapat pahala, jangan tanyakan Netto-nya” keduanya adalah hal yang terpisah meskipun ada orang mencuri tetapi digunakan untuk bersedekah.

Terlepas dari perdebadan benar atau salah kartu merah Nani, menurut saya kekalahan United bukan dikarenakan faktor 10 versus 11 pemain namun lebih dikarenakan mental yang telah jatuh ketika sedari awal persepsi para pemain United mengenai wasit “Cangkir” itu yang hobby mengeluarkan kartu (Kuning dan Merah) terlebih kepada pemain asal Inggris. Sebelum Nani tercatat ada nama Gary Cahill, Steven Gerrard, John Terry, dan Mario Balotelli yang menjadi korban “Cangkir”. Fakta itulah yang mendasari kejatuhan mental para pemain United sesaat setelah Nani di kartu merah, dalam benak mereka MUncul persepsi kalo kartu merah ini telah direncanakan sebelumnya. Namun kejatuhan mental itu ― entah untung atau rugi ­― tidak berlangsung lama, setelah skor berhasil dibalikan oleh Madrid, United lekas mengurung tim asal ibukota Spanyol itu, dan menciptakan banyak peluang berbahaya. Berarti bukan karena 10 orang pemain kan? 10 orang itu hanya alasan kami saja.

Pada akhirnya jika diawal saya membuka dengan perception tak akan ada jika tidak ada Sensation, diakhir tulisan ini saya justru akan mengutip pendapat yang sebaliknya, dari Filsuf Prancis, Henri Bergson, yang dikutip balik oleh Pangeran Siahaan “The eye only sees what the mind is prepared to comprehend”. Mata hanya melihat apa yang siap dicerna oleh pikiran. Sama seperti kehidupan, orang lain melihat kita seperti apa yang ingin (ada dipikiran) mereka lihat mengenai kita.

Hala Madrid!

Sudah habis.

Oh iya, sepertinya ini tulisan panjang saya pertama setelah, Januari tahun lalu. Sudah sangat lama ternyata, para pecinta tulisan saya (kalau ada) pasti sudah lama menantikan tulisan ini. Seperti para pembenci United yang menantikan kekalahan dua hari lalu ― United tercatat kali terakhir kalah dipertandingan kompetitif adalah bulan November tahun lalu, versus Norwich ― mereka ingin berargumen, mencela, tapi sayangnya Kami tak terbiasa kalah. J

15 January 2012

Kenyamanan versus Produktivitas : Temuan Kebenaran Stephen Robbins.

Beberapa hari yang lalu saya sempat diskusi dengan seorang calon pemimpin masa depan, seorang mahasiswa tingkat 1 namun mempunyai pemikiran one step ahead dengan kebanyakan, kepada saya dia menanyakan bagaimana cara mensinergiskan profesionalisme dan kekeluargaan.  Sebuah isu yang sebenarnya teramat biasa dan bahkan terkesan menjadi special issue atau perdebatan yang telah membudaya dan mengakar. Jadi jika belum bisa memilah atau mengkritisi kedua topik bahasan tersebut dengan sistematis dianggap belum memiliki kedalaman dalam organisasi pergerakan. Apapun itu, saya tidak akan membahasnya detail secara langsung tentang dua pilihan itu disini, tetapi saya akan mencoba memutar cara pandang dengan membahas issue yang saya anggap representatif mewakili issue tersebut yaitu mengenai kenyamanan versus produktivitas. Dari sudut pandang saya, kenyamanan bisa disejajarkan dengan konsep kekeluargaan, sedangkan produktifitas mewakili dari sisi profesionalisme. Atau boleh jadi disebut seperti ini, kenyamanan adalah hasil dari kekeluargaan dan produktifitas merupakan buah dari profesionalisme.

Kebanyakan dari kita akan selalu berfikir seperti ini : Bukankah secara intuitif terlihat logis jika seseorang yang bahagia akan bisa lebih produktif daripada yang tidak?  Namun yang terjadi menurut Stephen Robbin dengan bukunya The Truth about Managing People adalah banyak sekali perusahaan yang menghabiskan uangnya dalam meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Mereka memperkenalkan jam kerja yang fleksibel menyediakan fasilitas-fasilitas menarik di tempat kerja, mendesain ruang kerja semenarik mungkin, dan usaha-usaha lainya yang dimaksudkan agar meningkatkan kepuasan karyawan. Menariknya usaha-usaha tersebut menurut temuan Stephen Robbin tersebut ternyata tidak serta-merta meningkatkat produktivitas karyawan, jumlah turn-over ratio masih tetap tinggi. Adakah yang salah dengan kenyamanan tersebut?

Lebih lanjut Stephen Robbin memberikan temuan kebenaran tentang kasus ini, menurutnya meskipun mungkin terdapat korelasi positif yang tinggi antara kepuasan dengan produktifitas, kecenderunganya bersifat moderat, bahkan yang mungkin terjadi adalah sebaliknya, produktivitas mendatangkan kepuasan. Bukti menyebutkan bahwa karyawan yang produktif lebih mungkin merupakan karyawan yang bahagia daripada sebaliknya . Faktanya, produktivitasmembawa kepuasan. Jika anda melakukan pekerjaan dengan baik, anda secara instriksik akan merasakan hal positif mengenai hal tersebut, terlebih jika perusahaan atau organisasi melakukan sistem reward and punishment dengan sangat adil maka hal itu akan menjadi aspek ekstrinsik (baca: adanya motivasi dari luar) dari produktifitas itu sendiri, yang pada akhirnya akan meningkatkan tingkat kepuasan terhadap pekerjaan.

Sama halnya dengan tulisan ini, saya sudah merancang menulis sebuah tulisan non-personal untuk mengisi blog saya ini, ide tersebut tercetus sejak awal tahun beberapa hari yang lalu. Sejak saat itu saya ‘sibuk mencari kenyamanan’ untuk sekedar menuangkan goretan tulisan yang ada dihadapan kamu sekarang ini. Namun apa yang terjadi, berhari-hari saya tidak menemukan kenyamanan untuk menuliskan ide tulisan saya, hari demi hari lebih saya sibukan untuk mempercantik tampilan blog ini tanpa memikirkan konten.  Ketika saya teringat tentang fakta ini beberapa jam yang lalu, saya langsung tanpa banyak pikir mencoba menuliskan apapun yang ada dalam pikiran saya, apa yang terjadi? Belum genap 2 jam dari aku mengetikan kalimat judul diatas ide demi ide, kata demi kata berdatangan dengan sendirinya. Kalau boleh meminjam istilah dari Stephen Robbins lagi “Sebagian besar apa yang saya tuliskan adalah sampah, namun ada kalimat yang lumayan, kemudian berangsur angsur saya buang sampah itu dan saya kerjakan yang lumayan, hasilnya kalimat demi kalimat dan paragraf demi paragraf mengalir dengan deras” . hampir serupa dengan kutipan tersebut, senior saya pernah berujar “Tuliskanlah apa yang ada dalam pikiran kamu, sekalipun itu sampah , itu lebih baik daripada membusuk di kepalamu

Kesalahan yang sering kita lalkukan adalah mengasumsikan bahwa produktivitas akan datang ketika kita merasa nyaman atau enak. Padahal seharusnya yang perlu dilakukan adalah menghasilkan sejumlah output yang berkualitas (dan hukum reward and punishment diberkakukan) maka itu akan membawa kepada kepada kepuasan. Berhentilah memuasatkan perhatian bagaimaimana untuk meningkatkan kepuasan. Namun curahkanlah usaha anda untuk menjadi lebih produktif. Karena menurut saya keduanya seperti debat klasik waktu kecil dulu “Ayam dulu apa Telor dulu?”, memang ayam berasal dari telor namun tidak ada yang menjamin telor tak akan menjadi Ayam, yang lebih mungkin terjadi adalah Ayam dulu lalu bertelur dan menghasilkan ayam-ayam yang lainya.

Itulah yang terjadi, sebuah spiral dinamic (kalo boleh saya menyebutnya demikian) yang berawal dari produktivitas membuahkan kenyamanan, lalu memacu untuk terus produktif lalu mendapatkan kepuasan yang lebih besar, dan begitulah seterusnya tak berujung dan semakin keatas. Semoga tulisan singkat ini dapat memberi inspirasi mengenai debat antara Profesionalisme atau kekeluargaan yang saya akui (untuk sementara ini, sebelum ada teori yang lebih rasional) kebenaranya. wallahua'lam bishowab. 

05 January 2012

Stewardship of Wealth : Sebuah Refleksi Pemikiran Organisasi Kemahasiswaan


Tujuh ratus tahun yang lalu tahun yang lalu, seorang teolog tekemuka asal italia bernama Thomas Aquinas mengemukakan sebuah pemikiran tentang seni memperoleh kekayaan. Dalam buku History of Economic Thought karya Henry William Spiegel, Thomas Aquinas memaparkan tentang bagaimana cara mengelola kekayaan dan melindunginya dengan analogi yang cukup unik. Kekayaan yang  bagi sebagian orang merupakan suatu hal yang musti dijaga atau dilindungi. Lebih lanjut Thomas Aquinas menyenggunakan istilah ‘pagar’ untuk melindungi kekayaan itu sendiri. Namun yang unik disini, ketika sebagian besar orang memilih untuk meninggikan dan memperkuat pagar yang dipakai untuk melindungi kekayaan dari pencurian atau pemindahaan kekayaan, Thomas Aquinas justru memberikan pemikiran yang baru, yaitu: bongkarlah pagar itu!
Pengambilan kekayaan secara paksa atau pencurian terjadi karena adanya perbedaan yang mencolok antara pihak yang memiliki kekayaan dengan pihak yang mencoba mengambil kekayaan tersebut. Ketimpangan menjadi akar dari segala masalah sosial yang berkaitan dengan motif ekonomi. Maka menurut pemikir yang terkenal dengan summa teologica nya itu  mengamankan kekayaan dengan ‘memperkokoh pagar’ tidaklah menyelesaikan masalah. Selalu ada pihak-pihak yang mencoba merusak pagar tersebut, terlebih jika pagar tersebut terlihat semakin kokoh, hal ini mengindikasikan harga atau nilai dari kekayaan dilindunginya yang artinya semakin banyak pihak yang akan memperebutkanya. 
Pemikiran sederhana ini ternyata banyak diaplikasikan kedalam berbagai bidang, seperti bidang politik, hukum dan disiplin ilmu sosial lainya. Dalam bidang ilmu politik misalnya, kekayaan didefinisikan sebagai kekuasaan, sedangkan pagarnya merupakan penghalang menuju kekuasaan itu sendiri, sedangkan bentuk kejahatanya bisa disebut pengambil-alihan kekuasaan, yang bentuknya cukup beragam seperti kudeta, makar, akuisisi, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan dengan organisasi kemahasiswaan? Adakah kaitan unit kegiatan mahasiswa bidang pemerintahan mahasiswa (BEM/LEM/DEMA) dengan pemikiran ini?
Organisasi kemahasiswaan (bidang pemerintahan)  kini telah memasuki babak baru. Organisasi ini kini memiliki kecenderungan lebih moderat, lebih humanis, dan lebih populis. Namun sejak dahulu ada ciri organisasi kemahasiswaan ini tak pernah berubah, yaitu proses perebutan pengaruh. Pengaruh inilah yang menjadi daya tarik dalam perjalanan organisasi kemahasiswaan, seperti kekayaan dalam pemikiran Thomas Aquinas diatas. Dalam bahasa yang lebih sederhana, organisasi kemahasiswaan memperjuangkan untuk mempertahankan eksistensi dan pengaruh dengan cara yang beragam. Ada yang menginginkan posisi yang lebih tinggi dibanding organisasi yang lain agar lebih leluasa memberikan pengaruh. Ada yang memposisikan lebih rendah dengan alasan sebagai wadah aspirasi, namun hal itu sebenarnya bukan tujuan utama, tujuan utamanya tetap memberikan pengaruh.
Proses perebutan pengaruh ini yang kadang sebuah organisasi pergerakan kampus menggadaikan idealismenya. Bukan perkara tinggi-rendah atau kuat-lemahnya posisi (baca: pagar), tapi ini perkara jarak kekuasaan.  Power distance is the extent to which the less powerful members of organizations and institutions (like the family) accept and expect that power is distributed unequally - Hofstade. Bagaimana cara kita membuka diri dan menciptakan budaya agar tidak mencerminkan perbedaan dalam distribusi kekuasaan, melainkan cara orang memandang perbedaan-perbedaan kekuatan itu sendiri, sehingga antar organisasi merasa memiliki kesamaan dalam berhubungan satu sama lain terlepas dari posisi formalnya. Hal inilah yang coba kami bangun dalam satu tahun kepengurusan lalu. Kami sadar satu tahun merupakan waktu yang singkat untuk melakukan perubahan, maka sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk memastikan generasi berikutnya meneruskan bangunan ini. Selamat berkarya generasi baru!


Paradoks Kecerdasan


Tulisan ini sekaligus menjadi penjelasan kenapa menulis singkat (tanpa mengurangi esensi) itu sebuah pilihan yang saya anut , diakhir tulisan semoga anda akan bisa merenungi apa yang telah anda lakukan tanpa kehilangan banyak waktu dan tenaga untuk membaca beribu-ribu huruf didepan layar komputer anda.

Why? Read on…

Dalam dunia sepakbola, Lionel Messi dan C.Ronaldo dianggap sebagai ‘pesepakbola cerdas’ karena memiliki variasi gerakan yang cukup banyak. Ahmad Dhani, sang pionir Republik Cinta Manegement dianggap cerdas karena telah melahirkan banyak judul lagu yang (juga) beragam aliran musik.

Dengan kata lain, umumnya manusia mengukur kecerdasan dari banyaknya variasi yang bisa ia hasilkan, seperti seorang pemimpin dikatakan cerdas apabila telah menelorkan banyak idea atau gagasan di tempat yang dipimpinya dan sebaliknya dikatakan pemimpin tidak cerdas apabila menghasilkan ide yang itu-itu saja.

Sepintas, kecerdasan memang hanya diukur dengan banyaknya variasi yang muncul, namun ada sedikit yang mengganggu, sering orang yang dianggap intelek menyatakan seseorang dapat disebut cerdas kalo bisa menyederhanakan hal-hal yang rumit, menyederhanakan berarti menyederhanakan jumlah variasi. Sederhana disini juga tidak berarti tidak ada pilihan yang lain.

Disini kita mulai melihat paradoks, di satu sisi kecerdasan diukur dengan banyaknya variasi disisilain kecerdasan di ukur dengan kemampuan mengurangi variasi. Pembahasan pun dimulai, dalam bahasa inggris minimal ada 2 kata padanan dengan kata cerdas, yaitu intelligent dan expert (pakar). Dan kita akan menggunakan 2 kata ini untuk mengurai paradoks kecerdasan.

Analisisnya sederhana adalah orang yang bisa memperbanyak variasi adalah orang yang intelligent. Orang yang dapat memperbanyak variasi dan  sekaligus mengurangi variasi-variasi atas variasi esensial yang sederhana adalah orang yang expert. Dalam dunia ekonomika dan bisnis, seorang bisa dikatakan pakar ekonomi ketika dapat melihat detail (microeconomics), memproyeksikan kedalam bentuk macroeconomics dan dapat menjelaskan keterkaitanya dalam bentuk yang sederhana.

Finally, saya hanya ingin menyampaikan kesederhanaan bukan berarti bodoh, kesederhanaan pola pikir dan tindakan adalah pencapaian tingkat intelektualitas tertinggi. Berfikirlah efektif  teman, niscaya kesuksesan akan menyertaimu. -3 idiots-

thanks for reading :D

*terinspirasi tulisan Bernaridho Hutabarat (Business Intelligence Expert)