19 March 2013
Timnas Indonesia: Tetap Dirindukan Meski Tak Dikelola Profesional
Saya rindu mendengar gemuruh kumandang
Lagu Indonesia Raya yang begitu menggetarkan jiwa di Stadion Gelora Bung Karno
yang memerah.
Sore tadi kombinasi dua pelatih
tersukses di liga Indonesia dalam satu dekade terakhir, Rahmad Darmawan dan
Jacson F Tiago ― keduanya juga pernah mengantarkan Persipura menjadi
Kampiun di Liga Indonesia pada tahunnya masing-masing, mengumumkan 28 nama
pemain Timnas Indonesia untuk melawan Arab Saudi di Pra Piala Asia 2015. Timnas
kali ini bisa jadi menjadi babak baru persepakbolaan tanah air, menyusul Kongres
Luar Biasa PSSI dua hari lalu yang konon katanya menemui kesepakatan baru ― meski dalam
hati saya yang terdalam, kisruh sepakbola indonesia belum akan surut.
Akhirnya, sayapun takjub dengan 28
nama yang telah diumumkan itu. Kalo dalam 5 tahun terakhir skuat Garuda tak
dihuni pemain-pemain terbaik negeri ini, kali ini, menurut saya, nama-nama ini
sudah merepresentasikan kekuatan sepakbola Indonesia ― jika disuruh sebut angka saya berani
menyebut diatas 80 persen. Saya pun langsung mencoba mengotak atik line-up
terbaik tanpa bermaksud meringankan tugas Rahmad Darmawan dan Jackson F Tiago,
berikut the winning streak versi saya.
Posisi penjaga gawang saya masih
percaya pada Kurnia Meiga, meski kiper asal Bali, I Made Wirawan juga cukup
tangguh menurut saya. Dibarisan pertahanan ada banyak nama punggawa kelas satu
Indonesia, pilihanya jatuh pada kombinasi: Raphael Maitimo, Victor Igbonefo,
Abudur Rahman, Zulkifli Syukur ― meskipun M. Ridwan, Ricardo Salampessy, dan
Hamka Hamzah juga tak begitu buruk. Didepan barisan pertahanan, jika mau
menggunakan Deep Lying Playmaker, saya yakin pada Ponaryo Astaman. Tapi jika
mau menggunakan kombinasi Holding
Midfielder dan Box-to-Box Midfielder,
pilihanya jatuh pada duet Firman Utina dan Ahmad Bustomi.
Menuju sisi lapangan, kali ini Timnas
punya nama-nama yang mengusung kecepatan, seperti Andik Vermansyah dan pemain
naturalisasi baru Greg Nwokolo (meski juga bisa dipasang didepan). Di ujung
tombak, pilihan saya jatuh pada bintang iklan Pocari Sweet, Irfan Bachdim dan
pemain berdarah Belanda, Sergio van Dijk. Namun jika butuh penyerang yang bisa
men-delay permainan seperti Demitar Berbatov di Fulham, nama Titus Bonai layak
dimasukan kedalam squad Merah-Putih.
Sampai paragraf ini semuanya terasa
menyenangkan, antusias memuncak, sepertinya tak sabar menuju pertandingan
Timnas Indonesia versus Arab Saudi. Kepala saya pun dipenuhi optimisme yang
luar biasa dan tentunya harapan masa keemasan sepakbola Indonesia tak lama
lagi. Bisa dibayangkan auranya ketika kongres berhasil, penyatuan liga disepakati,
dualisme kepengurusan pun nampaknya akan berakhir, pemain terbaik negeri ini
siap berkontribusi, dan ditambah dua pelatih tersukses di Indonesia satu dekade
terakhir dibelakang mereka.
Tapi tunggu sebentar, semua kesenangan
dan optimisme itu nampaknya tak akan lama, setelah saya mendapati berbagai
kutipan dari petinggi sepak bola beberapa hari ini. Silahkan disimak dan coba dirasakan
apa yang terjadi sesungguhnya, kutipan ini sudah saya urutkan rentang waktunya.
"Saya dan teman-teman tadi
siang habis shalat Jumat diminta suruh pulang oleh Blanco. Alasannya tidak tahu.
Katanya kami tidak memenuhi syarat, teman-teman juga kaget dan bingung. " Kiper Timnas, Syamsidar.
"Alasannya tidak disiplin.
Seharusnya mereka berbicara dulu kepada pihak BTN. Tidak disiplinnya seperti
apa. Anak-anak baru datang hari Rabu. Saya curiga dia bukan pelatih. Habis bertanding
tidak bisa digenjot seperti itu, kalau pemain ISL tidak bisa masuk ya semua
saja dikeluarkan. Belum melihat secara benar, tapi sudah dicoret saja." Sekjen
PSSI, Harbiansyah.
"Saya awalnya memang
dihubungi kemarin melalui telepon dan disampaikan bahwa timnas tidak ada
pelatih. Kemudian saya menyetujui, saat diinformasikan, saya hanya akan sampai
melawan Arab Saudi. Saya akan membantu semampunya." Pelatih sementara Tim
Nasional Indonesia.
"Untuk itulah diperlukan
coach sekelas Blanco. Rencana memasukan nama Coach RD belum pernah
dikonsultasikan kepada saya, tahu-tahu nama coach RD sudah didaftarkan ke AFC
sedangkan coach Blanco yang menangani timnas." Ketua PSSI, Djohar Arifin
Husein.
"Belum ada sama sekali
pemberitahuan tentang status saya. Saya masih merasa pelatih. Saya di kontrak
dua tahun, tapi saya belum dikasih tahu siapa yang akan memimpin timnas lawan
Arab Saudi." Pelatih Timnas, Luis Manuel Blanco.
"Pelatih timnas tetap
Blanco. Rahmad dan Jacksen ilegal." Ketua Badan Tim Nasional, Isran Noor.
"Saya bawalah kepada Djohar.
Dan dia setuju. Berarti jika dia berbeda omongannya, itu artinya dia memojokkan
saya. Semua saya laporkan. Komunikasi juga dengan ketua BTN sangat susah
sekali. Apakah ponselnya hilang, kecewa dia saudara saya sendiri." Sekjen
PSSI, Harbiansyah.
Sudah bisa dibayangkan? ― Saya
menduga, para petinggi sepak bola kita dulu masa mudanya suka digantungkan
hubungannya oleh pasangan, oleh karena itu sekarang mereka diberi kekuatan
untuk menggantungkan nasib masyarakat sepakbola Indonesia.
Ketika optimisme telah memuncak,
ada saja prahara yang tak henti-hentinya menguji sepakbola Indonesia. Masalah Apa
yang terjadi dalam kasus Blanco-RD adalah ulangan dari kasus sebelumnya yang
melibatkan Nil Maizar. Usai menjalani pertandingan menghadapi Irak di
Kualifikasi Piala Asia, tiba-tiba Djohar Arifin Husin memperkenalkan Blanco
sebagai pelatih timnas yang baru. PSSI 'menggantung' Nil karena sama sekali
tidak memberi penjelasan soal statusnya, hingga hari ini. Berarti saat tulisan
ini anda baca, Timnas Indonesia sebenarnya ditangani oleh 3 orang: Nil Maizar,
Luis Blanco, dan Rahmad Darmawan.
Oh iya, jangan lupakan juga
pelatih Timnas ― favorit saya juga, yang membintangi iklan Sosis dan jasa pengiriman
barang JNE, Alfred Riedl. Ketika itu Riedl diputus kontraknya secara sepihak
oleh PSSI, dengan dalih kontraknya (bersama kepengurusan lama PSSI) tidak
jelas.
Pada akhirnya proses penunjukkan
pelatih timnas tidak dilakukan secara transparan ini menunjukkan bahwa
manajemen timnas dikelola secara tidak profesional, banyak kewenangan yang tak
tertulis jelas, asymetric information
merebak, dan tentunya konflik kepentingan.
Apapun yang
tidak dimulai dengan baik, tidak akan berakhir dengan baik.
Selesai.
Oh iya saya
baru saja membeli Air Freshner Matic,
kemudian untuk alasan ekonomis saya atur waktu 40 menit, dan saya mendengar 3
kali semprotan disertai aroma Green
Fantasy saat saya menulis tulisan ini.
18 March 2013
Mendesain Kontrak Migas yang Berkedaulatan
"Dan mengenai minyak ini, terserah pada diri kita sendiri apakah mau barter, mau refining sendiri atau mau dijual sendiri. Atau kita minta tolong kepada patner untuk menjualkanya, unuk kita" - Ibnu Sutowo, mantan dirut Permina, dan Menteri ESDM RI ke-3.
Saya sedikit tersadar setelah
menyelesaikan tulisan kedua tentang sepakbola, ternyata kecintaan kita terhadap
sesuatu hal membuat inspirasi mengalir dengan deras dipikiran, termasuk dalam
tulisan ―
tapi kadang tidak berlaku pada kecintaan terhadap pasangan atau calon pasangan.
Karena itulah saya memaksakan untuk menulis tulisan populer-ilmiah (komposisi 90%
populer, 10% ilmiah) ini dengan judul yang sedikit dipaksakan, nanti akan saya
beritahu kenapa judul ini sedikit memaksakan.
Beberapa hari yang lalu saya ‘dipaksa’
meski dengan senang hati, dalam 2 hari saya 3 kali diajak berdiskusi mengenai dinamika
migas dan kedaulatannya ― dan yang paling berkesan pada diskusi ketiga, tapi bukan karena rule of third. Saya berani berbicara
mengenai migas bukan karena saya tau segalanya, atau pernah melakukan riset
dkk, saya berani hanya karena saya menyukai bidang ini. Seperti saya yang
menggilai Manchester United, Futsal, dan Fotografi, meski sebenernya saya sadar
tidak akan pernah menjadi pemain Manchester United, pemain futsal profesional,
atau fotografer profesional, tapi keberadaan ketiganya telah memberi keberanian
untuk berbicara mengenai apa yang saya sukai didunia ini.
Kembali ke topik, kali ini saya akan
menulis sedikit mengenai kontrak migas, bahasan yang nyaris menjadi topik
skripsi saya. Kontrak migas kali ini saya beri sedikit bumbu kedaulatan karena
saya selalu tergelitik jika mendengar kata kedaulatan energi, kedaulatan migas,
dan saya selalu mengawali nya dengan pertanyaan balik kepada mereka: kedaulatan
itu definisinya apa menurut kamu? Kalau saya sih lebih suka menganalogikan
kedaulatan dengan perilaku mencuci pakaian dikalangan mahasiswa. Katakanlah
untuk mencuci pakaian, seminggu dua kali, dengan durasi kurang lebih dua jam
(belum termasuk menyetrika), berarti ada waktu dan tentunya tenaga yang kita
korbankan untuk mencuci pakaian tersebut. Maka, jika anda melakukan itu, saya
bisa sebut anda berkedaulatan penuh atas pakaian yang anda pakai. Sementara
saya tak pernah mempunyai kedaulatan atas pakaian saya, karena Jasa Laundry lebih
menarik bagi saya ― dengan berbagai pertimbangan tentunya.
Dalam benak saya arti kedaulatan itu
lebih retoris daripada kata “hidup mahasiswa” yang sering di teriakan para
aktivis mahasiswa di negeri ini. Sedangkan saya lebih tertarik berbicara teknis
daripada berbicara relativitas ideologi yang tak berujung. Namun jika dipaksa untuk
menjelaskan mengenai kedaulatan migas mungkin saya hanya bisa mengutip dua
pertanyaan alm Prof. Widjajono Partowidagdo (mantan Wamen ESDM). “Pertanyaan pertama, Siapa yang memiliki
sumberdaya ketika mereka masih berada di dalam tanah baik atau sesudah
penemuan, tetapi sebelum ekstraksi? Pertanyaan kedua, Siapa yang memilikinya
sesudah ekstraksi dari dalam tanah dan pada titik mana dalam ruang dan waktu,
kepemilikan tersebut berpindah jika keduanya tidak sama?” ― semoga dua
pertanyaan ini menyadarkan kita semua. Amien.
Kemudian bahasan saya terpaksa saya
belokkan sedikit ke desain kontrak migas, karena menurut saya kedaulatan migas
berhubungan dengan desain kontrak migas. Langsung saja, menurut Johnston, dalam
tulisanya How to Evaluate the Fiscal
Terms of Oil Contracts, menyebutkan setidaknya ada dua besar desain kontrak
migas, yaitu Royalty/tax systems (sistem
konsensi) dan Contractual System (sistem
kontrak).
Dalam konsensi, pemegang kontrak (biasanya
disebut perusahaan bukan sebagai kontraktor) dijamin hak penambanganya oleh
negara, yang pada awalnya berbentuk ijin eksplorasi lalu menjadi ijin
eksploitasi jika menemukan hidrokarbon, dalam hal ini negara akan memperoleh
pendapatan melalui pajak. Sedangkan untuk sistem kontrak biasanya menggunakan
sistem bagi hasil ― kenapa ada yang disebut production
sharing contract. Dalam hal ini pemegang kontrak tidak memegang ijin hak
tambang karena kontrak menyatakan negara tidak memberikan izin tersebut
(menurut saya ini lebih ke alasan politis saja), kontraktor sebagai pemasok
jasa tunggal kepada negara dan menanggung resiko teknis dan finansial dari
eksplorasi.
Dua jenis kontak diatas hanyalah
secara garis besar saja, dalam prakteknya ada banyak modifikasi hukum, fiskal
dan regulasi-regulasi lain yang terkadang berbeda dari satu negara ke negara
yang lain. Desain kontrak ini menurut saya layaknya business as usual yang dirancang untuk menciptakan situasi win-win solution bagi perusahaan sebagai
pemilik teknologi dan sumberdaya manusia dan pemerintah sebagai pemilik common property resources. Kemudian roda
bisnis ini bergulir untuk menjawab pertanyaan bagaimana economic rent dibagi ― ini yang saya sebut dengan kedaulatan.
Selanjutnya pembasan selanjutnya
menjadi upaya mencari model kontrak yang pas untuk diterapkan disuatu negara seyogyanya
terus didorong dan dikaji, namun tetap perlu diingat bahwa setiap proyek
mempunyai resiko yang unik, sehingga model kontrak yang diusulkan harus
mencerminkan resiko proyek dari masing-masing karakteristiknya. Apakah ada
model kontrak yang paling baik?
Benny Lubiantara, seorang Fiskal Analis
di OPEC berujar “one size fits all model does not
exist!” Tidak ada model yang cocok untuk semua kondisi. Kenapa? Karena resiko
yang dihadapi berbeda untuk setiap proyek di masing masing negara, bahkan dalam
satu negarapun, resikonya juga bervariasi. Model kontrak yang dipilih
seyogyanya mencerminkan resiko dari proyek tersebut.
Pada akhirnya, jika kedaulatan
diasumsikan sebagai keuntungan bagi negara, maka lebih mengusulkan agar diskusi
dan diskursus mengenai kedaulatan energi atau minyak dan gas lebih di sampaikan
sebagai penjawab pertanyaan bagaimana meningkatkan bagian negara dengan cara yang
elegan? ―
tentunya ini lebih mendidik bagi para pemula seperti saya yang tertarik di
bidang ini dan sepakat untuk mendalami dinamika migas tanpa dibenturkan dengan
masalah ideologi.
Oh iya, saya ingin seperti Benny
Lubiantara, menjadi analis fiskal OPEC di Wina, Austria. Doakan yaa? J
16 March 2013
Hanya Cerita Tentang 15 Point!
“Most days of the year are
unremarkable. They begin, and they end, with no lasting memories made in between.
Most days have no impact on the course of a life.“ – 500 days of summer.
Saya pikir Ferguson ingat kata-kata
narator dalam film fiksi yang dibintangi oleh Zooey Deschanel dan Joseph
Gordon-Levitt itu, sebelum pertandingan versus Reading di Old Trafford, minggu
dini hari ini dimulai. Meski dua jam sebelum pertandingan dimulai, rival
terdekat manutd tersungkur di Goodison Park, Ferguson nampaknya tak ingin menganggap
pertandingan ini lebih spesial dari pertandingan-pertandingan lain. Hal ini
terbukti dari line-up yang diturunkan, menurut saya bukan the winning streak
yang biasa digunakan untuk memastikan pertandingan agar lebih mudah ―
tanpa merendahkan Reading.
Selain duet Vidic-Ferdinand dan
Rooney-Van Persie tak ada lagi yang membuat nyaman bagi pendukung manutd. Nama-nama
penghias starting line-up seperti: Carrick, Kagawa, dan Valencia menghiasi
bangku cadangan, bahkan bagi Luis Nani, Patrice Evra, Phil Jones, Paul Scholes
hanya bisa menyaksikan teman-temannya bergulat di lapangan hijau dari bangku
penonton kala cedera mendera mereka.
Pertandingan pun sudah bisa
ditebak: berjalan ala kadarnya ― mungkin seperti penampilan Fatin kemaren
malam di X-Factor Indonesia yang dianggap kurang power dan seperti biasanya
ketika membawakan lagu milik No Doubt berjudul "Don't Speak". Saat
pertandingan saya bahkan menyempatkan multitaskting dengan melihat garis waktu,
bermain Free Cell, mencoba beberapa picture stlye Canon dan juga mempersiapkan materi
buat tulisan ini, saat pertandingan berlangsung. Satu-satunya yang cukup saya
nantikan di pertandingan adalah bagaimana Ryan Giggs dan Anderson berbagi peran
di lapangan tengah untuk menyeimbangkan tim.
Akhirnya rasa penasaran saya
terjawab di pertandingan, Ryan Giggs pada pertandingan itu menurut saya lebih
berperan sebagai Ball Winning Midfielder, bukan Deep-Lying Playmaker atau
Holding Midfielder yang sukses diperankan oleh Michael Carrick musim ini. Ball-Winning
Midfielder (BWM) adalah Anchor Man yang
berada di posisi Central Midfielder. Jadi sekali lagi, menurut saya Ryan Giggs
di pertandingan ini tidak menggantikan peran Carrick.
Selain penampilan gemilang bintang
iklan rokok Indonesia, Rio Ferdinand yang mencuri perhatian saat intersep atas
serangan Reading nya berhasil diteruskan dengan solorun dan dribling yang
fantastis dan berujung pada assist kepada Wayne Rooney, tak ada peran yang
menonjol di kubu Setan Merah.
Rekan Ryan Giggs di lapangan
tengah, Anderson yang diharapkan menggantikan Tom Cleverley pun nampaknya gagal
menjadi seorang box-to-box midfielder yang ampuh, ia terlihat lebih
berhati-hati memerankan posisi ini yang berujung pada passes completion-nya
yang yak begitu tinggi. Alexander Buttner yang didapuk menjadi pengganti
Pratrice Evra juga demikian, selain tatto di sekujur tubuhnya, dan namanya yang
selalu mengingatkan saya pada mentega, juga tak ada yang spesial. Ashley Young
dan Danny Welbeck pun setali-tiga-uang dengan Anderson dan Buttner,
penampilanya tak semengerikan duet Nani-Valencia yang terbukti ampuh dua musim
belakang ini mengalirkan bola lewat sisi-sisi lapangan. Bahkan Welbeck nampaknya
menjalani peran di pertandingan ini lebih sebagai Poacher jika duet Rooney-Van Persie macet. Smalling apalagi, yang
saya ingat hanya crossingnya yang begitu tinggi di menit 70an.
Di pihak Reading, hampir tak ada
yang mencuri perhatian di pertandingan itu selain Cartaker baru Eamonn Dolan, dengan beberapa kali tertangkap
kamera tengah hiperaktif dipinggir lapangan. Cartaker yang sebelumnya menjadi
pelatih akademi sepakbola Reading seringkali terlihat melakukan bahasa isyarat
untuk anak buahnya dengan gerakan-gerakan yang unik, sepanjang pertandingan
juga ia acapkali berdiskusi dengan staff pelatih Reading lainya. Atas usahanya
yang tak kenal lelah berdiri di pinggir lapangan itu saya anugrahkan sebagai Man
of The Match bagi Reading.
Hasil ini membawa keunggulan 15
point atas “tetangga yang berisik” dengan 9 pertandingan sisa, selain sebagai
pengurai kegalauan para pemain dan fans pasca tersingkir secara dramatis dari
Real Madrid di Liga Champions ― dan beruntung Manutd tak kalah dari
Chelsea minggu lalu. Hitung-hitungannya, dari 29 pertandingan Manutd mengemas
74 point, sementara Mancity mengemas 59 point, dengan sisa 9 pertandingan (27
point maksimal), Manutd akan mengunci gelar ketika bisa mengumpulkan 12 poin (4
kali kemenangan). Namun bagi saya gelar ke-20 bagi Manutd bisa dipercepat jika Manutd bisa mengalahkan Mancity di Old
Trafford 2 minggu mendatang ― dengan catatan Manutd juga Menang lawan
Sunderland pekan depan.
Pasca pertandingan Ferguson pun
berujar "Kami akan bermain tandang melawan Sunderland di laga berikutnya,
di mana selalu sulit untuk bermain di sana. Lalu kami harus menghadapi
Manchester City di kandang. Jika Anda cepat merasa puas, maka Anda tidak akan
mendapatkan poin dan juga titel juara."
Akhirnya pertandingan ini sama
sekali tak spesial, selain keunggulan 15 point. Harusnya Manutd tak usah ikutan berpartisipasi agar Liga Inggris kembali terlihat 'kompetitif' dengan mengurangi keunggulan itu ― seperti musim lalu yang perolehan gelar juara harus dipastikan di menit-menit akhir liga, dan menjadikan Liga paling dramatis didunia, biar lah musim ini menjadi musim yang sempurna bagi Manutd di Liga Inggris,
Selamat beristirahat. :)
*foto: Matthew Peters/Getty Images
*foto: Matthew Peters/Getty Images
07 March 2013
Sebuah Alasan: Maaf, Kami Tak Terbiasa Kalah!
Tulisan ini bukan hasil produk latah seperti seorang anak SMA yang mendadak mengelu-elukan nama seorang penyanyi di ajang pencarian bakat karena teman-temannya juga demikian, atau para hipster yang selalu mengupdate gaya berpakaiannya agar terlihat non-mainstream, atau komunitas yang urban lifestyle yang mendadak merencanakan sebuah kejutan ditempat-tempat publik dengan harlem shake nya kemudian men-share nya ke jejaring-jejaring sosial terdekat ― mungkin.
Bukan seperti itu, tulisan ini
bagi saya adalah obat dari kekecewaan yang amat-sangat-dalam untuk kekalahan
tim favorit saya, Manchester United atas Real Madrid dua hari yang lalu.
Kekalahan ini setidaknya bermakna dua bagi saya: pertama, kemungkinan saya
tidak akan mendengar lagi lagu pembakar semangat “Champions League Anthem” ciptaan Tony Britten, setidaknya sampai
laga final di Wembley bulan Mei mendatang. Kedua, saya harus buru-buru pulang
ke kos saya setelah pulang dari kampus beberapa hari ini, sebelum teman-teman
saya mencoba mengingatkan pertandingan menyedihkan itu.
Sebelum membahas pertandinganya,
saya tiba-tiba ingat belum lama ini saya membaca sebuah tulisan psikologi ―karena
saya selalu menyukai bidang ini― mengenai sensation dan perception.
Menurut penulisnya Perception tidak
akan terjadi tanpa sensation. Tunggu
bentar, buat yang tak tau psikologi, saya coba jelaskan apa itu sensation? Apa itu perception? Sensation adalah tahapan paling mendasar dari proses
biokimia atau neurologis yang dimulai dari adanya stimulus yang ditangkap oleh
reseptor dari organ sensorik, seperti 5 indra kita (pembau, pendengar, peraba,
pelihat, perasa). Sedangkan perception adalah proses dari penghantaran
sensasion menuju otak, untuk kemudian diolah menjadi informasi yang bermakna.
Lalu apa hubunganya dengan pertandingan sepak
bola? Pertandingan sepakbola, terutama pertandingan besar, kini menjelma
menjadi adu argumen ― bahkan menjadi adu fisik, dibeberapa kasus ― antar pendukung tim
sepak bola. Mereka seakan berlomba-lomba mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya
untuk saling menyerang satu sama lain, mencaci rival yang bahkan tidak ada
dalam pertandingan, atau sekedar menghubung-hubungkan beberapa fakta dan
statistik kedalam pertandingan agar terlihat rasional. Tapi pada akhirnya semua
perception itu tak akan terjadi tanpa
sensation dan menurut Pendiri The
Guardian, CP Scott “Comment is free, but
facts are sacred”.
Sebagai pemuja Setan Merah ― tolong jangan
anggap saya kafir ― fakta dari pertandingan dua hari yang lalu itu adalah: Tim
favorit saya united bermain gemilang dengan 10 orang sejak menit ke 56 melawan
tim yang berasal dari galaksi lain (baca: Los
Galacticos), meski pada akhirnya kalah, iya kalah. Taktik Sir Alex Ferguson
dianggap berhasil meredam determinasi madrid selama 56 menit, dengan tidak
menyertakan key player united tahun lalu, Rooney kedalam starting line-up dan
menggantinya dengan Wellback, terbukti ampuh mengganggu awal serangan tim lawan
melalui deep lying plamaker-nya Xabi
Alonso. Jangan lupakan pula pemain terbaik di paruh pertama pertandingan itu,
legenda hidup Manutd, Ryan Joseph Giggs yang sukses memutus aliran bola menuju runner-up ballon d’or 3 tahun
berturut-turut, Cristiano Ronaldo ― serta ikut membantu “mengusir” Angel di
Maria keluar pertandingan karena cedera sesaat sebelum jeda.
Jika serangan Madrid melalui sisi kiri
(Contrao-Ronaldo) berhasir di redam olah kombinasi Giggs-Rafael, serangan
Madrid dari sisi kanan oleh kombinasi Di Maria – Mesut Ozil (Ozil sedikit ke
tengah, tapi kemudian ditutup oleh Carrick) juga berhasil dikendalikan oleh
Cleverley dan Evra. Nani bertugas memutus aliran dari Arbeloa ke keduanya
sekaligus tumpuan serangan balik united. Mau tak mau serangan Madrid sebelum
menit ke 56 dimulai dari Sami Kediera yang tak diredam secara khusus oleh sir
Alex Ferguson.
Kemudian angka 56 pun seakan menjadi
headline diberbagai media. Angka yang menunjukan menit kejadian sebenarnya
debateble (bagi saya fans united), yaitu kala Nani mendapat kartu merah
langsung dari wasit asal Turki yang selalu mengingatkan saya pada Cangkir,
setelah mengangkat kaki terlalu tinggi dan mengenai dada Arbeloa. Semua orang
pun sibuk mengomentari insiden yang menjadi titik balik kekalahan United itu
dari berbagai disiplin ilmu masing-masing.
“Did
Nani see Arbeloa coming?” Anda bisa melihat sendiri bagaimana posisi Nani.
Ia sedang berusaha mengontrol bola yang berada di mid-air, terang saja ia
mengangkat tinggi kakinya. Tapi Nani tidak berusaha menyakiti siapa pun.
Posisinya bahkan membelakangi Arbeloa. Nani tidak tahu bahwa Arbeloa berlari ke
arahnya (Pangeran Siahaan).
Namun menurut Roy Keane ― yang
sebenarnya legenda hidup United ― jurtru berujar sebaliknya, Nani pantas
dihukum kartu merah, tak peduli alasannya, di rule of the game FIFA jelas mengatakan mengangkat kaki terlalu
tinggi itu membahayakan pemain lain, dan harus diberi peringatan. Memang benar yang
dikatakan Roy Keane, sama seperti statement “Mencuri itu dosa, sedangkan bersedekah
itu mendapat pahala, jangan tanyakan Netto-nya” keduanya adalah hal yang
terpisah meskipun ada orang mencuri tetapi digunakan untuk bersedekah.
Terlepas dari perdebadan benar atau
salah kartu merah Nani, menurut saya kekalahan United bukan dikarenakan faktor
10 versus 11 pemain namun lebih dikarenakan mental yang telah jatuh ketika sedari
awal persepsi para pemain United mengenai wasit “Cangkir” itu yang hobby
mengeluarkan kartu (Kuning dan Merah) terlebih kepada pemain asal Inggris. Sebelum
Nani tercatat ada nama Gary Cahill, Steven Gerrard, John Terry, dan Mario
Balotelli yang menjadi korban “Cangkir”. Fakta itulah yang mendasari kejatuhan
mental para pemain United sesaat setelah Nani di kartu merah, dalam benak
mereka MUncul persepsi kalo kartu merah ini telah direncanakan sebelumnya. Namun
kejatuhan mental itu ― entah untung atau rugi ― tidak berlangsung lama,
setelah skor berhasil dibalikan oleh Madrid, United lekas mengurung tim asal
ibukota Spanyol itu, dan menciptakan banyak peluang berbahaya. Berarti bukan
karena 10 orang pemain kan? 10 orang itu hanya alasan kami saja.
Pada akhirnya jika diawal saya membuka
dengan perception tak akan ada jika tidak ada Sensation, diakhir tulisan ini
saya justru akan mengutip pendapat yang sebaliknya, dari Filsuf Prancis, Henri
Bergson, yang dikutip balik oleh Pangeran Siahaan “The eye only sees what the mind is prepared to comprehend”. Mata
hanya melihat apa yang siap dicerna oleh pikiran. Sama seperti kehidupan, orang
lain melihat kita seperti apa yang ingin (ada dipikiran) mereka lihat mengenai
kita.
Hala Madrid!
Sudah habis.
Sudah habis.
Oh iya, sepertinya ini tulisan panjang
saya pertama setelah, Januari tahun lalu. Sudah sangat lama ternyata, para
pecinta tulisan saya (kalau ada) pasti sudah lama menantikan tulisan ini.
Seperti para pembenci United yang menantikan kekalahan dua hari lalu ― United
tercatat kali terakhir kalah dipertandingan kompetitif adalah bulan November
tahun lalu, versus Norwich ― mereka ingin berargumen, mencela, tapi sayangnya Kami
tak terbiasa kalah. J









