01 October 2015
United's Impossible Triangle, Choose Two!
8:08 AM
0 comments
Pada tahun 1950an, seorang
matematikawan bernama Rogers Penrose menciptakan sebuah grafis yang kini
populer dengan sebutan impossible
triangle. Grafis tersebut merupakan sebuah bangun ruang, yang terbuat dari tiga
balok lurus dengan penampang silang berbentuk segi empat, dimana ujung-ujungnya
saling bertemu membentuk segitiga (sangat mirip dengan logo salah satu
antivirus komputer buatan dalam negeri). Panrose mendeskripsikanya sebagai: Kemustahilan
dalam bentuk termurni.
Kemustahilan grafis yang
dipopulerkan oleh Panrose tersebut dikarenakan visualisasi tipuan 2 dimensi
yang coba dibentuk menggunakan visualisasi 3 dimensi. Dalam kata lain hanya dua
sisi yang merupakan grafis asli, sedangkan sisi lainnya adalah tipuan.
Jika memahami kegalauan Panrose
terasa begitu ‘njlimet’, mungkin memahami pilihan fundamental yang sering
muncul saat jaman perkuliahan/sekolah ini lebih sering ditemui, ada 3 pilihan
anda hanya bisa memilih dua: Good Grade,
Enough sleep, Social Life.
Dalam bentuk lebih sederhana lagi
ada 3 pilihan yang cukup membingungkan (dalam berberapa kasus) Good, Fast, Cheap. Atau saya juga sering
menanyakan kepada beberapa gadis mengenai pasangan idamannya kelak dengan 3
kriteria namun hanya bisa memilih 2 saja: Tampan, Mapan, Baik Hati. Kebanyakan
dari mereka membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum menjawab pertanyaan saya,
karena pada dasarnya mereka ingin 3
kriteria tersebut ada pada pasangan hidupnya kelak.
Ada banyak pilihan sempurna atau
ideal dalam hidup yang tak bisa kita ambil semuanya, karena kita harus
mengorbankan satu pilihan. Termasuk dalam lapangan hijau. Coba saja tanyakan ke
pelatih Manchester United, Luis Van Gaal seperti ini: Dari 3 nama berikut ini
siapa yang akan anda pilih jika hanya bisa memasang 2 saja, Michael Carrick,
Bastian Schweinsteiger, atau Morgan Schneiderlin?
Ya, mungkin saya tidak bisa mendapat
jawaban langsung dari Meneer Van Gaal.
Namun, jika dilihat dari pertandingan yang sudah dijalani Manchester United
musim ini, Van Gaal terlihat kebingungan dalam pemilihan double pivot untuk formasi 4-2-3-1 andalannya musim ini. Minimal
dari 7 pekan Liga Premier yang sudah dijalani, Van Gaal selalu merotasi kombinasi
2 dari 3 jangkar di lapangan tengah United.
Mari bedah satu persatu
kombinasinya.
Kombinasi pertama:
Carrick-Schneiderlin. Merupakan kombinasi andalan Van Gaal sejauh ini di Premier
League. Tercatat 4 kali (lawan Spurs, Villa, Southamton, dan Sunderland) keduanya
tampil mengawal lini tengah United sejak peluit babak pertama dimulai. Meski
terlihat padu di lini tengah United, kombinasi keduanya sebenarnya tak
rukun-rukun amat. Karena jumlah umpan antar keduanya tak pernah menonjol dalam
satu pertandingan. Hal ini bisa jadi pembagian tugas keduanya sangatlah jelas,
Carrick sebagai jangkar pelindung back-four
United, sedangkan ‘Air France’ Schneiderlin sebagai Box-to-box. Kabar baiknya, kombinasi Carrick-Schneiderlin di liga
Premier selalu menghasilkan 3 poin bagi Luis Van Gaal.
Meskipun kombinasi
Carrick-Schneiderlin membawa rasa aman bagi Meneer Belanda, namun sekali lagi
seperti disebutkan diawal tulisan ini, Van Gaal terlihat ‘gatal’ jika tak
memainkan dirijen United yang lain, Bastian Schweinsteiger. Terbukti duet
Carrick-Schneiderlin tak pernah penuh 90 menit. Schweni selalu masuk jadi orang
ketiga mengganggu kemesraan pasangan Carrick-Schneiderlin. Yang menarik adalah
pihak yang dikorbankan selalu Michael Carrick.
Kombinasi kedua: Schweinsteiger-Schneiderlin.
Kombinasi rekrutan anyar Manutd untuk mengarungi musim ini merupakan opsi Van
Gaal yang paling sering digunakan setelah duet Carrick-Schneiderlin. Meski nama
mereka terlihat indah ketikan dibuatkan sebutan untuk mereka, Schmidfield (baca: Membayangkan Solidnya
Lini Tengah Man United Bersama Schweinsteiger) nyatanya United selalu sial jika
keduanya diturunkan sejak awal pertandingan. Dua kali kombinasi Schmidfield
diturunkan manutd hanya berhasil membawa satu poin (imbang melawan Newcastle,
serta kalah melawan Swansea).
Kombinasi terakhir:
Carrick-Schweinsteiger adalah duet yang saya bayangkan sebagai pasangan ideal
bak dongeng sejak sebelum dimulainya musim ini. Melihat karakter permainan
keduanya yang saling melengkapi satu-sama lain, Carrick yang selama ini dengan
anggun-nya melindungi 2 bek tengah united, kini kedatangan jenderal lapangan
tengah timnas juara dunia Jerman, Schweinsteiger. Carrick akan legowo sedikit
kebelakang, dan menyerahkan inisiatif serangan kepada Bastian.
Kombinasi pemain gaek ini
nyatanya memang sangat superior, dengan sangat harmonisnya menjadi top passing combination (17 passing) kala
menghempaskan musuh bebuyutannya Liverpool 3-1 pada 12 September lalu. Satu-satunya
alasan yang saya coba pahami kenapa duet Carrick-Schweinsteir hanya satu kali
digunakan oleh Van Gaal sejak awal pertandingan adalah soal Chants. Van Gaal takut pendukung United
terbelah saat mengumandangkan chant-chant. Karena chant "It's Carrick, you know, it's hard to believe
it's not Scholes" akan sama lantangnya dengan "Deutsche fussball meister... Bastiaaan"
Adapun pertandingan Manchester
United musim ini yang tanpa kombinasi ketiganya terjadi diluar kompetisi Liga
Premier, yaitu pada pertandingan away Manchester United di Liga Champions
melawan PSV Eindhoven dan pertandingan Capital One Cup melawan Ipswich Town. Skema
kombinasi double-pivot pada 2
pertandingan tersebut hampir sama. Meneer Van Gaal lebih tertarik memainkan
kombinasi Schweni dengan Herrera. Dalam pertandingan versus PSV Eindhoven yang digelar
di Phillips Stadion itu keduanya sebenarnya tak buruk-buruk amat, bahkan bisa
dibilang cukup baik karena bisa menguasai lapangan tengah (ball possesion 38 berbanding 62 untuk united). Hererra pun pada
akhirnya diganti, dan apesnya bukan Schneiderlin atau Carrick yang masuk tapi
pemain-yang-dianggap-sebagai-juru-selamat-saat-united-terjepit, Fellaini.
Luis Van Gaal, pun menerima
'hukuman' dengan tak membawa satu poin pun dari pertandingan perdana fase grup
liga champions akibat mengingkari kombinasi impossible
triangle-nya. Sedangkan ketika melawan Ipswich Town, duet Schweinsteiger-Herrera
tak diganti Fellaini – mungkin ini alasan Manutd tak juga dihukum seperti saat
menghadapi PSV Eindhoven.
Pada akhirnya, LVG bisa saja
tutup mata, atau bahkan hitung kancing siapa yang akan mengisi double pivot united setiap pertandinganya.
Karena memilih 2 dari 3 jenderal lini tengah Manchester United musim ini tak
sepelik segitiga Penrose yang sangat membingungkan. Ketiganya adalah sosok
ideal diposisinya masing-masing. Masalah hanya akan muncul jika ada satu atau
dua dari ketiganya yang Cidera atau terkena larangan bermain. Karena nama yang
akan muncul adalah Hererra dan lebih apes lagi jika sampai nama Fellaini yang
keluar.
Jadi adakah kombinasi yang lebih
indah dari segitiga Carrick-Schweinsteiger-Schneiderlin?
Yang lebih mahal banyak.
Disclaimer:
Tulisan ini sudah rilis di rubik Pandit Sharing tanggal 16 Oktober 2015 https://www.panditfootball.com/pandit-sharing/186826/PSH/151016/sulitnya-memilih-dua-dari-tiga-gelandang-mu sejak saat itu saya belum menulis artikel kembali.
27 December 2014
Stand By Me
9:47 AM
2 comments
“Adalah cinta yang mengubah jalanya waktu, karena cinta waktu terbagi
dua, denganmu dan rindu kembali ke masa itu” – Rangga, Ada Apa Dengan
Cinta, 2014
Malam ini saya ditinggal dua
teman kos saya yang pulang lebih awal karena libur natal. Entah kenapa malam
ini terjadi kegamangan yang amat sangat dalam diri saya. Bukan karena
kesendirian saya malam ini, tetapi lebih karena saya tidak pernah ditinggalkan
mereka berdua sebelumnya, biasanya saya yang lebih dahulu meninggalkan mereka. Ternyata
ditinggal dan meninggal itu punya efek psikologis yang berbeda. Meskipun sekiranya
sama-sama sendiri, efek ditinggalkan ternyata jauh lebih dalam ketimbang
meninggalkan.
“Hukum Newton 3: Syarat untuk mencapai sesuatu adalah meninggalkan
sesuatu” – Interstellar.
Beberapa hari yang lalu, ketika saya
baru saja pulang dari kampung halaman, saat itu menunjukan pukul sepuluh malam
(mungkin lebih), saya hendak keluar membeli makan malam, namun uang di saku
saya ternyata tak sampai sepuluh ribu, kebetulan saat itu berjarak 3-4 hari
jelang gajian. Seketika saya mencari dompet untuk mengambil kartu ATM saya,
saat itu saya cukup terkejut mendapati ada uang lebih dari dua ratus ribu dalam
dompet saya. Sayapun langsung ingat ibu saya yang sedari sebelum berangkat
memegang uang itu, namun karena saya selalu menolak ketika dikasih uang oleh
ibu – lebih karena malu sudah bekerja namun dikasih uang dari seseorang yang tak
lagi bekerja.
Ternyata usut punya usut, uang
itu merupakan hasil penjualan mangga depan rumah saya, saya ingat sekali ibu
saya bercerita dengan bahagianya menjual 4 pohon mangga dengan total 600 ribu rupiah. Bagi sebagian orang mungkin itu hal yang
biasa. Namun bagi saya – terlepas ibu atau bukan yang memberi uang tersebut – memberikan
hampir separuh hasil bumi yang hanya satu
tahun sekali panen kepada orang yang tak pernah meminta bagian itu luar biasa. Pesan
singkat yang menambah haru malam itu dari ibu adalah: Lik, ibu naruh uang di dompet kamu, sekiranya tak usah ke ATM sampai
hari gajian nanti, ibu cuma ingin berbagi bahagia ibu ketika dapet rezeki.
“Parent are the future ‘ghost’ of their children” – Cooper, Interstellar.
Beberapa minggu yang lalu saya
mendapat wejangan yang amat sentimentil dari area manager saya mengenai waktu
dan relativitas. Beliau bercerita hal yang paling berharga saat ini bisa jadi adalah
waktu. Beliau pun bercerita mengenai awal karirnya dulu beliau bekerja tidak
sekeras sekarang dan dengan gaji yang bisa jadi lebih besar jika dilihat dari term off trade nya. Sekarang kita
bekerja lebih keras, dari jam 7 pagi sampai kadang jam 7 malam bahkan lebih, namun
mendapat imbalan/gaji yang (bisa jadi) lebih sedikit. Jangan-jangan kita mengalami
penurunan kualitas hidup. Apa yang membuat kita melakukan hal seperti ini?
Pada akhirnya kita akan sadar
bahwa waktu telah begitu dahsyat merubah way
of life dan way of thinking kita.
“We’ve always defined ourselves by ability to overcome the impossible,
and we count these moments. The moments when we dare to aim higher, to break
barriers, to reach for the star, to make unknown known. We count these moments
as our proundest achievement. But we lost all that. Our perhaps we’ve just
forgotten that we are still pioneers. And we’ve barely begun. And our greatest
accomplishments cannot be behind of us, because our destiny lies above us”
– Cooper, Interstellar, 2014.
Tapi sejujurnya meski dipenuhi
kutipan film, tulisan pendek ini bukan soal film, tapi soal kehadiran orang-orang yang
terdekat dan waktu yang akan merubahnya.
Time can be extended and flexes, but obviosly it can’t go back
Selesai.
17 November 2014
Satu Hal yang Masih Mengganjal pada Kenaikan Harga BBM Bersubsidi.
8:31 AM
0 comments
"Syarat mutlak sebuah benda mencapai tujuan/tempat tertentu adalah meninggalkan sesuatu (Hukum Newton) - Interstellar
Sejak saya masuk industri perbankan tepat satu tahun yang lalu, saya ingat pesan dari Paman saya yang sudah saya anggap sebagai Ayah saya sendiri, beliau berpesan: “Ketika kamu sudah masuk dunia tertentu (industri perbankan), tinggalkanlah bacaan-bacaan kamu yang lain, mulailah mengalihkan fokus kamu ke dunia barumu, agar kamu merasa benar-benar ada didalamnya” Saat itu Paman saya tahu betul saya sangat menggilai industri energi, terutama oil and gas. Beliau melarang saya untuk kembali membuka bacaan migas saya. Tapi kali ini saya ingin melanggarnya.
Sejak saya masuk industri perbankan tepat satu tahun yang lalu, saya ingat pesan dari Paman saya yang sudah saya anggap sebagai Ayah saya sendiri, beliau berpesan: “Ketika kamu sudah masuk dunia tertentu (industri perbankan), tinggalkanlah bacaan-bacaan kamu yang lain, mulailah mengalihkan fokus kamu ke dunia barumu, agar kamu merasa benar-benar ada didalamnya” Saat itu Paman saya tahu betul saya sangat menggilai industri energi, terutama oil and gas. Beliau melarang saya untuk kembali membuka bacaan migas saya. Tapi kali ini saya ingin melanggarnya.
Kali ini saya
ingin bernostalgia, kembali ke masa dimana saya bebas menikmati menulis dan
berdiskusi mengenai industri energi nasional. Sekarang saya sudah tak lagi
punya banyak waktu untuk memikirkan banyak hal diluar pekerjaan saya. Karena mau
tak mau, pekerjaan membuat pandangan saya dan banyak pekerja lainnya laksana
memakai kaca mata kuda, kita dipaksa hanya bisa melihat kedepan (itupun kalau
bisa) dan tidak diperbolehkan menengok ke kiri-kanan – selama belum ditemukan
kaca mata kuda transparan.
Sabtu kemarin
saya pulang menggunakan kereta menuju kampung halaman. Saat melewati sebuah stasiun,
saya melihat kereta pengangkut bahan bakar minyak yang sangat panjang, saya
sesaat terpaku melihat rangkaian kereta itu. Ada lebih dari 15 gerbong tanki minyak
bertuliskan Pertamina, dalam benak saya saat itu adalah: kelak ketika harga BBM
Bersubsidi naik dan mendekati harga keekonomianya (istilah populer yang
sebenarnya dipaksakan), apakah Pertamina masih akan “besar” seperti ini?
Tulisan pendek
ini, sebenarnya soal ke gusaran saya mengenai industri migas tanah air. Saya tak akan membahas mengenai 300
Triliun rupiah yang negara habiskan untuk subsidi energi (BBM dan Listrik) dalam satu tahun. Atau membahas kenapa
Presiden justru menaikan harga BBM justru saat harga minyak dunia turun ke
level 80 dollar perbarrel. Atau bahkan bahasan sepele soal pemerintah tak bisa
lagi menggunakan bahasa “Penyesuaian Harga BBM Bersubsidi” karena kata “penyesuaian”
itu lebih tepat jika harga minyak dunia tinggi sedangkan harga BBM kita rendah, yang akan saya bahas adalah soal
monopoli alamiah Pertamina.
Sebenernya cukup
terusik dengan hal sepele, jika nanti harga BBM Bersubsidi naik, lalu yang
terjadi kemudian adalah spread
(perbedaan/selisih) yang tak terlalu lebar antara harga BBM dari SPBU Lokal
(Pertamina) dengan SPBU Asing yang ada di Indonesia (Shell, Petronas, Total). Bisa
ditebak akhir dari cerita ini adalah runtuhnya monopoli alamiah oleh Pertamina
atas Bahan Bakar Minyak.
Memang benar
Pertamina tak dapat untung melimpah atas jualan premiumnya, namun patut di
ingat Pertamina besar karena jualan premium-nya. Jika kini Pertamina sudah
kalah telak di pertarungan industri hulu minyak, dimana hasil lifting minyak
harian pertamina (23 persen produksi minyak nasional) kalah dengan Chevron (42
persen) dan Conoco Philips (25 persen). Akankah beberapa tahun kemudian
perusahaan ini juga harus kalah di pertarungan industri hilir minyak?
Setidaknya ada 2
industri yang masih belum bisa banyak di-explore oleh investor asing di negeri ini. Keduanya
kebetulan adalah sama-sama bidang energi. Industri pertama adalah minyak dan
gas, sedangkan industri kedua adalah listrik. Kedua industri tersebut kurang
menarik bagi investor asing karena ada perbedaan harga yang ditentukan oleh pemerintah
– untuk industri kelistrikan lebih tertutup lagi, karena investasi untuk instalasi
listrik bukan perkara yang mudah. Namun,
kini satu barrier to entry industri minyak di negeri ini sudah dipastikan
terbuka besok pagi, bukan tidak mungkin industri kelistrikan juga akan menyusul
kemudian. Pada akhirnya industri energi tanah air cepat atau lambat akan
seperti industri perbankan saat ini, yang liberalisasinya sudah ada jauh
sebelum didengung-dengungkanya liberalisasi ekonomi.
Saya tidak kecewa atau khawatir harga BBM bersubsidi dinaikkan, karena dana 300 Triliun untuk pos subsidi sangat luar biasa besar, bisa untuk membangun 30 stadion sepakbola termahal di dunia seperti Wembley. Saya hanya khawatir
suatu saat nanti tak ada yang benar-benar bisa dikuasai oleh negeri ini. Tebakan saya ini akan terjadi jika setelah ini pemerintah juga akan menaikan Tarif Dasar Listrik (TDK).
Atau jangan-jangan kenaikan harga BBM ini hasil jualan presiden baru kita di 3 forum internasional minggu lalu: KTT APEC, ASEAN Summit, dan G-20. Saat itu presiden kita berulang kali menyebut: it's your opportunity? - undangan tersirat untuk masuk ke Indonesia.
Pada akhirnya anda
tak harus sepakat atau percaya pada tulisan mengenai industri energi yang
ditulis oleh seorang bankir, terlebih jika tulisan ini hanyalah sebuah
nostalgia belaka.
It's your opportunity, but our warning, right?
It's your opportunity, but our warning, right?
15 November 2014
Balada Tukang Tagih (Part 1)
9:48 PM
1 comment
Setidaknya ada dua hal yang
membuat saya tergerak untuk menuliskan ini. Hal yang pertama adalah
gambar di jejaring sosial mengenai dua ekor kelinci dimana salah satu kelinci
mencibir kelinci yang lain karena dianggap tak seberuntung dirinya yang memperoleh
daun wortel yang ditanamnya lebih besar.
Padahal buah wortel yang ada didalam tanah berbanding terbalik dengan daun
diatasnya. Success is not always what you
see. Hal kedua adalah karena saya dianggap tak mensyukuri pekerjaan saya
sekarang.
Bagi para perintis karir baru,
membandingkan antar pekerjaan adalah sudah bukan hal yang asing. Mungkin sudah
menjadi hal yang lumrah, terutama bagi sesama pekerja baru saling menanyakan
pekerjaan dan job desk, bahkan lebih ekstrim lagi menanyakan perihal insentif
atau gaji. Ada yang sangat percaya diri menjelaskan job desk atau bahkan gaji,
namu tak sedikit pula yang memendam kekecewaan, atau memendam rasa: kenapa saya tak seperti dia?
Mungkin anda pernah mengalami apa
yang saya alami. Entah karena kerendahan hati, tingkat kejujuran yang cukup
tinggi, saya jarang mendengar orang yang mencetuskan kalimat: I Love My Job!
Ketika ditanya mengenai pekerjaan pertama mereka. Jawaban yang lebih sering
saya dengar atas kesan dari pekerjaan mereka adalah: Ya begitulah, namanya kerja mana ada yang enak. Yang penting ngga
menganggur dan gaji lumayan. Atau bagi yang pernah bekerja mereka biasanya
menjawab: Dibandingkan dengan yang
kemarin sih lebih enak yang ini. Meski diucapkan tanpa nada antusias.
“Jauh lebih mudah untuk berdecak kagum atas apa yang dimiliki orang lain, atas daerah asing yang bukan tempat tinggal kita, untuk menganggap sesuatu yang beda dan baru itu lebih bagus” – Margaretha Astaman.
Hegemoni para perintis karir baru itu pun melanda
saya.
Sekitar 6 bulan yang lalu, saya
dan teman-teman sekelas saya yang tergabung dalam Officer Development Program sebuah Bank BUMN yang terdepan, terpercaya, tumbuh bersama Anda, harus
(mau-tak-mau) memulai fase hidup baru. Moment yang paling menegangkan setelah
lulus kuliah itu bernama: Penempatan. Singkat cerita waktu itu saya harus
menerima bahwa hidup saya untuk beberapa tahun kedepan tak akan jauh-jauh dari
label: Micro Collection Unit.
Setidaknya ada 3 alasan bagi saya
untuk kaget pada awal pengumuman penempatan saya dan hari-hari awal saya
menjalani peran baru saya. Alasan pertama, saya tak pernah mendengar sekalipun
divisi/departement tersebut sebelumnya. Entah tak mendengar atau memilih untuk
tak mendengar, minimal dalam rentang waktu 4 bulan saya mempelajari dunia perbankan - konon otak manusia hanya mengingat apa yang ingin ia ingat. Oleh karena saya
tak ingin menginggat tentang divisi/unit Collection maka saya pun berkilah tak
pernah mempelajari unit tersebut sebelumnya. Jangankan tau, ingat saja tidak.
Alasan kedua, bagi seorang knowledge worker (pembahasanya ada di
2 artikel sebelum ini) saya selalu mencintai hal-hal strategis, sedangkan
Collection lebih banyak pekerjaan yang Clerical, dalam benak saya ini ngga jauh
jauh dari white-collar worker, general
office task, atau keeping record.
Tanyakan pada teman sekelas saya atau teman kampus saya dulu. Betapa saya
mencintai hal-hal yang bersifat data dan strategis. Bahkan sampai sekarang saya
masih sering kepikiran kenapa struktur organisasi perusahaan saya berubah awal tahun nanti
menjadi sedemikian rupa, padahal itu sama sekali bukan tugas saya.
Alasan yang terakhir, saya tak
menyukai mikro. Didunia ini jika mau disederhanakan hanya ada dua jenis
karakter orang, pertama yang menyukai mikro (detail, aplikatif, dan hal-hal
kecil lainya) dan yang menyukai makro (konsep besar dan general theory). Sebagai
lulusan ilmu ekonomi, karakter saya dapat dikenali dengan mudah, tengok saja
transkrip lalu bandingkan nilai matakuliah Ekonomi Makro dan Mikro saya lebih
bagus mana? Saya masih ingat nilai mikro saya tak pernah lebih tinggi dari B - (minus).
Mungkin ini pekerjaan paling
menantang bagi perintis karier baru di dunia perbankan. Tak ada tekanan yang
lebih menantang dari pekerjaan ini. Saya tak mengatakan pekerjaan lain tak
menantang, saya yakin setiap orang diberi batasan-batasan oleh Tuhan untuk
diperjuangkan bahkan dilewati. Semua punya tantanganya sendiri. Namun,
setidaknya saya merasa beruntung, diawal pekerjaan saya, saya mendapati tekanan
dari empat sisi sekaligus, saya menyebutnya tekanan dari atas, bawah, kiri, dan
kanan. Tekanan dari atas (atasan) jelas semua pekerja merasakanya. Tekanan dari
bawah, tak semua pekerja memilikinya, apalagi memiliki 12 orang bawahan
langsung di awal karier seperti saya. Dari kiri saya menyebutnya tekanan dari
rekan kerja, dalam hal ini business unit (karena saya hanyalah seorang
supporting unit). Dan tekanan terakhir
tekanan dari kanan adalah tekanan dari debitur-debitur bermasalah, karena selalu
ada masalah disetiap debitur bermasalah. Tak ada perintis karir seberuntung
saya.
Tak hanya itu. Pekerjaan saya
sekarang sangat membutuh strategi dan managing people. Sesuatu yang saya
dambakan sejak dulu. Saya menyukai hal yang berbau strategic planing, dan saya
juga menikmati managing people. Sedari awal saya masuk perusahaan ini saya
mendambakan posisi di bagian Strategic Performance and Management, namun
pekerjaan saya sekarang juga tak kalah menantangnya untuk menyusun strategi
terbaik dalam penagihan, meskipun strategi yang saya pikirkan bukan strategi
bank-wide.
Saya pun menyadari ternyata
pekerjaan ini juga sangat makro. Benar pekerjaan saya mengenai tukang tagih
mikro, namun analisis yang saya gunakan sangat makro. Karena tiap hari saya
menganalisis portofolio yang bersifat mass product, saya dapat melihat behavior
debitur dalam level makro.
Saya mulai
menikmati pekerjaan ini karena saya bisa menjadi motivator tiap harinya.
Profesi sebagai motivator belakangan menjadi tenar karena banyak orang
membutuhkan stimulus dari pihak luar (eksternal) atas permasalahan hidup yang
semakin komplek. Namun bagi seorang motivator, kita takk dituntut untuk dapat
mengatasi semua kompleksitas hidup, yang dituntut oleh motivator adalah membaca
dan menyelami kehidupan dengan baik. Kita tidak bisa melakukan semuanya dengan
benar namun setidaknya kita dapat membaca dan melihat orang lain melakukan
sesuatu dengan benar. Saya menikmati proses itu.
Pada akhirnya saya tak perlu
meminjam mata orang lain untuk melihat begitu beruntungnya kehidupan dan
pekerjaan saya sekarang.
Bisa jadi frasa: Tuhan tak selalu
memberi apa yang kita inginkan namun tuhan selalu memberi apa yang kita
butuhkan, itu memang benar adanya. Bukan sekedar pembenaran oleh seorang yang
telah putus asa.
26 September 2014
Walkout: The New Political Gimmick
11:26 AM
0 comments
“Banyak orang bisa membedakan pembimbing
dengan bimbingan, pengarah dengan arahan, tapi tak bisa membedakan Pemimpin dan
Pimpinan” – Sudjiwo Tedjo
Saya terbiasa mengawali tulisan dengan kutipan
dan alasan kenapa saya menulis sebuah tulisan. Namun kali
ini saya belum menemukan alasan yang kuat kenapa saya memaksakan untuk menulis.
Jadi saran saya baca saja sampai akhir, atau tidak membacanya sama sekali.
Berbicara mengenai politik pasti
sebagian besar masih ada yang menganggap politik itu kotor, namun tenang saja sebisa
mungkin saya berusaha ketika anda membaca tulisan ini anggota tubuh anda tidak ada
yang belepotan atau baju anda yang ternoda karena kandungan politik di tulisan
ini cukup kentara. Jika anda mengijinkan, saya hanya akan mengotori pikiran anda.
Saya memilih isu walkout karena
sedang memang populer. Sesederhana itu. Bagi saya mengangkat isu yang sedang
populer lebih mudah dalam merangkai antar ide dan gagasan daripada
mengangkat isu yang tak lagi populer. Meski sejujurnya topik populer atau tidak tak mempengaruhi jumlah pembaca blog saya. Saya bukan orang terkenal.
Oke cukup. Seharusnya anda tidak
membaca 3 paragraf diatas, karena tulisan mengenai era baru perpolitikan di
Indonesia sesungguhnya berawal dari paragraf setelah ini. Jika anda sudah
terlanjur membaca, anggap saja sebuah foreplay
yang akan mempengaruhi hasrat membaca anda sampai puncak atau tidak.
Ketika saya ditanya sejak kapan
saya menyukai dunia politik saya akan dengan cepat menjawab tahun 1999 saat sidang
istimewa MPR dengan agenda pemilihan presiden. Sama ketika
saya ditanya sejak kapan menggilai Manchester United, saya akan dengan cepat
menjawab, saat final liga Champions 1999 ketika 2 gol telat menghantarkan Setan Merah mengalahkan Bayern Munich 1-2 di
Camp Nou. Mungkin keluarga saya baru beli televisi tahun itu juga (1999).
Kembali ke topik.
Saya sangat ingat sekali manuver
politik yang dilakukan oleh Poros Tengah kala itu. Ketika sebenarnya ada 3
calon presiden saat itu Abdurahman Wahid, Megawati, dan Yusril Ihza Mahendra. Namun
di detik-detik jelang pemungutan suara, Yusril Ihza Mahendra mendadak interupsi
untuk mengundurkan diri dari calon presiden. Belakangan terkuak bahwa manuver tersebut
adalah settingan oleh Poros Tengah untuk memuluskan jalan Abdurrahman Wahid
menjadi kepala negara.
Setelah itu saya sangat tertarik
pada gimmick-gimmick politik negeri ini seperti: banyak orang yang tidak tau
saat Jusuf Kalla menjadi wakil presiden statusnya belum menjadi ketua Partai
Golkar. Ketika beliau terpilih menjadi wakil presiden tak lama setelah itu
beliau ditunjuk sebagai ketua partai Golkar. Saat itu saya menyebut manuver
Golkar tersebut dengan sebutan membeli golden ticket jadi incumbent.
Gimmick lain yang saya ingat baik
adalak ketika pemilu 2004 juga, saat itu sama seperti sekarang ada debat
capres, namun lebih ramai saat itu karena tidak dilakukan dengan peraturan
seketat sekarang. Dari serangkaian debat
capres yang selalu hadir adalah pasangan Amien Rais – Siswono dan pasangan SBY –
JK. Padahal saat itu ada 5 pasangan capres-cawapres. Yang paling sering tidak
hadir undangan debat capres adalah Megawati, seingat saya hanya sekali itupun
karena kritikan bertubi-tubi tak berani menghadiri acara debat, jadi mungkin beliau lelah.
Saya juga ingat betul prosentase suara
yang diperoleh Amien Rais – Siswono di tahun 2004, hampir sama dengan prosentase
suara yang diperoleh pasangan Jusuf kalla – Wiranto di tahun 2009, yaitu
sebesar 14 persen. Ironisnya basis pemilih dua pasang itu sama yaitu mahasiswa,
keduanya menang telak di Yogyakarta dan Depok serta daerah kampus lainnya. Sampai
akhirnya saya berhipotesis kaum intelektual yang melek politik di negeri ini
hanya 14 persen. Semoga hipotesis saya salah.
Akhirnya tiba saat gimmick politik terbaru yang lagi hangat. Aksi walkout Partai Demokrat.
Saya sengaja menulis tulisan ini
dengan tidak didahului oleh menonton televisi sejak 2 hari yang lalu. Karena pasca
pilpres kemarin menonton televisi itu merupakan sebuah ketakutan tersendiri. Ketakutan
atas independensi cara pandang dan keberpihakan argumen. Seharusnya sih saya
sadar dari dulu jika keberpihakan media itu sudah ada lewat keberpihakan
individu jurnalis dan pimpinan media. Karena manusia tak ada yang bisa
benar-benar independen.
Setidaknya ada beberapa poin
penting sorotan saya mengenai kisah walkout dan sidang paripurna MPR mengenai
penetapan UU Pilkada dimana telah dicapai kesepakatan melalui voting bahwa
Pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD.
Pertama, aksi walkout Fraksi Partai
Demokrat (FPD) dua hari yang lalu merupakan pertunjukan politik yang cantik − saya
tak pernah memuji Partai Demokrat sebelum ini. Terlepas dari benar atau salah,
sikap FPD tersebut telah memukul telak Fraksi lawan mereka selam 10 tahun ini
(FPDIP). Berulangkali FPD sebagai incumbent ‘dikadali’ oleh fraksi oposisi,
masih ingatkah pansus century atau sidang paripurna kenaikan harga BBM? Siapa dalang
penggagas keduanya kalau bukan dari oposisi. Kali ini FPD giliran memukul balik
calon incumbent. Atau mungkin sudah tradisi oposisi menggertak incumbent di
Senayan?
Kedua, terlepas dari poin
pertama, sebenarnya saat ini FPD tengah terbelah karena menjalankan perannya
sebagai partai penyelenggara pemerintahan dengan peran sebagai calon oposisi. Jadi
satu kaki mereka sudah diluar, namun satu kaki lagi masih ada didalam. Apapun yang
diambil FPD bisa menjadi bahan serangan bagi lawan politik.
Ketiga, Entah kenapa yang beredar
luas di media sosial 2 hari ini adalah keputusan ini adalah kemunduran demokrasi.
Memang, saya sebenarnya cenderung mendukung pemilihan langsung kepala daerah,
namun faktanya undang-undang kita menganut sistem demokrasi kepartaian sejak
dahulu kala. Jadi setahu saya (mohon dikoreksi jika saya salah di bagian ini,
khususnya orang hukum silahkan beri pencerahan), harusnya yang salah itu yang
mencetuskan pemilihan secara langsung karena itu sesungguhnya melanggar hakekat
sila ke-empat, yang berbunyi Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Cukup baca
kata terakhir sila ke-empat saja.
Keempat, penelitian oleh dosen
saya yang menyebutkan partai politik adalah dalang dari sebagaian besar kasus
korupsi di negeri ini itu benar adanya. Saya menyakini hal ini. Karena partai
politik adalah mesin demokrasi, layaknya mesin kebanyakan, butuh energi untuk
menjalankanya dan menghidupi anggotanya. Padahal partai politik bukanlah badan
usaha yang bebas mencari energi itu dimana saja, maka muncul lah dana-dana yang
tak seharusnya ada. Namun, ketika anda mendebat pilkada langsung atau lewat
DPRD dengan alasan ini, kita tidak sedang membicarakan jika naik bus itu tidak aman
maka kita jangan naik bus. Kepala daerah buruk bukan soal cara pemilihannya. Ada pemilihan proksi (jika dalam penelitian) yang
salah jika anda menggunakan alasan tersebut.
“Parpol busuk? Karena terlalu banyak orang baik yang ingin meraih surga
sendirian” − Dzulfian Syafrian
Kelima, jika disuruh menuliskan
hal positif mengenai pilkada melalui DPRD, saya dengan gampang menyebut setidaknya
partai politik kini ada gunanya lagi (baca: penguatan partai politik sebagai
fondasi demokrasi). Oleh karena itu kita harus lebih aware terhadap pilihan
partai politik dan yang mewakili kita. Membela pendapat dengan membela orang yang
berpendapat itu berbeda.
Terakhir, bagi saya logika sangat keliru adalah ketika menyatakan Dewan Perwakilan Rakyat bukanlah Wakil Rakyat. Ini hampir sama dengan poin kedua diatas. Kalau Saya tidak ingin hanya orang-orang yang populer saja di mata masyarakat yang berhak berada di tampuk pimpinan, saat dimana tak ada lagi filter dan manuver-manuver politik cantik seperti saat tahun Sidang Istimewa 1999.
Lagian jika semuanya dipilih oleh rakyat apa bedanya pemimpin negeri ini dengan Indonesian Idol? Tidak selamanya menang secara jumlah itu menang secara kualitas.
Pada akhirnya, kelak jika
keputusan sidang paripurna Kamis malam lalu bakal diimplemetasikan, setidaknya
ada tiga pihak yang pasti akan dirugikan, yaitu lembaga survei (quick qount)
bayaran, percetakan kertas suara dan tukang sablon kaos, sticker, baliho.
Heuheuheu....
15 July 2014
Der Panser 2014: A Beautiful Process
7:02 AM
0 comments
"Getting bigger by getting better, we don't get better by getting bigger" - Edwin Gerungan, Mantan Komisaris Bank Mandiri
Entah kenapa saya sangat mengagumi kutipan diatas, bukan karena saya dengan pak Edwin menperoleh gaji dari perusahaan yang sama, namun saya merasa kutipan tersebut sangat mewakili indahnya sebuah proses jika dijalani dengan sebaik-baiknya. Kita menjadi besar karena kita lebih baik, namun kita tidak akan menjadi lebih baik karena kita menjadi besar.
Begitulah kira kira intro dari tulisan saya ini, sekaligus menggambarkan kesuksesan Timnas Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 buah dari proses panjang yang sangat indah menurut saya. Setidaknya poin-poin dibawah ini bisa menggambarkan kalo Tim ini tidak dibangun dengan instan. Cekidot:
Pertama, seingat saya titik balik kecemerlangan sepakbola Jerman pada awal millennium ke-3 ini adalah kala Tim Jerman gagal lolos fase grub di Piala Dunia 2004. Kala itu Jerman gagal bersaing dengan Republik Ceko dan Belanda yang akhirnya keduanya lolos
Ke fase knock out. Sebagai tim yang punya tradisi sepakbola yang agung, Jerman tak terima jika lolos fase grub di sebuah turnamen besar. Saat itulah reformasi sepak bola Jerman dimulai ketika federasi sepakbola Jerman (DFB) menunjuk pelatih yang belum pernah menangani sebuah club ataupun timnas, Jurgen Klismann. Perjudian yang luar biasa.
Kedua, perjudian DFB ternyata sukses besar, Jurgen Klismann berhasil membuat cetak biru bagi sepak bola Jerman, yang dilakukannya saat itu adalah membuat grand strategy dan menu latihan untuk timnas Jerman dan kemudian menyebarkanya ke seluruh tim yang ada di Bundesliga agar memberi porsi menu latihan tersebut. Hasilnya siapapun dan dari klub manapun di Bundesliga yang dipanggil ke Timnas Jerman akan langsung nyetel dengan latihan dan strategi Die Nationalmannchaft karena kurikulum nya sudah pernah diajarkan di level club. Jenius.
Ketiga, DFB merupakan federasi dengan tingkatan yang paling banyak. Tercatat tidak kurang ada 27 tingkatan yang terdaftar dan diatur oleh DFB dari tingkatan paling amatir kelas ‘tarkam' sampai Bundesliga 1 yang berisi pemain kelas satu di negeri asal dari Adolf Hitler tersebut. Sebuah pembinaan sepakbola yang sangat tersetruktur.
Keempat, Jerman merupakan negara yang sangat melek teknologi. Bukan soal Mercedez Benz, BMW atau Volk Wagen, namun teknologi aplikatif dalam sepakbola. Masih ingat dengan Footbonaut yang popular seiring kesuksesan Borussia Dortmund melenggang ke final Liga Champions 2013 lalu. Footbonaut adalah sebuah mesin yang mampu meningkatkan teknik pemain bola dengan melontarkan bola ke pemain yang kemudian harus menembakan ke 64 panel acak yang akan menyala random. Teknologi seharga 3 juta dolar AS ini sukses meningkatkan kontrol, stamina, kecepatan dan kualitas umpan para pemain Dortmund. Tak Cuma itu, teknologi selanjutnya adalah Match Insight besutan SAP (raksasa teknologi Jerman). Teknologi tersebut merupakan sebuah dashboard yang berisi seluruh data pemain yang ada di Bundesliga. Data yang disajikan cukup komplit seperti passing, daya jelajah pemain, lama menyentuh bola, dan masih banyak data lainya. Oleh karena teknologi ini Joachim Low tak mungkin salah ambil pemain.
Kelima, Timnas Jerman sejak era Klismann selalu menekankan kolektabilitas tim sebagai filosofi permainan. Tak ada pemain yang benar-benar menjadi kartu AS, kalrena semua pemain di tim Jerman punya peran dan kontribusi masing-masing. Tak heran anda pasti akan kebingungan jika disuruh menyebutkan bintang di Timnas Jerman 10 tahun terakhir ini? Mesut Ozil? Schweinsteiger? Manuel Nuver? Philip Lahm? Ada yang bisa menyebutkan bintang seperti Neymar di Brazil, Ronaldo di Portugal atau Messi di Argentina pada timnas Jerman?
"Apa yang kami raih hari ini tak bisa dipercaya. Selama 120 menit kami bekerja bersama-sama sebagai tim. Tidak penting anda punya pemain terbaik, karena yang anda butuhkan adalah tim terbaik" - Phillip Lahm, seusai pertandingan final lalu.
Keenam, keberhasilan Jerman menjadi juara Piala Dunia datang dari sukses mengembangkan sistem pembinaan pemain. Sebelum bertakhta di Piala Dunia 2014, separuh skuat Die Mannschaft menjuarai Piala Eropa U-21 di tahun 2009. Mereka adalah Manuel Neuer, Jerome Boateng, Matt Hummels, Benedikt Hoewedes, Khedira, Mesut Ozil. Mereka sudah berada di tim yg sama selama 5 tahun!
Ketujuh, sumber dana yang luar biasa besar untuk sepakbola Jerman. Bayangkan saja, ketika semua tim sibuk menyewa dan mendaftar kriteria basecamp untuk hotel, pusat kebugaran dan latihan di Brazil saat piala dunia lalu. Negara ini justru sudah mempersiapkanya lebih dari 6 bulan yang lalu dengan membuat semua fasilitasnya sendiri termasuk jalan menuju pusat latihan itu. Jika hanya untuk turnamen selama satu bulan Negara harus membangun fasilitas latihan sendiri dinegara lain, apa yang akan anda simpulkan? Orang kaya buang-buang duit!
Terakhir, anda boleh setuju dengan saya atau tidak, tapi faktor penyempurna kisah sukses mereka adalah Kanselir Angela Markel. Wanita nomer satu di Negara itu tak sungkan untuk menonton di tribun penonton ketika timnas Jerman bertanding. Tak hanya itu, Angela Markel bahkan sering masuk ke ruang ganti pemain dan memberikan motivasi langsung sesaat sebelum Jerman bertanding. Puncaknya di final kemarin tak hanya Angela yang datang, Presiden Jerman juga hadir di Maracana Stadion. Kepedulian pemimpin negara sangat penting untuk motivasi pemainya di lapangan. Leader always makes perfect.
Kombinasi 7 poin perjalanan panjang Tim Panser jerman menuju bintang yang keempat diatas logo federasi sepakbolanya memang menunjukan cerita manis di Maracana lalu itu tak mudah. Jerman menjadi besar seperti sekarang karena Jerman selalu lebih baik dan belajar tiap kali turnamen yang mereka ikuti, skuad jerman tahun ini tak sehebat Jerman 2012 atau 2010, namun prestasinya justru lebih tinggi, karena mereka belajar dari pengalaman.
Akan tetapi, terlepas dari serangkaian proses indah Timnas Jerman, saya hanya mau menekankan yang paling penting tentu saja segala cerita indah mengenai proses Timnas Jerman ini tak akan bisa dituliskan dengan indahnya jika tim ini tak menjuarai piala dunia. Seperti kutipan dari tokoh idola saya Dahlan Iskan:
"Jadi kalau bekerja orientasinya harus kepada hasil, jangan pada proses, kelihatanya sibuk sekali tapi menghasilkan atau tidak?"
"Jadi kalau bekerja orientasinya harus kepada hasil, jangan pada proses, kelihatanya sibuk sekali tapi menghasilkan atau tidak?"
Oh iya karena saya orang yang menghargai proses tak seharusnya saya menulis tulisan ini saat jam kerja, karena ini bukan ‘proses' saya. Maafkan saya pak direktur.
Weltmeister Die Nationalmannschaaft!
06 May 2014
Sebuah Cerita dari Negeri Dongeng Bertajuk Konsolidasi Perbankan (Part 1)
8:42 AM
0 comments
“Sebagian besar dari kita hanya mau melakukan empat hal: Bayar pajak,
nyoblos, mengkritik, atau memuji. Tapi kalo untuk terlibat? Kalau bisa, tidak
usah” - Anies Baswedan
Mungkin Pak Anies berlebihan,
yang saya tau sebagaian besar orang di negeri ini adalah mereka yang: terpaksa-bayar-pajak,
nyoblos-kalau-ada-amplop, lalu-mengkritik-dan-memuji-dengan-membabi-buta. Padahal
menurut hemat saya orang yang tak membayar pajak tak etis bila mengkritisi
program pemerintah, begitu pula dengan orang yang tidak menggunakan hak nya
dalam pemilu seharusnya juga tak punya hak untuk menghujat pemimpin terpilih. Tapi
di negeri dongeng yang kita cintai ini semuanya ada dan bisa terjadi.
Jika pak Anies saya katakan
berlebihan maka judul tulisan ini justru kurang berlebihan. Saya kesulitan
mencari analogi mengenai sebuah negeri yang nyaris mirip kahyangan, dimana
ide-ide briliant berserakan, mimpi-mimpi luhur bertaburan dan segala bentuk
khayalan yang lain ada di sini, yang terpikirkan saya selama satu jam terakhir
ini hanyalah frase negeri dongeng, seharusnya bisa lebih tendensius.
Tulisan ini lahir sebagai bentuk
ke-geram-an saya ketika saya mendengar ada beberapa pengamat yang berujar “Kalau itu memang direncanakan dengan matang
kan seharusnya dibicarakan kemarin-kemarin dong, bukan menjelang pemilihan
presiden seperti sekarang ini” saat
ditanya isu konsolidasi perbankan yang menyeruak satu bulan terakhir ini. Saya pun
tertenduk lesu.
Sebagai mahasiswa ilmu ekonomi
saya masih ingat betul ketika mata kuliah ekonomika bisnis, dosen saya saat
Tony Prasetiantono (Chief Economies BNI 46 kala itu) dengan percaya diri
memaparkan data perbankan di ASEAN kala itu (sekitar 2-3 tahun yang lalu) dan
saya juga masih ingat beliau berujar: dalam arsitektur perbankan indonesia
sebenarnya kita diamanatkan hanya memiliki satu-dua state-owened-bank, dan beberapa bank swasta, dan bank daerah (total
jumlah bank ideal menurut API 2004 sekitar 30an) padahal sekarang jumlah bank
yang ada di negeri ini sekitar 130an bank! Saya kira mahasiswa ilmu ekonomi,
manajemen atau akuntansi yang berminat di bidang financial and banking tahu mengenai fakta ini.
Jadi saya tegaskan konsolidasi perbankan itu bukan berita baru, ini cita-cita mulia dari praktisimaupun otoritas perbankan sejak dulu kala, ketika bank di negeri ini mulai tumbuh subur bak jamur dimusim penghujan. Selama itupula para praktisi perbankan mendambakan sebuah lembaga keuangan yang kuat dan mengakar agar tak mudah tumbang. Entah ini sudah berapa puluh atau ratus orang yang menulis artikel mengenai topik ini, saya tak peduli, anggap saja ini adalah kontribusi saya atas isu ini.
Saya juga ingat sekitar setengah
tahun yang lalu, ketika di kampus saya mengadakan CEO’S Mengajar, kalau saya
tak salah (saya justru lupa nama acaranya) tapi saya ingat kutipan dari Pak
Budi Gunadi Sadikin, Dirut Bank Mandiri yang menjadi keynote speech di acara tersebut,
beliau berujar seperti ini “Kalo
perbankan di Indonesia mau unggul mau jadi leader di nasional atau regional, kita
musti bersatu, ngga bisa kita berjuang sendiri-sendiri, padahal kelemahan kita selama
ini adalah susah bersatu”
Sumber: Statistik Keuangan Indonesia, Statistik Perbankan Indonesia, diolah oleh: srikripik.wordpress.com
Sekedar pemanis tulisan: Data
terbaru dari Bank Mandiri, dari sisi modal, perbankan yang modalnya paling
besar di ASEAN berasal dari Singapura yang masuk 3 besar. Bank itu adalah DBS
dengan jumlah modal US$ 26,5 miliar, diikuti dengan UOB US$ 19,2 miliar, dan
OCBC dengan modal US$ 18 miliar. Sementara dari sisi kapitalisasi pasar, bank
terbesar di ASEAN adalah DBS asal Singapura dengan nilai US$ 33,1 miliar dan
diikuti oleh OCBC dengan nilai US$ 27,7 miliar. Sementara dari sisi aset, 3
bank Singapura juga menempati 3 besar di ASEAN, yaitu DBS dengan aset US$ 318,4
miliar, OCBC dengan aset US$ 268,1 miliar, dan UOB dengan aset US$ 225,2
miliar. Data ini mengingatkan saya pada iklan minuman ringan, apapun
kriterianya (Assets, Market Cap, Capital) yang terbesar tetap bank dari
Singapura.
Lalu bagaimana dengan Indonesia,
ketika beberapa bulan yang lalu menteri BUMN Dahlan Iskan mencetuskan (kembali)
ide konsolidasi perbankan dengan diawali dengan Marger Bank Mandiri dengan Bank
Tabungan Negara, serta Bank Rakyat Indonesia yang akan di merger dengan PT.
Pegadaian, banyak pihak mengkritik membabi-buta. Bahkan berita terbaru,
akuisisi dipastikan gagal, sang mentri bahkan dicap hanya melakukan manuver
politik jelang pemilihan presiden. Saya sedih.
Undzur Ma Qolaa Walaa tandzur man qolaa..
Hadist yang berarti “Lihatlah apa
yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan” diatas setidaknya bisa
mencerminkan ketakutan saya mengenai kasus ini. Saya takut yang ditentang
disini adalah soal personal, pembawa ide, bukan dari ide itu sendiri. Saya akan
paham dan mengerti jika yang terjadi memang pertarungan ide dan gagasan, saya
juga mulai menyadari jika bank besar tidak serta merta dikatakan efisien. Namun
marilah bersama-sama berpendapat tanpa melihat siapa yang memberikan pendapat,
tapi melihat pendapat itu sendiri.
Pada akhirnya, kita harus
meyakini bahwa: manusia hanya bisa berencana, politikus yang menentukan.
(Mungkin belum) Selesai.
01 May 2014
Dikotomi Pertumbuhan Bisnis Bank: Organik dan Non Organik?
2:54 AM
0 comments
“Pertumbuhan organik adalah tingkat ekspansi bisnis melalui
peningkatan output dan penjualan.” -Peter F Drucker
Sejujurnya saya lebih tertarik
dengan ‘temuan’ Peter F Drucker mengenai knowledge worker daripada
kutipan diatas, namun untuk kepentingan kesesuaian dengan judul tulisan saya memutuskan
untuk menaruhnya di awal dan untuk kepentingan kesamaan saya juga akan sedikit
menjelaskan tentang knowledge worker.
Dalam bukunya yang berjudul Landmark
of Tomorrow yang terbit ditahun yang sama dengan terbitnya Dekrit Presiden
Soeharto itu (1959), bapak manajemen modern tersebut menjelaskan panjang lebar
mengenai istilah pekerja intelektual, namun secara singkat knowledge worker adalah seseorang yang
dipekerjakan berdasarkan pengetahuannya tentang subyek tertentu, bukan
berdasarkan keterampilannya membuat atau mengerjakan sesuatu. Sebagai seorang
pekerja yang tak terlalu hebat soal pekerjaan teknis dan tak terampil
administrasi, saya merasa telah ditunjukkan sebutan yang tepat untuk pekerja
seperti saya ini, terimakasih Ducker!
Kembali ke benang merah.
Seperti kita ketahui setiap awal
tahun bank-bank besar selalu mengadakan pertemuan yang dinanti untuk disimak
hasilnya oleh para pemangku kepentingan dan pengamat perbankan. Adapun pertemuan
awal tahun (sebut saja Rapat Umum Pemegang Saham) memiliki setidaknya dua
agenda penting yaitu paparan pencapaian keuangan dan Rencana Bisnis Bank (RBB),
keduanya menarik, tapi bagi knowledge worker yang menyukai strategi seperti
saya ini, saya lebih tertarik pada point yang kedua. Rencana Bisnis Bank
menarik karena mengajak kita untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi di
perusahaan ini dimasa mendatang.
Pada pertemuan yang membahas
mengenai Rencana Bisnis Bank, biasanya ada dua strategi besar yang paling mudah
digunakan oleh praktisi ataupun pengamat untuk menggambarkan pola bisnis yang
akan dilakukan pada masa mendatang, yaitu pertumbuhan organik dan anorganik.
Metode pertumbuhan organik adalah pertumbuhan dari dalam atau
pertumbuhan yang mengharuskan perusahaan
untuk memaksimalkan sumber daya internal mereka. Dalam kata lain merupakan strategi
pertumbuhan perusahaan yang menggunakan pendanaan dari dalam, berasal dari
akumulasi laba yang ditahan ditambah dengan hutang.
Sedangkan pertumbuhan anorganik merupakan strategi
yang mengandalkan pertumbuhan dari luar perusahaan, atau strategi perseroan
untuk mempercepat pertumbuhan dan memperkuat jaringan sebagai konglomerasi
lembaga keuangan.
Terkadang ketika saya tak
fasih menjelaskan definisi, maka saya akan langsung saja menuju contoh.
Di negeri yang kita
cintai ini ada 2 BUMN besar yang merupakan perwakilan sempurna untuk pembedaan
dua strategi bisnis bank tersebut, yaitu Bank Rakyat Indonesia yang bangga
dengan pertumbuhan organiknya dan Bank Mandiri bank-yang-sejak-dulu-kala-percaya-diri-dengan-pertumbuhan-anorganik.
Mari kita simak pendapat
dari masing masing kubu mengenai strategi perseroannya.
"Kita akan
meningkatkan bisnis secara anorganik dalam tiga tahun ke depan, Sehingga dapat
menjaga performa bisnis perseroan secara keseluruhan. Pertumbuhan anorganik
merupakan strategi perseroan untuk mempercepat pertumbuhan dan memperkuat
jaringan sebagai sebuah lembaga keuangan terbesar" – Pahala N Mansury,
Direktur Keuangan Bank Mandiri.
“Fokus kami
mengembangkan pertumbuhan organik dalam arti kata memperluas dan menjangkau
pasar yang belum tersentuh. Kami tetap concern ke pertumbuhan organik, jangan
sampai kita mengembangkan bisnis anorganik tapi lalai untuk memperbesar fokus
bank. Jadi kami sangat fokus kembangkan BRI dari dalam dulu.” Sofyan
Basir, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia.
Jelas tergambar keduanya bersebrangan, bahkan ada yang menyindir
strategi yang lain. Bank Mandiri terlahir dari proses mager sendari dulu sering memberikan porsi pertumbuhan
anorganik lebih besar. Bahkan dalam Rencana Bisnis Bank Mandiri tahun ini telah
menyiapkan dana kurang lebih 10 Triliun (lebih dari setengah dari laba BMRI
tahun ini) guna menopang pertumbuhan anorganik, dengan rincian 3 triliun untuk
menggenjot permodalan anak perusahaan yang telah ada, dan 7 triliun untuk
mengakuisisi anak perusahaan yang lebih besar dari anak perusahaan yang telah ada (anak perusahaan Bank Mandiri: Bank Mandiri Syariah, Mandiri Sekuritas, Mandiri Tunas Finance, Bank Sinar Harapan Bali, AXA General Insurance, AXA financial Service, Bank Mandiri Europe Lmtd, Bank Mandiri International Remittance, dan yang terbaru InHealth insurance).
Bagaimana dengan rencana bisnis bank BRI? Beberapa hari yang
lalu bank jagoan kredit mikro itu mengumumkan telah membeli satelit seharga 2,5 triliun, mereka mengklaim
itu adalah satelit perbankan pertama di dunia. Hanya untuk menghubungkan sistem
dan jaringan ATM dan Cabang diseluruh Indonesia, BRI berani untuk berinvestasi
sebesar itu. Mereka tidak terlalu tertarik untuk ‘belanja’ perusahaan lain,
untuk menopang pertumbuhan bisnisnya, mereka fokus membenahi bank dari dalam. Luar
biasa sekali.
Lalu lebih baik mana organik atau anorganik?
Jika saya ditanya seperti itu, sebagai penggila bola saya
akan dengan mudah mengasosiasikan pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang paling familier didunia Sepakbola: Lebih baik sepakbola menyerang atau bertahan? Maka jika
pertanyaan itu yang mengemuka, jawabanya adalah faktor ‘Selera’ atau ‘Karakter’.
Seorang pemuja sepakbola bertahan pasti kekeuh dengan falsafah “bertahan adalalah
penyerangan terbaik”, sebaliknya pemuja Kick
And Rush atau Total Football
pasti menolak dengan lantang falsafah tersebut, “ bertahan itu membosankan”.
Bagi saya, pertumbuhan organik itu sama halnya dengan
sepakbola bertahan, pertumbuhan yang sedikit resiko, lebih ekonomis, namun konservatif.
Sedangkan pertumbuhan anorganik itu manifestasi sepakbola menyerang yang rentan
dengan resiko, menghabiskan banyak tenaga, namun seringkali penuh tepuk tangan.
Jadi sekali lagi tidak ada yang lebih baik, ini perkara ‘selera’ dan ’Karakter’.
Tapi sejujurnya saya lebih suka sepakbola Inggris daripada
sepakbola Italia.
Selesai
Semacam disclaimer: ini tulisan pertama saya mengenai
perbankan, tulisan pertama saya ketika telah resmi menjadi bankir (semoga bisa
disebut demikian karena saya telah mengantongi sertifikasi bankir level satu), tulisan
pertama saya sejak resmi meninggalkan bangku perkuliahan. Jadi bilamana banyak pemahaman
yang sekiranya keliru, analogi yang berlebihan, atau bahasan yang tak fokus
harap dimaklumi saja.
Sepertinya saya hanya sibuk
mencari pembenaran. Alangkah mulianya jika anda tak membaca paragraf sebelum
ini.
Selamat Hari Buruh Internasional,
semoga kelak ada Hari Kelas Menengah Internasional. Heuheu
10 October 2013
Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan (Part 2 - Habis)
3:19 AM
0 comments
“Perepuan adalah mahluk
gaib urutan satu, urutan kedua baru Tuhan” – Jalaluddin Rumi
Akhirnya saya memiliki kesempatan
untuk meneruskan postingan sebelum ini, meski waktu banyak saya miliki, namun
kesempatan tak selalu berbanding lurus dengan waktu. Izinkan saya untuk membaca
tulisan saya sebelum ini, sembari mengingat ingat apa yang ingin saya ceritakan.
Seingat saya malam itu tak
terlalu dingin, matahari baru saja masuk ke peraduan setelah seharian
menghangatkan mahluk bumi. Kedamaian pergantian siang dan malam ketika langit
sedikit menggelap sehabis magrib adalah kombinasi suasana yang indah. Saya pun masih khidmat memandangi sudut
bangunan megah yang menjadi rumah siang saya selama 4 tahun terakhir − karena biasanya
saya hanya kembali ke kosan hanya untuk tidur.
Seperti yang saya ceritakan
sebelumnya, menjelang malam itu tak banyak orang yang hilir mudik seperti
layaknya kampus dikala malam. Maka tak banyak yang mengalihkan perhatian saya
saat itu. Hanya terlihat seorang gadis berpawakan agak tinggi, berdandan
sekenanya sehingga lebih terlihat urakan, namun terlihat nyaman, tengah
berjalan bergegas entah kemana. Dengan menenteng beberapa buah buku teksbook dan buku
catatan canggih buatan Cupertino,
California dengan logo buah yang
terkenal itu, gadis tinggi yang terlihat urakan ini berjalan sembari
menempelkan telpon genggamnya ke telinganya. Saya tak yakin ia benar-benar
menelpon atau hanya kamuflase ditengah keramaian saja.
Saya memutuskan tak terlalu
mengamatinya lebih jauh lagi. Namun, tiba-tiba saya dikagetkan oleh gadis berkacamata,
berbaju polo biru menenteng tas berwarna biru bergaris putih dipundaknya lewat
disebelah saya. Entah dari mana datangnya tiba-tiba gadis itu lewat disamping
saya, dia-pun seketika tersenyum melihat saya sedikit terkagetkan. Sempertinya
saya mengenali senyumanya gadis itu, senyuman yang khas melengkung indah dan membuat
lekukan di ujung bibir dan mengangkat sebagian pipinya. Saya pun menimpali senyumanya meski dengan perasaan yang sedikit masih terkaget-kaget.
Setelah gadis berbaju polo biru lewat,
saya mendapati dua mahasiswi sedang mengobrol serius dibawah salah satu pohon
besar di kampus saya. Mahasiswi yang pertama terlihat anggun sekali dengan
mengunakan baju motif batik terusan sampai sedikit diatas lutut. Baju terusan yang
membuat saya teringat pada pramugari Singapore Airlines namun yang ini hadir
dengan versi lebih pendek. Mahasiswi yang kedua lebih simpel, hanya memakai
kaos berwarna abu-abu dengan lengan berwarna merah maroon serta jilbab tipis
berwarna krem. Melihat raut muka keduanya, nampaknya mereka sedang berdiskusi
membicarakan organisasinya. Ah saya tak terlalu peduli apa yang sedang mereka
bicarakan, bisa jadi sedang membicarakan saya.
Entah kenapa malam itu lebih banyak wanita yang saya temui
ketimbang laki-laki. Bisa jadi seperti kutipan diawal tulisan ini benar adanya.
Aktivitas saya mengamati
sekeliling sembari memasukan kepingan memori yang ada dikampus saya untuk
dikenang suatu saat ternyata membuat saya tak sadar saya telah diamati dari
jauh. Iya saya sedang diamati dari jauh ternyata − atau saya yang terlalu percaya
diri. Terlihat ada dua mahasiswa berada dibawah tenda yang berpadu dengan
kegelapan. Bahkan saking berpadunya saya tak bisa melihat dengan jelas salah
satu mahasiswi tersebut hanya mahasiswi berjilbab merah muda dan atasan merah
muda namun lebih tua dari jilbabnya. Dirinya tertangkap membuang pandanganya
ketika saya pergoki dirinya mengamati saya dari kejauhan.
Mungkin sebaiknya saya mengakhiri
proses perekaman kenangan di kampus saya malam itu, daripada saya mengetahui lebih banyak lagi yang mengamati ku dari jauh, terlebih tak baik rasanya berdiri
seorang diri ditengah plasa kampus ketika hari semakin larut malam. Namun
sebelum beranjak pulang menyempatkan untuk sholat Magrib terlebih dahulu.
Selepas Sholat Magrib saya
bergegas menuju tempat parkir, namun ditengah perjalanan saya melihat gadis
yang sepertinya beberapa saat lalu saya melihatnya di bawah pohon besar itu,
namun kali ini ia sendirian duduk di sebuah bangku panjang dan mencoba
menyibukan diri dengan telepon genggamnya, sepertinya ia sedang menunggu
seseorang. Dalam keadaan satu-lawan-satu tersebut keputusan untuk menyapa atau
sekedar senyum seperti kasus prisoner’s
dilemma pada mata kuliah Game Theory.
Teori tersebut menyebutkan bahwa payoff tertinggi
hanya didapat ketika dua pihak melakukan hal yang sama. Pada kasus ini saya
memutuskan untuk tidak memberikan senyum atau sekedar menyapa karena hal itu
pula yang dilakukanya dan berpura-pura tak melihat saya, mungkin demi payoff
yang maksimal juga.
Ah.. saya jadi lupa ingin menceritakan apa sebenernya, saya cuman
ingat, suatu saat, jika kamu meninggalkan suatu tempat, tapi sama sekali tak
dikenang oleh orang-orang ditempat itu, itu salah mu.
Selesai.
Oh iya saya ingin menceritakan pada adik baru saya yang
belum ada satu semester aku memanggilnya adik. Biasanya dia tau lanjutan cerita
ini akan seperti apa. Biasanya.
01 October 2013
Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan (Part 1)
6:43 PM
0 comments
“Jangan-jangan Tuhan menyisipkan harapan bukan pada nasib dan masa
depan, melainkan pada momen-momen kini dalam hidup — yang sebentar, tapi
menggugah, mungkin indah” — Goenawan Muhamad.
Malam itu saya berdiri
ditengah-tengah halaman kampus saya. Tak banyak mahasiswa yang hilir mudik,
hanya beberapa terlihat duduk melingkar semacam berdiskusi, dan beberapa yang
lewat hendak menunaikan sholat Maghrib. Tak banyak yang saya lakukan saat itu,
saya hanya berdiri tepat ditengah plasa kampus lalu menyapu pandangan ke segala
penjuru kampus, sembari menangkap semua momen yang masih teringat dalam kepala.
Saya memaksakan potongan-potongan moment yang telah saya kumpulkan selama 4
tahun ini kemudian memaksakanya masuk kedalam kepala. Dalam benak saya saat itu
hanya: Suatu saat saya akan merindukan tempat ini.
Entah kenapa ada orang yang sangat
menikmati nostalgia seperti saya ini, meski ada pula orang yang dengan mudahnya
melupakan darimana ia berasal dan lupa bagaimana bisa menjadi seperti yang
sekarang. Saya tak tahu mana yang lebih baik, seperti saya menganggap Extrovert itu yang terbaik (seperti pada
tulisan-tulisan kepribadian, Extrovert
lebih sering di asosisiakn positif) karena merupakan pribadi yang seru, tak
membosankan, ramah, dan selalu terlihat bersemangat. Namun ternyata Tuhan juga
menciptakan Introvert sosok yang
lebih bijak karena berbagi hanya hal tertentu dan pada orang tertentu pula,
mereka juga lebih sempurna memperhatikan detail. Semua akan benar pada
tempatnya.
Bagi sosok penikmat nostalgia,
saya dapat dengan jelas mengingat kala pertama kali saya menuntut ilmu di kampus
ini, hari itu hari senin akhir Agustus 4 tahun yang lalu, perkuliahan dimualai
jam 7.00 tepat, dan saya sampai dikelas pukul 6.50 dan mendapati dosen sudah
berada diruangan kelas pengantar bisnis tersebut. Tentunya saya ingat kuliah
terakhir di kampus ini — sekitar 3 bulan yang lalu. Saya mengingatnya karena
saya ingin mengingatnya.
Ada yang bilang bahwa apabila
seorang hidup dengan cinta maka dia sudah hidup di surga sebelum mati. Seperti sajak
Dr. Leo Buscalgia dalam bukunya yang berjudul “Love” menceritakan dirinya ketika diilhami membuka “Love Class” di University of Southern
California karena pada musim dingin 1969 salah satu muridnya yang pintar dan
cantik serta berasal dari keluarga berkecukupan bunuh diri di pantai Pasific
Palisades di Los Angeles. Inti buku tersebut dinyatakan dalam kalimat “Love requires one to be strong”, cinta
membutuhkan seseorang untuk menjadi kuat.
Mungkin dalam konteks mahasiswa
kekinian, keputusan bunuh diri dirasa terlalu kejam, namun bukan tidak mungkin
banyak mahasiswa sekarang menjalani masa-masa menjadi mahasiswa dengan hati
yang telah terbunuh, menjadikan hari-hari perkuliahanya hanya sebatas rutinitas
nan kering makna — jika saya tak berlebihan.
Saya mencintai kehidupan 4 tahun
terakhir ini, cinta ini membuat segala sesuatunya menjadi menarik untuk
diceritakan. Namun pada akhirnya saya tak boleh terlena atas cinta yang saya
ciptakan. Jika saya tak salah ingat Goenawan Mohamad pernah berujar: ada sebuah negeri yang ingin sekali anda
tinggalkan, namun entah kenapa anda tak bisa meninggalkanya, saya ingin
menggantinya dengan bisa jadi ada tempat yang sebenernya tidak ingin kau
tinggalkan, tapi bagaimanapun anda harus meninggalkanya.
Terima kasih Tuhan, telah memberikan saya kesempatan untuk
menunaikan mimpi ini dengan baik.
Jabat tanganku, mungkin untuk yang terakhir
kali
Kita berbincang tentang memori di masa itu
Peluk tubuhku usapkan juga air mataku
Kita terharu seakan tidak bertemu lagi
Bersenang-senanglah
Karna hari ini yang kan kita rindukan
Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa
depan
Bersenang-senanglah
Karna waktu ini yang kan kita banggakan di
hari tua
Sampai jumpa kawanku
Semoga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Mungkin diriku masih ingin bersama kalian
Mungkin jiwaku masih haus sanjungan kalian
Bersambung... Karena saya harus mengemas barang-barang yang begitu banyak agar muat di koper.
26 September 2013
September 2013: Momentum Awal Lari Marathon
12:11 PM
0 comments
“Anak muda jangan hanya
menyiapkan diri untuk lari Sprint,
tapi harus siap untuk lari Marathon” –
Bima Arya
Oh iya jika ditanyakan kepada pasangan suami-istri, perihal pilihan sprint atau marathon, jawabanya mereka saya yakin seperti ini: Marathon lebih asik daripada Sprint.
Begitulah kira-kira tulisan yang
ada pada back cover semacam buku
biografi dari seorang pemuda yang kini telah menjadi bupati Bogor. Saya tak
terlalu penasaran untuk membuka segel buku tersebut, oleh karenanya saya hanya
melihat back cover dari biografi
tersebut dan langsung tertarik dengan kutipan tersebut.
Kutipan tersebut selaras dengan
yang saya lakukan tadi sore di kampus tercinta – yang sebentar lagi akan saya
tinggalkan ini. Sore tadi saya memilih menghabiskan waktu untuk menguji
ketahanan fisik saya dengan berlari non-stop
mengelilingi sebagian kampus yang memang biasa digunakan oleh muda-mudi untuk
berlari atau sekedar jalan-jalan sore. Ditempat itu banyak sekali terlihat yang menggunakan segala tenaganya untuk berlari sekencang mungkin, lalu satu putaran
berikutnya mereka hanya bisa berjalan untuk mengembalikan energinya, lalu
putaran berikutnya mereka berlari kembali. Sore tadi saya tak tertarik untuk
melakukan hal serupa. Saya memilih menggunakan energi saya dengan bijak, its
means saya tidak berambisi untuk beradu lari dengan mereka, namun saya hanya
melakukan lari-lari kecil dengan kecepatan konstan, tanpa henti, sembari
mengukur seberapa kuat tenaga bijak yang telah saya miliki dalam tubuh saya.
Frasa sprint dalam kutipan diatas mengacu pada memaksakan fisik untuk
melesat secepat mungkin dalam jangka pendek. Poin penting didalamnya adalah
kecepatan dan jangka pendek. Dalam lari Sprint tidak ada istilah menyimpan
tenaga, yang ada memaksakan tenaga utuk melesat dengan kecepatan maksimal. Konteks
sprint juga hanya diasosiasikan dengan jangka pendek, karena jarak lari sprint
yang diperlombakan juga tak pernah lebih jauh 400 meter, jika lebih dari itu
semua akan mati atau kalau meminjam kata ekonom paling terkenal se-kolong jagad,
John Meynard Keynes: In the long run we
are all dead.
Sedangkan frasa Marathon dalam
kutipan diatas mengacu pada perlombaan lari jarak jauh, untuk menjadi yang
tercepat sampai pada suatu lokasi. Nama marathon berasal dari legenda
Pheidippides, seorang prajurit Yunani, yang dikirim dari kota Marathon, Yunani
ke Athena untuk mengumumkan bahwa bangsa Persia telah dikalahkan pada
Pertempuran Marathon. Marathon tidak meninggalkan hakekatnya sebagai perlombaan
adu cepat, namun penekanan selanjutnya ada pada jangka panjang dan ketahanan
tubuh. Tanpa daya tahan mustahil bisa memenangi lari Marathon, dan bisa saja
berujung seperti pada kisah prajurit marathon Yunani tersebut dimana ia berlari
tanpa berhenti tapi meninggal begitu berhasil menyampaikan pesannya tersebut.
Lalu apa urusanya lomba lari
dengan saya?
Pada bulan September ini semua
tenaga yang telah saya curahkan dan investasikan selama 4 tahun ini menuai
hasil. Saya berhasil mendapatkan dua buah pencapaian yang bisa jadi sangat
signifikan dalam hidup saya. Pada bulan ini saya berhasil menyelesaikan studi
saya tepat pada hari ulang tahun saya 20 September lalu. Sungguh pencapaian
yang luar biasa bagi saya mengingat menjadi mahasiswa Gadjah Mada adalah
sesuatu yang membanggakan, namun menjadi alumni Gadjah Mada adalah kehormatan.
Jika seorang Anies Baswedan berujar “Skripsi yang baik adalah skripsi yang
selesai” maka di tangan saya kalimat itu sedikit mengalami gubahan menjadi “Kuliah
yang baik adalah kuliah yang selesai” ya saya bisa berkata demikian sombongnya
karena saya telah merasakan kesombongan serupa dari orang lain. Kuliah bukan
perkara seberapa tinggi indeks prestasi, atau seberapa banyak pengalaman
organisasi, tapi kuliah yang baik cukup dituntaskan dengan kata kelulusan.
Belum hilang efek kesenangan saya
pada tanggal 20 September lalu, empat hari berselang saya mendapati kabar bahwa
saya lolos seleksi masuk pekerjaaan pada sebuah Bank BUMN dengan asset terbesar
di negeri ini yang proses panjangnya saya ikuti sejak sebulan silam. Sungguh
rezeki yang tak terduga-duga di bulan bahagia ini, karena saya tak perlu
menunggu prosesi wisuda kemudian mencari-cari pekerjaan, namun sudah
dihamparkan jalan rezeki jauh sebelum saya wisuda bulan November nanti.
Keduanya berkombinansi menjadi hadiah ulang tahun saya yang menyenangkan. Sungguh
Tuhan mempunyai rencana-rencana yang dahsyat bagi hambanya yang mempercayaiNya.
Oleh karena anugerah-anugerah
tersebut, saya jadikan bulan ini tak hanya menjadi September Ceria, tapi juga
menjadi momentum awal Marathon kehidupan saya. Saya sebut awal karena kelulusan
bukan sebuah akhir bagi perjalanan seorang pemuda, tapi awal baginya untuk mengarungi
kehidupan yang sebenarnya. Marathon, karena ini perjalanan jangka panjang, saya
harus mengatur energi dengan bijak agar tak kehabisan ditengah jalan.
Beberapa orang diluar sana,
terutama orang-orang ambisius, telah sibuk menciptakan semacam tag-line untuk menyadarkan anak-anak
muda bahwa sukses secepat mungkin adalah sebuah tujuan hidup. Fenomena
pengusaha muda, kaya di umur 30 tahun, Young
on Top, Nikah Muda dan kata-kata tendensius yang lain. Menggantinya dengan
pengusaha seumur hidup, kaya di umur berapapun, Everlasting on Top, Nikah di saat yang tepat (untuk bagian ini saya
agak susah menggantinya karena nikah muda itu konon asik) bagi saya lebih bijak
ketimbang memaksa orang lain untuk menghabiskan energinya di awal untuk
mendapat pencapaian secepat mungkin. Saya tak mengatakan mereka salah, tapi
saya mengatakan tak tertarik untuk mengikuti jalan hidup mereka. Kalo kata bio twitter
teman saya bunyinya kira-kira begini: It
does not matter how slow you go so long as you do not stop.
“Rezeki itu bertebaran dimuka bumi
bagi orang yang kompetitif” ― Denny Puspa Purbasari
Bagaimanapun anak muda adalah
seorang yang ambisius namun tak pandai mengatur nafas. Semoga keyakinan yang
saya percayai benar ini dapat membawa saya ketempat yang lebih tinggi suatu
saat nanti. Namun, jika keyakinan ini salah, semoga Tuhan memberikan pelajaran
dan makna dibalik kesalahan saya ini.
Oh iya jika ditanyakan kepada pasangan suami-istri, perihal pilihan sprint atau marathon, jawabanya mereka saya yakin seperti ini: Marathon lebih asik daripada Sprint.
25 September 2013
Semacam Halaman Persembahan
6:55 PM
0 comments
Untuk Bapak yang meninggalkanku 10 hari sebelum saya diterima di kampus ini,
Untuk Ibu guru spiritual yang senantiasa mendoakan perjuanganku selama 4 tahun ini,
Untuk Kakak, yang menjadi tulang punggung keluarga, sumber penghidupanku kini.
Tiada kata lain yang lebih indah dan patut diucapkan pertama kali, ketika penulis akhirnya dapat menyelesaikan skripsi ini, selain mengucapkan syukur alhamdullilah kehadirat Allah SWT, sang pencipta langit dan bumi, serta yang menghamparkan ilmu pengetahuan tak terhingga didalamnya untuk kita pelajari hakekat dan makna dibalik penciptaan Nya. Berkat rahmat dan hidayah Nya, penulis bisa menyelesaikan satu butir pasir dari miliaran butir pasir ilmu pengetahuan yang ada di hamparan Nya.
Skripsi dengan judul “Pengaruh Harga Minyak Dunia Terhadap Kinerja Pasar Modal di Indonesia: Analisis Tingkat Industri, Tahun 2001-2013” ini dibuat untuk memenuhi salah satu persyaratan akademis di jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada dalam mencapai gelar Sarjana Ekonomi.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada beberapa pihak yang berandil besar dalam pelaksanaan dan penyelesaian skripsi ini, antara lain:
Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D., Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM atas dedikasinya dalam mewujudkan fakultas yang menjadi kebanggaan seluruh penghuninya, Ad augusta per augusta.
Prof. Tri Widodo, M.Ec.Dev., Ph.D., Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi FEB UGM, atas kebaikan hati dan kebijaksanaanya mengelola jurusan Ilmu Ekonomi tercinta.
Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc., dosen pembimbing skripsi yang senantiasa meluangkan waktu untuk membimbing penulis disela-sela kesibukan beliau sebagai Dirjen Haji Kementrian Agama RI, semoga segala kebaikan yang bapak berikan dibalas Yang Maha Kuasa. Jazakumullah Khairan Katsira.
Prof. Samsubar Saleh, M.Soc.Sc., Ph.D., Drs. Dumairy, M.A., Akhmad Akbar Susamto, SE., M.Phil., dosen penguji skripsi atas kebaikan dan kemurahan hatinya.
Dosen-dosen FEB UGM lain atas inspirasi dan ilmu pengetahuan yang diberikan selama 4 tahun ini, sebaik-baik ilmu pengetahuan adalah yang tersampaikan kepada khalayak dan menjadi bermanfaat.
Harris Darmawan, atas bantuan dan perdebatan sengitnya selama ini, Muhammad Hasan Putra, atas bantuan dalam mencari data dalam penulisan skripsi ini, dan Galuh Iqbal SAS atas diskusi format skripsi yang baik dan benar.
Rekan-rekan penulis yang senantiasa mengispirasi: Graha
Ganindra Goutama, Dikanaya Tarahita, Adlan Syahmi, Made Wiweka Wijaya,
Reinardus Suryandaru, Arham Nurulloh, Azim Amirin, Raditya Nugraha, Zaffira
Amalia, Syaiful Arifin.
Segenap warga Ilmu Ekonomi 2009, FEB UGM 2009, BEM FEB UGM,
KKN PPM UGM unit 131, Kakak-kakak angkatan, dan adik-adik angkatan yang tak
bisa disebutkan satu per satu, terima kasih atas kebersamaanya.
Akhirul kalam, semoga skripsi ini bisa diterima dengan baik di kalangan akademis dan memberi sumbangsih pada ilmu pengetahuan. Tak ada pujian terindah bagi akademisi selain ilmu yang bermanfaat bagi sesamanya. Wallahu a’lam bishowab.











